
Azfan tidak bisa menyamai langkah Khalisa ketika melewati koridor rumah sakit Kafasa padahal biasanya ia sengaja memperlambat langkah agar Khalisa bisa menyamainya. Namun Khalisa berada jauh di depan sana bahkan ia setengah berlari untuk sampai ke ruangan dimana Renata dirawat.
Khalisa tidak memberitahu siapapun bahwa ia dan Azfan akan pulang. Itu karena tak ada yang memberitahunya kalau Renata dirawat di rumah sakit.
"Mas." Khalisa memutar kepala menyadari bahwa Azfan tertinggal jauh. Ia tidak menemukan Azfan di belakangnya. Khalisa kembali menyusuri koridor yang dilewatinya barusan, ia takut Azfan nyasar karena ini pertama kalinya Azfan kesini. "Mas." Ia menghampiri Azfan. "Maaf, aku ninggalin kamu." Khalisa menggandeng tangan Azfan agar tidak tertinggal lagi.
"Aku tahu Haura buru-buru pengen ketemu Ama." Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai tiga.
Azfan menatap Khalisa di sampingnya lalu pandangannya turun ke pundak sang istri. Pundak kecil itu harus menanggung beban begitu berat yakni tanggungjawab berupa rumah sakit sebesar ini. Azfan kagum pada hubungan antara Kafa dan Khalisa karena meskipun lebih muda Kafa mau menekan ego nya dan kuliah kedokteran menggantikan Khalisa. Azfan paham mengapa Kafa marah pada Khalisa sampai sekarang. Namun Azfan akan membuktikan bahwa ia bisa membahagiakan Khalisa. Tidak seperti yang Kafa pikirkan tentang Azfan.
"Haura," Azfan mengusap pundak Khalisa.
"Hm?" Khalisa menoleh pada Azfan, "kenapa?"
"Haura jangan memendam semuanya sendiri, aku suami Haura, jangan ditanggung sendiri."
Khalisa tertegun mendengar kalimat Azfan, apakah Azfan tahu kalau ia sedang menahan tangis sejak sampai di rumah sakit. Khalisa mengulum senyum dan mengangguk.
"Itu ruangan Ama." Khalisa menunjuk ruangan bernomor I paling dekat dengan lift.
Khalisa mendorong pintu, pandangannya langsung tertuju pada Renata yang terbaring lemah di atas brankar. Ternyata Renata pandai berakting karena saat menelepon Khalisa, ia bersikap seolah baik-baik saja.
"Ama." Suara Khalisa mengejutkan Daniel dan Ica yang tidak menyadari kehadirannya. Khalisa mendekat ke brankar menggenggam tangan Renata dan mengecupnya.
Renata perlahan membuka matanya dan tersenyum melihat kehadiran Khalisa. Renata mengusap puncak kepala Khalisa, ia amat merindukan cucu pertamanya itu.
"Katanya Khalisa pulang Minggu depan." Renata mengusap pipi kemerahan Khalisa. Cucunya sudah dewasa tapi bagi Renata, Khalisa tetap lah bocah kecil yang suka main kejar-kejaran dan merengek minta es krim.
"Pa, Ma." Azfan mencium tangan mertuanya. "Maaf kami nggak ngasih tahu dulu sebelum pulang."
"Duduk Fan." Ica beranjak mempersilakan Azfan duduk. "Khalisa tahu?"
Azfan mengangguk.
Ica dan Daniel merasa bersalah karena telah menyembunyikan hal ini. Mereka melakukan itu karena permintaan Renata yang mau Khalisa fokus kuliah dan tidak terlalu memikirkannya.
"Gimana keadaan Ama?" Khalisa duduk di samping ranjang menatap wajah pucat Renata. "Aku udah bikinin dress nya buat Ama."
"Oh ya?"
"Ama harus cepet sembuh biar bisa nyoba dress nya." Khalisa mengusap rambut Renata yang hampir sepenuhnya memutih. Renata menjawabnya dengan anggukan samar.
"Azfan, kami boleh bicara sama Khalisa sebentar?" Tanya Ica pada Azfan, ia ingin membicarakan kondisi Renata saat ini. Mereka berencana memindahkan Renata ke rumah sakit di Surabaya agar mendapat penanganan dan fasilitas yang lebih bagus.
"Boleh Ma." Jawab Azfan disertai anggukan. Azfan merasa sangat dihargai oleh mertuanya sehingga untuk bicara dengan Khalisa mereka meminta izin padanya terlebih dahulu sebagai suami.
Padahal mereka membesarkan Khalisa dengan susah payah, mengorbankan tenaga dan materi yang tidak sedikit. Namun setelah dewasa mereka menyerahkannya pada Azfan dengan ikhlas. Lalu bagaimana mungkin Azfan tidak akan memperlakukan Khalisa dengan baik.
Ketika Khalisa keluar dengan orangtuanya, Azfan mendekat duduk di kursi yang Khalisa tempati barusan.
"Azfan, terimakasih ya kamu sudah menjaga Khalisa." Lirih Renata melihat Azfan.
"Ama jangan berterimakasih karena ini sudah kewajiban Azfan sebagai suami."
"Kamu harus janji untuk nggak nyakitin Khalisa, ya."
"Azfan nggak akan pernah melukai Khalisa, nggak akan pernah Ama." Azfan meyakinkan Renata.
Renata memejamkan mata bersamaan dengan setetes kristal bening yang lolos melewati pelipisnya.
__ADS_1
"Ama jangan terlalu banyak pikiran, sekarang yang terpenting Ama bisa pulih." Azfan melihat Renata seperti hendak mengatakan sesuatu yang sulit diungkapkan. "Apa yang begitu mengganggu pikiran Ama?" Tanyanya dengan suara lembut.
"Ama cuma kepikiran siapa nanti yang akan mendoakan Ama karena anak, menantu dan cucu-cucu Ama semuanya muslim." Renata meremas selimutnya menahan kesedihan.
"Kenapa Ama bicara begitu?" Azfan mengusap punggung tangan Renata.
"Ama pengen lihat cicit-cicit Ama yang dilahirkan Khalisa, Kafa dan cucu Ama yang lain tapi Azfan—kamu tahu kan sebanyak apapun uang yang Ama punya itu nggak bisa memperpanjang usia."
Azfan memalingkan wajah tidak kuasa melihat Renata yang tengah menatapnya dengan pandangan nanar menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam. Azfan sedikit mendongak berusaha menelan air matanya kembali. Hati Azfan seperti diiris-iris mendengar perkataan Renata.
Azfan memaksakan senyum dan kembali melihat Renata, "Ama mau cicit perempuan atau laki-laki?" Ia memperhatikan wajah pucat pasi Renata, begitupun dengan anggota tubuh lain. Kulit Renata yang sudah putih semakin terlihat pucat seperti tidak dialiri darah.
Renata ikut tersenyum, "laki-laki sepertinya lucu untuk anak pertama kalian karena jika perempuan ia akan menanggung tanggung jawab yang besar seperti Khalisa."
"Semoga kami segera dikasih kepercayaan oleh Allah untuk memiliki keturunan."
"Kalian sudah merencanakan nya?"
"Khalisa selalu gelisah karena nggak segera hamil tapi Azfan selalu bilang kalau nanti pasti Allah kasih pada waktu yang tepat."
"Jangan tinggalkan Khalisa kalau seandainya dia lambat untuk hamil."
Azfan menggeleng kuat, "hal itu sama sekali nggak terlintas di pikiran Azfan."
Renata meminta Azfan menunduk agar ia bisa mengusap puncak kepalanya.
Pintu terbuka, Khalisa dan papa serta mama nya kembali ke ruangan itu. Wajah Khalisa muram karena dokter mengatakan kesehatan Renata semakin menurun. Itu karena Renata sering terjaga di malam hari yang menyebabkan tekanan darahnya turun drastis.
"Ama besok dipindahkan ke rumah sakit di Surabaya ya, disana fasilitasnya lebih lengkap jadi Ama bisa cepet sehat lagi." Ujar Khalisa pada Renata.
Renata terlihat mengangguk samar, ia mau melakukan apapun asal kesehatannya kembali pulih.
"Malam ini biar Khalisa dan Mas Azfan yang jagain Ama, Mama dan Papa istirahat aja di rumah."
"Nggak apa-apa, Pa, kami pulang memang untuk jaga Ama." Sahut Azfan.
"Udah rame aja disini." Kedatangan Kafa mengalihkan semua orang, ia melihat Khalisa dan Azfan yang ternyata juga sudah ada disini. Kafa lebih dulu pulang ke Banyuwangi bersama Umar dan Aisyah setelah mereka selesai menghadiri pengajian. "Aku udah pulang dari dua hari yang lalu." Ujar Kafa seolah mengerti arti tatapan Khalisa.
"Oh ya?" Alis Khalisa terangkat.
"Kalau gitu Mama dan Papa pulang dulu, besok pagi baru balik lagi." Tukas Ica seraya berpamitan pada Renata.
"Kalian jangan berantem terus, inget kalian bukan anak kecil lagi." Daniel menatap Kafa dan Khalisa bergantian. "Kalau ada apa-apa langsung telepon."
"Iya Pa." Khalisa mengangguk patuh, ia tak pernah ingin berantem dengan Kafa. Justru Khalisa ingin berdamai dengan adik sepupunya itu.
"Sayang, Mama pulang ya." Ica mengecup kening Khalisa.
Kafa duduk di kursi dekat brankar ketika Daniel dan Ica meninggalkan ruangan itu. Kafa meminta Renata untuk istirahat dan tidak membebani pikirannya dengan hal-hal yang tidak penting.
"Kenapa kamu nggak mau minta maaf sama Cece mu?" Renata menatap Kafa, ia amat berharap dua cucunya itu segera berdamai.
"Kafa, gimana caranya supaya kamu maafin Cece?" Khalisa bertanya dengan nada rendah untuk mencairkan hati Kafa meski ia tahu saat ini adiknya itu sedang membeku seperti gletser yang meski terkena sengatan matahari ia tak akan meleleh.
"Ama mau makan jeruk, biar Kafa kupasin." Kafa mengabaikan Khalisa, ia memilih mengambil jeruk di atas nakas.
Khalisa menghela napas panjang dan duduk di samping Azfan, bukan kah tidak ada gunanya terus bicara dengan seseorang yang bahkan melihatnya pun ia enggan.
"Haura belum makan malam, mau makan apa kita pesan online saja." Azfan mengeluarkan ponselnya, ia ingat bahwa Khalisa menolak makan di pesawat padahal istrinya itu belum makan apapun sejak tadi siang. "Haura harus makan kalau mau jagain Ama."
__ADS_1
Khalisa tampak berpikir dan meletakkan kepalanya pada lengan Azfan.
"Pesen ayam bakar yang di deket hotel Jinggo." Khalisa ikut melihat layar ponsel Azfan yang sedang membuka aplikasi pesan antar.
"Kafa mau pesen makanan juga nggak?" Azfan melihat Kafa yang masih mengupas jeruk.
"Kafa, ditanya Mas Azfan itu dijawab." Ujar Renata karena Kafa terus bersikap seolah-olah tak ada Azfan dan Khalisa di ruangan ini.
"Sabar ya." Khalisa mengusap-usap lengan Azfan.
Azfan tersenyum, ia justru lebih memikirkan perasaan Khalisa.
"Ama mau Kafa nginep disini juga nggak?" Kafa menyuapkan jeruk pada Renata.
"Nggak usah kamu istirahat aja di rumah, besok kan ada kuliah pagi. Biar Cece dan Mas yang nginep." Jawab Renata. "Kafa jagain Akong di rumah."
"Oke." Kafa manggut-manggut, ia juga tidak mau tidur satu ruangan dengan Azfan.
"Haura wudhu dulu gih, kita sholat disini ya." Pinta Azfan ketika mereka mendengar adzan isya berkumandang. Ruangan itu cukup luas sehingga bisa digunakan untuk shalat. "Sabun nya ada di kantong tas depan."
"Iya Mas, aku ke kamar mandi dulu." Khalisa mencium pipi Azfan karena tak ada yang melihat mereka lalu beranjak dari sofa. Khalisa mengambil pouch tempat menyimpan skincare nya sebelum pergi ke kamar mandi.
******
Renata melihat Azfan dan Khalisa sedang mendirikan shalat isya berjamaah di ruangan itu. Kafa baru saja keluar untuk shalat isya di masjid sekaligus pamit pulang. Renata kembali berpesan agar Kafa minta maaf kepada Khalisa atau paling tidak Kafa mau memaafkan Khalisa meski tidak bersalah.
Melihat pemandangan di depannya saat ini, Renata perlahan membenarkan ucapan Aisyah bahwa kebahagiaan Khalisa saat ini adalah Azfan. Mereka tampak saling mencintai dan peduli satu sama lain. Renata bisa sedikit tenang meski Daniel tidak mau menuruti permintaannya untuk membiarkan Khalisa tetap tinggal di apartemennya saat ini. Renata percaya bahwa Daniel telah memilih yang terbaik untuk anaknya.
"Ama mau makan?" Tanya Khalisa setelah selesai sholat, ia membereskan bekas makanan di atas meja sedangkan Azfan masih belum beranjak dari atas sajadah.
"Ama kenyang udah habis satu jeruk barusan."
"Selamat malam." Pintu ruangan terbuka lalu Levin muncul dengan membawa kotak obat yang harus diminum Renata malam ini. "Loh Khalisa, kapan datang?" Levin tersenyum lebar melihat keberadaan Khalisa di ruangan itu.
"Belum lama Ko." Khalisa memuji penampilan Levin yang terlihat seperti dokter sesungguhnya dengan jubah putih tersebut.
"Ama obatnya diminum ya." Levin meletakkan obat-obatan Renata di atas nakas. "Sekarang kan udah ada Khalisa jadi nggak ada alasan untuk malas minum obat lagi."
Setelah meletakkan obat Levin baru sadar kalau di ruangan itu juga ada Azfan, tentu saja dimana ada Khalisa pasti ada Azfan. Levin sudah lupa diri dan terlalu senang saat melihat Khalisa hingga tak sadar kalau wanita yang disukainya itu telah menikah.
"Emangnya Ama nggak rajin minum obatnya ya?"
Renata mengelak mengatakan kalau ia sudah rajin minum obat padahal sungguh ia sangat bosan untuk mengkonsumsi berbagai macam obat. Renata merasa obat-obatan itu ribut di dalam tubuhnya saking banyaknya jenis obat yang diminum.
Levin mengatur ketinggian brankar agar badan Renata lebih tegak untuk minum obat.
"Koko jaga malam?"
"Iya Khalisa, nanti kalau butuh sesuatu tekan bel nya ya biar suster langsung samperin."
Khalisa mengangguk.
"Ah maaf aku lupa kalau kamu yang punya rumah sakit." Levin tertawa, ia terbiasa mengatakan itu pada pasien lain.
"Saking seringnya ke rumah sakit jadi dilupakan." Canda Khalisa.
"Tensi darah Ama mulai stabil, pasti karena kedatangan cucunya jadi Ama bisa lebih tenang." Jelas Levin setelah memeriksa tensi darah Renata.
"Makasih pak dokter sudah merawat Ama saya yang paling cantik ini."
__ADS_1
Levin tersenyum, pipinya memanas dipanggil dokter oleh Khalisa.
"Kalau gitu aku permisi dulu." Levin pamit dari ruangan itu setelah selesai memeriksa Renata. Ia juga sempat bertukar pandang dengan Azfan yang sedang melipat sajadah.