
"Nazia, bolehkah aku main ke rumahmu jika ada waktu senggang?" tanya Danish yang baru saja selesai dengan makan siangnya.
Nazia tersenyum sembari memasukkan kembali kotak bekal yang sudah kosong itu kedalam tasnya. "Tapi rumah saya jelek, Tuan. Saya malu," ucap Zia dengan wajah memerah menahan malu.
"Tidak masalah, rumahku juga jelek, kok!" sahut Danish sembari menatap wajah Nazia.
"Tuan, bisa saja." Nazia perlahan bangkit. "Sebaiknya saya pulang dulu, terima kasih karena sudah bersedia mencicipi masakan saya," ucap Nazia sambil membungkuk hormat kepada Danish.
Danish pun turut bangkit. Ia berdiri tepat dihadapan Nazia. "Seharusnya aku yang berterima kasih karena sudah memberiku makan gratis. Besok-besok, kalau ada makanan lebih, bolehlah bagi aku. Aku bersedia menjadi tester untuk masakanmu," sahutnya sambil terkekeh pelan.
"Tentu saja, Tuan. Dengan senang hati."
Sementara itu.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Wajahnya menekuk karena ia benci melihat pemandangan yang disaksikan oleh kedua matanya.
"Bukankah itu Tuan Danish, lalu siapa gadis itu?!" tanya wanita dengan setelan ketat membalut tubuhnya.
Salah satu anak buah wanita itu menghampirinya kemudian ikut memperhatikan kebersamaan Danish dan Nazia.
"Ya, itu Tuan Danish. Tetapi saya tidak mengenali gadis itu, Nona Helen," sahutnya.
Karena saat itu posisi Nazia membelakangi wanita itu hingga mereka tidak bisa melihat wajah Nazia dengan jelas.
Helen sangat kesal, bahkan pena yang sedang berada di tangannya patah menjadi dua karena tanpa sadar wanita itu memegangnya dengan sangat erat.
Setelah Nazia pamit, Danish pun segera kembali ke ruangannya.
Sore pun menjelang.
"Dit. Aku duluan," ucap Danish sembari menepuk pundak Aditya yang masih berdiri di depan perusahaannya.
"Oh iya, Tuan. Silakan," sahut Aditya.
__ADS_1
Tak berselang lama setelah Danish pergi, Helen menghampirinya dengan wajah masam.
"Sayang, kamu kenapa lagi?" goda Aditya sambil tersenyum manis menatap kekasihnya itu.
"Tidak apa-apa," sahutnya malas.
"Tidak apa-apa, kok wajahnya menekuk gitu? Ada masalah apa, sih? Cerita donk sama aku," bujuk Aditya seraya membukakan pintu untuk Helen.
"Aku bete, pekerjaanku menumpuk hari ini dan hal itu membuat aku lelah," sahut wanita itu sambil melemparkan pandangannya kearah luar.
"Ehm, ternyata soal pekerjaan, toh."
Aditya pun segera melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan besar itu dan menuju kediaman Helen. Aditya berencana mengajak Helen jalan-jalan karena mereka baru saja gajian. Tentu saja Helen tidak menolak karena Aditya begitu loyal kepadanya. Apapun yang diinginkan wanita itu, Aditya selalu menuruti keinginannya.
Di tengah keheningan, Helen kembali membuka suaranya. Inya masih penasaran tentang gadis yang berbincang bersama Danish di depan perusahaan.
"Ehm, Sayang. Tadi kulihat Tuan Danish berbicara pada seorang gadis di depan perusahaan. Mereka terlihat sangat akrab, kira-kira siapa gadis itu? Soalnya aku tidak dapat melihat wajahnya. Gadis itu berdiri membelakangiku," tanya Helen.
Sontak Aditya menoleh kepada kekasihnya itu. Entah kenapa tiba-tiba saja ia teringat akan gadis kampung itu, Nazia.
"Tuan Danish bersama seorang wanita di depan perusahaan, kapan?" tanya Aditya yang juga begitu penasaran.
"Tadi, saat istirahat makan siang," sahut Helen.
"Bagaimana ciri-ciri gadis itu? Ehm, maksudku pakaiannya?!" Aditya semakin penasaran karena waktu yang diucapkan oleh Helen bertepatan dengan kedatangan Nazia.
"Ehm,"
Helen mencoba mengingat-ingat pakaian yang dikenakan oleh gadis itu.
"Baju kaos lengan panjang dengan rok panjang semata kaki. Rambutnya dikuncir dan wajahnya, aku tidak tahu, karena aku tidak melihat wajah gadis itu."
"Sialan, apakah itu Nazia? Tapi rasanya tidak mungkin seorang Danish Armani Putra mau berbincang dengan gadis kampungan seperti dirinya. Aku saja ogah!" batinnya.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?!" tanya Helen bingung karena Aditya terdiam dan asik dalam pikirannya sendiri.
"Ehm, tidak apa-apa, Sayang. Aku cuma berpikir tentang Tuan Danish. Setahuku Tuan Danish masih sendiri dan tak ada satupun wanita yang sedang dekat dengannya," tutur Aditya.
"Benarkah, tetapi mereka terlihat sangat dekat dan sepertinya mereka sudah lama saling mengenal," sambung Helen yang masih penasaran dengan sosok gadis itu.
"Baiklah, nanti akan ku cari tahu. Akupun sebenarnya sangat penasaran, seperti apa tipe cewek Big Boss kita tersebut."
Tidak berselang lama, mereka pun tiba di depan Apartemen Helen. Sementara Helen bersiap-siap, Aditya menunggunya di dalam kamar wanita itu sambil memainkan ponselnya.
Ia masih penasaran dengan sosok gadis yang dibicarakan oleh Helen. Ada kecurigaan di hatinya bahwa gadis itu adalah Nazia. Namun, ia masih tidak percaya, seorang Danish dekat dengan gadis culun dan kampungan seperti Nazia.
"Yang benar saja," gumam Aditya sambil terkekeh pelan.
"Sayang, aku sudah siap. Mari, aku sudah tidak sabar lagi," ucap Helen yang sudah tampil cantik dan sangat seksi. Dress pendek dan melekat erat di tubuh seksinya membuat Aditya terpana.
"Kamu cantik sekali, Helen."
"Tentu saja," sahut Helen sambil terkekeh.
Pasangan itu pun segera melaju ke kediaman Aditya. Namun, Helen tidak ikut serta masuk ke rumah kekasihnya itu. Ia tidak ingin bertemu dengan kedua orang tua Aditya, apalagi ditanya macam-macam pasal dirinya.
"Baiklah, kamu tunggu sebentar disini, ya. Aku janji tidak akan lama," ucap Aditya sebelum meninggalkan Helen di dalam mobilnya.
"Baiklah, tapi janji jangan lama," sahutnya.
Aditya pun bergegas masuk dan bersiap-siap. Bu Radia menyadari keberadaan Helen di dalam mobil Aditya yang terparkir di halaman depan rumahnya. Bu Radia benar-benar kesal karena Aditya masih saja berhubungan dengan wanita seksi itu.
"Kamu lihat, Yah. Aditya masih saja berhubungan dengan wanita itu padahal pernikahannya tinggal beberapa minggu lagi!" kesal Bu Radia.
"Sebaiknya kita percepat pernikahan mereka, Bu. Aku tidak ingin Aditya melakukan hal yang lebih jauh lagi bersama wanita itu," sahut Pak Dodi.
...***...
__ADS_1