Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 7


__ADS_3

"Ada apa, sih? Kalian seperti bocah aja, deh!" ucap Naila sambil menatap heran kepada kedua anak kembarnya.


"Bukan apa-apa, Mah. Kami hanya membicarakan sesuatu yang tidak penting. Benarkan Nisha?!" sahut Danish seraya mengedip-ngedipkan matanya kepada Danisha yang mulai kesal kepada kembarannya itu.


"Ya, bukan apa-apa, Mah!" sahut Danisha.


Naila menghampiri kedua anak kembarnya kemudian duduk diantara mereka. Walaupun anak kembarnya bukan lagi bocah kecil yang suka merengek kepadanya, tetapi bagi Naila mereka tetap bocah kembar kesayangannya.


"Danish, tidak lama lagi Nisha akan segera melangsungkan pernikahannya dengan Dokter Rayhan. Lalu, giliran kamu kapan, Nak? Jangan sampai keduluan Keyla loh, ya! Keyla lagi semangat-semangatnya meluluhkan hati Ardhan yang dingin itu," tutur Naila sembari mengelus lembut pipi Danish.


Mendengar ucapan Naila soal Keyla, sontak saudara kembar itupun tertawa. Mereka tahu, si bungsu kesayangan mereka itu begitu tergila-gila pada sosok Ardhan yang pribadinya dingin dan sangat cuek terhadap lawan jenisnya.


"Hush! Jangan tertawakan adik kalian. Kalau dia dengar, habislah kalian!" sela Keanu.


"Habisnya Keyla lucu sih, Dad," sahut Danisha.


"Danish, kamu belum menjawab pertanyaan Mami, loh!" ucap Naila sekali lagi.


Danish menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya ia ingin jujur terhadap perasaannya kepada Nazia, gadis miskin yang hanya seorang penjual bunga. Namun, ia masih ragu, takut kedua orang tuanya shok ketika mendengar penuturannya.


"Doakan saja yang terbaik untuk Danish ya, Mam. Semoga saja Danish mendapatkan seorang wanita yang baik untuk menjadi pasangan hidup Danish," sahutnya.


"Amin, Mami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak."


Keesokan harinya.


"Danish pergi dulu ya, Mih!" ucap Danish sembari melabuhkan ciuman dikedua pipi Naila.


"Ya, hati-hati dijalan, Sayang!"


Entah mengapa hari ini alarmnya tidak berbunyi, atau alarm itu memang berbunyi, tetapi Danish tidak mendengarnya akibat terbuai mimpi indahnya.


"Pak Ahmad. Cepetan ya, Pak! Aku sudah terlambat soalnya," ucap Danish sembari masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Pak Ahmad pun segera melajukan mobilnya lebih cepat dari pada hari-hari biasanya.


Sementara itu di kediaman Nazia.


"Loh, Nak. Bukankah malam ini acara pertunanganmu bersama Nak Aditya, tapi kenapa sekarang kamu malah masuk kerja? Apa kamu tidak ingin bersiap-siap menyambut acara pertunanganmu?" tanya Bi Narti.


"Iya, Zia tau. Tapi, sayang kalau zia gak masuk kerja. Lagipula malam ini hanya acara tukar cincin biasa saja 'kan, Bi. Tidak ada pesta atau apapun itu," tutur Zia dengan wajah sendu.


Bi Narti menghampiri gadis itu kemudian memeluknya dengan erat. "Bibi doakan semoga kamu selalu bahagia ya, Nak."


"Terima kasih, Bi. Nazia sayang Bibi. Bibi sehat-sehat terus, ya!" sahut Nazia dengan mata berkaca-kaca.


"Bibi juga sayang Zia. Sudah gih, cepat berangkat nanti dimarahin yang punya toko lagi, karena terlambat."


"Iya, Nazia berangkat dulu, ya, Bi. Dah!"


Setelah berpamitan, Nazia pun bersiap mengayuh sepedanya menuju tempat kerja. Walaupun saat ini hatinya sedang gundah, tetapi ia mencoba agar tetap tenang dan tidak membawa persoalan pribadinya ke tempat kerja.


Selang beberapa saat, mata Nazia tertuju pada sebuah mobil mewah berwarna hitam yang sedang melaju. Dengan cepat Nazia meraih setangkai bunga mawar kemudian berlari mengejar mobil itu.


"Tuan! Tuan! Tunggu ..." teriak Nazia sambil berlari mengejar mobil hitam tersebut.


Danish mendengar seseorang sedang berteriak. Karena merasa terlambat, Danish bahkan sampai lupa bahwa ia sedang melewati toko bunga dimana Nazia bekerja. Ia menoleh kebelakang dan ternyata Nazia tengah berlari mengejar mobilnya.


"Pak! Pak Ahmad, stooppp!" titah Danish sambil memukul-mukul jok mobil yang diduduki oleh Pak Ahmad.


Pak Ahmad pun segera menepikan mobilnya di pinggir jalan, kemudian berhenti disana. Danish bergegas keluar dari mobil dan menghampiri Nazia yang kini berdiri di hadapannya dengan napas tersengal-sengal.


"Tuan, saya ...," ucap Nazia sambil mencoba mengatur napasnya.


Danish masih terdiam sambil memperhatikan gadis itu dengan jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


"Saya minta maaf karena sudah mengganggu perjalanan Anda. Saya ... huh, huh, huh ... saya hanya ingin berterima kasih atas sepeda baru yang Anda berikan kepada saya, Tuan. Sepedanya bagus sekali, saya suka!" ucap Nazia dengan wajah semringah.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya," sahut Danish.


Danish terus memperhatikan Nazia yang masih mencoba mengatur napasnya agar kembali normal. Dan sekarang gadis itu menyerahkan setangkai bunga mawar yang sejak tadi ia pegang kepada Danish.


"Apa ini?" tanya Danish


"Bunga mawar ini untuk Anda, Tuan. Dan ini sebagai tanda terima kasih saya kepada Anda," sahutnya.


Danish tersenyum lebar. Ia meraih bunga tersebut kemudian menciumnya.


"Terima kasih, bunganya indah!" ucapnya.


"Sama-sama, Tuan. Saya permisi dulu,"


Setelah menyerahkan bunga tersebut, Nazia kembali berlari kecil menuju tokonya. Sedangkan Danish terus menatap gadis itu hingga ia lupa bahwa ia sendiri sudah terlambat ke kantor.


"Tuan Danish, bukankah Anda sudah terlambat?" tanya Pak Ahmad yang sejak tadi terdiam memperhatikan tingkah lelaki muda tersebut.


Ucapkan Pak Ahmad membuyarkan lamunan Danish. Ia tersadar kemudian bergegas memasuki mobilnya.


"Oh, Tuhan! Aku lupa, Pak Ahmad!"


Danish bersandar di sandaran jok mobilnya sambil terus menciumi bunga mawar yang baru saja diberikan oleh Nazia untuknya.


"Pak, seandainya aku menikahi gadis itu, apa Daddy sama Mami akan merestui hubungan kami?!" tanya Danish dengan wajah sendu.


Pak Ahmad sudah menduga sebelumnya, bahwa Danish memang jatuh cinta pada gadis itu. "Saya rasa, Tuan Keanu dan Nyonya Naila akan dengan senang hati menerimanya, Tuan Danish. Sebab Tuan Keanu tidak pernah melihat seseorang dari status sosialnya," tutur Pak Ahmad.


"Benarkah? Kenapa Pak Ahmad begitu yakin bahwa Daddy akan menerima gadis itu? Gadis itu hanya gadis biasa, Bapak sendiri 'kan tahu bagaimana keadaan gadis itu yang sebenarnya,"


"Percayalah sama saya, Tuan. Saya berani jamin bahwa Tuan Keanu dan Nyonya Naila pasti dapat menerimanya," sambungnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2