Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
116


__ADS_3


"Masya Allah, wangi sekali anak Abi pakai parfum apa sih?" Azfan menciumi perut Azka saat ia hendak memakaikan baju setelah mandi. Khalisa sudah bisa memandikan Azka sendiri tanpa bantuan Ica maupun mertuanya.


"Azka cuma pakai sabun Bi, belum pakai parfum nanti kalau udah gede boleh rebutan parfum sama Abi." Khalisa menyahut dari arah balkon, ia baru saja menjemur handuk Azka.


"Azka boleh ambil semuanya." Azfan membalurkan minyak telon ke perut dan dada Azka.


"Tapi Abi cuma punya dua parfum." Khalisa tertawa, Azfan hanya memiliki dua parfum pemberian Jaya dan satu yang Khalisa pilih saat mereka berada di Alindra Mall. Kalau dihitung-hitung Khalisa memiliki lebih banyak parfum karena ia tidak mau membuat Azfan bosan dengan aroma yang itu-itu saja. Meskipun Azfan tak mungkin seperti itu.


Azka telah selesai mengenakan jumper berwarna putih dengan corak merah di seluruh permukaannya. Hari ini mereka akan mengadakan Man Yue yang merupakan tradisi Chinese ketika usia bayi memasuki satu bulan. Khalisa dan Azfan mengundang sanak saudara. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur terharap kelahiran bayi. Sebenarnya dalam tradisi tersebut ada prosesi cukur rambut. Namun Azka telah melakukan itu saat Aqiqah diusianya yang ke 7 hari.


"Umma pilihkan topi buat Azka dong." Pinta Azfan.


"Yang warna merah juga ya." Khalisa memilih satu topi berwarna merah untuk Azka.


Ketika dua orang dengan budaya berbeda menikah maka ada berbagai tradisi yang harus dilakukan. Seperti halnya 7 bulanan atau mitoni yang merupakan budaya Jawa maka sekarang mereka harus melakukan Man Yue. Azfan sendiri baru tahu jika ada tradisi seperti ini.


Menjadi orangtua adalah hal yang sulit dimana mereka harus memahami apa yang anak inginkan dari tangisan dan gerak-geriknya. Khalisa dan Azfan harus begadang ketika Azka menangis tengah malam. Waktu tidur mereka jadi tidak teratur sedangkan siang harinya ada banyak aktivitas lain yang sudah menunggu.


Namun di balik itu semua kebahagiaan memiliki Azka jauh lebih besar dibandingkan rasa lelah mereka. Kehadiran Azka memberikan warna baru di kehidupan rumah tangga Azfan dan Khalisa. Keberadaan Azka membuat mereka banyak belajar seperti menekan ego dan mengendalikan emosi.


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di lantai satu. Azfan turun sambil menggendong Azka yang sudah kenyang setelah minum ASI barusan agar ia tidak rewel selama acara berlangsung.


Khalisa membagikan bingkisan kepada semua orang yang hadir. Bingkisan itu juga sudah disiapkan sejak seminggu yang lalu. Berbeda dengan bingkisan saat pengajian 4 bulanan yang dibuat sendiri oleh Khalisa maka kali ini Ica memesannya dari orang lain karena jumlahnya cukup banyak. Apalagi mereka tak akan sempat mempersiapkan semuanya sendiri.


"Lucu ya Um, Ummi nggak pengen cucu juga?" Kafa menggelayut di lengan Aisyah, ia gemas ingin menggendong Azka tapi anggota keluarga lain sedang mengerumuni si kecil Azka. Awas saja nanti jika mereka semua sudah pulang, Kafa tidak akan menyerahkan keponakannya itu pada siapapun. Kafa tidak sabar Azka tumbuh besar agar ia bisa mengajaknya main mobil-mobilan seperti yang ia lakukan pada Fatah dan Azmal dulu.


"Azka kan juga cucu Ummi." Sahut Aisyah.


"Bukan, maksudku cucu dari Kafa." Kafa nyengir, ia jadi malu karena telah mengucapkan kalimat seperti itu.


"Emangnya kamu bisa ngasih Ummi cucu?" Aisyah menatap Kafa heran.


"Bisa dong, tinggal cari perempuan yang mau jadi istri Kafa."


Aisyah menepuk lengan Kafa, "ini nyari istri bukan kayak nyari barang yang tinggal tunjuk aja, kamu harus tahu sifatnya, agamanya dan masih banyak hal lain."


"Kafa ngerti Ma." Kafa sudah menemukan satu perempuan yang memiliki suara merdu, meskipun sifatnya seperti laki-laki yang selalu pecicilan kemana-mana tapi Kafa bisa mendidik perempuan itu.


"Kenapa kamu jadi membicarakan perempuan?" Aisyah menatap Kafa curiga, sebelumnya Kafa tak pernah membicarakan hal seperti ini. Bahkan saat Aisyah bertanya tentang teman sekampus pun Kafa mengatakan tidak memiliki satu pun teman dekat kecuali Geza yang memang sudah ia kenal sejak kecil. Wajar jika Aisyah curiga.


"Kafa boleh jatuh cinta nggak?" Akhirnya Kafa berani menanyakan hal itu pada Aisyah.


Aisyah terkejut dengan pertanyaan Kafa, "siapa perempuan itu?" Ia harus segera bertemu dengan perempuan yang telah berhasil menaklukkan si kepala batu Kafa.


Kafa tertawa, "aku kan cuma nanya, apakah Kafa boleh jatuh cinta?"


"Boleh, tentu saja boleh." Aisyah menggebu-gebu.


Kafa menarik Aisyah ke dapur karena ia ingin lebih leluasa mengobrol dengannya. Dari kemarin Kafa tidak memiliki kesempatan ngobrol karena Aisyah sibuk mempersiapkan acara Man Yue tersebut.


"Aku pernah bilang sama Ummi, aku nggak akan jatuh cinta sebelum menyelesaikan kuliah." Kafa menghadap Aisyah sepenuhnya, ia menatap sepasang mata Ummi nya, satu-satunya bagian wajah yang terlihat. Dulu Aisyah sering lepas pasang cadar tapi sekarang ia selalu mengenakannya.

__ADS_1


"Ummi tahu tapi cinta itu nggak kayak cuaca yang bisa kita perkirakan." Aisyah berkata dengan lembut.


Kafa setuju dengan ucapan Ummi nya karena tanpa disadari ia telah jatuh cinta pada Mahira yang dulu sangat ia benci. Bukan benci tapi kesal karena tingkah cewek itu. Sebenarnya Kafa pasti akan sebal pada siapapun yang akan mengganggu ketenangannya kalaupun itu bukan Mahira.


Ketika sedang sendiri di kamarnya Kafa merenung mencari-cari alasan mengapa ia bisa jatuh cinta pada Mahira yang hanya gadis biasa. Dulu Kafa pernah berkhayal bahwa suatu hari ia akan jatuh cinta pada seorang dokter hebat yang memiliki kecantikan di atas rata-rata. Namun ternyata Kafa justru jatuh hati pada Mahira yang menurutnya kecantikannya standar. Hanya saja setelah memikirkannya lagi, Mahira memiliki senyum yang manis.


"Jadi boleh?"


"Apa Ummi pernah melarang kamu jatuh cinta?"


Kafa mengedikkan bahu, ia tak tahu karena mereka tak pernah membahas ini sebelumnya.


"Ummi kenal nggak sama perempuan itu?"


Kafa menggeleng, bicara pun belum pernah.


"Assalamualaikum, aduh maaf-maaf aku masuk dari belakang soalnya di depan banyak orang aku malu."


Kafa dan Aisyah dikejutkan oleh suara ribut seorang perempuan yang masuk melalui pintu dapur. Meskipun menjawab salam tapi mereka tetap kaget karena dengan kedatangan perempuan itu. Mereka tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh buket bunga super besar di tangannya.


Aisyah spontan membantu perempuan itu menurunkan bunga di tangannya.


"Mahira!" Kafa melongo begitu ia bisa melihat wajah perempuan pembawa bunga itu. "Kamu ngapain disini?"


Mahira tak kalah terkejut, ia tahu ini rumah Khalisa dan bukan Kafa yang membuatnya kaget tapi seseorang yang telah membantunya menurunkan bunga.


Mamanya Kafa ya? ya ampun malu banget mana pakaian aku dekil begini ya Allah tolong hamba mu yang cantik ini.


"Siapa yang pesan bunga?" Tanya Kafa sembari melihat buket bunga berukuran cukup besar itu. Terdapat beberapa macam bunga di dalamnya yakni Mawar, Baby Breath, Hydrangea dan Ranunculus.


"Ya udah anterin gih ke depan." Pinta Kafa. "Aneh banget Kak Huma, masa bayi dikasih bunga." Gerutunya.


Mahira mengangguk dan segera mengambil bunga yang cukup berat itu untuk membawanya ke depan dimana acara sedang berlangsung.


"Biar saya yang bawa." Ujar Aisyah, ia merasa kasihan melihat perempuan itu harus membawa bunga ke depan apalagi ukurannya juga cukup besar.


"Jangan Bu eh maksudnya Tante." Mahira jadi salah tingkah bingung harus memanggil mama Kafa dengan sebutan apa. Itu membuat Kafa harus menahan tawa melihat kekonyolan Mahira. "Ini sudah tugas saya."


Gimana sih, tadi aku sekarang saya. Nggak jelas banget kamu Mahira! Mahira mengomel dalam hati.


Dengan pandangan terbatas Mahira susah payah berjalan ke depan membawa buket bunga tersebut untuk diberikan pada Huma yang telah memesannya. Mahira sedang kehabisan uang jajan jadi ia pergi ke rumah Tante nya untuk mendapat uang dan untuk mengantar satu buket sebesar itu ia akan mendapat 50 ribu. Mahira bukannya mata duitan karena biasanya ia juga membantu tanpa mendapat imbalan, ia hanya sedang dalam fase krisis sementara orangtunya belum memberi jatah bulanan.


"Dia orangnya."


"Hm?" Aisyah menoleh melihat Kafa.


"Cewek yang Kafa maksud."


Mata Aisyah melebar terkejut tapi tiga detik kemudian ia tersenyum.


"Dia cewek super biasa yang nggak ada istimewa nya Umm makanya sampai sekarang Kafa bingung kenapa bisa suka sama dia."


Aisyah menggeleng, seorang perempuan yang telah membuat Kafa jatuh cinta bukan lah perempuan biasa. Aisyah senang jika akhirnya ada perempuan yang mencuri perhatian Kafa. Aisyah pikir Kafa akan sulit jatuh cinta apalagi menemukan pasangan.

__ADS_1


"Dia tahu?" Aisyah bertanya dengan suara rendah padahal suasana di rumah itu sedang riuh.


"Enggak lah Ummi."


"Jangan bilang kamu bersikap seolah-olah benci dia padahal kamu suka?" Aisyah paham betul sifat Kafa yang tidak mau menampakkan perasaannya. Seperti halnya saat Kafa marah pada Khalisa, Aisyah tahu jika Kafa melakukan itu karena ia menyayangi Khalisa. Kafa tidak mau bagaimana cara mengekspresikan perasaannya.


Kafa mengedikkan bahu, ia juga tak tahu bagaimana menunjukkan rasa cintanya pada Mahira. Bukankah selama ini Kafa telah memperlihatkannya dengan jelas? Enggak woy! Justru tingkah Kafa menggambarkan bahwa ia amat membenci Mahira.


"Kafa nggak tahu caranya."


Aisyah mengusap lengan Kafa, "kamu akan menemukan cara, Ummi percaya sama kamu." Ia melenggang pergi ke depan untuk bergabung dengan yang lain karena ini saatnya mereka memberikan angpao pada Azka.


Memberikan angpao adalah tradisi yang biasa mereka lakukan kepada si bayi saat acara Man Yue selain saat tahun baru Imlek.


"Ya ampun Huma makasih, bunga nya gede banget." Khalisa terkejut melihat buket bunga yang menyebarkan aroma wangi ke seluruh ruangan. Khalisa suka bunga hanya saja ia tidak telaten jika harus merawatnya seperti yang Ica lakukan selama ini. Khalisa tak pandai merawat bunga maka buket seperti itu selalu menjadi solusinya walaupun nanti akan layu dan busuk.


"Ini bukan buat Azka sih jadinya buat Umma nya." Huma baru sadar bahwa ia salah memilih hadiah.


"Umma nya juga butuh hadiah." Canda Khalisa. "Eh Mahira jangan pulang, makan dulu yuk." Khalisa menahan tangan Mahira yang hendak pergi.


"Enggak usah Mbak." Mahira masih ingin berada disitu tapi karena harus mengantar buket lain, ia tidak bisa berada disini lebih lama. "Aku harus nganter bunga yang lain."


"Bentar-bentar, aku bawain makanan."


"Biar Ai yang ambil." Tukas Aisyah, ia bergegas pergi ke dapur mengambil makanan untuk Mahira.


Mahira mengekori Aisyah ke dapur setelah pamit pada Khalisa dan mengucapkan terimakasih pada Huma karena telah memesan bunga pada Tante nya.


"Kamu satu angkatan sama Kafa ya?" Aisyah menyadari kehadiran Mahira di belakangnya.


"Iya Tante tapi beda fakultas." Mahira tak pernah salah tingkah saat bertemu Kafa tapi berhadapan dengan Aisyah justru membuatnya bingung harus bersikap seperti apa.


"Sepertinya kamu juga kenal baik sama Kafa, dia jarang lo punya teman baru."


Mahira nyengir mengusap tengkuk yang berkeringat di balik pashmina hitamnya yang sekarang ia tak tahu bentuknya seperti apa setelah ngebut di jalanan.


"Mungkin karena saya gangguin Kafa terus Tante."


"Oh ya? kamu gangguin Kafa?"


Mahira tertawa salah tingkah, "iya Tante."


"Boleh saya tahu alasannya?"


"Karena—" Ya karena saya suka sama anak Tante.


"Apapun itu terimakasih sudah menjadi teman Kafa, walaupun kelih atannya galak tapi sebenarnya dia baik kok." Aisyah memberikan sekotak makanan pada Mahira.


Mahira mengangguk dan mengulas senyum, "terimakasih Tante."


"Sampai ketemu lagi."


Mahira membelalak, apakah mereka memiliki alasan untuk bertemu lagi di masa depan?

__ADS_1




__ADS_2