
Di kediaman Adnan.
"Sayang, tinggal beberapa hari lagi kita akan segera bertemu. Ayah sudah tidak sabar ingin berjumpa denganmu, melihat wajahmu, menyentuhmu dan mendengar suara tangisan pertamamu," ucap Adnan sembari mengelus lembut perut Arumi yang sedang berselonjoran diatas tempat tidur mereka.
Tiba-tiba saja perut Arumi bergerak-gerak. Bayi itu merespon setiap perkataan yang diucapkan oleh Adnan. Adnan membulatkan matanya sambil tersenyum lebar. "Lihatlah, Sayang. Dia bergerak! Dia mengerti dengan apa yang ku ucapkan!" seru Adnan.
Adnan kembali mengelus perut istrinya sambil melabuhkan ciuman berkali-kali disana. "Iya, Ayah tahu. Kamu juga tidak sabar, 'kan ingin bertemu kami?!" ucap Adnan.
"Mas, tadi pagi Arumi sempat mulas. Tapi tidak terlalu sakit, sih. Apa itu artinya Arumi akan melahirkan dalam satu atau dua hari ini, ya?" tanya Arumi kepada Adnan yang masih bermain-main diatas perutnya.
"Benarkah? Lalu bagaimana sekarang?" tanya Adnan cemas dan wajahnya berubah menjadi lebih serius menatap Arumi.
"Sekarang sudah tidak, tetapi rasanya kepala dede bayinya sudah sampai sini," sahut Arumi sembari mengelus bagian perutnya yang paling bawah.
"Sepertinya tidak salah lagi, sebaiknya kita hubungi Tante Mira dan juga Mama," ucap Adnan dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan dulu, Mas. Kalau salah, bagaimana? Arumi 'kan malu, nanti Arumi dibilang manja lagi," tutur Arumi.
Adnan mengehela napas panjang sembari mengacak pelan puncak kepala Arumi. "Tidak apa kamu manja, apalagi manjanya sama aku," sahut Adnan sambil tersenyum kecut.
Perkataan Arumi saat itu membuat Adnan teringat bagaimana sikapnya dulu terhadap Wanita itu. Ia selalu menganggap bahwa Arumi adalah seorang Anak Mami, yang selalu merengek kepada Nyonya Rahma. Namun, sekarang ia sadar. Arumi adalah wanita yang hebat dan pantang berputus asa.
Arumi tersenyum dan perlahan mencoba bangkit dari tempat tidurnya. "Sebentar, Mas. Sepertinya Arumi ingin buang air kecil, deh."
Dengan tertatih-tatih Arumi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Entah mengapa Adnan merasa tidak nyaman ketika Arumi sendirian didalam sana. Apalagi setelah mendengar penuturan istrinya itu, bahwa tadi malam ia merasakan mulas pada perutnya.
Adnan perlahan menurunkan kakinya yang masih lemah ke samping tempat tidur. Ia meraih tongkat penyangga tubuhnya kemudian melangkah menuju kamar mandi.
"Uh ..."
Ketika Adnan mendekati kamar mandi, ia mendengar suara tintihan Arumi dari dalam.
"Sayang, kamu kenapa?!" tanya Adnan panik. Ia bergegas meraih gagang pintu ruangan tersebut kemudian membuka pintunya.
__ADS_1
Adnan membulatkan matanya ketika melihat Arumi bersandar di dinding kamar mandi sembari memegang perutnya. Terlihat cairan keruh yang masih mengalir disela kedua kakinya.
Dengan tergesa-gesa Adnan menghampiri istrinya itu. "Sayang, kamu baik-baik saja? Tolong jelaskan padaku, kamu kenapa?!" tanya Adnan dengan wajah panik menatap Arumi.
Saat itu Arumi tengah menahan rasa sakitnya. Wajahnya memucat dan tangannya menggenggam erat pakaian yang sedang ia kenakan.
"Sepertinya Arumi akan segera melahirkan, Mas!" rintih Arumi dengan terbata-bata.
"Benarkah!"
Diluar kesadarannya, Adnan melepaskan tongkat penyangga tubuhnya kemudian refleks mengangkat tubuh Arumi. Dengan lutut yang bergetar, Adnan mencoba melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Dan tanpa mereka sadari, Adnan mampu membawa Arumi berjalan dengan kedua kakinya tanpa menggunakan alat bantu.
"Ya, Tuhan!" rintih Arumi sambil memejamkan matanya.
"Pak Budi! Tolong bantu saya, sepertinya Arumi akan segera melahirkan," teriak Adnan.
Pak Budi sempat terdiam dengan mata terbuka lebar, ketika menyaksikan Majikannya tersebut ternyata sudah bisa berjalan dengan kedua kakinya. Apalagi sambil membopong tubuh Arumi yang sedang menahan rasa sakitnya.
"Ah, iya, Tuan! Maafkan saya," sahut Pak Budi sembari menghampiri Adnan kemudian membantu lelaki itu memasukkan tubuh Arumi kedalam mobil.
Setelah Adnan dan Arumi masuk kedalam mobil, Pak Budi pun bergegas melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit XX. Dimana Arumi sudah berencana akan melahirkan disana.
"Tahan ya, Sayang!" ucap Adnan seraya membantu meringankan rasa sakit yang dirasakan oleh Arumi, sebisanya. Ia mengelus punggung Arumi, memijat kakinya dan mengusap perut besar Istrinya itu.
Arumi hanya diam sambil bersandar di dada bidang Adnan. Ia benar-benar menikmati sensasi rasa sakit yang ia rasakan saat itu. Tak sedikitpun keluhan yang keluar dari bibir mungil wanita itu.
"Apakah kita sudah dekat, Mas?!" tanya Arumi kepada Adnan yang masih panik disampingnya.
"Masih separuh jalan, Sayang! Tahan sebentar lagi, ya!" sahut Adnan.
"Pak Budi, bisakah kita lebih cepat sedikit!" titah Adnan kepada Pak Budi.
"Baik, Tuan. Akan saya usahakan," sahut Pak Budi.
__ADS_1
Pak Budi pun merasa cemas. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Arumi saat ini. Namun, karena jalan sedang ramai-ramainya, Pak Budi tidak bisa melajukan mobilnya seperti keinginan Adnan.
Setelah beberapa saat, akhirnya merekapun tiba di halaman Rumah Sakit. Pak Budi menawarkan bantuan kepada Adnan untuk membawa Arumi, tetapi ditolak oleh Lelaki itu.
"Tidak usah, Pak Budi. Biar saya saja!" ucap Adnan sembari mengangkat tubuh Arumi memasuki lobby Ruang Sakit. Para Perawat pun segera menghampiri Adnan dan membawa Arumi memasuki ruangan persalinan.
"Ayo, cepat! Kepala bayinya sudah kelihatan!" seru Dokter yang memeriksa kondisi Arumi saat itu.
Adnan begitu panik, ia bahkan tidak menyadari bahwa kakinya sudah dapat berjalan tanpa menggunakan alat bantu. Adnan membujuk Dokter yang akan menangani proses kelahiran anaknya nanti, agar dirinya diperbolehkan masuk ke ruangan bersalin untuk menemani Arumi.
Dokter itupun memperbolehkan Adnan untuk ikut masuk bersama mereka. Sedangkan diluar ruangan itu, Pak Budi segera menghubungi Nyonya Rahma.
"Bu, kami sedang berada di Rumah Sakit XX, Nona Arumi sepertinya akan segera melahirkan,"
Nyonya Rahma pun panik mendengar kabar itu. "Benarkah? Baiklah aku segera kesana!" sahut Nyonya Rahma dengan wajah cemas.
Setelah meraih tas serta dompetnya, Nyonya Rahma segera melaju menuju Rumah Sakit bersama Sopir pribadinya. Di perjalanan, ia menghubungi Tante Mira dan ternyata wanita itupun baru tahu setelah Nyonya Rahma mengabarkan berita baik itu kepadanya. Karena saking paniknya, Adnan sama sekali tidak kepikiran untuk menghubungi siapapun, termasuk Tante Mira.
"Bagaimana, Pak Budi, apa Arumi sudah melahirkan?" tanya Nyonya Rahma ketika ia tiba diruangan itu.
Tidak lama setelah kedatangan Nyonya Rahma, Tante Mira pun tiba disana. Wanita paruh baya itu melangkah dengan tergesa-gesa menghampiri Nyonya Rahma.
"Bagaimana, Rahma?" tanya Tante Mira panik.
Tepat disaat itu, samar-samar terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan. Nyonya Rahma dan Tante Mira saling tatap dengan mata membulat sempurna.
"Ah, itu dia! Ya Tuhan, syukurlah ..." gumam keduanya sembari mengucap syukur atas kelahiran cucu mereka.
Nyonya Rahma tidak dapat menahan rasa harunya. Ia memeluk tubuh Tante Mira sambil menitikkan air mata. "Cucu kita sudsh lahir, Mira!"
...***...
Hehe, maaf baru bisa UP, soalnya dari tadi si emak di gangguin terus sama si bocil saat mau ngetik 😂😆😍😘
__ADS_1