
Pagi menjelang,
Adnan terbangun dari tidurnya saat mendengar suara berisik dari dalam kamar mandinya. Perlahan ia membuka mata dan mengucek matanya yang penglihatannya masih kabur.
Adnan memperhatikan ruang kosong disamping ia berbaring, ternyata istrinya sudah tidak ada disana dan ia yakin sekali bahwa istrinya lah yang sedang berada didalam kamar mandi.
"Sayang ..." Adnan mencoba mmanggil istrinya, tetapi tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara orang sedang mengeluarkan isi perut dari dalam kamar mandi.
Adnan mencoba bangkit dan berhasil. Ia menyeret kedua kakinya yang tidak berdaya dengan susah payah. Lelaki itu berjuang dengan keras hanya untuk meletakkan tubuhnya keatas kursi roda.
"Aku harus bisa!" seru Adnan sembari mengangkat tubuhnya dengan hanya mengandalkan kekuatan tangan. Namun, baru saja ia berhasil meletakkan bokongnya keatas kursi roda, tiba-tiba tangannya terlepas dari tempat ia berpegangan dan Adnan pun terjatuh.
Brakkk!!!
Arumi yang masih lemas didalam kamar mandi karena baru saja menguras habis isi perutnya, bergegas bangkit dan berlari kecil menuju kamarnya.
"Mas Adnan?!"
Dengan cepat Arumi menghampiri Adnan dan membantu suaminya itu bangkit kemudian mendudukkannya keatas kursi roda.
"Mas, kenapa bangun sendirian? Seharusnya 'kan Mas Adnan tungguin Arumi, biar Arumi bantu," lirih Arumi dengan wajah memucat menatap Adnan.
Adnan memperhatikan wajah pucat istrinya dan hal itu membuat hatinya kembali tersayat-sayat. "Aku benar-benar tidak berguna, Arumi. Lihatlah aku, kini aku hanya menjadi beban untukmu." ucap Adnan dengan mata berkaca-kaca.
Arumi berjongkok didepan Adnan dan mendongak kepada Suaminya itu sambil tersenyum hangat. "Jangan berkata seperti itu, Mas. Yakinlah, kaki Mas Adnan pasti akan segera sembuh."
Tiba-tiba Arumi kembali merasakan gejolak dari dalam perutnya. Ia bergegas bangkit kemudian berlari menuju kamar mandi dan kembali menguras isi perutnya disana. Adnan mengikuti Arumi dan ikut masuk kedalam kamar mandi. Ia menghampiri Arumi kemudian mengelus punggung istrinya itu.
"Kenapa tidak aku saja yang merasakan morning sickness? Aku tidak sanggup kalau harus melihat dirimu seperti ini, Arumi. Aku merasa semakin bersalah," lirih Adnan.
__ADS_1
Setelah perutnya kembali tenang, Arumi menyandarkan tubuhnya ke dinding kamar mandi sambil menatap wajah murung Adnan.
"Tidak apa-apa, Mas. Lagipula aku begitu menikmati moment ini dan ini tidak akan berlangsung lama, kok. Paling hanya beberapa bulan kedepan," tutur Arumi.
Adnan terdiam sembari memperhatikan wajah Arumi yang memucat. Kini wanita itu memejamkan matanya sambil bersandar di dinding kamar mandi. Kepalanya semakin terasa berat dan perutnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.
Arumi tidak ingin mengeluh sedikitpun karena ia tahu jika Adnan mendengarnya, lelaki itu pasti akan semakin terpuruk dan putus asa.
"Arumi?!" panggil Adnan
"Ehm," gumam Arumi yang masih memejamkan matanya menahan sensasi gejolak dari dalam perutnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Adnan cemas.
Arumi membuka matanya kemudian melemparkan senyuman hangat untuk suaminya itu.
"Aku baik-baik saja, Mas. Mas Adnan tidak perlu khawatir," sahut Arumi.
Adnan mengikutinya dari belakang dan memperhatikan kondisi Arumi. Ia sangat sedih, tetapi ia tidak berdaya dan tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk istrinya dengan keadaannya yang seperti itu.
"Kamu tunggu disini sebentar, ya. Aku ingin buat sesuatu yang bisa menghangatkan perutmu," ucap Adnan sembari mengelus lembut puncak kepala Arumi.
"Tidak, tidak! Tidak usah repot-repot, Mas. Mas istirahat saja, biar nanti Bibi yang membuatnya," sahut Arumi.
Adnan tersenyum, "Tidak apa, aku hanya ingin bikin sup dan itu tidak akan membuat aku kerepotan, kok."
Adnan meninggalkan Arumi dikamar sendirian. Ia memacu kursi rodanya menuju dapur. Pelayan yang melihatnya dari kejauhan, segera menghampiri dan berniat membantunya.
"Tidak usah, Bi. Aku bisa sendiri." tolak Adnan.
__ADS_1
"Oh ya, Bi. Bisa bantu aku mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sup? Aku ingin membuat sup untuk Istriku."
"Baik, Tuan," sahut Pelayan itu.
Adnan dan Pelayan itupun segera ke dapur dan memulai kegiatan mereka. Walaupun pergerakannya terbatas, tetapi Adnan masih lincah kalau soal masak-memasak. Hanya saja, ia masih butuh bantuan dari Pelayannya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ia lakukan karena keterbatasannya.
Setelah beberapa menit, akhirnya sup special untuk istri tercinta pun selesai ia buat dan siap dihidangkan. Dengan dibantu Pelayannya, Adnan membawa sup itu kepada Arumi yang masih tergolek lemah diatas tempat tidur.
"Sayang, bangunlah. Aku membawakan sup special untukmu," ucap Adnan sambil mengelus puncak kepala Arumi.
"Wah, cepat sekali!" seru Arumi. Arumi mencoba bangkit dan bersandar di sandaran tempat tidur dengan dibantu Pelayan.
"Biar aku suapin, ya!" ucap Adnan sambil mengulurkan sendok yang berisi sup buatannya kepada Arumi.
Arumi menyambutnya dengan wajah semringah. Ini pertama kalinya ia mencicipi masakan yang Adnan buat khusus untuk dirinya. Arumi begitu terharu, ia bahkan sampai menitikkan air matanya karena bahagia.
"Kenapa, apa makanannya tidak enak?" tanya Adnan panik karena melihat Arumi menitikkan air mata.
Arumi menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas, bukan begitu. Aku bahagia, sangat bahagia karena akhirnya aku bisa mendapatkan sedikit perhatian darimu," ucap Arumi sembari menyeka air matanya.
Adnan menarik napas dalam kemudian mengembuskannya dengan perlahan. "Maafkan aku, Arumi. Sekarang aku sadar betapa bodohnya diriku karena sudah menyia-nyiakan dirimu selama ini. Hanya karena terobsesi pada orang lain, aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa ada seseorang yang begitu tulus menyayangi dan mencintai aku tanpa mengharapkan apapun dariku," lirih Adnan.
Arumi kembali tersenyum, ia sangat bahagia bisa memiliki Adnan walaupun lelaki itu sudah tidak sempurna lagi.
Adnan terus menyuapi Arumi hingga akhirnya sup itupun ludes. Adnan senang karena usahanya tidak sia-sia. Sup yang ia buat dengan penuh cinta itupun akhirnya masuk kedalam perut Arumi.
"Terima kasih, Mas. Lain kali buatkan Arumi masakan lainnya, ya," ucap Arumi sambil tersenyum puas.
"Tentu saja, dengan senang hati," sahut Adnan.
__ADS_1
...***...