
"Umma Umma!"
Khalisa terbangun dari tidurnya mendengar suara memanggilnya, ia merasa ada sesuatu yang menindih perutnya. Khalisa mengerjapkan mata beberapa kali untuk memperjelas penglihatannya. Senyumnya mengembang mendapati Azka berada di atas perutnya sambil memanggilnya. Tangan mungil Azka menyentuh pipi Khalisa.
"Iya, Umma bangun." Khalisa menahan tubuh Azka dan bangkit dari posisi tidur. "Kok Azka udah bangun, ini jam berapa?" Khalisa melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 pagi.
Khalisa tidak melihat Azfan di sampingnya, itu berarti sang suami sudah pergi ke masjid. Karena Khalisa sedang datang bulan, Azfan tidak membangunkannya. Namun justru Azka yang membangunkan Khalisa.
Semalam Azka masih tidur di dalam box nya tapi saat terbangun tengah malam, Khalisa memindahkan Azka untuk tidur bersamanya sembari menyusu.
"Ayo Azka tidur lagi ya." Khalisa membuka dua kancing teratas piyamanya untuk menyusui Azka. Karena masih terlalu pagi maka Azka harus tidur lagi. Jika kurang tidur Azka akan rewel nanti sedangkan mereka memiliki acara hari ini. Khalisa dan Azfan mengundang anak-anak yatim untuk doa dan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur mereka karena Azka genap berusia satu tahun.
"Kamu cepet banget banget besarnya Nak." Khalisa mengecup puncak kepala Azka. Rasanya baru kemarin Khalisa mengandung Azka, sekarang anak itu sudah belajar berjalan. Khalisa tak ingin masa-masa ini segera berlalu. Khalisa tak ingin melewatkan sedetikpun momen bersama Azka dan menyaksikan pertumbuhannya.
Khalisa juga memejamkan mata karena ia masih mengantuk. Semalam Khalisa harus lembur menjahit gamis untuk Syifa. Khalisa bisa mengerjakan pesanan orang-orang yang kenal baik dengannya. Syifa akan mengenakan gamis tersebut pada acara tunangannya lusa.
Pintu kamar terbuka, Azfan melangkah dengan sangat pelan karena tak mau membuat Khalisa bangun. Azfan tersenyum melihat Azka sedang menyusu di pangkuan Khalisa. Azfan terkejut saat Azka menoleh ke arahnya, ia pikir Azka tidur tapi justru Umma nya yang masih terlelap.
Azka menghentikan kegiatan menyusunya dan memanggil- manggil abinya.
"Ssshhh, nanti Umma bangun." Bisik Azfan.
Azka tertawa mengulurkan tangan minta digendong Azfan. Sepertinya ia tak mau tidur lagi dan ingin bermain dengan Azfan.
Dengan hati-hati Azfan mengangkat Azka dari pangkuan Khalisa.
"Azka mau ngaji sama Abi nggak?" Azfan membaringkan Azka di dalam box nya dan memakaikan kaos kaki.
Azfan membawa Azka ke balkon untuk tilawah Al-Qur'an. Azfan tidak lupa menutup pintu balkon agar tak mengusik waktu tidur Khalisa.
"Kemarin kita sampai mana ya?" Azfan membuka jus ke 14 untuk melanjutkan bacaannya kemarin.
Azka ikut melihat mushaf di hadapannya, ia menyentuh dan menunjuk-nunjuk hurufnya seolah mengerti apa yang tertulis disana.
Azfan membaca taawudz lalu basmalah sebelum memulai tilawah. Azka selalu anteng di pangkuan Azfan saat Abi nya itu mengaji. Azka tampak menyukai kegiatan tersebut bahkan menantikannya setiap pagi. Kadang Azka akan tertidur di pangkuan Azfan setelah satu jam berlalu.
Matahari mulai mengintip dari balik gedung pencakar langit. Jika mengarahkan pandangan ke sisi lain, akan terlihat semburat jingga pada cakrawala sebelum matahari meninggi.
Berkas cahaya menerpa wajah Khalisa membuatnya terbangun. Khalisa panik ketika menyadari Azka tidak ada di pangkuan maupun di sampingnya. Khalisa turun dari ranjang dan mengecek box Azka. Tidak ada. Dimana Azka?
"Itu dia." Khalisa menyentuh dadanya mengembuskan napas lega melihat Azka berada di pangkuan Abi nya.
Azfan menutup mushaf setelah menyelesaikan satu juz. Ia meletakkan Al-Qur'an di meja dan melihat Azka yang terlelap di pangkuannya.
Khalisa membuka pintu yang menghubungkan kamar dan balkon.
"Aku kaget barusan kok Azka nggak ada, ternyata disini." Khalisa menyentuh bahu Azfan.
"Selamat pagi Haura ku." Azfan mengembangkan senyum manis pada Khalisa, ia mengulurkan tangan menyentuh pipi Khalisa.
Khalisa merendahkan tubuh membiarkan Azfan mencium keningnya. Dada Khalisa menghangat mendengar Azfan memanggilnya dengan sebutan Haura—nama panggilan saat mereka belum punya anak. Setelah kehadiran Azka, Azfan hampir tak pernah memanggil Khalisa dengan sebutan Haura lagi. Itu sebabnya Khalisa merasa ada yang aneh saat Azfan memanggilnya seperti itu barusan. Perasaan aneh yang menyenangkan.
"Bagaimana tidurmu sayang?"
"Nyenyak barusan." Khalisa duduk di samping Azfan, ia menelusup kan tangannya ke sela lengan Azfan untuk mendapat kehangatan karena udara pagi cukup dingin.
"Alhamdulillah." Azfan senang jika Khalisa tidak mimpi buruk lagi. Setelah kejadian itu hampir setiap malam Khalisa mimpi buruk tentang Revan. Bahkan setelah Revan meninggal, ia masih menghantui Khalisa.
"Terimakasih Abi selalu ada buat aku." Khalisa mengecup punggung dan telapak tangan Azfan. Khalisa menghirup aroma tangan Azfan dalam-dalam.
"Aku yang harus berterimakasih karena Umma bisa melewati ini semua, aku cuma membantu sedikit tapi Umma luar biasa karena bisa menyembuhkan luka itu."
Khalisa menatap Azfan, bagaimana jadinya jika tak ada Azfan di hidupnya. Bahkan sebelum menikah, Azfan telah menjadi penyelamat untuk Khalisa.
__ADS_1
"Kehilangan membuat kita jadi lebih menghargai pemberian Allah." Lirih Khalisa, ia menyesal karena telah bersedih hati saat tahu dirinya hamil saat itu. Sekarang Khalisa belajar untuk lebih mensyukuri dan menerima takdir yang Allah gariskan kepadanya.
"Umma benar, cobaan membuat kita selangkah lebih dekat dengan Allah."
Mereka menyaksikan matahari yang perlahan naik memberikan kehangatan bagi seluruh makhluk di bumi.
"Aku cuci muka dulu terus ke bawah, Abi mau sarapan apa?" Khalisa beranjak dari sana, sebenarnya ia masih ingin duduk bersama Azfan hingga matahari meninggi. Namun Khalisa ingat jika mertuanya berada disini, ia tak enak jika keluar kamar terlalu siang. Walaupun Kirana tak akan mempermasalahkan itu tapi Khalisa tetap merasa tidak enak.
"Beli bubur ayam yang biasa lewat depan rumah aja, hari ini kita akan sibuk takutnya Umma kecapekan."
Khalisa tersenyum, padahal memasak untuk suami bukanlah hal yang membuatnya lelah tapi mungkin Azfan bosan dengan masakan rumah.
"Khalisa mau kemana?" Kirana melihat Khalisa hendak keluar rumah.
"Ini mau beli bubur ayam di depan, Ibu mau juga?"
"Loh Ibu udah masak tuh." Kirana sudah selesai memasak sayur asem dengan tempe goreng dan sambal terasi.
"Oh Ibu udah masak."
"Kalau Khalisa mau makan bubur ayam nggak apa-apa, Ibu nggak masak banyak kok."
"Eh enggak Bu." Khalisa kembali menutup pintu urung membeli bubur ayam, untung ia belum memanggil penjual bubur ayam itu.
Khalisa kembali ke kamar untuk memberitahu Azfan bahwa ibu sudah memasak sarapan untuk mereka.
"Nggak usah beli bubur ya, kasihan Ibu udah masak masa nggak ada yang makan."
"Ya udah." Azfan beranjak memindahkan Azka ke dalam box.
Mereka turun ke lantai satu untuk sarapan bersama. Sayur asem dan sambal terasi di atas meja makan tampak menggiurkan membuat Khalisa tidak sabar untuk menyantapnya.
"Bu maaf ya Khalisa nggak bantuin Ibu masak."
"Eh nggak apa-apa Khalisa, kamu kan lagi datang bulan jadi pasti nggak enak perutnya, mau ngapa-ngapain juga nggak enak, lagian Ibu dibantuin Nadira tadi." Kirana meletakkan dua potong tempe di piring Khalisa dan sepotong tempe di piring Azfan.
"Bu, kok aku dapet satu Umma dua." Azfan melirik piring Khalisa dan piringnya.
"Ambil sendiri nih." Kirana mendekatkan piring tempe pada Azfan agar anaknya itu mengambil tempe sesuai keinginannya.
Azfan menahan senyum, lihatlah sekarang siapa yang diperlakukan seperti anak kandung. Azfan merasa dirinya menantu di hadapan ibunya sendiri.
******
Ba'da dhuhur satu per satu tamu undangan mulai berdatangan. Acara itu juga dihadiri anak-anak yang ikut bimbingan hafalan Al-Qur'an bersama Fawas dan Azfan.
Mobil Levin juga terparkir di halaman ruko Khalisa. Tak lama kemudian Rindang turun dari mobil sambil menggendong Ravina.
"Assalamualaikum." Rindang masuk melalui pintu belakang.
"Waalaikumussalam, ya ampun Ravina kamu cepet banget gedenya." Khalisa mencubit pipi gembul Ravina gemas. "Gendong Umma yuk." Khalisa mengulurkan tangannya.
Ravina beralih ke tangan Khalisa. Setelah Ravina dibawa ke Banyuwangi, Khalisa belum pernah bertemu lagi dengannya itu sebabnya ia kaget saat melihat Ravina barusan.
"Eh main sama Koko ya di ruang tengah." Khalisa membawa Ravina ke ruang tengah untuk bergabung dengan Azka yang sedang bermain dengan neneknya. "Koko, ada adik cantik ini."
Azka mendongak melihat Khalisa tengah menggendong Ravina, ia menunjuk Ravina seolah memintanya turun.
Khalisa menurunkan Ravina di atas karpet bersama Azka.
"Adik boleh pinjam bebeknya nggak Ko?" Khalisa melihat Ravina mengambil bebek karet milik Azka. "Boleh ya adik pinjam sebentar."
Azka mengangguk, walaupun bebek itu mainan kesayangannya tapi ia mengizinkan Ravina meminjamnya sebentar.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Azfan masuk ke ruang tengah, karena semua orang sudah hadir maka acara akan segera dimulai.
"Aku bawa Azka ke depan ya." Azfan menggendong Azka membawanya ke ruang tamu.
Doa bersama dipimpin oleh Fawas. Mereka berdoa agar Azka selalu diberikan kesehatan dan tumbuh menjadi anak sholeh yang menaruh cinta kepada Allah dan Rasulullah di atas segalanya.
Azka adalah anugerah terbesar dari Allah untuk Khalisa dan Azfan. Khalisa diselimuti rasa syukur saat pertama kali tahu jika ia hamil. Lalu setiap hari Khalisa jalani dengan penuh kenikmatan, melewati morning sickness dan ngidam yang membuatnya rindu akan masa-masa kehamilan.
Khalisa dan Azfan membagikan bingkisan berisi makanan, Al-qur'an dan sejumlah uang untuk anak-anak yatim yang berbaik hati hadir untuk mendoakan Azka.
"Masya Allah anak Umma udah satu tahun." Khalisa mengangkat Azka tinggi-tinggi lalu menciumnya. "Semoga Azka jadi anak yang baik dan berguna untuk orang lain."
"Papa dan Mama bawain hadiah buat Azka lo." Rindang meletakkan sebuah kotak, itu adalah hadiah untuk Azka di usianya yang genap satu tahun.
"Wah, makasih Mama Rindang dan Papa Levin udah bawain Azka hadiah, boleh dibuka nggak?" Khalisa menurunkan Azka dekat kotak tersebut.
"Boleh dong."
"Abi tolong bantuin Azka buka kadonya dong." Pinta Khalisa karena ia harus mengangkat Azka.
Azfan membuka kotak berukuran besar itu, ia juga penasaran pada isinya.
"Wah, Azka dapat sepeda." Seru Khalisa setelah melihat sepeda di dalam kotak itu, "xie-xie Mama Papa." Ucapnya.
Azka tertawa girang melihat hadiahnya walaupun ia belum tahu cara menaikinya.
"Mbak Khalisa." Nadira berjalan menghampiri Khalisa dengan membawa ponsel di tangannya. "Ini Mas Kafa telepon dari tadi."
"Oh makasih ya Mbak." Khalisa mengambil ponselnya dari tangan Nadira.
Azfan menggantikan Khalisa memegangi Azka.
Dengan sekali usapan Khalisa menjawab telepon Kafa.
"Kenapa Kafa?"
"Ce, Mahira perutnya sakit nih."
"Sejak kapan?"
"Dari tadi pagi, awalnya aku pikir kontraksi palsu tapi katanya makin sakit, apa aku bawa ke rumah sakit aja?"
"Bentar-bentar, tunggu Cece kesana sekarang." Khalisa segera memutus sambungan.
"Ada apa?" Tanya Rindang, Azfan dan Levin bersamaan.
"Mahira perutnya mules padahal HPL masih bulan depan, Bi ayo kita kesana dulu." Khalisa panik padahal ia sendiri yang bilang pada Kafa agar tidak panik saat Mahira mulai kontraksi. "Rindang dan Ko Levin nggak apa-apa aku tinggal dulu ya."
"Nggak apa-apa, kami juga mau ke rumah Ko Levin kok." Kedatangan Rindang dan Levin ke Sleman tak hanya untuk memberikan hadiah pada Azka, mereka juga akan mengunjungi Michael dan Valerie.
Levin dan Rindang sering melakukan panggilan video saat Michael berada di hotel. Sedangkan Valerie sama sekali tak pernah menerima telepon Levin. Rindang harap kedatangannya bersama Ravina bisa membuat Valerie menerima pernikahan nya dengan Levin.
Khalisa menitipkan Azka pada Kirana sementara ia dan Azfan pergi ke apartemen Mahira.
Azka: Eh siapa tuh cantik banget.
__ADS_1
Selamat satu tahun anak Umma dan Abi