
Sesuai janji Khalisa pada Naira untuk membuatkannya gamis, akhirnya hari ini mereka bertemu. Khalisa menyelesaikan gamis itu dalam waktu satu Minggu disela jadwal kuliah dan organisasi nya yang padat. Bahkan Khalisa membawa bahan jahitannya ke toko Azfan agar ia tetap bisa menyelesaikan gamis tersebut sambil menemani sang suami.
Khalisa dan Naira bertemu di Mangan Gelato setelah Khalisa menyelesaikan kelasnya yang terakhir. Seperti biasa Mangan Gelato selalu ramai oleh pengunjung hingga Khalisa dan Naira perlu menunggu sebentar untuk mendapatkan meja kosong.
Khalisa memesan dua Vanilla Butterscotch untuk dirinya dan Naira lalu duduk di salah satu kursi dekat pintu masuk.
Naira antusias ketika Khalisa mengeluarkan gamisnya dari dalam paper bag yang dibawanya. Matanya melebar kala melihat gamis berwarna hitam dengan aksen mutiara yang sangat cantik. Naira jadi tidak sabar untuk mengenakannya.
"Bagus banget Masya Allah." Puji Naira tulus. "Khalisa, kamu anak farmasi yang nggak hanya pinter meracik obat tapi juga menjahit baju."
"Ini hobi aku dari kecil."
"Aku suka banget, sayang sekali aku harus berangkat ke Yaman kalau nggak pasti aku minta buatin satu gamis lagi." Naira kembali memasukkan gamis tersebut ke dalam paper bag ketika seorang karyawan mengantarkan pesanan mereka.
"Emangnya kamu berencana untuk tinggal lama disana?"
"Mungkin aku nggak akan kembali." Naira tersenyum getir, sungguh berat meninggalkan orangtuanya disini tapi ia juga tidak mau berbagi kesedihan pada mereka meskipun dengan cara meninggalkan mereka. Naira akan mendekatkan diri sepenuhnya pada sang Maha Pencipta.
"Khalisa, aku inget seneng atas kehamilan kamu." Naira mengulurkan tangan menggenggam tangan Khalisa, "semoga kamu selalu bahagia sama Azfan, semoga anak ini lahir dengan sehat dan sempurna."
"Terimakasih Naira." Khalisa mengencangkan genggamannya pada Naira, ia tak ingin pertemuan mereka berakhir dengan cepat. Mereka baru saling kenal dan menjalin pertemanan sebentar tapi Naira harus pergi dengan penyakit yang dideritanya. "Semoga kamu bahagia dimanapun kamu berada."
"Soal waktu itu aku minta maaf atas reaksi spontan ku saat kamu menanyakan apakah aku bersedia menikahi Azfan " Naira memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, ia seperti menelan duri yang bisa membuat kerongkongannya terluka. "Aku nggak mungkin ngelakuin itu ke kamu, aku nggak mungkin bahagia jika hadir di tengah-tengah kamu dan Azfan, walaupun sampai sekarang aku masih mencintai Azfan tapi setelah pergi dari sini aku juga akan membuang jauh-jauh perasaan ini." Naira berusaha menelan air matanya kembali, ia tidak boleh menangis. Tidak boleh. Gagal dalam kesehatan dan gagal dalam percintaan tidak akan membuat Naira mati kan.
"Azfan juga nggak mungkin menduakan kamu."
Mereka berpandangan dan tersenyum lembut, dua wanita tegar yang memiliki keikhlasan luar biasa terhadap takdir Allah.
"Aku transfer sekarang aja ya." Naira merogoh ponselnya di dalam tas.
"Nggak usah Nai."
Naira mengabaikan ucapan Khalisa, "kamu udah buatin baju bagus buat aku, Sa."
"Nggak usah, anggap aja itu kenang-kenangan dari aku."
Naira menggeleng, ia harus tetap menghargai jerih payah Khalisa apalagi kain untuk membuat baju tersebut terlihat mahal.
"Udah." Naira meletakkan ponselnya di atas meja setelah mentransfer sejumlah uang pada Khalisa.
"Naira, ini banyak banget." Khalisa membelalak melihat angka uang yang Naira kirimkan padanya, "kainnya nggak semahal ini kok."
"Hitung-hitung itu hadiah buat anak kamu nanti walaupun mungkin cuma cukup beli sepotong baju."
Khalisa menggeleng, "Naira, ini bisa buat beli selusin baju bayi."
Naira tertawa karena ucapan Khalisa terdengar berlebihan, ia hanya membayar sejumlah yang pantas Khalisa terima karena membuat baju itu tidak mudah.
"Udah jangan berdebat lagi, ayo makan keburu meleleh." Naira menyendok gelato vanilla dan melahapnya. Naira tentu akan merindukan suasana kota Yogyakarta dan orang-orang terdekatnya. Namun ini adalah jalan hidup yang ia pilih dan semoga jalan yang juga Allah ridhoi.
"Gelato nggak akan meleleh secepat itu kok." Khalisa ikut melahap gelato miliknya. "Mas!" Khalisa melambaikan tangannya melihat Azfan memasuki Mangan Gelato.
Azfan tersenyum menghampiri Khalisa, ia datang terlambat karena harus bertemu dengan Fawas yang bersedia menjadi pembimbing Taman Tahfidz nya nanti. Fawas telah berbaik hati bersedia menjadi pembimbing pada program yang hendak Azfan lakukan padahal ia juga disibukkan dengan jadwal mengajar.
Naira menyapa dan mengulas senyum pada Azfan.
"Coba deh Mas, rasanya agak beda dari yang biasa aku makan apa karena udah lama nggak kesini ya?" Khalisa menyodorkan gelato miliknya ke dekat Azfan.
Azfan menyiapkan sedikit gelato dan mencoba meneliti rasanya, "saus Butterscotch nya kurang." Komentarnya.
"Bener kan."
"Aku minta tambah saus nya ya." Azfan beranjak membawa gelato Khalisa untuk meminta tambahan saus Butterscotch.
"Kok Azfan bisa teliti gitu?" Tanya Naira.
"Dulu Mas Azfan pernah kerja disini."
"Oh ya?" Naira menaikkan alis tak percaya.
"Awal-awal masuk kuliah." Khalisa tersenyum lebar mengingat momen pertama kali ia dan Azfan bertemu. Khalisa tidak akan menyebut ini cinta pada pandangan pertama tapi memperhatikan Azfan dari jauh membuatnya perlahan memiliki perasaan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan. Jantungnya bergemuruh bahkan hanya dengan mendengar nama Azfan disebutkan. Ketika Azfan melantunkan ayat suci Al-Qur'an di masjid Ulil Albab, Khalisa tak bisa menahan air matanya untuk jatuh. Suara Azfan menyentuh relung hati Khalisa yang paling dalam. Azfan bukan cowok populer seperti Hasan atau Levin yang saat lewat saja, cewek-cewek akan berteriak atau berbisik kegirangan. Azfan justru tertutup dan selalu menundukkan pandangannya saat bicara dengan lawan jenis.
Alasan cinta Khalisa sederhana yakni jika dekat dengan Azfan maka ia juga akan semakin dekat dengan Allah. Walaupun demikian kehidupan rumah tangga tidak sesederhana jatuh cinta.
"Silakan, yang ini pasti enak karena aku sendiri yang meraciknya." Azfan kembali dengan membawa sepiring gelato yang sudah ia racik ulang.
"Makasih, Mas Azfan nggak pesen juga?"
Azfan menggeleng.
"Naira mau berangkat besok, ayo kita ikut antar Naira ke bandara."
"Boleh." Azfan hanya bisa menuruti permintaan Khalisa, ia tidak punya alasan untuk menolak.
"Nggak usah, pesawatnya take off jam 10 pasti kalian ada kelas kan." Tolak Naira bahkan ia menolak orangtuanya ikut ke bandara, ia tidak mau merasa semakin berat hati meninggalkan kota kelahirannya ini. Naira hanya diantar seorang supir dan kakaknya. "Jangan ikut, aku nggak mau mewek di bandara." Katanya sekali lagi.
"Ya udah." Khalisa mengangguk mengiyakan.
Pertemuan tersebut berakhir setelah mereka menghabiskan gelato rasa vanilla tersebut. Naira akan mengingat ini sebagai salah satu momen paling indah dalam hidupnya. Naira bersyukur karena diberi kesempatan bertemu dan kenal dengan Khalisa. Walaupun baru kenal tapi Khalisa adalah sosok berharga dalam hidup Naira. Ia akan membawa semua kenangan di kota ini jauh ke belahan negara lain. Negara yang disebut sebagai negeri tanpa awan.
"Aku senang bisa kenal kamu." Naira memeluk Khalisa sebagai tanda perpisahan. "Semoga kamu dan Azfan dikaruniai anak-anak yang sholeh dan sholehah."
"Semoga kamu selalu sehat, Nai." Khalisa mengusap-usap punggung Naira.
"Hati-hati Ning Naira." Ucap Azfan sebelum Naira meninggalkan mereka masuk ke mobil.
Mereka melambaikan tangan pada Naira hingga mobil yang membawanya meninggalkan halaman Mangan Gelato dan tidak terlihat.
"Aduh." Khalisa mengaduh seraya memegangi perutnya.
"Kenapa Haura?" Azfan melihat Khalisa panik, ia spontan merangkul bahu Khalisa dari samping.
__ADS_1
"Laper." Khalisa nyengir.
Azfan mengembuskan napas lega, ia pikir ada bagian tubuh Khalisa yang sakit.
"Ayo pulang, aku masakin." Azfan menarik tangan Khalisa menuju motornya yang diparkirkan di depan Mangan Gelato.
"Masakin apa Mas?" Khalisa memeluk perut Azfan dari belakang ketika Azfan mulai menjalankan motornya. Ia penasaran makanan apakah yang hendak Azfan masak.
"Sup wortel sama telur ya." Azfan ingat mereka membeli wortel di pasar beberapa hari yang lalu.
"Iya, pasti enak apalagi cuacanya mendung."
"Apalagi ditemani aku."
Khalisa tertawa mencubit perut Azfan gemas. Sayang sekali Azfan tidak bisa melihat ekspresi Khalisa saat ini. Wajah Khalisa memerah seperti sedang berada di bawah terik matahari.
Sesampainya di rumah, Azfan segera menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sup wortel yang nanti juga diberi kocokan telur. Mereka tidak sempat makan siang tadi karena jadwal kelas yang berbeda.
"Gimana Mas pertemuannya tadi sama Kak Fawas?" Khalisa menyusul Azfan ke dapur.
"Alhamdulillah Kak Fawas bersedia, beliau nggak mempermasalahkan gaji dan sebagainya karena membuka bimbingan untuk anak-anak penghafal Al-Qur'an juga menjadi cita-citanya."
"Alhamdulillah, semoga semuanya lancar ya Mas." Khalisa mengusap punggung Azfan.
"Terimakasih sayang, ini berkat dukungan mu." Azfan mengusap puncak kepala Khalisa singkat dan mengecupnya.
"Ini sudah tugasku Mas."
Khalisa membuka kotak berukuran sedang di samping kulkas tempatnya menyimpan sayur asin yang ia buat empat hari lalu. Khalisa tidak yakin apakah sayur asin itu akan sama seperti buatan Renata. Khalisa ingat Renata mengatakan ia harus bisa membuat sayur asin sendiri karena itu adalah makanan kesukaannya. Namun Khalisa baru berani membuatnya, selain merasa tidak yakin pada dirinya sendiri, Khalisa juga pasti akan teringat pada Renata setiap kali melihat salah satu olahan sawi pahit itu.
"Mas belum cerita apa percakapan Mas Azfan sama Ama waktu itu." Khalisa kembali teringat pada pertanyaan yang ia ajukan pada Azfan saat berada di lift apartemen Kafa saat itu. Azfan belum menjawab pertanyaan tersebut dan selalu menghindar agar Khalisa tidak menanyakannya lagi.
Azfan menoleh pada Khalisa yang sedang memindahkan sayur asin ke piring. Jika mengingat percakapan itu, Azfan selalu merasa sedih dan tak ingin menceritakannya pada Khalisa. Namun Azfan tak bisa terus menghindar.
"Ama bilang dia khawatir terhadap dirinya karena anak-anak dan cucunya yang muslim karena nggak akan ada yang mendoakannya." Suara Azfan terdengar sangat pelan. "Ama ingin melihat cicit-cicit nya dari Haura dan Kara serta cucunya yang lain tapi dia bilang sebanyak apapun uang yang dimiliki itu nggak bisa memperpanjang usia."
Khalisa mengeratkan pegangannya pada piring di tangannya, pelan-pelan ia menutup kotak sayur asin itu dan meletakkan piringnya di samping kompor.
"Aku tanya Ama pengen cicit perempuan atau laki-laki, Ama bilang laki-laki karena jika perempuan maka ia akan menanggung tanggungjawab besar seperti Haura."
Bahu Khalisa bergetar, ia sudah berusaha menahannya sekuat tenaga tapi akhirnya air matanya luruh juga. Khalisa menutup wajahnya dan menunduk dalam.
"Sayang, sebentar lagi keinginan Ama akan terpenuhi." Azfan menarik Khalisa ke dalam pelukannya.
Khalisa menyembunyikan wajahnya di dada Azfan, ia tak ingin menangis. Sekarang Khalisa mengerti kenapa Azfan selalu menghindar setiap kali mendapat pertanyaan tersebut.
"Jangan sedih lagi." Azfan mengusap matanya yang juga basah, ia harus kuat di depan Khalisa. Azfan tak pernah merasakan bagaimana beratnya hidup di keluarga yang berbeda agama sampai ia menikahi Khalisa. "Sudah ya?" Ia mengurai pelukan dan menangkup pipi Khalisa. "Bismillah, Haura kuat menjalani semuanya, ada aku."
Khalisa mengangguk berkali-kali menguatkan dirinya. Azfan mengusap air mata Khalisa dan memberi kecupan di kening.
******
Dua kaligrafi berukuran setengah meter telah selesai Azfan kerjakan. Azfan tinggal membuat satu kaligrafi lagi besok untuk memenuhi pesanan pelanggannya. Azfan meregangkan tubuhnya setelah cukup lama duduk di kursi kerjanya menorehkan tinta pada media kaca. Ia harus segera pulang karena Khalisa bilang sudah memasak makan malam untuk mereka.
"Astaghfirullah!" Azfan mendelik melihat kaligrafi yang baru saja ia selesaikan telah pecah berkeping-keping padahal itu kaca yang cukup tebal dan seharusnya tidak mudah pecah. "Ya Allah kucing!" Azfan menemukan kucing bersembunyi di balik kursi, ia mengangkat kucing yang telah memecahkan kaligrafinya. "Ya Allah, aku baru selesain kaligrafi itu." Azfan mengeluarkan kucing itu dari tokonya, ia baru meninggalkan kaligrafi itu sebentar dan tiba-tiba kucing tersebut memecahkannya.
Azfan mengusap wajahnya kasar, rasanya jerih payahnya sejak tiga hari terakhir untuk membuat kaligrafi itu sia-sia.
"Ya Allah." Azfan berjongkok memperhatikan pecahan kaligrafi yang berserakan di lantai, ia lelah. Azfan sudah mengerahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk membuat kaligrafi itu.
Azfan beranjak mengambil kardus kosong dan mengumpulkan pecahan kaca itu, memandangnya sampai besok tak akan membuat mereka bisa menyatu kembali.
Azfan harus membuat dari awal mulai dari membeli media kaca yang baru dan melukisnya lagi.
"Ahh!" Pekik Azfan merasakan perih di ujung jarinya karena tak sengaja memegang pecahan kaca yang tajam. Namun itu tak ada apa-apanya dibanding perih di dalam hatinya. Azfan mengusap jarinya yang berdarah pada kertas di atas meja.
Pandangan Azfan menyapu tokonya yang sepi karena ia memang sudah menutupnya sejak satu jam lalu. Ia menghela napas berat, ia menerima dengan ikhlas semua cobaan yang Allah berikan padanya. Itu adalah tanda cinta dari Allah pada Azfan.
Azfan meletakkan kardus berisi pecahan kaligrafinya di samping meja, ia akan membuangnya besok karena ini sudah terlalu malam. Azfan tidak boleh membuat Khalisa menunggu terlalu lama.
Sesampainya di rumah Azfan melihat Kafa berdiri di samping pintu bersandar pada dinding sambil memainkan ponselnya.
"Kok nggak masuk?" Tanya Azfan setelah turun dari motornya.
Kafa memasukkan ponselnya ke dalam saku celana melihat kedatangan Azfan.
"Cece bilang aku nggak boleh masuk sebelum Mas Azfan datang." Kafa cemberut, "lihat nih muka ku sampe merah-merah digigit nyamuk."
Azfan mengucapkan salam dan memutar kenop pintu.
"Ya udah ayo masuk." Azfan menarik Kafa masuk, "mana yang merah?" Azfan memperhatikan wajah Kafa.
"Ini." Kafa menunjuk bentol merah pada pipinya.
"Ntar diobatin."
"Waalaikumussalam Mas." Khalisa dari dari arah dapur. Ia langsung mencium tangan Azfan dan mengambil alih tasnya.
"Kenapa muka Kafa begitu?" Khalisa melihat Kafa cemberut seperti orang yang baru putus cinta tapi Kafa bukan tipe laki-laki seperti itu.
"Digigit nyamuk katanya di depan." Jawab Azfan.
"Gara-gara Cece." Dengus Kafa.
"Ya maaf, ayo makan dulu ntar Cece kasih obat ya." Khalisa seolah bicara pada anak kecil yang ngambek karena tidak dikasih uang jajan.
Ayam Hamcoi, sapo tahu dan cumi goreng mentega telah tersaji di atas meja makan.
"Wah pasti enak." Azfan duduk dengan tertib menerima sepiring nasi hangat dari Khalisa. "Terimakasih sudah memasak semuanya sayang." Ucapnya.
"Duh bisa diabetes kalau kelamaan disini gara-gara Mas Azfan ngomongnya manis banget."
__ADS_1
"Kamu juga mau dipanggil sayang?" Sahut Azfan.
"Ogah!" Semprot Kafa.
"Kafa, kenapa kamu kelihatan akrab akhir-akhir ini sama Mahira?"
Pertanyaan Azfan membuat Kafa terkejut, ia tidak merasa akrab dengan Mahira. Mereka hanya pergi ke Mall satu kali dan itupun hanya sebentar.
"Oh ya?" Khalisa melihat Kafa.
Kafa menggeleng menendang kaki Azfan karena merasa dijebak oleh pertanyaan seperti itu.
"Enggak Ce."
"Ya gitu dong akrab sama temen-temennya, kalau di kampus tuh Cece paling kesel kalau nyari kamu, tanya ke temen-temen mu juga nggak ada yang tahu, jangan menyendiri terus Kafa."
"Aku nggak se-fruekuensi aja sama mereka makanya nggak bisa berteman."
"Bisa."
"Nggak bisa Ce."
"Tapi nggak mungkin kamu sendiri terus pasti nanti ada tugas yang harus dikerjakan berkelompok."
"Mereka justru rebutan mau satu kelompok sama aku." Kata Kafa bangga.
"Oh ya? sepertinya kamu juga populer di kalangan cewek-cewek."
"Enggak juga sih, justru aku sering denger mereka ngomongin Mas Azfan yang katanya tuh suaranya merdu banget sampai mereka bilang, ya ampun ingin mengajak Kak Azfan berumahtangga." Kafa menirukan gaya teman-teman cewek seangkatannya ketika mendengar suara qiroah Azfan.
"Astaghfirullah, untung aku lamar Mas Azfan duluan kalau nggak, pasti Mas bakal bingung pilih calon istri karena banyak yang suka sama Mas." Khalisa mengusap lengan Azfan sesaat.
"Aku nggak mungkin bingung, Haura paling memikat di antara wanita lainnya."
"Tolong hentikan gombalan kalian." Tegur Kafa, ia hanya ingin makan dengan tenang tanpa mendengar keromantisan Azfan dan Khalisa. Jiwa jomblonya meronta-ronta ingin segera memiliki pasangan. Tidak. Tidak boleh. Tidak secepat itu.
"Ayamnya enak nggak, ini pertama kalinya Mas makan Ayam Hamcoi." Khalisa menanyakan pendapat Azfan bagaimana masakannya malam ini.
"Hamcoi?"
"Hamcoi itu sayur asin yang waktu itu aku bikin, enak nggak?"
"Enak kok, walaupun awalnya sedikit aneh tapi lama-lama terbiasa dan makin enak."
"Enak, aku jadi pengen nambah." Kafa mengambil nasi untuk keduanya kalinya, ia tak peduli walaupun ini sudah malam dan harusnya ia tidak terlalu banyak makan.
******
Khalisa dan Azfan mengantar Kafa hingga depan rumah setelah makan malam dan mengobati bekas gigitan nyamuk di wajah Kafa. Itu hanya bentol biasa yang sebenarnya akan hilang dengan sendirinya. Namun sepertinya Kafa hampir tidak pernah digigit nyamuk sehingga ia panik hanya karena bentol tersebut.
"Tangan Mas kenapa?" Khalisa baru menyadari bahwa tangan Azfan terluka.
"Kena beling tadi tapi nggak apa-apa, darahnya udah nggak ngalir."
"Kok bisa, beling apa Mas?" Khalisa kembali membuka kotak P3K yang masih berada di atas meja setelah mengobati Kafa tadi. Khalisa mengeluarkan obat merah dan plester.
"Kaligrafi yang baru jadi pecah."
"Pecah? kok bisa Mas?" Khalisa terkejut bahkan tak terasa menjatuhkan botol obat merah di tangannya.
"Tadi tiba-tiba ada kucing masuk terus pecah, ya gitu—aku juga nggak tahu persis karena pas ngambil tas ke belakang."
"Ya Allah Mas, jadi harus bikin ulang?" Khalisa menatap Azfan khawatir, media kaca itu tidak murah belum lagi waktu yang sudah Azfan kerahkan untuk membuat kaligrafi itu. "Sabar ya Mas." Khalisa memeluk Azfan. "Inshaa Allah nanti segalanya akan diganti yang lebih banyak."
"Iya sayang."
"Sayang banget aku nggak bisa bantu." Khalisa mahir menggambar tapi membuat kaligrafi atau lettering ia paling tidak bisa.
"Haura sudah banyak membantu." Azfan mengusap pipi Khalisa lembut. "Terimakasih istriku." Ia mengecup kening Khalisa lama, itu adalah cara Azfan mengobati sakit dan kecewanya. Azfan ingin marah ketika melihat kaligrafi buatannya sudah tidak berbentuk, pecah berkeping-keping. Namun tak mungkin Azfan melampiaskan kemarahan pada seekor kucing yang tidak mengerti apa-apa.
"Anak kita kenyang nggak?" Azfan mengusap-usap perut Khalisa.
"Kenyang banget Papa." Jawab Khalisa.
"Papa?"
"Mas mau dipanggil apa? Papa, Bapak, Ayah, Abi, Abah, Daddy, Papi, Buya atau apa?"
Azfan belum memikirkan panggilan apa yang akan ia ajarkan pada sang anak nanti.
"Kakak aja."
"Ih kok Kakak sih!" Khalisa mencubit perut Azfan.
Azfan tertawa, "kenapa sekarang Haura suka cubit perut aku?"
"Karena makin buncit jadi aku gemes."
"Coba aku tanya dia mau panggil aku apa." Azfan menempelkan telinga pada perut Khalisa. "Dia setuju kok."
"Enggak-enggak, aku nggak setuju, ini anak kita bukan adik kita Mas."
Azfan kembali tertawa dan menarik Khalisa ke pelukannya, ia mendekap tubuh mungil sang istri. Akhirnya fase hidup dimana Azfan harus memikirkan nama panggilan apa yang cocok untuknya setelah memiliki anak akan terjadi juga.
Hal sedih dan bahagia datang silih berganti. Begitulah roda kehidupan, Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai cobaan sekaligus memberi mereka hadiah dan kekuatan untuk melaluinya.
Eskpresi Khalisa waktu digombalin Mas Azfan
__ADS_1
ekspresi galak Kafa waktu ketemu Mahira.