
Khalisa terkesiap ketika Revan melompat ke jok belakang. Setelah mobil berputar-putar di jalan yang tak pernah Khalisa tahu akhirnya mereka berhenti di tengah-tengah puluhan rumah yang tidak berpenghuni. Bangunannya tidak terawat dan tak ada satu pun orang kecuali hanya mereka berdua.
"Kamu mau ngapain?" Khalisa merapatkan tubuhnya ke pintu mobil saat Revan duduk di sampingnya. "Jangan sentuh aku!" Teriaknya.
Revan hanya tersenyum melihat respon Khalisa, ia menarik kedua tangan Khalisa paksa lalu mengikatnya dengan kain.
"Kamu masih sama kayak dulu." Revan berusaha melihat wajah Khalisa yang menunduk dalam. Tubuh Khalisa gemetar ketakutan. "Kenapa nunduk, biar aku lihat wajahmu." Revan mengangkat dagu Khalisa agar ia bisa melihat wajahnya dengan jelas. "Sama sekali nggak berubah, kamu masih cantik."
"Lepasin aku!"
Tawa Revan menggelegar mengalahkan gemuruh hujan di luar sana. Bagi Khalisa suara Revan seperti badai yang membuatnya mati kutu.
"Aku udah berusaha mati-matian keluar dari penjara gelap itu, kamu tahu—aku nggak mungkin lepasin kamu gitu aja."
Khalisa merapatkan bibir menahan gemeletuk giginya agar ia terlihat berani. Padahal Khalisa ketakutan setengah mati, ia tak tahu mereka sedang berada dimana.
"Apa yang kamu mau?" Dengan gentar Khalisa bertanya, ia tak mungkin menuruti permintaan Revan tapi apalagi yang bisa dilakukannya sekarang.
"Bagus kalau kamu bertanya." Revan mengelus pipi Khalisa, "aku mau kamu."
Khalisa menahan napas, aroma tubuh Revan sangat tidak enak membuatnya ingin muntah.
Revan kembali tertawa ketika Khalisa membuang muka, ia tak mau buru-buru lagi pula waktu mereka masih banyak. Revan yakin tak akan ada yang bisa menemukan tempat ini.
"Tolong buka pintunya." Pinta Khalisa, perutnya terasa diaduk-aduk karena aroma Revan memenuhi mobil. Ditambah semua jendela ditutup rapat sehingga Khalisa tak bisa menghirup udara luar
"Jangan coba-coba kabur dari aku." Revan menatap Khalisa tajam.
"Aku mau muntah."
"Jangan alasan."
"Buka nggak atau aku muntah disini."
"Silakan, aku nggak akan mudah terti—" Revan belum menyelesaikan kalimatnya tapi detik itu juga Khalisa muntah-muntah hingga mengenai kakinya. Revan mengumpat kesal, ia sedikit menjauh dari Khalisa karena tidak mau terkena muntahan itu lagi.
"Ayo keluar." Revan menarik Khalisa membawanya keluar dari mobil.
Khalisa bertanya mereka hendak kemana tapi suaranya teredam gemuruh hujan dan petir yang sesekali menyambar. Khalisa menoleh pada sandalnya yang tertinggal tapi Revan terus membawanya lari. Khalisa berusaha melepaskan diri tapi tenaganya tak ada apa-apanya dibandingkan Revan.
Karena kesal dengan Khalisa yang terus memberontak akhirnya Revan mengangkat tubuh Khalisa dengan paksa. Ia tak mempedulikan teriakan Khalisa, toh tak akan ada yang mendengarnya. Khalisa hanya akan membuat suaranya habis.
Revan menghempaskan tubuh Khalisa ke sebuah kursi yang sudah rusak di salah satu bangunan rumah yang tidak terurus. Pemiliknya pasti meninggalkan rumah ini sejak lama. Terbukti dari bangunannya yang rusak dimana-mana dan dipenuhi sarang laba-laba.
"Lihat aku." Pinta Revan tapi Khalisa tetap menunduk. Revan meminta Khalisa mengangkat wajahnya tapi wanita itu setia melihat lantai kotor di bawah mereka. "Lihat aku lihat!" Revan menarik jilbab Khalisa hingga Khalisa mendongak.
"Tolong biarin aku pergi." Khalisa memohon dengan bibir gemetar, ia ketakutan dan kedinginan sekaligus. Bibir Khalisa membiru, air matanya mengalir deras bercampur air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Aku cinta banget sama kamu, Khalisa, kamu nggak bisa lihat cinta itu di mataku?"
"Aku udah nikah."
"Aku nggak peduli, kamu tetep bisa jadi milik ku."
"Aku benci sama kamu, aku jijik!" Teriak Khalisa.
Revan menyeringai, ia tak suka mendengar kalimat Khalisa.
"Dimana sekarang suami kamu, panggil!" Bentak Revan. "Panggil!"
"Menjauh dari ku!" Khalisa mendorong dada Revan hingga lelaki itu sedikit terhuyung ke belakang—hanya sedikit.
"Jangan macem-macem!" Revan menunjukkan dua pistol dari saku celananya.
Khalisa spontan mengatupkan bibir melihat pistol itu, ia yakin itu bukan pistol mainan. Khalisa menelan salivanya dengan susah payah.
"Kamu kedinginan kan?" Revan merengkuh tubuh Khalisa. "Silakan memberontak tapi kamu akan mati disini, kamu nggak berpikir kalau aku orang yang baik kan?"
Khalisa menggigit bibir menahan tangis, meski demikian ia tak bisa mengendalikan gemetar tubuhnya.
"Sekarang kamu milikku, Khalisa." Revan meraba tengkuk Khalisa.
Revan dapat merasakan tubuh Khalisa memegang dalam pelukannya. Revan tersenyum lebar, ia memang ditakdirkan untuk memiliki Khalisa walaupun harus mendekam di penjara selama beberapa tahun. Tak apa, asal sekarang ia bisa bersama pujaan hatinya.
Revan menghirup aroma tubuh Khalisa dalam-dalam, tak ada aroma parfum apapun. Khalisa memiliki aroma seperti bayi tapi Revan tetap menyukainya. Bahkan jika Khalisa berbau lumpur pun Revan tetap akan suka. Namun itu tak mungkin, aroma tubuh Khalisa sendiri membuat Revan bergairah.
"Argghh!" Revan memekik ketika tiba-tiba Khalisa menggigit bahunya. "gila kamu!" Revan spontan melepas pelukannya. "Ah!" Revan menyentuh bahunya yang terasa nyeri karena gigitan Khalisa begitu kuat. "Kalau nggak mau dengan cara baik-baik, kita pakai cara kasar!" Revan mengangkat tubuh Khalisa membawanya masuk ke rumah itu lebih dalam.
Revan melempar tubuh Khalisa pada tumpukan kayu dari sisa bangunan yang sudah lapuk dengan kasar. Kemarahan Revan memuncak karena Khalisa berani menggigitnya hingga berdarah.
"Bangun!" Revan menarik Khalisa agar bangkit dari lantai. "Bilang kalau kamu juga suka sama aku, bilang kalau kamu mencintaiku."
"Aku mencintai suamiku, Mas Azfan aku disini, aku yakin kamu bisa nemuin aku disini."
"Sebut nama ku!"
"Mas Azfan, aku disini."
"Shitt, sebut nama ku atau kamu bakal beneran mati disini."
Khalisa terdiam, ia tak bisa mengucapkan apapun lagi. Ia tak mau mati disini. Wajah Azka yang menangis saat Khalisa tinggalkan tadi tiba-tiba terlintas di benak Khalisa. Lalu saat Azfan mencium perut Khalisa. Tawa Azka terngiang di telinga Khalisa. Tidak, Khalisa ingin pulang.
"Khalisa!" Revan kembali menarik jilbab Khalisa ke belakang. "Kita akan disini sampai besok, kita akan bercinta semalaman." Ia menyeringai membayangkan betapa menyenangkan dan panasnya malam yang akan mereka lalui disini. Hanya berdua. Revan akan melakukannya sampai puas.
Revan kembali mengumpat saat Khalisa meludahi wajahnya. Revan hilang kesabaran, ia menampar Khalisa dengan kuat.
__ADS_1
Khalisa memekik, ia dapat merasakan nyeri di sudut bibirnya. Bahkan sekarang pipinya terasa kebas.
"Kamu pikir kamu siapa, hm?" Revan kembali menampar Khalisa di sisi yang lain. Darah segar menyembur dari sudut bibir Khalisa membuat Revan tertawa puas.
Revan menarik jilbab Khalisa hingga menjadi dua bagian lalu melemparnya sembarangan ke lantai. Sekarang Revan bisa melihat rambut Khalisa yang panjang menjuntai melewati punggung.
"Lihat, kamu lebih cantik tanpa jilbab." Revan mendorong Khalisa hingga membentur dinding, "mari kita mulai."
Khalisa menggeleng kuat sambil memejamkan mata, ia tak bisa melawan karena tangannya terikat. Di tengah keputusasaannya Khalisa membentur bagian vital Revan dengan lututnya.
Revan kembali menjerit, ia mendorong Khalisa hingga terhuyung ke samping. Khalisa jatuh tersungkur di antara kayu lapuk tadi. Revan menariknya untuk berdiri lalu menghempaskan tubuh Khalisa dengan kasar. Revan menendang Khalisa dengan brutal, ia harus membuat Khalisa tak berdaya agar Khalisa tidak bisa melawan lagi.
Setelah melihat Khalisa tersungkur mengenaskan, Revan keluar dari rumah itu. Revan pergi ke mobil untuk mengambil pengharum. Tadi Revan melihat ada pengharum mobil disana.
Revan menyemprotkan pengharum beraroma lavender itu ke seluruh tubuhnya. Tadi Khalisa bilang aroma tubuh Revan tidak enak, itu sebabnya Revan berinisiatif melakukan ini agar Khalisa menyukainya.
Khalisa menyeret tubuhnya ke sudut ruangan, ia menangis dalam diam. Khalisa harap Azfan atau siapapun bisa menemukannya disini. Dengan sisa tenaganya Khalisa mengambil jilbabnya yang sudah robek menjadi dua bagian, ia mengambil bagian yang lebih besar dan menutupi kepalanya dengan itu.
Tolong aku, Mas.
Aku disini
Aku takut.
"Ahhh!" Khalisa memegangi perutnya yang terasa amat sakit seperti saat ia hendak melahirkan. Tidak. Ini lebih sakit. Khalisa menggeram, sekarang ia berada dalam keadaan sadar dan tidak. Khalisa merasakan ada cairan hangat yang keluar dari bagian bawah tubuhnya.
Khalisa ingin melihat apa yang keluar tapi untuk menunduk saja ia tak mampu. Sepertinya Khalisa mengompol.
"Cium, aku sudah wangi!" Revan datang dengan tawa dan seringai yang menakutkan. Ia mendekat ke arah Khalisa. "Kenapa kamu nangis, hm?"
"Jangan, aku mohon, aku lagi hamil."
"Who's care?" Revan tak peduli, bahkan jika Khalisa meregang nyawa disini ia tetap akan melakukan semuanya sesuai rencana yang telah ia rancang sejak jauh hari.
"Tolong, perutku sakit." Khalisa memohon dengan berderai air mata. Asin. Darah, air mata dan air hujan bercampur di mulut Khalisa. Ia harap Revan mau melepaskannya. Jika iya maka Khalisa akan berlari dari sini walaupun ia tak tahu jalan pulang. Khalisa akan menemui siapapun dan meminta tolong untuk menyelamatkannya.
Revan berdiri menyeret Khalisa ke ruangan lain di rumah ini. Ruangan yang terlihat seperti kamar karena ada dipan teronggok di sudut sana.
Saat itu baru lah Khalisa bisa melihat darah yang mengalir dari sepanjang ruangan tadi hingga tempatnya duduk sekarang. Khalisa menangis tanpa suara, itu bukan kencing tapi darah.
"Kenapa kamu memakainya lagi?" Revan kembali menyingkirkan jilbab Khalisa, ia mendekat tak peduli walaupun melihat tubuh Khalisa bersimbah darah.
"Jangan." Khalisa menahan tubuh Revan dengan dua tangannya yang terikat.
Pandangan Khalisa berkabut, ia hampir kehilangan kesadarannya. Tidak, Khalisa harus tetap sadar atau Revan akan melakukan apapun pada tubuhnya.
Di antara kesadarannya yang semakin menipis Khalisa mendengar suara sirine polisi yang perlahan semakin jelas. Semoga Khalisa tidak sedang berhalusinasi. Bukankah tadi ia mengaktifkan lokasi pada ponselnya di dalam tas.
__ADS_1