
"Apa yang bisa Kakak bantu, Key?" tanya Danisha.
"Kak, bantu Make Over Key, donk. Keyla juga ingin terlihat cantik dan anggun seperti Kak Nisha dan Kak Zia," lirihnya.
"Apa tadi? Make Over?!"
Danisha tergelak sampai memeluk perutnya. Ia tidak peduli bagaimana reaksi Keyla saat itu. Dengan wajah malas, Keyla memperhatikan Danisha yang masih tergelak di hadapannya.
"Serius, Key? Kamu ingin di Make Over," tanya Danisha untuk memastikan apa yang ia dengar tidaklah salah.
"Ih, Kak Nisha mah udah kebiasaan begitu. Menertawakan Keyla tanpa pandang bulu! Gak tau apa, kalau Adiknya yang cantik membahana ini lagi galau!" ketusnya sambil menyilangkan tangan ke dada.
Bukannya mereda, tawa Danisha semakin riuh setelah mendengar ucapan Keyla.
"Cantik membahana katamu?! Lah, kalau kamu sudah cantik membahana, kenapa minta di Make Over lagi, Key?" jawab Danisha di sela gelak tawanya.
"Ish, Asyeem!"
Keyla semakin kesal. Ia membalikkan badannya membelakangi Danisha. Danisha mencoba menahan tawanya. Ia menghampiri Keyla kemudian memeluk Adik 'bontot'nya itu dari belakang.
"Baiklah, Kakak bantu Make Over. Memangnya kamu kenapa sih, Key? Beberapa hari terakhir, wajahnya menekuk aja. Sampai-sampai semua orang rumah dibuat bingung oleh sikapmu? Kami rindu celoteh hebohmu, Key," tutur Danisha.
"Sebenarnya,"
Keyla berbalik dan kini mereka pun berada dalam posisi saling berhadapan. Mata Keyla terlihat berkaca-kaca ketika menatap Danisha dan hal itu membuat Danisha semakin bingung.
"Sebenarnya apa, Key?"
"Tiga hari yang lalu Key lihat si Es Batu di Cafe XX bersama seorang gadis cantik, Kak. Jujur, Key sakit hati melihat kebersamaan mereka. Walaupun mata ini begitu kuat untuk tidak merembeskan air mata," jawabnya.
Danisha terdiam sambil terus memperhatikan wajah kusut Keyla dengan seksama. Ia tahu dan seluruh keluarganya juga sudah tahu bahwa Keyla begitu tergila-gila pada sosok Ardhan yang terkenal dengan sikapnya yang dingin. Makanya Keyla menyebut lelaki itu dengan sebutan 'Es Batu'.
"Apa kamu tidak bisa move on, Key? Kalau menurut Kakak, sebaiknya kamu berhenti mengejar-ngejar 'Es Batu'. Mengharapkan lelaki itu sama seperti pungguk merindukan bulan," jawab Danisha.
__ADS_1
"Kakak benar. Tapi Keyla mohon untuk kali ini saja! Bantu ubah penampilan Keyla menjadi cantik dan jika Keyla sudah tampil cantik, tetapi Es Batu masih juga bersikap seperti itu kepada Keyla. Keyla janji! Suerrr samber geledek, Keyla berhenti mengejar cintanya," ucap Keyla dengan wajah serius.
Tersungging sebuah senyuman di bibir indah Danisha. Ia pun akhirnya mengangguk kemudian memeluk tubuh Keyla.
"Baiklah, Adik bontotku. Kakak bantu kamu berubah!"
Keesokan harinya.
Hal pertama yang dilakukan oleh Danisha di pagi itu adalah mengecek isi lemari pakaian Keyla. Danisha menggelengkan kepala ketika melihat isi lemari pakaian gadis itu. Hanya ada kumpulan celana jeans dan baju kaos seperti yang sering Keyla kenakan setiap hari, bertumpuk-tumpuk didalam sana.
Jikalau pun ada beberapa lembar dress cantik, semua itu adalah milik Danisha yang dipinjam oleh Keyla, tetapi tidak di kembalikan oleh gadis itu. Danisha melirik Keyla dengan sorotan tajam, tetapi dibalas dengan senyuman konyol oleh Keyla.
"Maaf!" lirih Keyla.
"Kamu tau ini artinya apa?" tanya Danisha sambil menunjuk kearah lemari pakaian gadis itu.
"Apa?" tanya Keyla kebingungan.
"Mari kita berburu dress untukmu!" ucap Danisha penuh semangat.
Keyla pun bergegas kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Begitupula Danisha, gadis itu turut bersiap dan mempersiapkan diri untuk berburu pakaian buat Adik bontotnya.
Setelah semuanya siap, Keyla bersiap di atas motor sambil menghidupkan mesin motornya.
"Ayo, Kak!" panggil Keyla kepada Danisha yang baru saja keluar dari kediaman mereka.
"Apaan? Ih, Kakak gak mau pake motor! Pake mobil Kakak aja," seru Danisha kesal.
Keyla menekuk wajahnya. Walaupun sebenarnya ia menolak, tetapi karena hari ini Danisha adalah ratunya, maka ia pun menurut saja.
"Baiklah," jawab Keyla dengan wajah kusut.
"Heh, gadis-gadis!" panggil sang Ibu yang ternyata mengikuti langkah Danisha dari belakang.
__ADS_1
Sontak saja kedua saudara itu menoleh dengan wajah heran. "Ya, Mih?"
"Jangan lama-lama," sambung Naila.
Keyla berbisik ke samping telinga Danisha sambil terkekeh pelan. "Keyla yakin, sebenarnya Mami itu pengen ikutan, tapi kita gak ngajakin ya 'kan, Kak,"
"Hush!" sela Danisha.
" Key! Mami tau apa yang ada di pikirkanmu!" ucap Naila sambil menatap tajam kearah Keyla.
"Tuh, 'kan! Rasain," bisik Danisha sambil terkekeh.
"Iya, Mah. Ampun!"
Keyla berlari kearah Naila kemudian memeluk wanita cantik itu dengan erat.
"Maaf'in, Keyla ya, Mih."
"Ya, sudah sana berangkat."
Setelah berpamitan kepada Naila, kedua bersaudara itupun segera berangkat dengan menggunakan mobil kesayangannya Danisha. Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba disebuah Mall terbesar di kota mereka. Dengan wajah semringah keduanya memasuki bangunan besar itu dan mengelilinginya sepuas hati.
Setelah beberapa jam kemudian, tangan kedua gadis itupun penuh dengan barang-barang hasil berburu mereka hari ini. Ada pakaian, sepatu, tas serta berbagai aksesoris yang akan digunakan oleh Keyla nantinya.
Sebelum pulang, mereka memutuskan bersantai di sebuah Cafe yang ada di Mall tersebut untuk melepas penat.
"Ya, Tuhan! Aku lelah sekali!" ucap Keyla sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Danisha tidak menjawab. Mata gadis itu tertuju pada seseorang yang berada tak jauh dari mereka.
"Key, bukankah itu si 'Es Batu'?" tanya Danisha sambil menunjuk kearah Ardhan yang sedang menemani Naura memilih pakaian.
"Mana?!" pekik Keyla.
__ADS_1
Keyla memperhatikan pasangan itu dari tempat duduknya dan lagi-lagi, ia merasakan sakit di hatinya. Sakit yang tidak bisa ia utarakan kepada siapapun.
...***...