
"Mari, Sha."
Rey membuka pintu mobil dan mempersilakan Danisha untuk masuk ke dalam mobil, kemudian Rey pun segera menyusulnya. Danisha tersenyum manis ketika Rey bersiap melajukan mobilnya menuju kediaman Aditya dan Adriela.
Beberapa kali Rey melirik Danisha yang terlihat sangat bahagia. Ia meraih tangan Danisha kemudian menggenggamnya dengan erat sembari melajukan mobilnya memecah keramaian kota.
"Bagaimana jika Ibu Mami dan Daddymu bertanya soal bayi itu, Nisha? Bukankah mereka belum tahu rencana kita ini?"
"Aku yakin mereka tidak akan mempermasalahkan hal itu, Mas. Tapi--"
Rey kembali melirik Danisha dan ternyata ekspresi wajah istrinya itu mulai berubah. Wajahnya tertunduk lesu dan ia terlihat sangat sedih.
"Sha?"
"Yang aku khawatirkan sekarang Ayah dan Ibumu, Mas. Aku ragu mereka bisa menerima keputusanku mengadopsi bayi itu."
"Jangan khawatir, Nisha sayang. Nanti aku akan membicarakan masalah ini kepada mereka dan aku yakin mereka pasti akan mengerti."
"Terima kasih, Mas. Mas memang yang terbaik," ucap Danisha sembari membalas senyuman Rey.
Keheningan terjadi di mobil itu untuk beberapa saat, hingga akhirnya Danisha kembali membuka suaranya.
"Mas, beberapa hari yang lalu Ibu menghubungiku. Ibu bilang, minggu depan Ibu akan mengadakan acara arisan keluarga. Dan Ibu meminta kita untuk ikut berkumpul bersama mereka."
"Ya, aku sudah tahu. Ibu juga memberitahuku soal itu," sahut Rey.
Danisha tersenyum kecut sambil menatap kosong ke arah depan.
"Sejujurnya aku masih belum siap bertemu mereka, Mas. Mereka terus menanyakan prihal cucu kepadaku dan hal itu membuat aku merasa sangat tidak nyaman. Aku bahkan sampai bingung harus menjawab apa," lirih Danisha.
Rey menghembuskan napas panjang kemudian mengelus puncak kepala Danisha dengan lembut.
__ADS_1
"Bersabarlah, sebenarnya aku juga sudah berusaha untuk membuat mereka mengerti, Sha. Tapi, ya begitulah. Mereka tidak mau mendengar alasanku,"
Rey adalah anak satu-satunya dan usia kedua orang tua Rey pun sudah tidak muda lagi membuat mereka sangat menginginkan seorang cucu. Namun, sayangnya hingga sekarang Danisha tidak juga kunjung hamil.
Tak ada yang tahu bagaimana kondisi Danisha yang sebenarnya. Termasuk kedua orang tua Rey. Hanya pasangan Adriela dan Aditya yang tahu, itupun karena Danisha terpaksa mengakuinya.
Danisha menghembuskan napas berat kemudian tersenyum kecut.
"Mas, aku minta waktu. Paling tidak hingga dua tahun ini, jika seandainya semua usahaku tidak juga membuahkan hasil, maka kamu--" Bibir Danisha bergetar, tetapi ia tetap mencoba tegar dengan terus tersenyum.
"Nisha." Rey sudah tahu apa yang akan diucapkan oleh Danisha saat itu.
"Menikahlah lagi," lirih Danisha.
"Nisha, kita sudah sering membahas masalah ini dan aku sudah bilang padamu bahwa aku tetap ingin berjuang denganmu," kesal Rey.
Ya, saat ini Danisha tengah berjuang demi mendapatkan momongan. Mulai dari cara medis yang menghabiskan biaya tidak sedikit, hingga dengan cara tradisional. Apapun dia lakukan agar dirinya bisa hamil sama seperti wanita lainnya.
"Kamu ngawur," kesal Rey sembari membuang napas kasar dan kembali fokus pada kemudinya.
Tidak berselang lama, mereka pun tiba di kediaman Aditya dan Adriela. Kedatangan mereka disambut dengan baik oleh pasangan itu.
"Mari, Kak Nisha. Silakan duduk," ajak Adriela yang kini sedang menggendong bayi mungil mending Helen yang sudah terlihat cantik.
"Terima kasih," sahut Danisha sembari melirik bayi mungil yang masih terbungkus kain bodong tersebut.
Kedua pasangan itu mulai berbincang-bincang di ruangan tersebut dan sesekali terdengar suara renyah mereka. Hingga akhirnya moment penuh haru itu pun tiba, dimana Adriela harus menyerahkan bayi mungil itu kepada Danisha sambil menitikkan air matanya.
"Rawat dia dengan baik ya, Kak. Aku sangat menyayanginya," ucap Adriela di sela isak tangisnya.
"Tentu saja, Driel. Aku akan merawatnya dengan baik, sebagaimana aku merawat anakku sendiri."
__ADS_1
Danisha begitu bahagia, karena akhirnya ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu walaupun bukan dari darah dagingnya. Berkali-kali Danisha mengucapkan terima kasih kepada pasangan Adriela dan Aditya sebelum ia dan Rey membawa pulang bayi itu bersama mereka.
"Terima kasih, Driel. Kakak tidak tahu harus bilang apalagi."
"Sama-sama, Kak."
Setelah Danisha masuk ke dalam mobil bersama bayi tersebut, Rey pun segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Adriela dan Aditya.
"Aku akan merindukannya," lirih Adriela yang kini terisak di dada Aditya.
"Sudah, sudah! Kamu tenang saja, Sayang. Kalau kita kangen, kita tinggal berkunjung ke kediaman Danisha, benar 'kan?" jawab Aditya sembari menyeka air mata Adriela.
"Besok kita berkunjung kesana, ya?" ucap Adriela sambil memelas.
Aditya terkekeh pelan, "Apaan, sih. Apa kamu gak malu sama Kak Nisha? Baru juga sehari sudah berkunjung aja."
Sementara itu di dalam mobil.
Danisha terus menciumi pipi bayi mungil itu hingga yang tadinya ia tertidur pulas, kini membuka matanya.
"Lihat, Mas. Matanya indah sekali," seru Danisha.
"Iya, iya. Sekarang kamu kasih dia nama siapa? Bukankah dia belum punya nama?"
"Siapa, ya?" Danisha nampak berpikir.
"Bagaimana jika Raisha?" ucap Danisha sambil membulatkan matanya.
"Raisha? Ehm, nama yang bagus! Aku suka." Rey tersenyum dengan tatapan yang masih fokus ke depan.
"Reyhan dan Nisha, Raisha."
__ADS_1
...***...