
Naila membuang napas kasar dan mencoba mengontrol emosinya. Saat ini ia sangat marah, tetapi ia tidak ingin meluapkan amarahnya dengan membabi buta. Naila ingin tetap tenang walaupun hatinya terasa sangat sesak.
"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kamu akan berkata seperti itu, Nyonya Wijaya. Padahal selama ini aku begitu menghormatimu karena kamu adalah besanku yang usianya jauh di atasku dan juga besanku yang lainnya. Aku kira dengan usiamu yang seperti sekarang ini, kamu akan bersikap lebih dewasa dariku dalam menanggapi masalah yang terjadi pada rumah tangga anak-anak kita. Tetapi ternyata aku salah!" kesal Naila sambil menelan salivanya dengan susah payah.
"Maafkan istriku, Nyonya Naila. Sebenarnya dia tidak bermaksud berkata seperti itu," ucap Ayah Rey, mencoba menenangkan Naila.
Naila menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Ibunda Rey sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kata-kata yang begitu menyakitkan untuk didengar.
"Tapi, seperti itulah kenyataannya, Nyonya Naila. Putri kesayanganmu tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Putraku dan juga kami sebagai mertuanya. Apakah aku salah jika aku berkata seperti itu?" ucap Ibunda Rey.
"Bu, sudahlah!" kesal Pak Wijaya, Ayahnya Rey.
"Biar saja, Yah. Lagipula Nyonya Naila sudah mendengar semuanya dan aku rasa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi lagi!"
"Cukup, Nyonya Wijaya!" bentak Naila yang akhirnya tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Wanita macam apa Anda ini, Nyonya Wijaya? Seharusnya Anda mengerti bagaimana perasaan Danisha saat ini. Asal Anda tahu, Danisha pun tidak pernah menginginkan hal itu terjadi kepadanya. Wanita mana sih yang ingin memiliki masalah seperti Danisha? Lagipula saat ini dia sedang berjuang! Dia sedang memperjuangkan kesembuhannya dan dia butuh dukungan dari kita bukan malah sebaliknya!" kesal Naila dengan mata berkaca-kaca.
Ibunda Rey diam seribu bahasa walaupun wajahnya masih terlihat kesal.
"Seandainya Tuhan membalikkan posisi kita, kamu pasti akan tahu bagaimana perasaan Danisha saat ini!"
__ADS_1
Karena mendengar suara ribut-ribut dari dalam ruangan, Danisha dan Rey pun bergegas menyusul ke dalam.
"Ada apa ini, Bu?" tanya Rey panik sembari menghampiri Ibundanya yang masih tergolek di atas tempat tidurnya.
Sedangkan Danisha menghampiri sang Mami yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Ibu mertuanya.
"Kenapa, Mih?" tanya Danisha cemas karena ini pertama kalinya melihat ekspresi wajah Maminya yang seperti itu.
"Sekarang Mami sudah tahu mertua macam apa Nyonya Wijaya ini! Bukannya memberi dukungan dan semangat untuk anak menantunya, dia malah ingin menghancurkan rumah tangga kalian! Ibu macam apa dia?" kesal Naila.
"Bu," lirih Rey.
Rey sudah bingung bagaimana cara menghadapi sikap keras Ibunya. Semakin kesini, sikap Ibunya semakin membuat Rey merasa tidak nyaman.
Naila meraih tangan Danisha kemudian menggenggamnya dengan erat dan tatapannya kini fokus pada Rey yang masih berdiri di samping tempat tidur Ibunya.
"Baiklah, Rey. Sekarang keputusanmu ada di tanganmu. Jika seandainya kamu memang ingin melepaskan Danisha, aku sebagai orang tua Danisha akan menerima dengan ikhlas apapun keputusanmu walaupun itu menyakitkan," ucap Naila.
"Keputusanku sudah bulat, Mih. Aku akan tetap bersama Danisha apapun dan bagaimanapun keadaannya," sahut Rey mantap.
Genggaman erat tangan Naila pun mulai merenggang. "Semoga kamu bisa memegang janjimu, Rey, dan semoga kedua orang tuamu dapat menerima keputusanmu kali ini."
__ADS_1
Naila melirik Ayah dan Ibu Rey secara bergantian sebelum ia pamit pulang kepada Danisha.
"Nisha, sebaiknya Mami pulang. Mami tidak betah berlama-lama berada disini."
Danisha pun menganggukkan kepalanya pelan dan mengantarkan Naila hingga lobby.
Masih di ruangan Ibunda Rey.
"Hhh, memang mudah mengatakan hal itu karena Rey masih dibutakan oleh cintanya kepada Danisha. Tapi, lihat saja nanti! Setelah Rey sadar bahwa tak ada yang bisa diharap dari wanita itu, ia pasti akan mengubah keputusannya!" gerutu Ibunda Rey.
"Hush! Sudahlah, sebaiknya biarkan mereka menjalani rumah tangga mereka. Jika memang suatu saat nanti Rey bosan, dia pasti akan kembali ke kamu dan menyatakan penyesalannya.
Di perjalanan menuju lobby Rumah Sakit.
"Jika kamu sudah tidak tahan, sebaiknya jangan dipaksakan, Nisha."
"Mami tenang saja, Nisha pasti bisa bertahan selama Mas Rey masih ingin berjuang bersama Danisha. Lagipula yang paling Danisha butuhkan saat ini adalah dukungan dari Mas Rey, Mami dan juga Daddy!" sahut Danisha sembari merengkuh pundak Naila yang berjalan beriringan dengannya.
"Mami sangat kesal, Danisha. Mami tidak habis pikir kenapa Ibu mertuamu bisa berkata seperti itu! Dia itu seperti wanita yang tidak memiliki hati," gerutu Naila sambil terus melangkahkan kakinya.
"Sudahlah, Mih. Kita berdoa saja. Semoga suatu hari nanti, mata hati Ibu mertuaku dibuka oleh Tuhan," ucap Danisha sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
"Tidak, Danisha! Doa Mami cuma satu, semoga Tuhan memberikan keajaiban untukmu. Biar mereka tahu rasa dan malu karena sudah merendahkan dirimu!" jawab Naila sembari mendengus kesal.
...***...