
Hari ini, semua persiapan pesta pernikahan sederhana ala Nazia dan Aditya sudah rampung. Para warga berkumpul di kediaman Bi Narti untuk membantu mereka memasak dan mempersiapkan segala hal untuk menyambut hari esok, dimana Nazia akan sah menjadi istri dari seorang Aditya.
Sementara Bi Narti sedang sibuk di dapur bersama para tetangga, Nazia sedang asik melakukan perawatan tubuh di dalam kamarnya bersama seorang pekerja salon yang memang dipersiapkan oleh Bu Radia.
Jika Nazia tengah sibuk melakukan berbagai ritual untuk menyambut hari esok, beda halnya dengan Aditya. Lelaki itu memilih menghabiskan waktunya di Apartemen Helen.
"Aku tidak menginginkan pernikahan ini, Helen! Tolonglah aku, ku mohon!" lirih Aditya dengan wajah memelas kepada Helen.
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk menolongmu, Aditya? Bukankah itu semua keinginan Ayah dan Ibumu?" tanya Helen.
"Ya, ini memang keinginan mereka. Tetapi, kamu masih bisa menyelamatkan hidupku dengan cara menggantikan posisi gadis kampung itu. Menikahlah denganku, Helen. Dengan seperti itu, Ayah dan Ibuku tidak akan bisa berkutik lagi," tuturnya dengan wajah yang begitu menyedihkan.
"Maafkan aku, Aditya. Bukankah kamu sudah tahu bahwa aku belum siap untuk menikah! Aku tidak ingin mengikat diriku dengan hubungan yang seperti itu. Apalagi setelah menikah, semua wanita akan segera hamil dan kelihatan gendut, oh, tidak! Aku tidak mau!" seru Helen sambil membuang pandangannya.
Aditya semakin kacau setelah mendengar ucapan Helen yang tidak bersedia menolongnya. Ia kembali meraih minuman keras yang ada di atas meja kemudian menenggaknya lagi.
Helen menyeringai licik melihat kondisi Aditya yang begitu menyedihkan. "Maafkan aku, Aditya. Seandainya yang menawarkan pernikahan itu adalah Tuan Danish, mungkin aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengatakan 'Ya!', tapi sayangnya Tuan Danish begitu sulit untuk didekati," batinnya.
Malam pun menjelang.
Aditya masih bergelut dengan minumannya. Mulutnya meracau dan terus mengumpat kasar.
"Sudahlah, Aditya! Sebaiknya kamu pulang saja!" ucap Helen sembari mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya.
"Biarkan aku disini, Helen. Aku tidak ingin pulang, kalau perlu biarkan aku disini hingga hari esok!" ucap lelaki itu dengan kondisi mabuk berat.
__ADS_1
"Terserah apa katamu, lah! Tapi, menjauhlah dariku, kamu bau, Aditya!"
Tidak berselang lama, Aditya pun jatuh dan tidak sadarkan diri di atas tempat tidur Helen yang empuk. Lelaki itu tergeletak tak berdaya di sana.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika orang tua Aditya mencari keberadaannya hingga ke Apartemen ini? Bisa-bisa, mereka benar-benar menikahkan aku dengannya," kesal Helen sambil menatap Aditya yang tak sadarkan diri.
Keesokan harinya.
"Cie ... yang pengen ketemu gadisnya," goda Naila kepada Danish, dengan setengah berbisik agar Danisha dan Keyla tidak mendengar apa yang ia ucapkan.
"Ah, Mami."
Wajah Danish merona saat itu. Ia merasa malu ketika Naila menggodanya.
"Mau kemana, Kak? Keren amat?!" tanya Keyla sembari memperhatikan penampilan Danish yang memang terlihat lebih keren dari biasanya.
"Yang benar? Huwaaahhh, akhirnya Kak Danish udah gak jomblo lagi," sahut Keyla dengan sangat antusias.
"Hush, kalian ribut aja! Sarapan aja yang benar," tegur Naila. Sedangkan Danish hanya bisa tersenyum tanpa berkeinginan menjawab ucapan adik-adiknya.
Setelah selesai sarapan, Danish pun berpamitan. Ia memilih mengemudikan mobilnya sendiri ke kediaman Nazia.
Sementara itu.
Nazia masih dirias oleh seorang MUA yang juga merupakan orang pilihan Bu Radia. Nazia terlihat sangat cantik, penampilannya berubah 180 derajat.
__ADS_1
Apalagi setelah gadis itu mengenakan kebaya pengantin pilihan calon Ibu mertuanya. Walaupun terlihat sederhana, tetapi aura kecantikan Nazia saat itu benar-benar keluar. Bahkan, MUA yang bertugas merias dirinya, tiada henti mengatakan bahwa Nazia sangat cantik.
"Nah, Sayang. Sekarang kamu sudah siap, tinggal nunggu si calon mempelai laki-laki," ucap MUA tersenyum, sembari menatap bayangan Nazia dari dalam cermin.
"Terima kasih, Mbak."
"Sama-sama," sahut MUA tersebut.
Nazia menatap bayangannya di cermin. Ya, dia benar-benar puas dengan hasil make up'nya hari ini. Namun, siapa sangka. Walaupun Nazia terlihat bahagia, tetapi hatinya tidak. Hatinya hampa dan tidak ada rasa bahagia sedikitpun di dalam sana.
MUA menuntun Nazia menuju pelaminan. Walaupun acara pernikahan gadis itu sangat sederhana, tetapi para warga sekitar, begitu antusias menyambut acara pernikahannya.
Ketika Nazia keluar dari rumahnya dan berjalan menuju pelaminan, semua mata tertuju kepadanya. Mereka berdecak kagum melihat sosok Nazia yang berubah drastis. Gadis polos dan sederhana itu, kini menjadi wanita yang sangat cantik.
Setelah berhasil menuntun Nazia ke pelaminan, MUA tersebut kembali ke tempatnya. Kini gadis itu bak Ratu yang sedang duduk di singgasana sambil menunggu kedatangan sang Raja.
Detik berganti menit dan menit pun akhirnya beganti jam. Sang Raja yang akan mengesahkannya menjadi seorang Istri, tak juga kelihatan batang hidungnya.
Seluruh tamu undangan mulai bertanya-tanya. Mempertanyakan keberadaan Sang Raja yang tidak tahu dimana rimbanya. Nazia pun mulai merasa resah. Ia khawatir apa yang ia takutkan beberapa hari ini akan menjadi kenyataan.
Bi Narti yang mulai cemas segera menghampiri Nazia dan berbisik kepada gadis itu.
"Nak, coba cek ponselmu. Siapa tahu ada pesan dari Pak Dodi. Mungkin saja mereka sedang terjebak macet," tutur Bi Narti sembari menyerahkan ponsel butut itu kepada Nazia.
Nazia meraih benda pipih tersebut dari tangan Bi Narti kemudian mengeceknya. Nazia menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap wajah Bi Narti dengan tatapan sendu dan matanya pun mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba," ucap Bi Narti mencoba menenangkan Nazia.
...***...