Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 48


__ADS_3

Setelah mengantarkan Keyla, kini saatnya. Aditya mengantarkan Adriela ke kediamannya.


"Bye, Adriela!" ucap Keyla sebelum memasuki rumahnya.


"Bye, Key. Selamat malam," sahut Adriela sembari melambaikan tangannya kepada Keyla.


Baru saja Keyla ingin menginjakkan kaki memasuki rumahnya, ternyata Daddy-nya sudah menunggu dengan tangan menyilang di dada.


"Wah, wah, wah! Anak bontot Daddy baru pulang rupanya?" sindir Keanu sambil melirik jam dinding mewahnya.


Keyla tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Memang acaranya baru saja selesai, Dad."


"Ya sudah, sekarang cepat naik dan segera tidur," titah Keanu.


"Baik, Dad."


Keyla pun bergegas menaiki anak tangga, menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Sementara itu.


Mobil Aditya mendadak hening setelah Keyla tidak lagi berada di dalam mobil tersebut. Baik Aditya maupun Adriela tidak bicara sepatah katapun. Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Adriela, tetapi ia tidak berani menanyakannya langsung kepada lelaki itu. Hingga akhirnya, Adriela mencoba memberanikan diri untuk membuka suaranya.


"Kak Adit," ucap Adriela dengan ragu-ragu.


"Ya?"


"Ehm, kalau boleh tahu ... sejak kapan Kak Adit menyukai Keyla? Maaf, jika pertanyaanku tidak sopan. Jika Kakak tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa kok, Kak."


Aditya tersenyum sambil terus fokus pada kemudinya. Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan gadis itu. Sejujurnya ia kagum pada sosok Keyla, tetapi ia tidak berani berharap lebih pada gadis itu. Selain Keyla adalah Adik kesayangan dari Bossnya, ia juga merasa tidak pantas untuk berada disamping Keyla.


"Bagaimana, ya? Keyla adalah gadis yang baik dan aku menyukainya sudah sejak lama," jawab Aditya sambil menggaruk pelipisnya.


"Beruntung sekali ya, Keyla." lirih Adriela.

__ADS_1


Adriela mulai berpikir. Ia tahu bahwa Keyla tergila-gila pada sosok Ardhan. Ia ragu jika Keyla bisa secepat itu berputar haluan dan melupakan perasaannya kepada Ardhan.


"Kasihan donk Kak Adit, jika Keyla tidak sungguh-sungguh mencintainya?" batin Adriela.


Tiba-tiba, terdengar suara letupan dari luar dan mobil yang dikemudian oleh Aditya bergerak liar diluar kendalinya. Adriela ketakutan sedangkan Aditya mencoba menghentikan laju mobilnya.


Beruntung kejadian itu tidak membuat Adriela dan Aditya celaka, mereka hanya mengalami shok saat itu.


"Kamu tidak apa-apa, Adriela?" tanya Aditya sambil memperhatikan gadis itu.


"Tidak apa-apa, Kak. Sebenarnya apa yang terjadi?" sahut Adriela sambil memperhatikan bagian belakang mobil.


"Sepertinya ban mobilku pecah. Tapi, entahlah. Kamu tunggu disini ya, biar aku cek dulu," ucap Aditya sembari keluar dan memeriksa kondisi mobilnya.


Ternyata apa yang dipikirkan oleh Aditya benar. Ban mobilnya rusak parah dan setelah ia perhatikan, ban mobil tersebut terkena ranjau yang sengaja di pasang oleh seseorang yang memiliki niat jahat.


"Entah kenapa perasaanku tidak enak," batin Aditya.


Arumi mondar-mandir di ruang utama. Ia begitu mencemaskan Adriela yang belum juga kembali. Sedangkan jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.30.


"Ya ampun, Mas! Aku benar-benar mencemaskan Adriela. Ardhan juga aneh, adik perempuan malah ditinggal sendiri!" gerutu Arumi kepada Adnan yang juga sedang menanti kedatangan anak perempuannya.


"Tiga puluh menit lagi. Jika Adriela tidak juga kembali, aku akan segera menyusulnya," sahut Adnan.


"Tunggu sebentar ya, Mas."


Arumi meninggalkan Adnan diruangan itu kemudian menuju kamar Ardhan di lantai atas. Dengan langkah cepat, Arumi menaiki anak tangga sambil terus bergumam.


Kini Arumi berada di depan kamar Ardhan dan ternyata kamar anak lelakinya itu tidak dikunci. Bahkan pintunya pun tidak tertutup rapat. Arumi mengintip dari balik pintu dan nampak Ardhan yang duduk di bawah tempat tidurnya dengan kedua lutut yang ditekuk.


"Dhan?" panggil Arumi.


Lamunan Ardhan buyar ketika sang Ibu memanggilnya. Ia segera menoleh kepada Arumi kemudian mempersilakanmya masuk.

__ADS_1


"Mah, masuklah."


"Ardhan, Mama mengkhawatirkan adikmu. Sampai sekarang Adikmu belum juga kembali dan ponselnya pun sekarang sudah tidak bisa dihubungi," tutur Arumi dengan wajah cemas.


"Benarkah?" Ardhan pun nampak cemas.


"Ya, tadi Mama sempat menghubungi Adriela dan dia bilang akan pulang bersama temannya. Tetapi Mama lupa bertanya padanya, temannya itu siapa. Apa mungkin dia bersama Keyla?"


Ardhan nampak berpikir sejenak kemudian tidak lama ia pun kembali berucap.


"Sebentar, Ardhan telepon Keyla dulu,"


Ardhan mencari nama Keyla diantara jejeran daftar kontaknya. Nomor yang biasanya tidak pernah absen meriuhkan ponselnya, kini menghilang bagai di telan bumi. Setelah mendapatkan nomor kontak Keyla, Ardhan pun mencoba menghubunginya. Namun, saat itu Keyla sudah tertidur nyenyak dan ponselnya pun dalam keadaan 'Diam'.


"Bagaimana?" tanya Arumi


Ardhan menggelengkan kepalanya sembari mencoba menghubungi gadis itu kembali.


"Tidak dingkat, Mah."


"Aduh, bagaimana ini!" gumam Arumi yang semakin panik.


Sudah berkali-kali Ardhan mencoba, tetapi Keyla tidak juga menerima panggilannya.


"Kenapa kamu tidak mau menerima panggilan dariku, Key? " batin Ardhan yang kini mulai putus asa.


"Masih tetap sama, Mah. Sebaiknya Ardhan segera menyusul Adriela," ucap Ardhan.


"Tapi, dimana? Apa kamu tahu dimana posisi Adriela sekarang? Kamu sih, main tinggal-tinggal aja," kesal Arumi.


"Maafin Ardhan, Mah. Tadi Ardhan tidak enak badan dan langsung pulang. Ardhan akan berkunjung ke tempat Keyla, siapa tahu dia bersama gadis itu sekarang," jawab Ardhan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2