
"Sebenarnya ..." Pak Budi ragu ingin menceritakan yang sebenarnya kepada Nyonya Rahma. Ia sudah terlanjur berjanji kepada Arumi tidak akan memberitahukan bagaimana hubungan Andan dan Arumi yang sebenarnya.
"Sebenarnya apa, Pak Budi? Ayo katakan, jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dariku," ucap Nyonya Rahma yang semakin penasaran.
Pak Budi menghembuskan napas berat. "Bu Rahma, sebenarnya saya sudah berjanji tidak akan menceritakan tentang Tuan Adnan dan Nona Arumi kepada Anda. Tapi, sepertinya saya memang harus mengatakan yang sebenarnya kepada Anda, bagaimana perlakuan Tuan Adnan terhadap Nona Arumi selama mereka tinggal bersama,"
Pak Budi pun menceritakan semuanya kepada Nyonya Rahma. Wanita itu shok ketika mendengar bagaimana Adnan memperlakukan anaknya selama ini. Ia bahkan tidak sanggup lagi menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Keterlaluan si Adnan! Dia sudah berjanji padaku akan selalu menjaga dan membimbing Arumi dengan baik, tapi kenyataanya dia malah menyia-nyiakan anakku!" kata Nyonya Rahma disela isak tangisnya. "Aku menyesal! Aku benar-benar menyesal karena sudah meminta dia menikahi Arumi." Tubuh Nyonya Rahma lunglai. Kakinya terasa lemah dan tak mampu menahan berat tubuhnya.
"Aku harus temui lelaki itu! Kalau perlu aku akan ceritakan semua ini pada Mira, akan aku katakan bahwa keponakannya yang selalu ia bangga-banggakan itu tidak lebih dari seorang lelaki bajingan!" kesal Nyonya Rahma.
Tepat disaat itu, Dokter yang sering menangani penyakit Arumi baru saja keluar dari ruangan Arumi dirawat. Ia berjalan menghampiri Nyonya Rahma dengan wajah sendu.
"Bu Rahma," sapa Dokter itu sembari menatap mata Nyonya Rahma.
"Ada apa, Dok? Bagaimana keadaan anakku?!"
Nyonya Rahma sudah merasakan firasat buruk. Apalagi ketika ia melihat ekspresi wajah Dokter yang terlihat begitu sendu. Dokter itu menghembuskan napas berat kemudian mengajak Nyonya Rahma untuk duduk disalah satu kursi tunggu.
"Duduklah dulu, Bu Rahma."
Dokter itu menuntun Nyonya Rahma duduk kemudian iapun ikut duduk disamping wanita itu.
"Kemarin saya sudah membicarakan masalah ini bersama Arumi. Penyakit Arumi sudah semakin parah. Jadi, dengan terpaksa kami harus segera melakukan operasi pengurangan volume paru-paru Arumi yaitu mengangkat bagian paru-paru yang sebagian sudah rusak agar jaringan paru-paru yang sehat bisa kembali berkembang." ujar Dokter kepada Nyonya Rahma.
"Operasi, Dok?" tanya Nyonya Rahma sambil menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
Dokter cantik itupun menganggukkan kepalanya. "Ya, Bu Rahma."
"Ta-tapi Arumi tidak pernah bercerita tentang itu kepadaku, Dokter. Arumi, oh ..." Nyonya Rita menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya kembali pecah setelah mengetahui keadaan putrinya sekarang. Ia bahkan tidak menyangka bahwa Arumi telah menyembunyikan hal sepenting itu darinya.
"Kenapa Arumi melakukan hal itu! Seharusnya dia bercerita kepadaku, Dok!" ucap Nyonya Rahma disela tangisnya.
Dokter itu menghembuskan napas berat sembari mengelus lembut punggung Nyonya Rahma. "Ibu yang sabar, ya. Kita berdoa saja agar Arumi bisa kembali sehat seperti semula."
Nyonya Rahma mengangkat kepalanya kemudian menatap Dokter itu lekat. "Baiklah, Dok! Lakukan saja yang menurut kalian terbaik untuk Arumi, yang penting anak saya selamat, Dok," sambung Nyonya Rahma sambil menyeka air matanya.
Dokter itupun tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu. Kami akan lakukan yang terbaik untuk putri anda."
Sementara itu,
Setelah melakukan ritual mandinya, Adnan bergegas berpakaian. Keputusannya sudah bulat, ia ingin menemui Arumi dan membawanya pulang bersamanya.
Dengan tergesa-gesa, Adnan melangkahkan kakinya menuju halaman depan.
"Tidak usah, Bi! Aku lagi terburu-buru,"
Adnan segera masuk kedalam mobil dan bergegas menuju kediaman Nyonya Rahma. Di perjalanan, Adnan terus berpikir. Ia memikirkan alasan yang tepat agar Nyonya Rahma mengizinkan Arumi kembali lagi bersamanya.
"Apakah aku harus bersujud di kaki Nyonya Rahma agar wanita itu bersedia mengembalikan Arumi kepadaku? Atau aku harus menangis-nangis agar Nyonya Rahma iba padaku? Hah, aku pasti sudah gila?! Bukankah selama ini aku tidak pernah peduli kepada gadis itu?! Lalu kenapa sekarang aku mengkhawatirkan dirinya? Yang benar saja!" kesal Adnan sambil memukul setir mobilnya.
Setelah beberapa saat, akhirnya ia tiba didepan kediaman Nyonya Rahma. Adnan memperhatikan kediaman Nyonya Rahma yang terlihat sunyi seperti tak ada seseorang didalam sana.
Perlahan Adnan melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah Nyonya Rahma dan bertemu dengan salah seorang Pelayan di rumah itu.
__ADS_1
"Ehm, Bi. Ibu Mertua ku ada?" tanya Adnan
Pelayan itu mengerutkan keningnya sambil menatap Adnan. "Lho, bukannya mereka sedang berada di Rumah Sakit, Tuan? Apa Tuan tidak tahu bahwa Nona Arumi sekarang sedang dirawat disana?" Pelayan itu malah balik bertanya kepada Adnan.
"A-Arumi sakit? Sebenarnya dia sakit apa?" tanya Adnan heran.
Pelayan itu semakin bingung. Ia tidak mengerti bagaimana bisa seorang Adnan yang merupakan suami sah dari Arumi malah tidak tahu riwayat penyakit istrinya sendiri.
"Jadi, Tuan benar-benar tidak tahu Nona Arumi punya penyakit apa?" tanya Pelayan itu sambil menatap heran kepada Adnan.
Adnan semakin kesal dibuatnya. Bukannya menjawab pertanyaanya, Pelayan itu malah balik bertanya kepadanya.
"Astaga, Bi! Seandainya aku tahu, aku tidak mungkin bertanya padamu! Mengesalkan!!!"
Adnan berlari menuju mobilnya. Namun, belum sempat ia meraih gagang pintu mobil, Adnan kembali lagi berlari kearah Pelayan itu. Beruntung Pelayan itu masih berdiri disana sambil menatap heran kepadanya.
"Di rumah sakit mana Arumi dirawat?" tanya Adnan dengan napas terengah-engah.
"Di Rumah Sakit XX, Tuan," sahut Pelayan itu sambil menggaruk kepalanya. Ia bingung melihat prilaku Adnan yang seperti orang bodoh.
"Baiklah, terima kasih."
Adnan kembali ke mobilnya dan melaju menuju Rumah Sakit XX, dimana istrinya dirawat.
"Ya Tuhan, semoga penyakit Arumi bukan penyakit serius yang bisa mengancam nyawanya dan jika itu benar, maka aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri! Bagaimana bisa aku tidak menyadari kondisi Arumi? Sial!" hardik Adnan sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah tersisir rapi.
Setelah beberapa saat, akhirnya Adnan pun tiba di Rumah Sakit dimana Arumi dirawat.
__ADS_1
...***...
Terima kasih atas Vote, like, koment, hadiah dan tips nya ya! 😍😍😍 Maaf Author gak bisa balas satu-satu 🙏🙏🙏 Maaf juga jika ada nama-nama tokoh yang ketuker, soalnya jari ini suka Typo 😂😅 Jangan sungkan kasih tau othor tentang Typo2 yang berhamburan itu ya 😆😄😍