Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 57


__ADS_3

"Bagaimana Adriela? Maukah kamu menjadi kekasihku? Tapi--"


Ucapan Aditya terjeda. Wajah Aditya sendu ketika menatap Adriela saat itu.


"Tapi kenapa, Kak?"


Aditya menghembuskan napas panjang sebelum ia melanjutkan meneruskan ucapannya.


"Sebenarnya aku bukanlah laki-laki yang baik, Driel. Masa laluku begitu menjijikkan. Aku pernah bergaul bebas dengan salah seorang wanita yang kini entah dimana keberadaannya. Saat itu aku memang berniat menikahinya, tetapi ternyata dia hanya mempermainkan aku, dia hanya menginginkan uangku dan bodohnya aku percaya padanya bahwa dia memang jatuh cinta padaku," lirih Aditya.


Untuk sejenak Adriela mulai berpikir. Apakah ia bersedia menerima Aditya beserta masa lalunya yang suram. Aditya pasrah saat itu. Ia tidak bisa memaksa Adriela untuk menerima dirinya.


"Bagaimana, Driel. Aku tidak akan memaksamu untuk menerima cintaku. Jika kamu memang tidak bisa, katakanlah 'tidak'," ucap Aditya pasrah.


Adriela menatap lekat kedua netra indah milik Aditya dan ia yakin Aditya sudah berubah dan tulus padanya. Perlahan Adriela pun menganggukkan kepalanya.


"Ya, Kak. Aku bersedia menerima Kakak menjadi kekasihku."


"Benarkah? I-ini serius? Aku tidak salah dengar, 'kan?!" seru Aditya seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Ya, Kak. Aku serius."


Aditya sontak bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri Adriela dan memeluk tubuh gadis itu kemudian membawanya berputar-putar bersamanya.


"Kak Aditya, sudahlah! Kita dilihat oleh banyak orang," ucap Adriela sambil menutup wajahnya karena malu.


"Oh, iya. Maaf! Aku refleks."

__ADS_1


Aditya menurunkan tubuh Adriela dan mempersilakan gadis itu untuk kembali duduk di kursinya.


"Jadi-- sekarang kita resmi berpacaran, Adriela?" tanya Aditya dengan wajah berseri-seri.


"Ya," jawab Adriela dengan wajah merah merona.


. . .


Setelah Aditya mengantar Adriela pulang, gadis itu bergegas menuju kamarnya dengan wajah semringah. Senyum manis terus terpancar menghiasi wajah cantiknya di malam itu.


Ketika ia melewati kamar Ardhan, Kakak lelakinya itu sudah menunggunya dengan wajah masam.


"Dari mana saja, Driel?"


"Ehm, habis dinner sama Kak Aditya, Kak."


"Kemarilah, Kakak ingin bicara!"


"Aw! Pelan-pelan, Kak. Tangan Adriela sakit!" pekik Adriela ketika tangannya ditarik paksa oleh Ardhan memasuki kamarnya.


Ardhan melepaskan tangan gadis itu dan mendudukkannya di tepian tempat tidur.


"Kenapa kamu terima ajakan lelaki itu? Bukankah kamu tahu bahwa Aditya adalah kekasih Keyla? Apa kamu sudah gila hingga bersedia menjadi orang ketiga di dalam hubungan sahabatmu sendiri!" kesal Ardhan sambil membulatkan matanya menatap Adriela.


Adriela malah terkekeh ketika mendengar ucapan kesal sang Kakak. Sedangkan Ardhan semakin bingung dengan sikap Adriela. Bukannya merasa bersalah ataupun menyesal, Adik perempuannya itu malah tertawa tanpa ada sedikitpun penyesalan di wajahnya.


"Bagus ya, kamu! Orang mengkhawatirkan dirimu, kamunya malah terlihat bahagia," kesal Ardhan sekali lagi.

__ADS_1


"Tadinya, aku pun berpikir sama seperti Kakak bahwa Kak Aditya adalah kekasihnya Keyla, tapi setelah Kak Aditya menceritakan yang sebenarnya, sekarang aku sudah tidak khawatir lagi," jawab Adriela dengan santainya.


"Apa maksudmu, Driel? Kakak tidak mengerti."


"Begini ya, Kak! ...."


Adriela mulai menceritakan kisah hubungan Aditya dan Keyla yang sebenarnya. Ekspresi Ardhan saat itu berubah. Wajahnya memerah karena malu.


"Ja-jadi itu hanya kebohongan mereka semata?" tanya Ardhan terbata-bata.


"Ya!" Adriela meraih tangan Ardhan kemudian menggenggamnya. "Jika seandainya Kakak memang memiliki perasaan kepada Keyla, sekarang saatnya untuk Kakak mengakui perasaan Kakak yang sebenarnya pada gadis itu. Mungkin saat ini dia sudah mulai lelah dengan perjuangannya. Tetapi kakak jangan menyerah, terus kejar dia dan taklukkan kembali hatinya," ucap Adriela.


Tersungging sebuah senyuman manis di wajah Ardhan. "Jika itu benar, maka aku akan memperjuangkannya kembali."


"Begitu, donk! Itu baru namanya lelaki!"


Setelah berbincang panjang lebar bersama Ardhan, Adriela mulai lelah. Ia mengantuk dan sudah beberapa kali ia menguap di depan Ardhan.


"Kak, aku sudah mengantuk. Aku kembali dulu, ya!"


"Ya, baiklah. Terima kasih atas informasinya."


Adriela pun pamit dan pergi dari kamar Ardhan menuju kamarnya.


Setelah kepergian Adriela, Ardhan mulai merencanakan sesuatu. Memulai hubungan baru bersama Keyla dan berharap gadis itu bisa kembali seperti dulu.


"Baiklah, Key! Kali ini kita bertukar posisi. Dulu kamu yang mengejar-ngejar aku, tapi sekarang aku yang akan mengejar-ngejar dirimu sampai kamu lelah berlari dariku," ucap Ardhan sambil mengulum senyum.

__ADS_1


...***...


__ADS_2