
Para wartawan seketika berkerumun begitu melihat mobil Khalisa. Khalisa adalah orang yang ditunggu-tunggu oleh mereka di halaman kantor polisi. Khalisa tak dapat bergerak sedikitpun setelah turun dari mobil saking banyaknya wartawan yang mengerumuninya. Khalisa sudah menduga bahwa akan ada wartawan disitu tapi ia tak menyangka jika jumlah mereka sebanyak itu.
Dua orang polwan dengan sigap melindungi Khalisa. Azfan menggenggam tangan Khalisa membawanya melewati puluhan wartawan yang berlomba-lomba mengajukan pertanyaan terhadap Khalisa.
"Khalisa bagaimana komentar kamu tentang seruan boikot Alindra Beauty yang gencar dilakukan masyarakat?" Itu adalah pertanyaan dominan dari wartawan tersebut.
"Kami sedang memulihkan isu-isu buruk yang menimpa Alindra Beauty." Jawab Khalisa sembari terus berjalan memecah kerumunan. "Teman-teman wartawan mohon untuk bersabar, kami akan memberikan jawaban sebentar lagi." Tambahnya.
"Apakah benar kondisi korban sangat memprihatikan?"
"Terakhir saya mengunjunginya, kondisi beliau sudah jauh lebih baik, saat ini beliau sudah pulang dari rumah sakit dan jika kalian menyebut beliau korban itu kurang tepat." Khalisa meluruskan cara penyebutan wartawan terhadap Elena. Jika Elena disebut korban maka secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa Khalisa adalah tersangka dan itu sangat keliru. Dalam hal ini Khalisa bukan lah seorang tersangka sebab sebelumnya Elena juga memiliki riwayat alergi bergamot.
"Apakah benar bahwa krim itu mengandung bahan berbahaya?"
Azfan mengencangkan genggamannya pada Khalisa saat mendengar pertanyaan itu. Ia memberi kode bahwa Khalisa tak perlu menanggapi pertanyaan tersebut. Lagi pula mereka akan segera melakukan konferensi pers bersama penyidik dan saksi yang merupakan dokter yang menangani Elena.
"Kami mengantongi izin resmi dari BPOM." Khalisa tetap menjawabnya dengan sabar walaupun semua pertanyaan yang mereka ajukan seolah menyudutkannya. Namun Khalisa tetap menjawab semua pertanyaan mereka dengan jujur apa adanya.
Pemeriksaan oleh polisi dilakukan di pabrik Alindra Beauty mulai dari memeriksa kandungan krim anti strechmark tersebut hingga memeriksa kembali surat izin Alindra Beauty. Polisi tidak menemukan bahan berbahaya pada krim itu, semuanya telah mendapat izin dari BPOM. Seluruh pemeriksaan memakan waktu hingga satu bulan lebih hingga hari ini.
Khalisa duduk di kursi yang telah disediakan bersama Daniel, Aisyah dan Azfan serta dokter yang menangani Elena. Khalisa merasa dua kali lebih tegang dibandingkan saat sidang skripsi beberapa hari yang lalu. Bukannya istirahat setelah ujian, Khalisa justru harus berpikir lebih keras setelah Alindra Beauty mengalami kerugian besar setelah kasus ini mencuat ke publik. Mereka tak dapat mengendalikan isu yang telanjur tersebar.
Khalisa tidak dapat tidur tenang, kualitas tidurnya semakin memburuk padahal Azka sudah jarang terjaga di malam hari. Khalisa lebih banyak menghabiskan malamnya untuk bermunajat kepada Allah agar memberikan jalan keluar dari semua masalah yang sedang dialami keluarganya. Jika memikirkannya Khalisa tak dapat menyelesaikan semua ini tapi bagi Allah tentu tidak ada yang tidak mungkin. Manusia boleh berpikir mustahil tapi Allah Maha Segalanya.
"Kami menanyakan sekali lagi pada Bu Elena apakah akan tetap melanjutkan tuntutan ini setelah mengetahui bahwa sebelumnya ia memiliki alergi terhadap bergamot, ini adalah kondisi medis yang langka karena menurut tiga apoteker yang menjadi pengawas selama proses pembuatan krim ini mereka telah menambahkan essential lavender untuk meminimalisir adanya alergi, sebelumnya juga telah dilakukan pengujian terhadap dua orang yang juga memiliki alergi terhadap bergamot dan keduanya tidak menunjukkan reaksi alergi."
"Kasus ini sudah jelas akan dimenangkan Alindra Beauty tapi Bu Elena tetap ingin melanjutkan tuntunannya." Jelas polisi lagi.
"Kami akan segera melakukan konferensi pers." Sahut pengacara Alindra Beauty yang telah bersiap memaparkan bukti-bukti bahwa pihak mereka tidak bersalah.
Khalisa mengepalkan tangannya yang mengeluarkan keringat dingin, berhadapan langsung dengan puluhan wartawan membuatnya gugup. Khalisa berharap ia bisa bicara lancar nanti.
Saat ini Khalisa merasa beruntung untuk kesekian kalinya karena ia tak pernah membuka media sosial. Jika bukan Huma yang menunjukkan komentar para netizen pasti Khalisa tak akan tahu bahwa mereka menyudutkan Alindra Beauty padahal Khalisa yakin mereka belum pernah membeli satu pun produknya tapi jari mereka sungguh cekatan mengetik berbagai kalimat kebencian. Benar kata Kafa, dari sekian banyak komentar pedas itu ada juga komentar baik. Mereka berasal dari kalangan pelanggan setia yang paham betul bahwa Alindra Beauty tak mungkin menggunakan bahan berbahaya pada produknya.
"Umma," tegur Azfan ketika ia melihat Khalisa melukai tangannya sendiri dengan kukunya. "Ada apa?"
"Hm?" Khalisa mengerjapkan mata, panggilan Azfan membuatnya tertarik ke dunia nyata. Khalisa menunduk merasakan perih pada telunjuknya. Karena tegang Khalisa tidak sadar kalau ia melukai telunjuknya dengan ibu jarinya sendiri.
__ADS_1
Azfan menarik tangan Khalisa dan menggenggamnya berjaga-jaga agar Khalisa tidak mencengkram tangannya sendiri terlalu kuat.
"Bismillah." Daniel beranjak lebih dulu. Mereka telah mempersiapkan konferensi pers untuk segera menghentikan isu yang beredar di masyarakat. Selama ini pihak Alindra diam karena ingin menyiapkan segalanya dengan matang. Ini adalah hari dimana mereka akan menunjukkan pada masyarakat bahwa Alindra Beauty dapat mempertahankan eksistensi nya.
Khalisa menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.
Kilatan cahaya blitz menerpa ketika mereka keluar dari ruangan itu. Wartawan saling berebut untuk mendapat foto Daniel, Aisyah, Khalisa, Azfan dan seorang pengacara Alindra Beauty serta seorang dokter yang menjadi saksi terhadap kasus tersebut.
Polisi memaparkan bukti-bukti yang mereka dapat selama proses pemeriksaan terhadap Alindra Beauty. Polisi mengatakan bahwa mereka tidak menemukan kandungan berbahaya terhadap krim anti strechmark tersebut.
Kemudian dokter menjelaskan tentang kondisi yang Elena alami. Alergi tersebut termasuk langka yang menyerang 1 dari 1000 orang di seluruh dunia.
Jika Elena menuntut karena dugaan ada kandungan berbahaya pada krim anti strechmark Alindra Beauty maka polisi tidak bisa menerima tuntutan tersebut dan tak akan melanjutkan kasus ini ke pengadilan.
Pengacara Alindra Beauty menjelaskan bahwa mereka mengalami kerugian yang cukup besar karena isu tersebut.
"Meski demikian kami tetap bertanggungjawab membiayai seluruh pengobatan Elena."
"Apakah Alindra Beauty akan menuntut balik Elena karena pencemaran nama baik." Tanya beberapa wartawan.
"Saat ini krim tersebut memiliki dua varian tube hijau dan putih, pada tube hijau tertulis peringatan mengandung bergamot, semua keterangan pada tube nya sangat jelas." Khalisa menunjukkan dua tube krim anti strechmark pada wartawan.
"Bagaimana jika terjadi kasus serupa di masa depan?"
"Baik, kami sudah memikirkan hal itu, untuk menghilangkan kekhawatiran masyarakat setelah mempertimbangkan banyak hal maka untuk produksi selanjutnya kami akan mengganti bergamot dengan Tea Tree."
"Apakah kalian tidak khawatir jika krim itu tak laku lagi di pasaran setelah mengganti produk best seller?"
"Tidak, kami telah memilih aroma terbaik untuk menggantikan bergamot dan kami yakin sebagian besar orang tak begitu peduli pada aroma karena yang terpenting adalah hasil dari pemakaian krim tersebut."
Konferensi pers sore itu berakhir setelah Daniel mengucapkan terimakasih kepada teman-teman wartawan dan masyarakat yang telah menaruh kepercayaan pada Alindra Beauty.
******
Khalisa menghempaskan tubuhnya ke ranjang mengembuskan napas panjang. Beban berat di pundaknya seolah hilang, Khalisa banyak belajar dari kejadian yang baru saja menimpanya. Kasus itu berakhir dengan damai sebab Khalisa tak ingin mereka memperpanjangnya lagi. Khalisa yakin walaupun mereka mengalami kerugian karena kasus tersebut tapi Alindra Beauty akan segera pulih.
Kehadiran Azfan di kamar itu membuat Khalisa tersenyum dan bangkit dari posisi tidur. Azfan membawa teh hangat beraroma melati yang menyeruak ke seluruh kamar menyalahkan aroma bayi yang telah menjadi wewangian alami selama 4 bulan ini.
__ADS_1
Azfan duduk di samping Khalisa melirik Azka yang masih terlelap di dalam box nya.
"Makasih Bi." Khalisa menyesap teh itu perlahan.
"Aku pergi ke apartemen Kafa ya malam ini."
"Iya, mumpung masih sempet." Khalisa meletakkan gelas di atas nakas. "Persiapan pernikahan Kafa udah 70%, tinggal beberapa perintilan yang belum, Ai luar biasa banget masih bisa ngurusin persiapan pernikahan Kafa sekaligus selesain masalah kantor."
Azfan mengangguk setuju dengan perkataan Khalisa. Hampir semua persiapan diurus oleh Aisyah dan Umar mulai dari memilih gedung, designer baju mempelai hingga souvenir.
"Mama dan Papa juga sama hebatnya karena dulu mereka yang mengurus pernikahan kita bahkan aku nggak ikut campur."
"Abi kan calon pengantinnya jadi tinggal duduk aja terus ngucapin ijab qobul." Khalisa memeluk Azfan dari samping.
"Istriku juga luar biasa." Azfan mengecup kening Khalisa.
Wajah Khalisa memerah mendapat kecupan dari Azfan, kehangatan perlahan mengalir melalui otot-otot di wajahnya. Khalisa memegangi pipinya yang hangat atau tangannya yang hangat karena memegang gelas teh barusan. Khalisa bingung, ia bukan remaja yang sedang jatuh cinta.
"Bertemu denganmu adalah anugerah paling indah dalam hidupku, Umma—istriku—ibu dari anakku." Azfan menatap wajah Khalisa dalam. "Aku berangkat dulu." Ujarnya dengan berat hati, jika ia tak berjanji memberikan pelajaran untuk Kafa pasti ia tetap tinggal di rumah. Azfan ingin berada di dekat Khalisa karena seharian ini mereka sibuk.
"Jangan pergi dulu." Khalisa menahan tangan Azfan.
"Aku akan memberi pelajaran dengan cepat."
"Abi belum tahu Kafa, dia orangnya suka nanya."
"Aku akan berusaha kembali secepat mungkin."
Khalisa mengerucutkan mulutnya, karena kegiatan yang semakin padat mereka hanya memiliki waktu sebentar untuk berduaan.
Khalisa mencium tangan Azfan mengantarnya hingga depan pintu. Khalisa memperingatkan Azfan sekali lagi untuk tidak pulang terlalu malam. Khalisa harap Kafa tidak banyak tanya.
Setelah motor Azfan tidak terlihat, Khalisa kembali ke kamar. Perhatiannya teralih pada layar ponselnya yang menyala. Terdapat satu pesan dari Rindang.
Khalisa membelalak membaca pesan singkat tersebut bahkan tak terasa ia memekik dan setelah sadar ia buru-buru menutup mulut karena takut Azka terbangun.
Ko Levin datang ke rumah dan coba tebak dia ngapain, dia lamar aku di depan Papa Mama!
__ADS_1