Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
153


__ADS_3

Seorang wanita yang mengenakan gamis hitam tampak gelisah di tempat duduknya. Sesekali ia melihat keluar seperti menunggu kedatangan seseorang. Segelas Latte di mejanya sudah dingin, ia belum menyentuhnya. Ia memesan latte sebab tidak enak pada pelayan cafe karena telah duduk disini hampir satu jam. Jadi ia berinisiatif memesan sesuatu padahal tidak menyukainya. Ia memilihnya secara acak.


Sekilas wanita itu mirip dengan Naira, ia adalah Naura—kakak Naira yang sudah menunggu kedatangan Khalisa sejak satu jam yang lalu. Naura mencoba menghubungi nomor Khalisa tapi tak ada jawaban. Entah berapa kali Naura mengecek ponsel yang kini berpindah kepemilikan padanya. Mulanya ponsel itu milik Naira.


"Kemana Khalisa?" Naura kembali melihat ke arah pintu masuk.


Orang-orang keluar masuk dari tadi tapi Naura tidak melihat keberadaan Khalisa. Cafe ini tidak terlalu besar sehingga jika Khalisa masuk pasti Naura akan langsung menyadarinya. Naura telah melihat foto Khalisa di ponsel Naira, ia tak mungkin tidak mengenali Khalisa kalau memang Khalisa datang.


Seorang tahanan Rutan IIA bernama Revan Adi Wibowo dilaporkan kabur pada Rabu 2 September dini hari. Bagi masyarakat yang menemukan seseorang dengan ciri-ciri rambut panjang sebahu, tinggi 175 centimeter berkulit sawo matang seperti foto di samping mohon untuk segera menghubungi pihak kepolisian. Warga juga diminta berhati-hati sebab Revan membawa kabur dua senjata api milik polisi.


Naura melihat televisi yang menayangkan berita terkini itu dengan acuh tak acuh. Sebuah foto tahanan terpampang di layar televisi 40 inci tersebut.


Revan pernah mencoba kabur beberapa kali tapi polisi berhasil menggagalkannya. Ia divonis hukuman 10 tahun penjara, saat ini polisi sedang mencari keberadaannya dengan menyebar personil di seluruh kawasan kota Yogyakarta, Sleman dan sekitarnya.


"Nggak mungkin Khalisa ingkar janji, Naira bilang dia teman baiknya." Naura mengeratkan pegangannya pada sebuah amplop berisi surat dari Naira yang harus ia berikan pada Khalisa. "Aku harus kasih surat ini karena ini permintaan terakhir mu kan?" Naura mendongak berusaha menelan kembali air matanya yang mulai menggenang.


Naura akan menunggu setengah jam lagi, jika Khalisa tidak datang ia akan pulang. Mungkin saja Khalisa memiliki keperluan mendesak sehingga tidak bisa datang hari ini.


"Mas." Naura mengangkat tangan memanggil waiter dan memesan Choco Croffle, tadi ia kenyang tapi setelah menunggu perutnya mulai keroncongan apalagi aroma makanan seliweran di hidungnya tiada henti.


"Mbak nunggu seseorang?" Seorang waiter meletakkan pesanan Naura. Ia melihat Naura selalu melihat ke arah pintu dan ponselnya sejak satu jam yang lalu.


"Iya." Naura mengangguk pelan. Ia tak berani mengangkat wajahnya, tidak pada laki-laki yang bukan mahram.


"Sudah ditelepon?"


"Sudah, mungkin dia ada keperluan mendesak." Naura tersenyum hambar, bahkan orang-orang di sekelilingnya sekarang tahu bahwa ia sedang menunggu seseorang. Bisakah mereka mengabaikannya saja. Naura jadi tidak nyaman dilihat seperti itu. "Terimakasih makannya."


Waiter itu meninggalkan meja, ia sudah biasa melihat pengunjung seperti Naura. Membuat janji dengan seseorang tapi dia justru tidak datang.


30 menit berlalu, Naura telah menghabiskan Croffle dengan topping lelehan coklat dan buah stroberi. Bahkan ia juga menghabiskan minuman yang tidak disukainya. Saat seperti ini Naura tak peduli pada sesuatu yang masuk ke mulutnya. Naura memeriksa ponselnya lagi untuk kesekian kali tapi hasilnya tetap sama.


Waktu menunjukkan pukul 14:56, itu artinya Naura sudah duduk di tempat ini selama 2 jam. Naura beranjak dari duduknya lalu membayar makanan yang sudah tak tersisa.


Tiga mobil polisi beriringan melewati jalan di depan De Jeeva ketika Naura keluar dari sana. Tiba-tiba perasaan Naura tidak enak, ia harap Khalisa baik-baik saja.


Naura mengirim pesan pada Khalisa bahwa ia pulang lebih dulu. Mereka bisa membuat janji lagi besok atau lusa.


Setitik air jatuh ke layar ponsel di tangan Naura lalu titik-titik berikutnya menyusul dengan cepat. Naura menengadah tangan merasakan air hujan yang turun semakin deras. Untung saja Naura selalu membawa jas hujan di dalam motornya.


Setelah mengenakan jas hujan Naura naik ke motornya, ia melihat sekeliling untuk beberapa saat sebelum pergi dari sana. Naura khawatir jika Khalisa datang tapi ia tidak ada disana.


*****


Nadira meletakkan Azka di dalam box nya dengan pelan-pelan agar tidak terbangun. Menidurkan Azka adalah hal yang cukup sulit, bahkan setelah menghabiskan 2 botol susu Azka belum juga tidur. Lain cerita jika Azka berada di gendongan Khalisa, tak perlu waktu lama ia akan terlelap.

__ADS_1


Suara denting ponsel mengalihkan perhatian Nadira, ia melihat ponsel Khalisa berada di atas nakas. Ada belasan panggilan tak terjawab dari kontak bernama Naira.


"Mbak Khalisa lupa bawa hp nya." Nadira kembali meletakkan ponsel Khalisa.


Nadira turun ke lantai satu ketika mendengar suara bel. Suara Azfan mengucapkan menyusul setelah bel berdenting beberapa kali. Nadira segera membukakan pintu untuk Azfan.


"Waalaikumussalam." Jawab Nadira.


"Azka dimana Mbak?" Azfan memberikan bungkusan yang ia dapat dari pengajian pada Nadira.


"Baru aja tidur, ada di kamar Mas."


"Umma nya udah dateng?" Azfan melangkah menaiki anak tangga.


"Belum Mas."


"Belum?" Azfan mengerutkan kening, Khalisa bilang hanya sebentar tapi ini sudah pukul setengah 3. Mengapa Khalisa belum kembali. Azfan mengeluarkan ponselnya dan mendial nomor Khalisa. "Loh, itu bunyi nya di atas."


"Iya, hp nya ketinggalan, barusan saya nggak sengaja lihat ada panggilan tak terjawab dari Naira."


Mendengar itu Azfan langsung berlari menuju kamar, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Azfan memeriksa ponsel Khalisa, benar saja ada belasan panggilan tak terjawab dari Naira.


Khalisa, mungkin kamu ada keperluan mendadak dan aku udah nunggu satu jam lebih di De Jeeva. Kita bisa buat janji lagi besok atau lusa. Maaf aku nggak bisa nunggu kamu lebih lama.


Sepasang netra Azfan melebar membaca pesan tersebut. Jika Naura tidak bertemu Khalisa lalu kemana Khalisa pergi. Azfan menyambar kunci mobil dan kembali turun ke lantai satu.


Azfan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menembus hujan yang mengguyur deras. Azfan menajamkan tapi hujan membuat jarak pandangnya terbatas.


"Sayang, dimana kamu?" Azfan bergumam. Ia tak bisa memikirkan tempat yang mungkin saja Khalisa datangi karena jelas-jelas tadi Khalisa bilang hendak bertemu dengan kakak Naira di De Jeeva tapi pesan Naura menunjukkan bahwa ia tidak bertemu Khalisa.


Sekarang Azfan tidak tahu akan mencari Khalisa kemana, ia hanya melajukan mobil di sepanjang jalan Kaliurang.


Mobil yang Azfan kendarai berhenti di depan bangunan De Jeeva, ia melihat keluar jendela. Tempat itu tampak sepi tapi untuk memastikan lagi, Azfan turun dan masuk ke De Jeeva.


"Permisi mau tanya." Azfan menunjukkan foto Khalisa pada salah satu waitress di De Jeeva. "Mbak lihat ada dia kesini, sekitar jam 1 atau 2?"


"Kayaknya nggak lihat Mas."


"Tempat ini udah mau tutup ya?" Azfan melihat tidak ada pengunjung selain dirinya.


"Belum waktunya tutup kok, tadi tempat ini rame kok Mas cuma sejak orang-orang lihat berita di tv kayaknya mereka takut mau keluar rumah."


"Berita apa ya?"


"Ada tahanan yang kabur dari rutan bawa senjata api punya polisi."

__ADS_1


Deg!


Jangan bilang kalau tahanan itu adalah Revan. Jika benar maka sekarang Khalisa sedang bersama Revan. Tidak. Itu tidak benar. Azfan menggeleng membuang pikiran buruk di otaknya.


"Mas nya juga hati-hati ya."


"Oh iya, Mbak inget nggak nama tahanan yang kabur itu?"


"Kalau nggak salah namanya Revan, tapi nama itu nggak penting Mas karena siapapun namanya dia sangat berbahaya, katanya lagi dia psikopat."


"Makasih Mbak, saya permisi." Azfan berlari menembus hujan kembali ke dalam mobilnya.


Azfan menghubungi polisi dan melaporkan bahwa Khalisa hilang kemungkinan besar Revan menculiknya. Tubuh Azfan gemetar, ia tak henti merapalkan doa untuk keselamatan istrinya.


Beberapa saat setelah Azfan melaporkan hal itu, mobil polisi mendekat ke arahnya. Seorang polisi turun dan menghampiri Azfan.


"Bapak yakin istri bapak dibawa Revan?"


"Saya yakin."


"Apa alasannya?"


"Revan dipenjara karena melakukan pelecehan seksual terhadap istri saya 3 tahun yang lalu, tadi istri saya janji bertemu dengan seorang teman disini." Azfan menunjuk ke arah bangunan De Jeeva. "Tapi temannya bilang dia tidak bertemu istri saya."


"Bapak tenang dulu, mungkin saja istri Bapak pergi ke tempat lain bukannya diculik Revan."


Azfan menatap polisi itu heran, rasanya tidak berguna ia membuat laporan kalau akhirnya ucapannya diragukan.


"Kalau Bapak tidak mau membantu, saya akan mencari istri saya sendiri!" Tegas Azfan.


"Itu sangat berbahaya, Revan kabur membawa senjata api."


"Justru karena berbahaya saya harus segera menemukan istri saya."


Ada seorang polisi lainnya yang menghampiri mobil Azfan. Ia berbisik pada polisi yang pertama.


"Istrinya adalah Khalisa, putri sulung Daniel Alindra pemilik Alindra Grub, dari pada Revan kita harus segera menemukan Khalisa."


Polisi pertama itu tampak terkejut dengan informasi yang diberikan temannya.


"Kalau begitu kita harus menemukan keduanya, suaminya yakin jika dia diculik Revan."


"Pak, kita akan membantu menemukan istri Bapak." Ujar polisi itu akhirnya.


"Kenapa nggak dari tadi?" Gerutu Azfan seraya menutup pintu mobil.

__ADS_1


Azfan menyalakan ponselnya, ia baru ingat jika Khalisa memiliki ponsel lain di dalam tasnya. Azfan harap Khalisa mengaktifkan lokasi pada ponsel itu agar ia bisa menemukan keberadaan sang istri.


"Umma, tunggu aku." Gumam Azfan seraya menginjak gas menambah kecepatan mobilnya menembus derasnya hujan sore itu.


__ADS_2