
"Bayi laki-laki kita sudah lahir, Sayang. Dan dia sehat tanpa kurang apapun," tutur Adnan dengan mata berkaca-kaca menatap Arumi yang tergolek lemah diatas tempat tidurnya.
"Syukurlah," ucap Arumi sambil menitikkan air matanya.
"Ehm, Sayang, dimana tongkatmu?" tanya Arumi sembari mencari keberadaan tongkat Adnan.
"Tongkatku, ada di ...."
Tiba-tiba Adnan terdiam. Ia memperhatikan dirinya kemudian mencoba bangkit dari tempat duduknya.
"A-Arumi, Aku ... aku sudah bisa berjalan tanpa tongkatku," teriak Adnan sambil menangis haru. Akhirnya ia menyadari bahwa dirinya sudah mampu berjalan tanpa menggunakan alat bantu.
Bukan hanya Adnan, Arumi pun ikut menangis haru. Ia tidak menyangka bahwa hari ini Tuhan memberikan keluarga kecilnya anugrah yang benar-benar tidak terduga. Pertama, ia mendapatkan seorang pangeran kecil yang akan menemani hari-harinya bersama Adnan. Dan yang kedua, kesembuhan suaminya yang sangat tidak disangka-sangka.
Beberapa orang perawat yang masih berada di ruangan itu, memperhatikan Arumi dan Adnan yang sedang menangis haru. Salah seorang Perawat menghampiri mereka bersama seorang bayi tampan dipelukannya.
"Ini Nona, bayinya."
Perawat menyerahkan bayi tampan yang wajahnya masih memerah. Dengan mata berkaca-kaca, Arumi menyambutnya kemudian melabuhkan ciuman di pipinya yang mungil.
"Lihat, Mas. Dia sangat tampan, seperti dirimu," ucap Arumi penuh haru.
Adnan bangkit kemudian melabuhkan ciuman di puncak kepala Arumi. Tepat disaat itu, Tante Mira dan Nyonya Rahma masuk kedalam ruangan itu, setelah Perawat mengizinkan mereka untuk menjenguk Arumi.
"Sayang, mana cucunya Mamah," ucap Nyonya Rahma sembari menghampiri Arumi.
"Disini, Mah. Dia sangat tampan, lihatlah ..." sahut Arumi.
Adnan menjauh dan membiarkan Nyonya Rahma menggantikan posisinya.
"Uluh-uluh! Arumi, dia tampan sekali! Ah, Mamah jadi pengan ambil ni anak, biar kalian bikin lagi aja," celetuk Nyonya Rahma.
"Yeee ... enak aja, kalo gitu mending aku yang ambil dan bawa pulang, aku juga kesepian dirumah, hanya berteman sama Bibi doang," kesal Tante Mira.
__ADS_1
Arumi dan Adnan hanya bisa terkekeh mendengar ucapan para nenek-nenek itu.
"Sebentar, kalian itu sedang asyik memperebutkan bayi kami, apa kalian tidak sadar bahwa ada sesuatu yang lebih mengejutkan lagi dari ini?!" tanya Arumi sambil terkekeh.
Tante Mira dan Nyonya Rahma saling tatap, kemudian mengangkat bahu mereka.
"Apa, sih?" tanya Tante Mira balik.
"Coba perhatikan Mas Adnan," ucap Arumi sembari menunjuk kearah Adnan yang kini berdiri didepan tempat tidur Arumi sambil bertolak pinggang.
Sejenak kedua wanita paruh baya itu terdiam sembari memperhatikan penampilan Adnan. Tidak ada yang aneh di penampilan lelaki itu, ia tetap tampan seperti biasanya. Hingga akhirnya, merekapun menyadari bahwa Adnan mampu berdiri dan berjalan dengan kedua kakinya tanpa menggunakan alat bantu lagi.
"Adnan?!" pekik kedua wanita itu.
Dengan langkah cepat, Tante Mira menghampiri Adnan kemudian memeluk tubuh keponakannya itu.
"Ya, Tuhan, Adnan! Ternyata kamu ...!" seru Tante Mira sambil terisak didalam pelukan Adnan.
"Ya, Tante. Adnan sudah bisa berjalan tanpa menggunakan alat bantu lagi," tutur Adnan dengan penuh haru.
Nyonya Rahma pun tidak kalah terharu, ia bahkan sempat menitikkan air matanya. "Syukurlah, Arumi. Mama doakan, semoga setelah ini tidak ada lagi cobaan yang menimpa keluarga kecil kalian. Oh, iya. Setelah ini gak usah pake kontrasepsi, ya! Biar aja kalian punya banyak anak, biar tidak kesepian seperti Mama dan Tante Mira," ucap Nyonya Rahma.
Adnan tergelak mendengar ucapan Ibu Mertuanya itu. "Kalau Adnan, sih oke-oke saja, Mah. Entahlah Arumi,"
Arumi sempat menekuk wajahnya sebentar, tetapi setelah itu iapun ikut terkekeh.
Keesokan harinya,
Karena kondisi Arumi dan Bayinya baik-baik saja, merekapun diperbolehkan pulang.
Di kediaman mereka, Adnan merawat Arumi dengan sangat baik. Ia juga tidak sungkan memasak masakan enak dan bergizi untuk Istrinya. Selain itu, Adnan juga membantu Arumi merawat si kecil, mulai dari menggantikan popoknya dan juga memandikan bayi mungilnya.
"Sayang, aku membawakan sarapan untukmu," ucap Adnan.
__ADS_1
Ia menghampiri Arumi yang sedang duduk di tepi tempat tidur mereka. Adnan meletakkan sarapan yang baru saja ia masak spesial untuk Arumi keatas nakas kemudian duduk disamping istrinya itu. Saat itu, Arumi sedang memberikan asi kepada si kecil.
"Hssttt, dia sudah hampir tidur, Mas! Coba lihat mulut kecilnya itu, lucu ya?!" seru Arumi dengan suara pelan agar bayi kecilnya tidak merasa terganggu.
Adnan tersenyum, ia memperhatikan wajah Arumi saat itu. Wajah cantik itu terlihat lelah dan sedikit berantakan. Rambutnya bahkan tidak tersisir sama sekali. Namun, Adnan tidak peduli. Baginya, Arumi adalah wanita tercantik yang kini merajai hatinya.
"Ngomong-ngomong, kita kasih nama siapa ya, Mas?" tanya Arumi.
"Arumi dan Adnan, Ehm ... Ardhan? Bagaimana?" tanya Adnan balik.
"Nama yang bagus!" sahut Arumi dengan sangat antusias. (Terima kasih, Reader, namanya cucokk, padahal Author sendiri bingung mau kasih nama siapa 😂😆)
Setelah bayi mereka tertidur, Arumi segera meletakkan bayinya kembali ketempat tidurnya. Ia menghampiri nakas dan meraih sarapan yang sudah disediakan oleh suaminya.
"Kelihatannya sangat enak, kebetulan aku sangat lapar," ucap Arumi sambil terkekeh karena Adnan terus memperhatikan dirinya.
"Sini, biar aku suapin," ucap Adnan.
"Benarkah? Baiklah, dengan senang hati!"
Arumi menyerahkan piring berisi makanan itu kepada Adnan dan membiarkan suaminya itu menyuapinya. Dengan sabar, Adnan memberikan suapan demi suapan untuk Arumi.
"Mas, maafin Arumi, ya! Sekarang Arumi tidak bisa lagi tampil cantik seperti dulu," lirih Arumi sambil mengunyah makanannya.
Adnan terkekeh mendengar ucapan Arumi. "Bukan karena kecantikanmu, yang membuat aku jatuh cinta, Arumi. Tetapi keteguhanmu, kesabaranmu dan juga kasih sayang yang kamu berikan kepadaku," sahut Adnan.
Tidak terasa, makanan itupun akhirnya habis ia lahap. "Terima kasih, Mas. Makanan ini benar-benar enak, karena dibuat dengan penuh cinta, benarkan?"
"Ya, tentu saja!" sahut Adnan sembari melabuhkan ciuman hangat keatas puncak kepala Arumi, sebelum ia kembali ke dapur untuk mengembalikan piring dan gelas yang baru saja digunakan olehnya.
...***...
Dear, Readers ... Sebenarnya, Author pengen lanjutin cerita yang masih gantung, masih ada tokoh Author yang kisah hidupnya masih terkatung-katung bersama anaknya, Andre.
__ADS_1
Namun, Author ragu mau melanjutkan, takut kalian pada bosan 😆😂. Kalau Keanu dan Adnan, mereka sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing dan Author tidak ingin kasih konflik apapun lagi kepada mereka. Kasian sama tokoh kalo dikasih konflik terus ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Hmmm, jadi pusing kan, Author 😂😆😆