Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Arumi Sadar


__ADS_3

Akhirnya Arumi dipindahkan ke ruang perawatan dan iapun kini sudah mulai sadarkan diri walaupun masih sangat lemah.


Bukan hanya Nyonya Rahma yang begitu bahagia, Adnan pun tidak kalah bahagianya. Pagi-pagi sekali ia sudah bersiap-siap kembali ke Rumah Sakit. Tidak lupa, ia membawa bunga dan juga buah-buahan untuk Arumi.


Hari ini ia bertekad akan menemui Istrinya. Ia tidak peduli walaupun ia harus dimarahi dan di caci maki oleh Nyonya Rahma. Iapun sudah mempersiapkan mental dan hatinya, jika seandainya Arumi menolak kembali kepadanya.


Setelah beberapa saat, Adnan pun kembali menjejakkan kakinya di Rumah Sakit itu. Ia bergegas menuju ruangan dimana Arumi sedang dirawat.


Sementara itu di ruangan Arumi, Pagi-pagi sekali Dokter Fahri sudah mengunjunginya guna mengecek bagaimana keadaan Arumi saat itu.


"Nak, ini lho Dokter Fahri yang Mama ceritakan barusan. Mulai sekarang Dokter Fahri lah yang akan menggantikan posisi Dokter Lisa untuk merawat kamu. Benarkan, Dokter?" ucap Nyonya Rahma sembari mengelus lembut puncak kepala Arumi.


Dokter itu tersenyum manis seraya menganggukkan kepalanya perlahan. "Benar, kenalkan Namaku Dokter Fahri."


Dokter Fahri tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Arumi yang masih tergolek lemah. Perlahan Arumi memgangkat tangannya dan menyambut tangan Dokter itu. "Arumi, Dok. Terima kasih sudah bersedia merawat saya."


"Tidak masalah, lagipula itu sudah menjadi kewajibanku."


Tepat disaat itu, Adnan tiba disana sembari tersenyum hangat untuk semua orang yang ada di ruangan itu. Arumi sangat terkejut ternyata Adnan masih peduli padanya. Ia mencoba tersenyum tetapi Nyonya Rahma sudah melotot kepadanya.


"Ehm, sebaiknya saya permisi dulu. Mari, Bu, Arumi,"


Dokter Fahri pun segera keluar dari ruangan itu, tetapi ia sempat tersenyum kepada Adnan ketika melewati lelaki itu.


Sepeninggal Dokter Fahri, ruangan itu mendadak hening untuk sejenak. Baik Arumi, Adnan maupun Nyonya Rahma tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Hingga akhirnya Nyonya Rahma berdehem dan bertanya maksud kedatangan Adnan saat itu.


"Ehem, mau apa lagi kamu kemari, Adnan?" tanya Nyonya Rahma sambil menahan emosinya.


"Saya ingin menjenguk Arumi, Bu," lirih Adnan.

__ADS_1


Nyonya Rahma tersenyum sinis, "Menjenguk Arumi? Untuk apa? Untuk menyakiti dan menyiksanya lagi, begitu?!" ketus Nyonya Rahma.


"Mah, sudahlah," ucap Arumi sembari mengelus lembut puncak lengan Nyonya Rahma.


"Jangan terlalu baik kepadanya, Arumi. Dia saja tidak pernah bersikap baik kepadamu, bukan? Kenapa tidak kamu kunjungi saja pujaan hatimu si Naila itu! Kenapa malah mengunjungi Arumi, sudah jelas-jelas kamu tidak menyukai anakku!" hardik Nyonya Rahma dengan wajah memerah menatap wajah Adnan.


Adnan tidak mampu menjawab perkataan Nyonya Rahma. Ia terus menundukkan kepalanya karena ia sadar apapun yang dikatakan oleh Nyonya Rahma adalah benar.


"Mah, sudahlah. Bolehkah kami meminta waktu sebentar untuk membicarakan masalah kami berdua saja?" ucap Arumi sambil memelas menatap Nyonya Rahma yang masih menahan emosinya.


Nyonya Rahma menghembuskan napas kasar, "Baiklah, awas saja jika kamu berani macam-macam sama putri ku, Adnan!" Nyonya Rahma berjalan keluar dari ruangan itu sambil berdecih sebal ketika melewati lelaki itu.


"Mas, kemarilah."


Adnan tersenyum lebar ketika Arumi bersedia menyambut kedatangannya, walaupun wajah pucat itu tidak memberikan senyuman hangat seperti biasanya.


"Bunga itu untukku?" tanya Arumi sembari menunjuk bunga yang sedang dipegang oleh Adnan.


"Ya, Arumi. Itu spesial untukmu," ucap Adnan.


Arumi menyambutnya kemudian mencium bunga itu. "Sepertinya aku harus mengabadikan bunga ini dengan cara mengeringkannya kemudian memajangnya di dinding," ucap Arumi dengan wajah datar menatap bunga-bunga yang ada di tangannya.


Adnan mengernyitkan dahinya sambil tersenyum tipis. "Kenapa dipajang? Aku akan membelikannya setiap hari untukmu jika kamu menyukainya," sahut Adnan.


"Tidak sama, Mas. Yang ini spesial," ucap Arumi masih dengan wajah datarnya.


Adnan terkekeh pelan kemudian duduk disamping tempat tidur Arumi. Lelaki itu terus memperhatikan wajah polos Arumi yang masih memucat bahkan tanpa berkedip. "Benarkah? Bunga itu spesial bagimu?" tanya Adnan.


"Ya, bunga ini sangat istimewa karena bunga ini adalah hadiah pertama yang kamu berikan kepadaku," tutur Arumi.

__ADS_1


Deg!!!


Adnan sontak terkejut mendengar penuturan Arumi. Ia baru sadar apa yang diucapkan oleh Arumi itu adalah benar. Bunga itu adalah hadiah pertama yang pernah ia berikan kepada Arumi. Bahkan selama dua tahun berpacaran dengan gadis itu, ia bahkan tidak pernah memberikan hadiah apapun kepada Arumi.


Mendadak wajah Adnan berubah. Yang pada mulanya wajah tampan itu nampak berseri-seri kini berubah menjadi sendu.


"Maafkan aku, Arumi. Saking tidak pedulinya dengan perasaanmu, aku bahkan tidak pernah memberikanmu hadiah apapun."


Arumi tersenyum tipis sembari meletakkan bunga itu keatas nakas. "Tidak apa-apa, aku bahkan tidak pernah mempermasalahkan hal itu."


"Arumi, sebenarnya aku ingin minta maaf padamu atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku baru sadar kalau selama ini aku sudah sangat keterlaluan. Maukah kamu memaafkan kesalahanku, Arumi?" lirih Adnan dengan mata berkaca-kaca menatap Arumi.


Arumi menghembuskan napas panjang dan mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi padanya. "Aku sudah memaafkanmu, Mas. Bahkan tanpa kamu meminta maaf sekalipun, aku akan tetap memaafkan kesalahanmu."


Adnan menitikkan airmata karena saking terharunya. Ia segera meraih tangan Arumi kemudian mencium puncak tangan Wanita itu berkali-kali. "Terima kasih banyak, Arumi. Kamu memang istri yang terbaik untukku," ucap Adnan.


Arumi masih terdiam dengan wajah datarnya. Senyuman yang selalu ia tampakkan diwajah cantiknya, sama sekali tidak terlihat.


"Aku berjanji, Arumi. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan kepadaku. Aku akan memperbaiki sikapku dan bertekad akan melupakan Naila dari hidupku. Kita akan menjalani kehidupan rumah tangga sama seperti yang lainnya. Aku, kamu dan anak-anak kita kelak," tutur Adnan dengan mata berkaca-kaca menatap Arumi.


Perlahan Arumi melepaskan genggaman tangan Adnan dari tangannya. Ia membuang napasnya dengan perlahan kemudian berucap. "Aku memang memaafkan semua kesalahanmu, Mas Adnan. Namun, aku masih belum siap untuk kembali padamu. Aku masih trauma dengan perlakuanmu malam itu. Lagipula cintamu hanya untuk Naila dan tidak mungkin bagiku dapat menggantikan posisinya di hatimu." tutur Arumi.


"Ma-maksudmu?" tanya Adnan terbata-bata sambil menatap heran wajah Arumi.


"Aku ingin kita berpisah, Mas. Lupakan bahwa selama ini kita pernah memiliki hubungan. Aku akan berusaha melupakan dirimu dan mengikis rasa cintaku yang sangat besar kepadamu sedikit demi sedikit." jawab wanita itu dengan wajah sendu menatap Adnan.


...***...


Author mau promosi lagi ah, siapa tau ada yang mau mampir ...

__ADS_1



Baru netas, ya Readers. Ceritanya sesuai judul, jadi jangan cari sisi baik dari ceritanya 😵😵😵 Ramein yukk,


__ADS_2