Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
85


__ADS_3

Dengan telaten Azfan menggoreskan tinta pada media kaca di hadapannya. Azfan sedang membuat pesanan salah satu pembeli langganannya yakni QS Al-Baqarah ayat 214 tentang pertolongan Allah yang begitu dekat. Dengan membuat kaligrafi ini Azfan merasa ayat tersebut juga diperuntukkan untuk dirinya sekarang. Bahwa pertolongan Allah itu amat dekat sehingga Azfan tidak boleh putus asa terlalu cepat. Meski tokonya sepi akhir-akhir ini tapi Azfan tidak boleh menaruh prasangka buruk terhadap Allah.


Azfan sudah memberitahu Khalisa bahwa malam ini ia akan pulang sedikit terlambat karena harus menyelesaikan kaligrafi pesanan orang. Sebenarnya Azfan ingin pulang cepat dari toko karena rasa rindu yang menyergap hatinya kala tidak bisa memandang sosok sang istri. Namun Azfan harus memenuhi kewajibannya mencari nafkah, ia juga tidak mungkin meminta Khalisa ikut ke toko setiap saat. Sebab Khalisa juga memiliki kesibukan di rumah.


Azfan mengangkat wajahnya melihat ke arah pintu mendengar suara seseorang masuk. Ia tertegun untuk beberapa saat melihat sosok Kafa memasuki tokonya. Azfan segera beranjak menyambut Kafa, mungkin ini pertanda baik bahwa Kafa akan baikan dengan dirinya dan Khalisa. Azfan menyapa Kafa dengan ramah dan menanyakan apa yang Kafa butuhkan disini. Sungguh Azfan akan memberikan kaligrafi manapun yang Kafa inginkan. Jika ternyata kaligrafi itu tidak ada maka Azfan akan membuatnya untuk Kafa terlebih dahulu. Azfan begitu bersemangat menyambut Kafa seolah dia adalah tamu istimewa. Bagi Azfan, Kafa adalah istimewa.


"Tumben buka sampai malam." Kafa yang dari tadi terdiam akhirnya angkat suara, ia mengedarkan pandangan pada seluruh penjuru toko.


"Iya soalnya harus bikin pesanan orang dulu." Azfan mempersilakan Kafa duduk.


"Kalian lagi kesulitan ya?" Kafa menatap Azfan yang duduk di hadapannya, ia bisa menebak bahwa keuangan Azfan dan Khalisa sedang tidak baik karena Azfan membuka toko hingga malam hari atau Khalisa yang harus menawarkan desain nya pada Sandi. Kafa tak pernah melihat Khalisa melakukan itu sebelumnya karena desain tersebut adalah harta paling berharga bagi Khalisa.


"Ada apa memangnya?" Azfan masih mencoba berprasangka baik pada Kafa.


"Sesulit apa sampai Ce Khalisa harus jual desain nya sama designer lain?"


Azfan mengerutkan kening, ia tidak mengerti apa yang Kafa katakan. Khalisa menjual desain nya? kapan? Bahkan Azfan tidak tahu jika Khalisa melakukan itu lalu kenapa Kafa mengetahuinya? apakah Khalisa memberitahu Kafa tentang kesulitan mereka akhir-akhir ini. Namun mengapa Khalisa tidak memberitahu Azfan, apakah sekarang Azfan bukan lagi tempat berbagi cerita bagi Khalisa.


Azfan mencengkram pegangan kursi dengan erat, fakta itu membuat harga diri Azfan seperti diiris-iris. Sakit sekali. Azfan gemetar, matanya memerah dan basah menahan emosi.


"Kamu datang cuma mau ngasih tahu itu kan?" Azfan beranjak, "kalau begitu silakan pergi, aku juga udah mau tutup tokonya."


Tanpa bicara apapun lagi Kafa keluar dari toko tersebut meninggalkan Azfan. Selama ini Kafa hanya melihat dari jauh tapi setelah mendengar Khalisa menawarkan desainnya pada Sandi tadi, Kafa tak tahan lagi untuk tidak mendatangi Azfan.


Azfan menutup wajahnya dengan satu tangan lalu mengacak-ngacak rambut frustrasi. Apakah Khalisa tidak bahagia dengan pernikahan ini tapi kenapa Azfan tak pernah melihat itu di wajah Khalisa. Apakah Khalisa hanya berpura-pura. Tidak. Azfan tidak boleh berpikir seperti itu. Namun Kafa juga tidak mungkin berdusta dengan ucapannya.


Pasti selama ini Khalisa tertekan karena Azfan tidak mampu memenuhi kebutuhannya. Tentu saja karena selama ini Khalisa hidup serba berkecukupan dengan tempat tinggal mewah.


Azfan mematikan lampu toko dan mengunci pintu. Ia tidak jadi menyelesaikan kaligrafi itu malam ini karena ia tak mungkin bisa fokus. Azfan harus segera bertemu Khalisa.


******


Khalisa terlonjak kaget mendengar ketukan pintu, ia mengusap wajahnya meletakkan mushaf Al-Qur'an yang semula berada di pangkuannya. Khalisa ketiduran saat menunggu Azfan sambil tilawah tadi. Wajah lelah Khalisa berganti dengan senyum lebar melihat kedatangan Azfan.


"Aku udah bikin makan malam buat Mas." Khalisa mencium tangan Azfan.


Azfan hanya tersenyum tipis, ia memperhatikan wajah Khalisa. Sepertinya Khalisa mengoleskan pelembap karena bibirnya yang kemerahan itu terlihat mengkilap. Khalisa selalu menjalankan kewajibannya sebagai istri yakni berhias di depan suami bahkan memakai wewangian. Lelah Azfan hilang seketika saat mendapat sambutan hangat Khalisa. Kemarahannya sedikit reda setelah melihat Khalisa. Wajah Khalisa tampak bahagia, apakah karena ia telah berhasil menjual desainnya pada orang lain.


"Haura kenapa nggak makan dulu?" Azfan melihat hidangan di atas meja masih belum tersentuh.


"Aku nungguin Mas." Khalisa duduk di samping Azfan setelah mengambil nasi untuk sang suami. "Mas udah shalat isya kan?"


Mereka membaca doa bersama sebelum mulai makan.

__ADS_1


"Sudah." Azfan melahap nasi dengan sup ayam dan sayur, perkedel serta sambal kecap. Tidak lupa kerupuk udang yang selalu ada di meja makan.


"Enak nggak?"


"Masakan Haura nggak pernah gagal." Puji Azfan yang membuat Khalisa tersipu.


"Pasti Mas capek jaga toko sampai malam gini, sebentar lagi aku pijitin ya."


"Nggak lebih capek dari Haura yang udah masak semua ini."


Setelah makan Azfan bergegas mencuci piring dan membereskan dapur serta meja makan. Ini adalah bentuk kerja sama dalam rumah tangga agar bukan hanya seorang istri yang melakukan pekerjaan rumah.


Sementara itu Khalisa mengunci pintu depan dan menutup semua gorden karena jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Khalisa melepas mukena lalu menyiapkan baju tidur untuk Azfan.


"Kenapa Haura kelihatan bahagia sekali?" Azfan duduk di pinggiran tempat tidur setelah mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos oblong. Azfan ingin tahu apakah Khalisa bisa terus terang kepadanya. Mengetahui bahwa Khalisa lebih memilih menceritakan hal itu pada Kafa sungguh membuat Azfan terluka.


"Oh ya?" Alis Khalisa terangkat, ia memegangi pipinya, apakah ia sungguh terlihat bahagia?


"Memangnya ada apa?"


"Tadi sore aku mutusin untuk tawarin design aku ke Bang Sandi, jadi dia itu designer kepercayaannya Ai Aisyah untuk bikin baju di butik Ai."


Azfan memperhatikan Khalisa dengan seksama, mendengarkan setiap cerita Khalisa dan tidak membiarkannya terlewat sedikitpun.


"Tahu nggak Mas, dia mau bayar dua desain aku dengan harga tinggi."


"Tiga puluh lima, itu bener-bener di luar perkiraan ku karena walaupun desain itu bagus tapi aku kan nggak punya nama dibanding designer sekelas Bang Sandi."


Azfan mengerti situasinya sekarang, jika Sandi adalah designer kepercayaan Aisyah maka pasti Kafa juga mengenalnya. Pasti Sandi menceritakan hal itu pada Kafa. Atau mungkin Kafa juga ikut memberikan uang tanpa sepengetahuan Khalisa.


"Kembalikan uang itu."


Khalisa tertegun, senyumnya seketika memudar mendengar pernyataan Azfan. Kenapa ia harus mengembalikan uang itu. Khalisa tidak mendapatkannya secara cuma-cuma tapi ia merelakan dua desain nya untuk Sandi.


"Kenapa Mas?" Khalisa bingung. "Aku cuma mau bantu Mas Azfan biar aku juga punya pendapatan."


"Kembalikan pada Sandi." Nada bicara Azfan masih rendah, ia tak pernah berbicara dengan tinggi meski sedang marah.


"Tapi kenapa, aku udah mempertimbangkan nya sejak tadi siang, aku berdebat sama diri ku sendiri sebelum mutusin untuk mengirim desain itu ke Bang Sandi dan Alhamdulillah Allah ngasih kita kemudahan karena Bang Sandi mau bayar dengan harga tinggi, kenapa aku harus kembalikan uang itu?"


"Kembalikan."


Air mata Khalisa meleleh, ia tidak mengerti kenapa Azfan memintanya melakukan hal itu. Khalisa hanya ingin membantu meringankan beban Azfan dan hanya itu yang ia punya.

__ADS_1


Rahang Azfan mengeras menatap Khalisa tajam, ia tetap pada pendiriannya agar Khalisa mau mengembalikan uang itu. Bagi Azfan lebih baik ia berpuasa karena tidak memiliki yang untuk membeli makanan dari pada menerima bantuan Kafa. Bukan Azfan sombong tapi Kafa memberikan bantuan itu atas dasar kebencian pada Azfan.


"Oke aku balikin sekarang." Khalisa menyambar ponselnya yang berada di atas nakas, dengan tangan gemetar menahan amarah ia menekan layar datar ponsel tersebut. Khalisa mentransfer kembali uang Sandi yang baru beberapa jam ia terima. "Mas puas?" Khalisa menunjukkan layar ponselnya pada Azfan yang menampilkan sebuah tulisan transaksi berhasil.


"Kenapa sih Mas Azfan tuh egois banget, kenapa nggak bilang makasih aja karena aku udah rela ngasih desain aku ke orang lain, Mas nggak akan tahu rasanya, bagi ku desain itu lebih berharga dari barang-barang yang aku punya disini, kalau sampai aku mau ngasih ke orang lain berarti ada alasan mendesak di balik itu semua." Khalisa bicara dengan menggebu-gebu dan deraian air mata.


"Apa alasan mendesak itu, aku memang nggak bisa ngasih Haura uang belanja lebih, aku nggak pernah ngajak Haura jalan-jalan keluar seperti pasangan lain, aku memang penuh dengan kekurangan lalu apa aku harus bahagia kalau Haura memberikan sesuatu yang Haura bilang berharga itu pada orang lain, Haura pikir aku nggak terluka?" Suara Azfan rendah tapi lebih dengan penekanan menggambarkan betapa terlukanya ia saat ini.


"Aku udah berusaha jaga perasaan Mas selama ini, apa aku salah? aku cuma mau bantu Mas aja nggak lebih, kenapa Mas nggak mau terima aja?" Khalisa berdiri di hadapan Azfan dan membalas tatapan tajam lelaki itu.


"Aku nggak mungkin terima."


"Kenapa?" Nada bicara Khalisa semakin meninggi.


"Apa Haura nggak pernah berpikir kenapa seorang designer terkenal seperti yang Haura bilang mau membayar mahal untuk itu, apa itu murni karena desain Haura bagus atau ada hal lain, apa Haura nggak berpikir kalau bisa aja Sandi menceritakan hal ini pada Kafa, aku tahu mau bagaimanapun Kafa tetap saudara Haura tapi dia sangat membenciku, coba pikirkan bagaimana jika Kafa tahu hal ini?" Azfan beranjak meninggalkan Khalisa, ia memilih menenangkan diri di ruang tamu yang gelap, hanya ada sedikit sinar dari lampu teras yang masuk melalui celah jendela. Barangkali Azfan bisa berpikir lebih jernih di tengah kegelapan.


Azfan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, ia tak pernah bertengkar hebat dengan Khalisa sebelumnya. Mereka sudah biasa terlibat pertengkaran kecil karena tak mungkin dua orang yang datang dari keluarga berbeda akan selalu memiliki jalan pikiran yang sama. Bahkan dua saudara kandung saja sering bertengkar.


Khalisa memeluk lutut bersandar pada ujung ranjang. Ia memejamkan mata menangis tersedu-sedu meluapkan semua rasa sakitnya karena berdebat dengan Azfan. Dadanya teramat sakit mengingat semua perkataan Azfan barusan.


Awalnya Khalisa juga berpikir mengapa Sandi mau membayar dengan harga tinggi, jumlahnya jauh di atas harga pakaian di butik Aisyah. Mungkin dugaan Azfan ada benarnya. Apakah Kafa juga ikut memberikan uang itu. Khalisa sungguh tidak berpikir sejauh itu karena terlalu senang mendapat uang dari hasil desain yang ia buat sendiri.


Jika Kafa tahu pasti ia sedang mentertawakan Azfan karena ia berpikir Azfan telah gagal menghidupi Khalisa. Kalaupun Kafa tidak ikut membantu, Khalisa tidak seharusnya membuat Azfan marah seperti ini. Khalisa salah.


Perlahan Khalisa turun dari tempat tidur melangkah menuju ruang tamu, ia melihat Azfan tengah menunduk dalam. Walaupun gelap tapi Khalisa masih bisa melihatnya.


"Maafin aku Mas." Khalisa menyalakan lampu, ia duduk di atas lantai meraih tangan Azfan dan mengecupnya sangat lama. "Maafin aku, aku salah, tolong maafin aku." Khalisa membenamkan wajahnya pada paha Azfan.


Azfan bisa merasakan air mata Khalisa mengaliri tangannya, ia tidak kuasa melihat Khalisa menangis. Azfan turun dari sofa untuk memeluk Khalisa.


"Sudah ya nangisnya, aku sudah memaafkan Haura." Kata Azfan lembut.


Khalisa membalas pelukan Azfan lebih erat, ia tidak mau membuat Azfan marah padanya terlalu lama.


"Aku juga minta maaf, ya." Azfan mengurai pelukan setelah Khalisa lebih tenang. Ia mengusap wajah Khalisa yang basah. "Aku akan terus berusaha membahagiakan Haura."


"Mas sudah membuatku bahagia, maaf lain kali aku minta izin Mas dulu sebelum melakukan sesuatu."


Azfan mengangguk, "ayo bangun, jangan menangis lagi nanti mata Haura bengkak."


Mata Khalisa yang sipit akan mudah bengkak saat menangis, jika langsung tidur maka besok ia akan sulit membuka mata.


Azfan merapikan rambut Khalisa yang sedikit berantakan. Azfan mendekap tubuh mungil Khalisa dan mengusap-usap punggungnya. Berbaikan setelah bertengkar membuat mereka seolah jatuh cinta lagi. Membuat mereka makin lengket seperti gelatin.

__ADS_1




__ADS_2