Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 89


__ADS_3

Hampir semalaman Danisha tidak tidur memikirkan bayi milik Helen yang masih dirawat oleh Adriela. Ia takut Adriela menolak permintaannya untuk merawat bayi itu. Apalagi malam itu Danisha tidak bisa berbagi cerita karena Rey sedang ada tugas mendadak dari Rumah Sakit.


"Ya Tuhan, semoga saja Adriela bersedia memberikan bayi itu untukku," gumamnya dengan mata yang masih terbuka lebar padahal saat itu sudah hampir shubuh.


Keesokan paginya.


Danisha yang sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana jawaban Adriela, segera menghubunginya.


Drreett ... drreettt ....


Saat itu Adriela sedang duduk di tepian tempat tidurnya sambil memberikan sufor kepada bayi Helen. Ia sangat terkejut mendengar getaran dari ponselnya yang terletak di atas nakas. Adriela segera meraih ponsel tersebut kemudian mengecek siapa yang sedang memanggilnya pagi-pagi sekali.


"Siapa?" tanya Aditya yang sedang merapikan kemejanya. Lelaki itu juga terlihat bingung karena tidak biasanya ada panggilan sepagi ini.


"Kak Danisha ... bagaimana ini, Mas?" lirih Adriela dengan wajah sendu menatap Aditya.


Adriela meletakkan kembali ponsel itu ke samping tubuhnya. Ia masih ragu dengan keputusannya, memberikan bayi mungil itu kepada Danisha.


Aditya menghampiri Adriela kemudian duduk di sampingnya. Ia mengelus punggung wanita itu dan mencoba meyakinkannya sekali lagi.


"Adriela sayang, Mas juga sebenarnya sudah terlanjur sayang sama bayi ini. Tapi, kita juga harus berpikir ke depannya, Sayang. Coba kamu bayangkan, usia bayi ini baru beberapa hari. Sedangkan usia kandunganmu sudah memasuki bulan ke-4. Itu artinya ketika bayi kita lahir, bayi ini usianya hanya sekitar lima atau enam bulan. Sekarang yang jadi pertanyaan, apa kamu bisa merawat dua bayi sekaligus? Walaupun kita bisa menyewa jasa Babysitter untuk membantumu merawat kedua bayi ini, tetapi aku takut kita tidak bisa bersikap adil antara dia dan bayi kita."


Mata Adriela berkaca-kaca menatap Aditya. Walaupun apa yang dikatakan oleh Aditya adalah benar, tetapi ia merasa sangat berat harus melepaskan bayi itu untuk Danisha.


"Berikan kesempatan untuk Danisha agar ia bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang Ibu, Driel. Kita masih bisa mendapatkan empat sampai lima bayi lagi jika kita mau, tapi Danisha? Tuhan tidak memberikannya kesempatan seperti itu."

__ADS_1


Air mata Adriela yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya, akhirnya merembes juga. Ia tersenyum sambil menyeka air mata yang mengalir dikedua pipinya kemudian menganggukkan kepala perlahan.


"Baiklah, Mas. Mas Aditya benar. Aku akan memberikan bayi ini untuk Kak Danisha, lagipula aku masih bisa mengunjunginya, kan? Dan aku pun yakin Kak Danisha akan merawat bayi ini dengan baik," sahut Adriela.


Aditya tersenyum kemudian merengkuh pundak Adriela. "Begitu, donk. Itu baru istri cantikku," ucap Aditya sembari melabuhkan ciuman di kening istrinya.


Panggilannya yang di lakukan oleh Danisha terputus karena Adriela tidak juga menerima panggilannya. Namun, Danisha tidsk menyerah begitu saja, ia kembali mencoba menghubungi Adriela sekali lagi.


"Nah, tuh! Danisha memanggil lagi," ucap Aditya sambil melirik ponsel yang tergeletak di samping tubuh Adriela.


Adriela kembali meraih ponselnya dan segera menerima panggilan dari Danisha.


"Ya, Kak Nisha? Maaf, tadi aku tidak mendengar ada panggilan dari Kakak," ucap Adriela seraya menatap lekat kedua bola mata Aditya yang terus melemparkan sebuah senyuman hangat kepadanya.


"Ah iya, tidak apa, Driel. Maaf juga karena Kakak sudah mengganggumu sepagi ini," balas Danisha dari seberang telepon.


"Ehm, Driel. Bagaimana soal permintaanku kemarin?" Suara Danisha terdengar lirih.


Untuk beberapa detik, Adriela terdiam dan yang terdengar di telinga Danisha saat itu hanyalah hembusan napas berat darinya.


"Setelah membicarakannya dengan Mas Aditya, akhirnya kami memutuskan untuk--"


Ucapan Adriela kembali tertahan. Ia kembali menatap Aditya dan lelaki itupun segera menganggukkan kepalanya. "Kamu pasti bisa!" bisik Aditya.


Semangat Danisha yang tadinya menggebu-gebu, seketika sirna saat ia mendengar ucapan Adriela yang tertahan. Entah mengapa ia yakin, Adriela tidak akan memberikan bayi mungil itu kepadanya.

__ADS_1


"Lanjutkan, Driel." Danisha tersenyum kecut dan siap menerima apapun jawaban dari Adriela.


"Kami akan memberikan bayi ini kepadamu, Kak. Jemputlah dia hari ini," lanjut Adriela sambil menitikkan air mata.


"Benarkah, Driel? Kamu serius?!" pekik Danisha dengan mata membulat.


"Ya, Kak. Kak Nisha bisa jemput dia hari ini."


"Oh, Tuhan. Terima kasih."


Danisha begitu bahagia mendengar jawaban dari Adriela. Ia bahkan sampai menitikkan air matanya. Setelah memutuskan panggilannya bersama Adriela, Danisha pun segera menghubungi suaminya yang masih belum pulang.


"Mas Rey, angkat! Aku punya berita baik hari ini!" gumam Danisha sambil menunggu panggilannya di terima oleh Rey.


Namun, hingga panggilan itu berakhir, Rey tidak juga menerima panggilannya. Bukan Danisha namanya jika ia menyerah begitu saja, ia kembali menghubungi nomor ponsel Rey hingga beberapa kali dan akhirnya panggilan Danisha pun diterima oleh lelaki itu.


"Ya, Nisha sayang. Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu memanggilku. Ada apa, Sha?"


Danisha tidak masalah, karena ia tahu ponsel Rey memang selalu dalam mode silent jika ia sedang bertugas.


"Mas Rey, aku punya kabar baik. Akhirnya Adriela bersedia memberikan bayi mungil itu kepada kita," pekik Danisha.


"Benarkah? Ah, syukurlah. Tunggu aku, Nisha. Aku akan menemanimu menjemput bayi mungil itu," ucap Reyhan dari seberang telepon.


"Ya! Cepat ya, Mas. Aku sudah tidak sabar lagi."

__ADS_1


"Ya, baiklah."


...***...


__ADS_2