Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 53


__ADS_3

"Ehem, apakah aku mengganggu? Jika 'ya' maka aku akan kembali keluar," goda Danish ketika menyaksikan keakraban Aditya dan Keyla saat itu.


"Tuan Danish?! Wah, silakan masuk, Tuan. Suatu penghormatan bagi saya karena Anda bersedia mengunjungi saya di sini. Dan kami sama sekali tidak merasa terganggu. Benarkan 'kan, Key?" Aditya tersenyum hangat kepada Danish tanpa menyadari bahwa tangannya masih menempel sempurna di lengan gadis itu.


"Ehm, baguslah kalau begitu."


Saat itu Danish tidak sendiri. Ada Ardhan di sampingnya. Ardhan menatap tangan Aditya yang masih menempel di lengan Keyla dan hal itu membuat ia benar-benar yakin bahwa Keyla dan Aditya memang memiliki hubungan spesial.


Danish menghampiri tempat tidur Aditya kemudian iseng meletakkan tangannya diatas tangan mereka yang masih bertaut. Sontak saja, apa yang dilakukan oleh Danish membuat Aditya dan Keyla kelabakan.


Keduanya dengan cepat menarik tangan mereka dan kini wajah mereka pun terlihat memerah menahan malu. Danish terkekeh pelan ketika melihat ekspresi kedua orang itu. Bahkan ia meminta maaf, seolah-olah tidak sengaja melakukannya.


"Oups! Maafkan aku. Aku tidak sengaja," ucap Danish sambil mengangkat tangannya.


"Ehm, maafkan saya, Tuan," lirih Aditya karena merasa bersalah sudah berani menyentuh tangan Keyla.


"Loh, kenapa kita sama-sama meminta maaf? Jadi, siapa yang bersalah ini?" sahut Danish di sela tawanya.


Ardhan merasa tidak nyaman berada di ruangan itu. Hatinya terasa panas dan kini jantungnya kembali berdetak dengan cepat, persis seperti yang ia rasakan tadi malam.


"Kak Danish, sepertinya aku harus pergi dulu. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan," ucap Ardhan.


"Loh, kok?" Danish menatap heran kepada Ardhan yang sedang berdiri di sampingnya.


"Hanya sebentar saja, setelah itu aku akan kembali."


Ardhan menepuk lengan Danish kemudian ia juga berpamitan kepada Keyla dan Aditya sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu.


Ponsel Ardhan tiba-tiba berdering. Ia meraih benda pipih tersebut kemudian menerima panggilan dari sahabatnya.


"Dhan, apa kamu sudah tahu? Posisimu sudah digantikan oleh Chef Arjun dan hari ini ia mulai syuting untuk mengisi acaramu," tutur sahabatnya dari seberang telepon dengan ekspresi panik.

__ADS_1


Ardhan menghembuskan napas berat. Ia terkejut mendengar berita buruk yang baru saja disampaikan oleh sahabat sekaligus asistennya itu. Sebenarnya Ardhan sudah menduga hal ini akan terjadi dan ia pun sudah siap menerimanya.


"Baguslah kalau begitu," jawabnya singkat dan jelas.


"Loh, kok bagus sih?" pekik lelaki itu, tidak percaya mendengar jawaban Ardhan yang sepertinya sudah tidak peduli dengan kariernya.


"Ya, baguslah! Itu artinya aku sudah bebas. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan memulai karierku dari nol lagi."


"Ih, kamu memang aneh! Memangnya mudah apa memulai karier dari nol lagi? Beruntung Nona Muda itu tidak mengatakan hal yang tidak-tidak pada awak media, kalau iya? Bisa gawat, Dhan!" kesal Assistennya.


"Ya, sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirkan. Jika memang sudah rejekiku, karierku pasti akan merangkak dengan sendirinya," jawab Ardhan dengan santainya.


"Hah, sudahlah! Memang susah ngomong sama kamu."


Tiiitt ... panggilan terputus.


Ardhan kembali menarik napasnya dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


Setelah Keyla memasang sabuk pengaman, Danish pun segera melajukan mobil tersebut menuju kediamannya. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah mengantarkan Keyla pulang.


Ketika di perjalanan pulang, Danish menanyakan sesuatu yang membuat Keyla membulatkan matanya.


"Key, kamu suka ya sama Aditya?"


"Hah?" pekik Keyla.


"Kakak nanya, kamu suka ya sama Aditya?"


"Ih Kakak, Key dengar kok. Ceritanya 'kan Key lagi terkejut gitu! Lagian Kakak nanyanya aneh-aneh."


"Perasaan pertanyaan Kakak gak aneh," jawab Danish sambil terus fokus pada kemudinya.

__ADS_1


"Ya, aneh lah. Kak Adit itu sudah seperti Kakak buat Keyla."


"Masa?!" Danish melirik Keyla sambil menaikan sebelah alisnya.


"Loh, kenapa ekspresi wajah Kakak seperti itu? Seolah tidak percaya dengan apa yang Key katakan,"


"Memang iya," sahut Danish sambil terkekeh.


"Hhhh, sudahlah. Debat sama Kakak itu sampai lumutan, gak bakalan menang," kesal Keyla.


Selang beberapa saat, Keyla pun tiba didepan rumahnya. Danish hanya mengantarkan Keyla di depan rumah tanpa ikut masuk kedalam.


"Sampaikan salah Kakak buat Kak Nazia, ya."


"Iya, iya! Pasti Key sampaikan, deh."


"Bye, Key."


"Bye, juga Kakak."


Setelah Danish menghilang dari pandangannya, Keyla pun bergegas memasuki kediamannya. Ketika melewati ruang utama, ternyata Ibu dan Kakak Iparnya sedang bersantai di ruangan itu .


"Sudah pulang, Key?" sapa Naila.


"Ya, Mih. Kakak Danish 'kan sedang sibuk, jadi gak bisa lama-lama diam disana,"


"Bagaimana kondisi Aditya sekarang?" tanya Naila lagi.


"Sudah lebih baik, katanya." jawab Keyla


...***...

__ADS_1


__ADS_2