Mahabbah Cinta Khalisa

Mahabbah Cinta Khalisa
119


__ADS_3

Mahira bingung memilih pakaian untuk pergi ke Alindra Mall bersama Khalisa dan Aisyah siang ini. Mungkin jika hanya pergi bersama Kafa, Mahira tak akan terlalu bingung tapi setiap kali bertemu Aisyah dengan pakaiannya yang lebar dan jilbab terulur hingga kaki, ia merasa insecure. Mahira sendiri belajar berjilbab lebar belum lama ini jadi ia tak memiliki banyak koleksi gamis.


Setelah setengah jam memilih akhirnya pilihan Mahira jatuh pada gamis hitam yang baru dicuci kemarin. Mahira tebak Aisyah juga akan mengenakan gamis hitam walaupun gaya pakaiannya tak akan pernah bisa setara dengan calon mertuanya tersebut. Bagaimana Mahira bisa menyamai Aisyah dan Khalisa sedangkan mereka berdua mahir mendesain pakaian. Baru-baru ini Mahira tahu bahwa Aisyah memiliki butik yang tersebar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur. Padahal Aisyah juga yang memimpin Alindra Beauty. Mahira juga tahu kalau Khalisa sering membuat pakaiannya sendiri.


"Udah lah, Mama mertua nggak bakal sadar juga kalau nih baju belum disetrika." Mahira memastikan penampilannya sekali lagi di depan cermin setelah mengenakan jilbab segiempat motif. Ia tak punya alat setrika di tempat kosnya.


Mahira meraih tas selempang di belakang pintu lalu keluar, ia terkejut melihat mobil Khalisa terparkir di depan tempat kosnya. Padahal Mahira hendak menaiki sepeda menuju rumah Khalisa. Kenapa ia tidak mendengar suara mobil Khalisa?


"Aduh maaf, nunggu lama ya Mbak?" Mahira mendekat ke mobil Khalisa. Ia melihat kepala Khalisa muncul dari jendela mobil.


"Enggak kok, aku baru aja mau telepon kamu, di belakang ya sama Ai Aisyah." Khalisa meminta Mahira duduk di belakang bersama Aisyah.


"Permisi." Mahira masuk mobil duduk di samping Aisyah dengan canggung. "Assalamualaikum Tante." Ia mencium punggung tangan Aisyah.


"Mulai sekarang panggil Ummi ya." Ucap Aisyah.


"Baik Ummi." Mahira tersenyum salah tingkah.


"Oh iya Mahira, kenalin ini Rindang." Khalisa menoleh ke belakang memperkenalkan Rindang yang berada di kursi kemudi. "Sahabat aku tapi udah rasa saudara."


"Halo Mbak Rindang, aku Mahira."


Rindang ikut menoleh melihat Mahira, "pinter juga si Kafa milih istri." Gumamnya.


"Cantik ya?" Khalisa melirik Rindang.


"Banget."


"Mbak Rindang ini Rindang Anjana?" Mahira membelalak, ia memang hanya bisa melihat sepasang mata Rindang tapi ia tak mungkin salah mengenali Rindang Anjana yang memiliki pengikut ratusan ribu di Instagram.


"Iya." Rindang mengangguk.


"Ya ampun aku follower Ci Rindang dari lama loh." Mahira langsung mengubah panggilannya pada Rindang karena para penggemar biasanya memanggil Rindang dengan sebutan Cici. "Dari sebelum Ci Rindang mualaf."


"Oh ya, thanks lo udah jadi teman setia aku." Rindang tersenyum lebar terlihat dari matanya yang menyipit.


"Aku nggak nyangka kalau Ci Rindang ini temennya Mbak Khalisa, nanti boleh foto bareng ya?"


"Ntar aja fotonya di pelaminan kamu." Rindang kembali melihat ke depan dan mulai menjalankan mobil dengan kecepatan rendah melewati gang yang hanya cukup untuk satu mobil.


Mahira menunduk, kenapa jadi membahas soal pelaminan. Mahira jadi tidak sabar sekaligus tidak siap pada saat yang bersamaan.


"Ada apa Mahira?" Aisyah melihat perubahan ekspresi wajah Mahira.


"Nggak apa-apa Umm, cuma berpikir apa Mahira sudah cukup baik dan pantas untuk menikah dengan Kafa, Mahira tahu sebenarnya nggak seharusnya Mahira berpikir seperti ini."


"Kamu adalah gadis yang dipilih Kafa, itu artinya kamu gadis yang paling baik di antara gadis lain."


Mahira tersenyum lembut mendengar perkataan Aisyah.


"Kalian akan memperbaiki diri bersama-sama, kamu tahu sifat Kafa kan, Ummi harap kamu cukup sabar untuk menghadapinya."


"Kalau itu inshaa Allah Mahira punya kesabaran tanpa batas untuk menghadapi Kafa."


"Wanita itu kan maunya selalu dimengerti tapi Kafa—dia paling malu untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya maka Ummi harap kamu bisa lebih peka terhadap perasaan yang Kafa sembunyikan."


"Mahira mengerti Ummi."


"Terimakasih sudah mau menerima Kafa."


"Saya nggak punya alasan untuk menolak Kafa, Ummi."

__ADS_1


Apa yang Kafa nggak punya? udah ganteng, wangi, tahu banget soal agama. Mahira masih cukup waras untuk menerima Kafa walaupun ia tak akan pernah mendengar kata-kata romantis dari mulut Kafa nanti. Namun Mahira mengerti, semua orang memiliki cara sendiri untuk mengungkapkan cintanya.


Begitu sampai di Alindra Mall mereka langsung menuju lantai tiga untuk memilih pakaian dan sandal.


"Kamu biasa pakai make-up merek apa?" Tanya Rindang ketika mereka melewati tenant make-up dan skincare.


"Nggak pernah pakai make-up sih Ci, paling cuma liptint aja." Mahira terkekeh.


"Kalau skincare?"


"Wardah sih, soalnya waktu itu Ci Rindang pernah posting pakai pelembap Wardah kan."


"Nanti aku kasih pelembap kayak itu ya, aku punya banyak di apartemen."


"Kalau gitu gimana kalau kita pilih make-up dulu." Aisyah dan Khalisa melangkah masuk terlebih dahulu.


"Ummi, nggak usah beli make-up, Mahira juga nggak tahu cara pakainya nanti takutnya malah nggak terpakai." Mahira menahan tangan Aisyah.


Aisyah tersenyum, "kamu nanti bisa lihat cara pakainya di YouTube, kalau Ummi sudah belikan maka Mahira harus pakai."


Tangan Mahira perlahan turun, akhirnya ia mengikuti Aisyah masuk ke tenant yang menjual berbagai produk make-up dan skincare mulai dari produk lokal hingga high end.


"Kamu mau pilih sendiri atau Ummi yang pilihkan?" Tanya Aisyah.


"Tolong pilihkan untuk saya Ummi." Mahira mempercayakan Aisyah memilih make-up untuknya. Lagi pula Mahira tidak mengerti soal make-up.


Sementara Aisyah dan Rindang memilih make-up, Khalisa bersama Mahira berada di bagian rak skincare.


"Nanti untuk gaun pernikahannya, Ai Aisyah udah pilih gaun bikinan Ci Gracia."


"Pernikahan?"


"Memangnya kamu belum berpikir ke arah sana, kamu sama Kafa ini udah setengah jalan loh."


"Pokoknya kamu persiapkan diri aja, semua sudah diurus sama Ai Aisyah, dulu waktu aku menikah juga pakai gaun bikinan Ci Gracia."


"Iya itu gaun nya bagus banget Mbak." Mahira memasukkan facial wash, pelembap, sunscreen dan toner wajah ke dalam keranjang dengan merek yang sama. "Oh iya dulu Mbak Khalisa belanja seserahan sama Mas Azfan atau nggak?"


"Dulu aku nggak lamaran."


"Terus?"


"Langsung nikah."


"Oh ya?" Mahira membelalak, "Mas Azfan gerecep banget ya."


Khalisa tertawa, "karena kami sama-sama udah yakin dan mantap jadi langsung aja."


Khalisa juga memasukkan berbagai produk body care Alindra Beauty ke dalam keranjang.


"Ini banyak banget Mbak." Mahira hendak mengembalikan sabun dan shampo ke atas rak tapi Khalisa lebih dulu merebut keranjang tersebut dan membawanya ke kasir.


"Walaupun aku yakin kamu belum pernah pakai produk Alindra Beauty tapi setelah mencobanya satu kali kamu akan ketagihan."


"Mahira sama Khalisa duluan aja pilih bajunya." Pinta Aisyah sementara ia membayar semua belanjaan yang sudah berada di meja kasir.


"Iya Ai." Khalisa menggandeng tangan Mahira keluar dari sana.


Setelah keliling mencari pakaian, tempat terakhir yang mereka tuju adalah restoran China yang menjual hot pot halal. Kebetulan cuaca sedang mendung, makan hot pot dapat menghangatkan tubuh mereka.


"Azka kok nggak ikut Mbak?" Mahira mengambil posisi duduk di samping Khalisa.

__ADS_1


"Azka sama Abi nya di rumah." Khalisa sudah terbayang-bayang wajah buah hatinya yang sudah aktif menendang-nendang dan bisa merespon saat ia mengajak bicara.


Khalisa melihat Levin melangkah masuk ke restoran, ia mengangkat tangan memanggil Levin yang datang seorang diri.


"Koko sendirian?" Tanya Khalisa, bukankah tidak asyik jika makan hot pot sendirian.


"Iya, ini lagi ada acara apa?" Levin melihat empat wanita yang duduk mengelilingi meja berbentuk lingkaran tersebut.


Mahira menggeser kursinya lebih dekat dengan Khalisa memberi ruang untuk Levin duduk.


"Nggak ada acara apa-apa." Jawab Khalisa, mereka memang sengaja menyembunyikan berita lamaran Mahira dan Kafa.


"Levin gabung aja sama kami yuk." Ajak Aisyah, "makan hot pot enaknya rame-rame."


"Saya sendirian aja, lagi pula nggak enak kalau saya tiba-tiba bergabung disini." Apalagi Levin menjadi satu-satunya cowok di meja tersebut dan ada Rindang.


"Nggak apa-apa, saya sudah pesan banyak."


"Iya nggak apa-apa Ko, ada satu kursi kosong nih." Timpal Khalisa.


Akhirnya Levin duduk di kursi tersebut karena tak enak menolak ajakan Aisyah padahal ia pergi kesini ingin mencoba mie nya bukan untuk makan hot pot. Namun Levin bisa datang lain hari.


Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang berupa 5 nampan daging sapi, tahu, sayur dan jamur. Di depan mereka dua macam kaldu telah mendidih siap untuk dinikmati bersama daging dan sayuran.



"Kamu udah kerja Vin?" Tanya Aisyah, ia dengar dari Umar bahwa Levin telah menyelesaikan internship nya.


"Iya saya baru saja diterima di Rumah Sakit Dr. Sardjito."


"Wah!" Rindang dan Aisyah bereaksi bersamaan mendengar nama rumah sakit tempat Levin bekerja. Itu adalah salah satu rumah sakit terbesar di Yogyakarta yang letaknya dekat dengan kampus UGM.


Rindang segera menutup mulut padahal mulutnya sudah tertutup dengan cadar. Rindang berharap Levin tidak mendengarnya.


"Sebenarnya rumah sakit Kafasa lagi butuh dokter umum Ko." Tukas Khalisa.


"Aku juga pengen kerja disana karena selama dua tahun berada rumah sakit Kafasa, aku betah banget, mungkin suatu hari aku bisa kerja di rumah sakit kamu sekaligus menetap di Banyuwangi."


"Menetap di Banyuwangi?" Alis Khalisa terangkat. Apa alasan Levin ingin menetap di Banyuwangi padahal keluarganya berada disini.


"Iya, aku harap ada gadis Banyuwangi yang mau aku nikahi." Levin mengembangkan senyum lebar seraya melirik Rindang yang tengah serius memasukkan irisan daging sapi ke dalam kuah kaldu pedas.


"Gadis Banyuwangi banyak Ko."


"Maksudku gadis yang ada di meja ini." Levin menatap lurus Rindang yang duduk tepat di hadapannya.


Rindang reflek terbatuk karena ia sedang meminum kuah kaldu pedas saat mendengar Levin mengatakan itu.


Dengan cekatan Levin menyodorkan air putih pada Rindang, tidak lupa memberikan sedotan agar Rindang lebih mudah untuk meminumnya.


Rindang menyambar gelas tersebut dan meneguknya hingga tandas.


"Xie-xie Ko." Gumam Rindang pelan.


"Bu yong xie." Balas Levin, sepertinya ini pertama kalinya Rindang berbicara padanya setelah sekian lama. Selama ini walaupun bertemu Rindang tak pernah memulai pembicaraan dengan Levin bahkan selalu menghindar.


Rindang jadi tidak selera makan, takut tersedak lagi karena ada Levin disini. Namun perutnya sedang keroncongan berdemo ingin segera diisi dengan makanan yang banyak.



__ADS_1



__ADS_2