
"Silakan masuk."
Sid mempersilakan Arumi memasuki ruangan Keanu dan menuntunnya hingga ke hadapan Big Bossnya itu.
Keanu tersenyum menyambut kedatangan Arumi sembari mempersilakan wanita itu untuk duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan meja kerjanya.
"Silakan duduk, Arumi."
"Terima kasih, Tuan Keanu."
Arumi duduk seraya memperhatikan penampilan Keanu yang terlihat manis dengan kemeja berwarna Pink. Arumi sempat mengulum senyum saat itu.
"Aku terlihat lucu 'kan, Arumi?" tanya Keanu saat ia melihat senyuman di wajah Arumi. "Aku tidak mengerti kenapa Istri kecilku itu agak aneh belakangan ini. Dia begitu menyukai warna Pink, apapun yang berwarna Pink pasti ia bilang cantik. Bahkan kantong kresek berwarna Pink pun, ia katakan cantik. Dan sekarang, aku pun diharuskan menggunakan kemeja berwarna Pink. Besok-besok entah apa lagi yang ia inginkan," tutur Keanu sambil membuang napas kasar.
"Ehm, jangan-jangan Naila hamil lagi." gumam Arumi sambil tersenyum.
"Apa?" Ternyata Keanu mendengar apa yang dikatakan oleh Arumi saat itu.
"Bukan apa-apa, Tuan. Saya hanya menduga-duga saja," sahut Arumi sambil tersenyum kecut.
Tiba-tiba ekspresi wajah Keanu berubah. Ia terlihat sangat senang dan sekaligus penasaran. "Kamu benar, Arumi! Astaga, kenapa aku tidak kepikiran sama sekali! Padahal beberapa hari yang lalu Naila mengeluh kalau dia belum mendapatkan tamu bulanan. Sebaiknya aku segera membawa Naila ke Dokter Spesialis Kandungan dan jika itu benar, maka Danish dan Danisha bakal punya Adik!" seru Keanu dengan wajah berseri-seri.
Arumi kembali tersenyum, "Amin, semoga itu benar."
"Owh, iya! Aku sampai melupakan dirimu, Arumi. Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku? Katakan saja, jangan sungkan," ucap Keanu.
Arumi menghembuskan napas berat sambil menatap Keanu. Ia ragu ingin menceritakan masalahnya kepada Keanu. Ia sebenarnya merasa sangat malu, tetapi ia tidak tahu harus bicara sama siapa lagi sekarang.
"Begini, Tuan ..."
"Keanu, panggil saja Keanu," sela Keanu sambil tersenyum menatap wajah cemas Arumi.
Arumi melirik kepada Sid yang masih setia berada di ruangan itu bersama Keanu.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ..." Arumi mengelus tengkuknya. Ia ingin sekali mengatakan bahwa ia hanya ingin membicarakan masalah pribadinya hanya bersama Keanu tanpa siapapun, termasuk Sid.
Beruntung saat itu Keanu mengerti apa yang diinginkan oleh Arumi. "Sid, tinggalkan kami sebentar."
"Baik, Tuan." Sid pun segera keluar dari ruangan itu.
Setelah Sid keluar, Keanu kembali fokus kepada Wanita yang sedang duduk di hadapannya dengan wajah cemas. "Katakanlah, Arumi. Jangan sungkan," ucap Keanu.
"Begini ... apa kamu tahu bagaimana perasaan Adnan yang sebenarnya kepada Naila selama ini, Keanu?" tanya Arumi ragu-ragu.
Keanu mengusap wajahnya kasar. Ia sudah menduga hal ini sebelumnya. Ia yakin bahwa Arumi akan membicarakan masalah ini kepadanya.
"Ya, aku mengerti apa yang kamu maksud dan aku juga tahu bagaimana perasaan Adnan yang sebenarnya terhadap Naila," sahut Keanu sembari mengembuskan napas berat.
Arumi menundukkan kepalanya sambil meremas kedua tangannya secara bergantian.
"Sampai sekarang perasaan Adnan kepada Naila masih tetap sama. Ia masih sangat mencintai istri mu, Keanu. Dia bahkan tidak pernah memberikan aku kesempatan untuk mengisi hatinya," lirih Arumi.
"Aku putus asa, Keanu. Apa yang kulakukan selama ini sepertinya sia-sia saja. Adnan bahkan tidak pernah menganggapku ada." sambungnya.
Arumi mengangkat kepalanya dan sekarang Keanu dapat melihat matanya yang sudah berkaca-kaca. "Tapi, bagaimana jika ia semakin marah padaku, Keanu? Itu artinya ia akan semakin membenci diriku," sahut Arumi dengan wajah cemas.
"Kamu tenang saja, Arumi. Aku tidak akan pernah memberitahu Adnan tentang pembicaraan kita hari ini." Keanu mencoba meyakinkan Arumi.
"Tapi aku masih takut,"
"Harus ada yang memberitahu Adnan, bahwa apa yang ia lakukan itu adalah suatu kesalahan, Arumi! Dia tidak bisa terus-terusan terjebak dalam perasaannya terhadap Naila. Naila sendiri hanya menganggapnya seperti Kakak, tidak lebih. Apa Adnan ingin selamanya hidup seperti itu? Tidak mungkin, 'kan?"
"Kamu benar, tapi aku tidak yakin Adnan mau mendengarkan apa katamu, Keanu." Kepala Arumi kembali tertunduk.
"Kita harus mencobanya, Arumi."
Setelah puas berbincang bersama Keanu, Arumi pun pamit. Ia punya janji dengan Dokter yang menangani penyakitnya.
__ADS_1
"Terima kasih atas waktunya, Keanu. Aku benar-benar sudah putus asa. Aku tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Tidak mungkin aku menceritakan hal ini kepada Ibuku. Aku sudah cukup menyusahkan Ibuku dan aku tidak ingin menambah bebannya lagi," tutur Arumi sebelum ia meninggalkan ruangan Keanu.
"Sama-sama, Arumi."
Arumi pun melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Arumi,
"Sid, hari ini tidak ada jadwal penting, 'kan? Aku ingin kamu mengantarkan aku ke Restoran Tante Mira. Aku ingin menemui Adnan. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepadanya," ucap Keanu sembari merapikan jas yang sedang ia kenakan.
"Ya, Tuan. Baiklah,"
Keanu dan Sid harus kembali melewati para karyawannya yang sedang bekerja. Sid melindungi Keanu sama seperti sebelumnya. Setelah tiba di halaman parkir, Keanu bergegas masuk kedalam mobilnya.
"Besok-besok, aku akan menolak keinginan Naila yang memintaku memakai kemeja ini!" kesal Keanu dengan wajah menekuk.
Sid hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Keanu.
Setelah beberapa saat akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Sid pun tiba di halaman depan Restoran Tante Mira. Keanu segera masuk dan meminta Adnan untuk menemuinya. Tidak berselang lama, Adnan pun datang menghampirinya.
Adnan terkekeh ketika melihat penampilan Keanu yang terlihat menggelikan. "Hai, Keanu! Selamat siang," ucap Adnan sembari mengulurkan tangannya kepada Keanu.
"Selamat siang, Adnan. Ehm, boleh kah aku meminta waktunya sebentar? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu," sahut Keanu sambil menyambut uluran tangan Adnan.
"Tentu saja, kenapa tidak? Tapi sepertinya kamu harus membayar mahal untuk itu," ucap Adnan sambil terkekeh pelan.
"Tidak masalah, aku akan bayar berapapun itu," sahut Keanu seraya mempersilakan Adnan untuk duduk bersamanya.
Setelah Adnan duduk, Keanu menghembuskan napas beratnya sambil menatap lelaki itu. "Adnan, sebenarnya aku datang kesini untuk membicarakan sesuatu yang menyangkut tentang dirimu dan hal yang membuat aku merasa risih."
Ekspresi wajah Adnan saat itu berubah. Ia terlihat kebingungan dengan apa yang diucapkan oleh Keanu barusan. "Masalah apa? Apa itu ada hubungannya dengan Naila?" tanya Adnan sambil menautkan kedua alisnya.
"Ya, ini ada hubungannya dengan Naila. Terutama tentang perasaanmu terhadap Naila, istriku." Keanu menghentikan ucapannya sambil memperhatikan wajah Adnan saat itu.
__ADS_1
...***...