Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Pertengkaran Arumi Dan Adnan


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain.


Adnan sedang menikmati ritual paginya di kamar mandi, sedangkan Arumi masih berberes-beres kamarnya.


Kini Adnan dan Arumi memutuskan untuk tinggal disebuah rumah yang cukup mewah dengan fasilitas lengkap. Walaupun tidak semewah rumah milik Tante Mira ataupun Nyonya Rahma, Arumi tetap senang dan menikmati hidup barunya bersama Sang Pujaan hati.


Disaat Arumi sedang merapikan tempat tidurnya, tiba-tiba ponsel Adnan berdering. Sebuah notifikasi pesan chat masuk di ponsel lelaki itu. Arumi sempat terdiam dan menghentikan pekerjaannya. Ia penasaran siapa yang mengirimkan pesan chat untuk suaminya itu.


Dorongan keingin tahuannya bergejolak. Ia ingin sekali mengetahui siapa dan apa isi pesan chat tersebut. Arumi masa bodoh, walaupun ia tahu Adnan akan marah padanya karena sudah berani membuka pesan di ponsel suaminya itu.


Arumi menghampiri meja yang ada disamping tempat tidurnya kemudian meraih ponsel itu. Beruntung bagi Arumi, ternyata ponsel Adnan tidak memiliki sandi atau apapun itu, sehingga ia bisa membuka ponsel itu tanpa kesulitan.


Wanita itu mulai menjelajahi aplikasi pesan chat milik Adnan. Dan ternyata yang mengirimkan pesan chat tersebut adalah Tante Mira. Arumi membuka pesan itu kemudian membacanya.


'Adnan, Tante sedang di perjalanan menuju Rumah Sakit XX. Naila mengalami kecelakaan dan dia dilarikan kerumah sakit.'


Arumi terdiam sambil berpikir keras setelah membaca pesan tersebut. Tiba-tiba saja terlintas ide bodoh di kepalanya. Ia memilih menghapus pesan chat tersebut dan berharap Adnan tidak mengetahui hal yang sebenarnya terjadi kepada Naila.


Tidak cukup sampai disitu, Arumi juga mulai menyusuri isi galeri ponsel itu. Dan ia sangat terkejut setelah mengetahui bahwa isi galeri Adnan penuh dengan foto Naila. Baik itu foto Naila sendirian maupun bersama kedua anak kembarnya.


"Ya, Tuhan! Mas Adnan ..."


Tangan Arumi bergetar, begitupula bibirnya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Adnan sampai tergila-gila seperti itu kepada Naila.


"Mas, kamu bilang hanya menyayanginya sebagaimana Adik dan Kakak. Tapi ini kurasa lebih dari itu. Kamu begitu menginginkan Naila, kamu mencintainya, Mas!" lirih Arumi. Air matanya luruh, ia sudah tidak sanggup membendungnya lagi.

__ADS_1


Ceklek! Pintu kamar mandi terbuka.


Arumi bergegas menyeka air matanya dan meletakan kembali ponsel Adnan ke atas meja. Wanita itu berusaha memasang senyuman semanis mungkin kepada Adnan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Lelaki itu terlihat sangat tampan walaupun hanya dengan handuk kecil menutupi area pribadinya. Arumi bahkan sempat menelan salivanya ketika menatap Adnan. Namun sayang, lelaki itu nampak tidak acuh biarpun mata Arumi terbelalak menatapnya.


Adnan menghampiri meja disamping tempat tidur, kemudian meraih ponselnya. Ia mulai mengecek aplikasi chat nya dan sepertinya tidak ada pesan baru masuk disana. Adnan menautkan kedua alisnya sambil terus manatap layar ponsel yang sedang ia genggam.


"Aneh, sepertinya tadi aku mendengar pesan chat masuk. Tapi kok tidak ada, ya? Apa aku yang salah dengar?" batin Adnan.


Dan tepat disaat itu, Tante Mira menghubungi nomor ponselnya. Ketika tahu Tante Mira ingin menghubungi nomor ponselnya, Adnan segera menerima panggilan itu.


"Ya Tante, ada apa?" tanya Adnan


"Tante baru saja dari Rumah Sakit dan ternyata Naila baik-baik saja, walaupun dia mengalami luka dan terkilir pada kakinya akibat tabrakan itu," tutur Tante Mira dari seberang telepon.


"Lho, bukannya Tante sudah chat kamu tadi. Naila menabrak gerbang rumahnya dan sekarang ia dirawat di Rumah Sakit akibat tabrakan itu," jawab Tante Mira.


"Benarkah? Lalu bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Dan bagaimana hal itu bisa terjadi? Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Naila hingga ia menabrak gerbang rumahnya?!"


Pertanyaan Adnan yang bertubi-tubi membuat Tante Mira menggelengkan kepalanya. "Kan sudah Tante bilang, Naila baik-baik saja. Cuma terkilir dan luka kecil dibagian tubuhnya akibat tabrakan itu. Maklumlah, Nan. Rasa ingin tahu Naila itu dalam masa-masanya, ya begitulah! Keanu harus siap mengganti motor Pak Ahmad yang dihancurkan oleh Naila. Mana motornya motor baru lagi," keluh Tante Mira.


"Syukulah kalau begitu. Adnan lega mendengarnya tapi nanti Adnan pasti ke Rumah Sakit, kok untuk menjenguk Naila," sahut Adnan.


"Ya sudah, Tante ingin istirahat dulu. Oh ya, titip salam buat Arumi ya!" ucap Tante mira sebelum wanita itu memutuskan panggilannya.

__ADS_1


"Ya Tante, terima kasih."


Adnan menautkan kedua alisnya sambil mengecek kembali pesan chat nya. Ternyata tetap sama, tidak ada pesan terbaru dari Tante Mira. Entah mengapa ia curiga pada sosok wanita yang dari tadi terus memperhatikan dirinya dengan wajah sendu.


Adnan menghampiri Arumi kemudian menatap wajah sendu itu dengan lekat. "Katakan yang sejujurnya, Arumi. Apa kamu yang menghapus pesan dari Tante Mira di ponselku?"


Nada bicara Adnan memang masih terdengar biasa-biasa saja, tetapi tatapan maut yang diberikan oleh lelaki itu membuat nyali Arumi menciut. Ia tidak berani membohongi lelaki itu dan dengan terpaksa iapun mengakuinya.


"I-iya, Mas. Ta-tapi ..." ucap Arumi terbata-bata.


"Tapi apa, ha?! Itu pesan penting, Arumi! Dan kamu menghapusnya begitu saja! Bagaimana jika Naila kenapa-napa?! Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Naila!" hardik Adnan sambil menunjuk wajah Arumi.


Mata Arumi berkaca-kaca, airmata itu siap menyeruak dari kelopak matanya. "Maafkan aku, Mas. Aku memang salah karena sudah menghapus pesan chat dari Tante Mira. Tapi, seharusnya kamu tahu batasanmu sekarang. Naila itu sudah berkeluarga dan dia merupakan tanggung jawab suaminya! Tidak seharusnya kamu memperhatikan Naila seperti itu, apa kamu tidak takut suaminya marah dan cemburu karena sikapmu yang terlalu memperhatikan Naila?! Perhatian yang kamu berikan kepada Naila sudah melebihi dari perhatian seorang Kakak, Mas! Aku bahkan bisa menilai bagaimana perasaanmu yang sebenarnya kepada wanita itu." Akhirnya air matanya pun meluncur. Arumi sudah tidak sanggup menahannya lagi.


Adnan meradang, wajahnya merah padam menatap Arumi. "Kamu!!!"


Adnan bergegas meninggalkan Arumi yang masih terisak di tepi tempat tidurnya. Lelaki itu meraih pakaiannya kemudian mengenakannya dengan tergesa-gesa.


Arumi menggenggam erat pakaiannya dibagian dada. Rasa sakit yang dirasakan oleh Arumi bahkan membuat penyakit yang selama ini di dideritanya kambuh. Dengan wajah memerah, Arumi mencari-cari keberadaan obatnya.


Adnan bahkan tidak tahu saat itu Arumi sedang berada antara hidup dan mati. Setelah mengenakan pakaiannya, Adnan bergegas pergi meninggalkan Arumi dikamar itu.


"Ya Tuhan, dimana obatku!" batin Arumi sambil mengacak-acak isi laci meja.


"Mas ... Mas Adnan ... tolong aku ..." lirih Arumi sambil merangkak, mencoba keluar dari kamarnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2