Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Klinik


__ADS_3

"Dimana, Adnan?" tanya Tante Mira kepada Pelayan yang datang menghampirinya.


"Didalam kamar, Nyonya," sahut Pelayan itu.


"Baiklah, terima kasih."


Tante Mira meneruskan langkahnya menuju kamar Adnan dan Arumi. Ketika tiba ditempat itu, ternyata benar, pasangan itu tengah berada disana sambil bercengkrama.


"Nak, boleh Tante masuk?" tanya Tante Mira kepada pasangan itu. Kebetulan pintu kamar mereka masih terbuka lebar.


Sontak kedatangan Tante Mira mengejutkan Adnan dan Arumi. Pasangan itu menoleh kemudian tersenyum menyambut kedatangan wanita paruh baya itu.


"Tantu saja, Tante. Masuklah ...," ucap Adnan kepada Tantenya.


Tante Mira menyunggingkan sebuah senyuman sebelum ia memasuki kamar mereka. Ia menghampiri Adnan kemudian menyambut uluran tangan Adnan. Adnan melabuhkan sebuah ciuman di punggung tangan Tante Mira sambil tersenyum hangat. Begitupula Arumi, walaupun masih tergolek lemah, ia terap berusaha menyambut kedatangan Tante dari Suaminya itu.


"Arumi sayang, wajahmu pucat sekali, Nak. Obat dan vitamin yang diberikan oleh Dokter kemarin sudah diminum?!" tanya Tante Mira dengan cemas menatap wajah Arumi yang memucat.


Perlahan Arumi menganggukkan kepalanya. "Ya, Tante. Barusan Arumi meminumnya," jawab Arumi.


"Kenapa, kepalanya masih pusing?" tanya Tante Mira sembari menghampiri Arumi dan duduk disamping wanita muda itu.


"Tadi pagi Arumi menguras habis isi perutnya, Tante. Hingga tubuhnya lemah dan tidak berdaya. Sedangkan Adnan ..." Adnan menundukkan kepalanya, ia kembari bersedih ketika mengingat kondisinya yang benar-benar tidak berdaya dan juga tidak becus menjadi seorang suami.


"Sudahlah, Adnan sayang! Jangan bersedih lagi." Tante Mira menatap sendu kepada Adnan,


Tante Mira bangkit dari posisi duduknya dan ingin mengubah posisinya. Tante Mira duduk disamping kepala Arumi kemudian mencoba memijit kepalanya.


"Tante, pijitin kepalanya, ya?! Biar pusingnya berkurang," ucap Tante Mira.


"Tidak usah, Tante. Arumi baik-baik saja, kok. Arumi 'kan jadi tidak enak sama Tante," lirih Arumi mencoba menolak permintaan Tante Mira.

__ADS_1


Namun, Wanita paruh baya itu tetap bersikeras memijit kepala Arumi. "Tidak apa-apa, Arumi sayang. Sama seperti halnya Naila dan juga Adnan, kamu juga sudah Tante anggap seperti Anak Tante sendiri. Jadi, jangan pernah sungkan sama Tante."


Akhirnya, Arumi pun mengalah. Ia membiarkan Tante Mira untuk memijit kepalanya.


"Oh ya, Adnan. Tante jadi kelupaan niat Tante datang kesini," kata Tante Mira sambil terus memijit kepala Arumi.


"Kenapa, Tante?"


"Begini, salah satu teman Tante kemarin bercerita sama Tante bahwa anaknya juga mengalami hal yang sama seperti dirimu, Adnan. Kakinya lumpuh dan yang lebih parahnya lagi, ia divonis oleh Dokter bahwa ia akan lumpuh seumur hidup. Tetapi, Teman Tante itu tidak menyerah, dia terus mengupayakan segala cara untuk kesembuhan anaknya hingga akhirnya ia menemukan sebuah Klinik yang bisa menyembuhkan anaknya. Kini anaknya sudah sembuh total karena rajin ikut terapi di Klinik tersebut," tutur Tante Mira dengan sangat Antusias menceritakan hal itu kepada Adnan.


Adnan terdiam sejenak sambil memperhatikan kakinya yang tidak berdaya. "Mungkinkah kaki ini bisa sembuh lagi, Tante?" lirih Adnan dengan mata berkaca-kaca.


"Adnan, jangan pernah putus asa. Semua itu tak ada yang instan. Bahkan anaknya teman Tante itu, terapi sampai berbulan-bulan di Klinik tersebut hingga akhirnya ia benar-benar sembuh. Tetapi dia punya semangat untuk sembuh yang sangat kuat, Adnan, dan seharusnya kamu pun begitu. Kamu harus semangat demi kesembuhanmu, apa kamu tidak ingin menemani si kecil berlarian?" tanya Tante Mira kepada Adnan.


Adnan tidak mampu membendung kesedihannya. Iapun kembali menitikkan air matanya ketika teringat akan mahluk kecil yang sedang bertumbuh di rahim Istrinya sekarang.


"Tante benar, Mas. Semangatlah dan yakin bahwa kamu pasti bisa sembuh." Arumi menggenggam tangan Adnan dan memberikan semangat untuk suaminya itu.


Adnan menghembuskan napas panjang kemudian menyeka airmata yang sempat meleleh dikedua pipinya. "Baiklah, Adnan bersedia!" sahut Adnan mantap.


Arumi dan Tante Mira saling tatap sambil tersenyum puas.


"Baiklah, bagaimana kita berangkatnya hari ini?" tanya Tante Mira lagi.


Adnan menatap Arumi, seolah bertanya apakah Istrinya itu mengizinkan dirinya berangkat bersama Tante Mira hari ini. Arumi kembali tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Adnan membalas senyuman Arumi kemudian dengan semangat, ia kembali berucap.


"Baiklah, Adnan setuju."


Tante Mira pun tersenyum puas setelah mendengar jawaban dari Adnan.


Adnan kembali meraih tangan Arumi kemudian menggenggamnya. "Sayang, kamu mau ikut kami atau tinggal disini? Tapi aku tidak tega meninggalkan kamu sendirian. Tetapi aku juga tidak tega membawamu bersama kami, melihat keadaanmu yang seperti ini," ucap Adnan.

__ADS_1


Arumi membalas genggaman tangan Adnan. "Arumi menunggu disini aja, Mas. Arumi tidak sanggup harus lama-lama duduk atau berdiri, kepala Arumi masih terasa berat dan berputar-putar," sahut Arumi.


"Kalau begitu aku batalkan saja, ya?! Biar nanti saja, setelah kamu sudah mendingan," ucap Adnan lagi.


"Jangan! Pergi aja, Mas. Arumi tidak apa-apa, masih ada Bibi yang menemani Arumi," tolak Arumi.


"Bagaimana jika Tante minta bantuan Mama kamu, Sayang? Biar nanti Mama kamu yang jagain kamu," ujar Tante Mira.


"Jangan, Tante!" sanggah Adnan. "Adnan tidak ingin menyusahkan Ibu Mertua. Sebaiknya kita batalkan saja, Tante. Kita berangkatnya nanti saja, setelah Arumi sudah agak mendingan," sambungnya.


"Pergilah, Mas! Arumi baik-baik saja, percayalah!" ucap Arumi sambil menatap mata Suaminya itu.


"Kamu yakin?!"


Arumi pun menganggukkan kepalanya. Dan pada akhirnya Adnan serta Tante Mira memutuskan pergi hari itu juga. Sedangkan Arumi memilih menghubungi Ibunya untuk menjaganya sementara Adnan pergi ke Klinik tersebut.


Di perjalanan,


Adnan masih melamun sambil memperhatikan kearah luar, dimana jalanan masih padat merayap. Tante Mira terus memperhatikan keponakannya itu dan ia penasaran apa yang sedang dilamunkan oleh Adnan.


"Adnan, kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Tante Mira.


Adnan sempat terkejut sembari menoleh kepada Tante Mira. "Hanya memikirkan keadaan Arumi, Tante. Entah kenapa Adnan terus mengkhawatirkan keadaannya," sahut Adnan.


"Kamu tenang saja, Arumi 'kan sudah ditemani sama Rahma. Pastilah Rahma akan menjaga Arumi dengan baik," sahut Tante Mira sembari mengelus lembut pundak Adnan.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba didepan sebuah Klinik yang pemiliknya adalah seorang laki-laki paruh baya. Lelaki itu tersenyum hangat menyambut kedatangan Adnan dan Tante Mira.


Ia juga mempersilakan Adnan dan Tante Mira masuk ke ruangan itu. Benar saja, ada beberapa pasiennya yang seperti Adnan dan mereka terlihat sangat bersemangat mengikuti terapi di tempat itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2