Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 65


__ADS_3

Beberapa hari setelah pernikahan Danisha, Naila kembali disibukkan dengan acara penyambutan kedatangan keluarga Adnan yang ingin melamar Keyla.


Keyla menautkan kedua alisnya ketika melihat sang Ibu yang sedang sibuk mengatur ruang utama bersama para pelayan.


"Yang itu letakkan disini dan yang itu disana!" titah Naila kepada para pelayannya.


Perlahan Keyla menghampiri Naila dan berdiri di sampingnya sembari memperhatikan pekerjaan para pelayan yang sedang sibuk di ruangan itu.


"Ngapain, Mih?" tanya Keyla sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Naila tersenyum kemudian merengkuh tubuh Keyla. "Lagi bersiap-siap untuk menyambut kedatangan keluarga Om Adnan."


"Menyambut kedatangan keluarga Om Adnan? Ngapain kedatangan mereka di sambut seperti ini, memangnya ada yang spesial, ya?" tanya Keyla kebingungan.


"Astaga, Mami sampai lupa mengasih tau kamu bahwa Om Adnan dan Tante Arumi akan segera kesini buat ngelamar kamu, Key!" jawab Naila dengan sangat antusias bahkan wajahnya pun terlihat sangat bahagia saat itu.


"Apa?!" pekik Keyla. "Melamar? Maksud Mami apa, Keyla tidak mengerti."


"Hei, Gadis Cantik! Ardhan ingin segera melamarmu. Kamu senang, 'kan?" ucap Naila sembari mengelus lembut pipi Keyla.


Namun, perkiraan Naila salah. Bukannya bahagia, Keyla malah terlihat frustrasi setelah tahu bahwa Ardhan akan segera melamarnya.


"Mih, kenapa Mami baru bilang sekarang? Aku masih belum siap, Mih!" sahut Keyla dengan panik.


"Loh, kok bisa begitu? Bukankah selama ini kamu memang menyukai Ardhan? Makanya Mami merasa gak perlu lagi nanya itu ke kamu, Keyla. Karena menurut Mami, kamu pasti setuju," tutur Naila sambil menatap wajah Keyla dengan tatapan heran.


Keyla memundurkan langkahnya dan mulai menjauhi Naila dengan raut wajah sendu. "Sebaiknya Key kambali ke kamar."


"Loh, Key?!"

__ADS_1


Keyla berlari menuju kamarnya sedangkan Naila mengikutinya dengan langkah cepat.


"Gawat! Kesambet apa lagi itu anak?! Mana aku sudah main setuju-setuju aja lagi," gumam Naila sembari melangkahkan kakinya menuju kamar Keyla.


Setibanya di depan kamar Keyla ternyata pintu kamar gadis itu tertutup rapat dan Keyla mengurung dirinya di dalam sana.


"Key, Mami perlu bicara! Buka pintunya, Key," ucap Naila sembari mengetuk pintu tersebut.


Keyla terdiam sambil menatap ke arah pintu. Ia kesal karena Naila mengambil keputusan tanpa bertanya lebih dulu kepadanya.


"Key!" panggil Naila lagi.


Keyla segera bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan menghampiri pintu. Ia membuka pintu tersebut dan sekarang nampaklah sang Ibu yang sedang berdiri di hadapannya.


"Key, kita perlu bicara!"


"Duduklah disini!" titah Naila sembari menepuk ruang kosong di sebelahnya.


Perlahan Keyla menghampiri sang Ibu dan duduk di tempat yang diperintahkan oleh Ibunya tersebut.


"Key, maafkan Mami. Mami tidak tahu bahwa jawaban kamu akan seperti ini. Mami sudah menyetujui keinginan mereka, Key. Kalau Mami tiba-tiba saja membatalkan acara ini, Mami tidak tahu bagaimana reaksi Om Adnan dan Tante Arumi. Yang pastinya mereka akan sangat kecewa, Key."


Dengan wajah sedih, Naila menatap wajah Keyla. Ia berharap anak gadisnya itu memikirkan jawabannya sekali lagi.


Keyla meraih sebuah bantal kemudian membenamkan wajahnya ke benda kenyal tersebut. Naila mengelus punggung Keyla dengan lembut dan mencoba menenangkan gadis itu.


"Maafkan Mami, Key."


Keyla kembali mengangkat kepalanya kemudian menatap sang Ibu.

__ADS_1


"Keyla akan memikirkannya lagi, Mih."


"Pikirkanlah dengan baik dan matang. Jika memang kamu tidak bisa menerimanya, maka tolaklah secara halus agar Ardhan dan keluarganya tidak kecewa setelah mendengar keputusanmu. Besok malam mereka akan datang ke sini, Key dan Mami harap apapun jawabanmu nanti, adalah yang terbaik untukmu," tutur Naila sembari mengelus wajah cantik Keyla.


Keyla menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


. . .


Hari itu Keyla mengurung dirinya. Ia benar-benar frustrasi mendengar acara lamaran mendadak itu. Bahkan hingga matahari terbenam pun, Keyla masih betah berada di dalam kamarnya.


"Keyla, buka pintunya, Nak."


Naila kembali mengetuk pintu kamar Keyla dengan membawa nampan berisi makanan serta minuman untuk anak gadisnya itu.


Tidak berselang lama pintu pun terbuka. Naila sempat terperanjat karena melihat penampilan Keyla saat itu. Beruntung nampan yang sedang ia pegang tidak terjatuh ke lantai karena saking terkejutnya.


"Ya ampun, Key? Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Naila sambil membulatkan matanya.


Keyla tidak menjawab. Wajah, rambut serta penampilannya terlihat acak-acakan. Matanya pun terlihat seperti orang yang habis begadang semalaman. Naila segera masuk ke dalam kamar Keyla kemudian meletakkan nampan yang ia bawa ke atas nakas.


Setelah meletakkan nampan tersebut, Naila kembali menuntun Keyla ke tempat tidurnya. Ia mendudukkan Keyla di tepian tempat tidur kemudian ia pun ikut duduk di samping gadis itu.


Naila menatap lekat wajah Keyla yang terlihat acak-acakan kemudian mempertanyakan jawaban gadis itu.


"Bagaimana, Key?" tanya Naila.


"???"


...***...

__ADS_1


__ADS_2