
"Mau aku bantu lepas jilbabnya?" Azfan menawarkan bantuan pada Khalisa yang telah duduk di depan meja rias sejak 10 menit lalu. Azfan berpikir mungkin Khalisa kesusahan melepas jilbab dan aksesorisnya itu.
Jam dinding menunjukkan pukul 22.00 ketika mereka sampai di rumah. Sebenarnya Khalisa bisa dengan mudah melepas jilbab itu dari kepalanya tapi ia merasa aneh karena ada orang lain disini. Khalisa tidak lupa bahwa Azfan telah resmi menjadi suaminya tapi ini akan menjadi pertama kalinya ia melepas jilbab di hadapan Azfan. Khalisa perlu waktu untuk membiasakan diri.
"Aku ke kamar mandi dulu ya." Azfan bergegas pergi ke kamar mandi karena ia tahu Khalisa pasti canggung untuk melepas jilbab di depannya.
Khalisa mendengar pintu kamar mandi ditutup maka ia melepas satu per satu jarum pentul dan aksesoris yang terpasang pada jilbabnya. Ia juga membersihkan riasannya dan masuk ke walk in closet untuk mengganti pakaian.
"Pakai baju yang mana?" Khalisa bertanya pada dirinya sendiri, ia bingung memilih baju tidur yang paling bagus di lemarinya. Padahal Ica telah memasukkan beberapa pakaian baru ke lemari Khalisa.
Akhirnya Khalisa memilih satu piyama biru muda polos yang berada di antara piyamanya yang lain.
"Haura."
Khalisa terperanjat mendengar suara ketukan pintu bersamaan dengan Azfan yang memanggilnya.
"Kamu udah selesai?" Khalisa mendekatkan diri ke pintu agar Azfan bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Sudah."
Hening untuk beberapa detik. Khalisa menekan dadanya yang bergemuruh bahkan ia khawatir Azfan akan mendengarnya meski mereka dipisahkan oleh pintu kayu yang menghubungkan walk in closet dan kamarnya.
"Haura ku, Khalisa, tahu nggak dengan kamu melepas jilbab di hadapanku maka pahala akan mengalir untukmu." Kalimat Azfan begitu lembut membuat Khalisa perlahan membuka pintu dan menunjukkan diri dengan pakaian yang berbeda, bukan lagi gaun pengantin.
Khalisa menunduk dalam tidak berani menatap Azfan, ia takut jantungnya terlepas dari peradabannya.
"Apa Haura takut?" Azfan maju selangkah, matanya berbinar-binar melihat Khalisa.
Khalisa menggeleng lalu mengangguk membuat kening Azfan berkerut.
"Takut kenapa?" Suara Azfan masih begitu lembut, selembut adonan kue yang dibuat para karyawan resor Jinggo di dapur saat pagi hari.
"Takut jatuh cinta dan nggak bisa bangun." Lirik Khalisa seraya mendongak melihat wajah Azfan yang basah. kalimat itu membuat Azfan tersenyum lebar yang menular pada Khalisa. "Aku ke kamar mandi dulu."
Khalisa menguncir rambutnya untuk cuci muka, ia membersihkan riasan matanya yang paling sulit dihilangkan.
Tadinya Khalisa tidak mau mandi tapi ia ingin tampil sempurna di depan Azfan dihari pertama mereka menikah. Tidak. Bukan hanya hari pertama tapi ia akan berusaha sebaik mungkin setiap hari. Ia mengguyur tubuhnya di bawah shower, air hangat membuatnya rileks setelah berdiri hampir seharian penuh. Khalisa menggunakan sabun lebih banyak dari biasanya.
Setelah itu Khalisa juga menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya.
"Hmm wangi banget parfumnya, Ama emang paling jago soal wewangian." Gumam Khalisa.
__ADS_1
Sementara Khalisa ke kamar mandi, ia melihat foto-foto yang terpajang di dinding. Azfan fokus pada foto anak kecil 2 tahunan yang mirip dengan Zunaira saat ini tapi ia yakin itu bukan Zunaira. Azfan menyentuh permukaan foto tersebut, pasti itu Khalisa.
"Kenapa Khalisa takut nggak bisa bangun padahal aku lagi di fase itu dan akan selalu seperti itu." Azfan bergumam sendirian.
Azfan membalikkan badan ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, pada saat yang bersamaan ia juga mencium aroma segar seperti buah-buahan dan bunga yang lembut. Ia melihat wajah Khalisa sudah bersih dari bekas riasan.
"Haura pakai parfum?" Tanya Azfan karena beberapa menit yang lalu ia tidak mencium aroma ini.
"Iya, hadiah dari Ama." Khalisa senyum-senyum menghampiri Azfan. Renata suka mengoleksi berbagai parfum tapi ia tahu Khalisa tidak boleh menggunakannya. Namun ketika Khalisa memberitahu bahwa ia memakai parfum untuk suaminya maka Renata dengan semangat meminta Khalisa memilih parfum apapun yang disukainya. Maka Khalisa memilih parfum beraroma buah yang segar tapi lama-lama akan tercium aroma bunga mawar.
"Baunya enak." Puji Azfan jujur karena sekarang ia ingin selalu menarik napas mencium aroma itu dalam-dalam.
"Lagi lihat apa?"
"Ini foto Haura masih kecil?"
"Iya, kamu mau lihat lagi nggak, ada banyak disitu." Khalisa menunjuk album foto di atas meja belajarnya.
"Mau." Azfan manggut-manggut semangat karena penasaran seperti apa wajah istrinya saat masih anak-anak.
Khalisa mengambil album foto tebal tempat mamanya menyimpan semua fotonya sejak bayi. Khalisa meletakkan album yang lumayan berat itu di pangkuan Azfan. Mereka duduk di pinggiran ranjang untuk melihat foto-foto itu bersama-sama.
"Ini Kafa?" Azfan menunjuk sosok bocah laki-laki yang berdiri di samping Khalisa.
"Iya, usia kami hanya terpaut satu tahun."
"Ternyata kamu suka es krim vanilla sejak kecil." Azfan menunjuk foto Khalisa yang sedang makan es krim.
"Aku suka es krim dan pantai, karena Mama banyak menghabiskan waktu di resor jadi otomatis aku juga lebih sering disana." Dari jarak sedekat ini Khalisa bisa mencium aroma tubuh Azfan yang wangi tapi tidak sekuat aroma parfum yang ia pakai. Itu aroma alami tubuh Azfan bukannya parfum.
"Kamu wangi." Tukas Khalisa.
"Hm?" Azfan sedikit menghirup aromanya sendiri karena ia tidak memakai parfum. Tadinya Azfan hendak memakai parfum yang biasa ia pakai sehari-hari tapi takut Khalisa terganggu dengan aroma parfum murah itu. "Aku nggak pakai parfum."
Khalisa menarik satu tangan Azfan dan menciumnya, "tubuh kamu yang wangi bukan karena parfum."
Azfan memindahkan album foto itu di sampingnya, "mari berdoa bersama."
__ADS_1
Mereka saling berhadapan dan mengangkat tangan untuk berdoa, semua orang yang datang tadi telah mendoakan mereka. Maka sekarang giliran Azfan dan Khalisa mendoakan diri sendiri.
"Ya Allah terimakasih atas kelancaran acara hari ini, ya Rabb inilah awal langkah kami menjalani ibadah paling lama ini, semoga kami termasuk orang-orang yang senantiasa taat kepada-Mu ya Allah, andai suatu hari kami khilaf semoga kami bisa saling mengingatkan."
"Aamiin." Khalisa mengaminkan doa Azfan.
Khalisa memejamkan mata ketika Azfan mengecup keningnya lama. Khalisa mencengkram paha Azfan ketika suaminya itu mengecup bibirnya. Khalisa seperti terkena sengatan listrik hingga rasanya ia ingin pingsan.
"Khalisa habis makan madu?" Azfan menatap wajah Khalisa yang memerah seperti tomat.
Khalisa menggeleng, "kenapa?"
"Bibirmu manis."
Alis Khalisa terangkat, ia memegang pipinya yang terasa panas. Khalisa tidak tahu apakah bibirnya memang manis atau Azfan hanya berusaha menyanjungnya. Namun melihat ekspresi Azfan, sepertinya ia serius.
Azfan beranjak untuk meletakkan album foto kembali ke tempat semula. Pandangan Khalisa mengikuti langkah Azfan, ia menyentuh bibirnya dengan telunjuk.
Azfan mematikan lampu ruangan dan menggantinya dengan lampu tidur berwarna kekuningan hingga kini kamar itu berubah temaram. Suasana ini terasa sempurna dan romantis.
"Apa begitu manis?" Tanya Khalisa setelah Azfan kembali.
Azfan mengangguk dua kali lalu meraih tangan Khalisa, mencium punggung dan telapak tangan sang istri bergantian.
Meski cahaya temaram Azfan tetap bisa melihat kecantikan Khalisa, Azfan mengusap rambut hitam legam Khalisa yang mencapai punggung. Azfan tak pernah membayangkan seperti apa rambut Khalisa sebelumnya, ia juga tidak penasaran akan hal itu.
Istriku cantik sekali. Batin Azfan.
"Mau lagi?"
"Ini milikku." Azfan naik ke tempat tidur dan kembali mengecup bibir Khalisa.
Khalisa terdengar tertawa sebelum Azfan benar-benar membungkam mulutnya.
"Sayang." Khalisa menahan dada Azfan. "Baca doa dulu, baca doa." Katanya memperingatkan.
Azfan melepas tautan di antara mereka dengan berat hati, ia tidak lupa hanya saja ia tak rela melepas sang istri meski sebentar.
"Bismillahirrahmanirrahim." Ucap mereka berdua.
Azfan menyentuh ubun-ubun Khalisa dan membisikkan doa jima' lalu melanjutkan apa yang telah tertunda baru saja.
__ADS_1