Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bunga Dari Adnan


__ADS_3

Adnan kembali ke kediamannya, setelah seharian berkutat di tempat kerja. Wajahnya terlihat kusut dan kelelahan. Selain karena pekerjaannya yang menumpuk, ia juga kena omel dari Tante Mira karena lelaki itu keseringan bolos kerja.


Selesai mandi dan berpakaian, Adnan menjatuhkan dirinya keatas tempat tidur. Bayangan-bayangan Arumi ketika masih berada di rumah itu kembali terlintas.


Dimana wanita itu sering melemparkan senyuman manisnya untuk Adnan walaupun sebenarnya ia tahu bahwa suaminya tidak pernah menyukai hal itu.


Adnan menghembuskan napas berat kemudian berbaring di tempat tidur bagian Arumi. Lelaki itu mengelus dan menciumi bantal milik istrinya yang masih bisa tercium aroma tubuh wanita itu.


"Arumi, aku benar-benar merindukan disaat kamu berbaring di sampingku, memelukku dari belakang kemudian melabuhkan sebuah kecupan di puncak kepalaku. Aku merindukannya, Arumi. Sangat," gumam Adnan dengan mata berkaca-kaca.


. . .


Keesokan paginya,


Adnan bergegas bangun pagi-pagi sekali. Ia sengaja menyetel alarm agar ia bisa bangun pagi untuk menjenguk Arumi sebelum ia berangkat kerja.


Setelah mandi dan mengenakan pakaiannya, Adnan segera berangkat bahkan tanpa sarapan terlebih dulu. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah toko bunga yang untungnya sudah buka pagi-pagi sekali.


Lelaki itu membeli bunga yang sama persis seperti yang ia berikan untuk Arumi waktu lalu. Setelah membayar bunga itu, Adnan kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Nyonya Rahma.


Setibanya di kediaman Nyonya Rahma, Adnan kembali menghentikan mobilnya tak jauh dari rumah itu. Kebetulan saat itu kediaman Nyonya Rahma terlihat masih sunyi dan Penjaga keamanan yang sering berjaga disana tidak terlihat batang hidungnya.


Baru saja Adnan ingin melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobilnya, ponselnya berdering. Adnan meraih ponselnya kemudian berdiri disamping mobilnya.


"Ya, Tante?"


["Ingat Adnan, jangan terlambat lagi! Sudah cukup berleha-lehanya, sekarang fokuslah untuk bekerja. Yakinlah, Adnan. Kalau Arumi memang masih berjodoh denganmu, dia pasti akan kembali padamu walaupun ia berusaha pergi bahkan keujung dunia sekalipun!"]


Tanpa Mira memperingati Adnan dari seberang telepon. Ia tidak ingin keponakannya itu melakukan kesalahannya lagi.

__ADS_1


"Iya, iya, Tente. Adnan segera kesana."


Setelah memutuskan panggilannya, Adnan bergegas memasuki kediaman Nyonya Rahma kemudian meletakkan bunga yang baru saja ia beli di depan pintu rumah Nyonya Rahma.


Setelah meletakkan bunga tersebut, ia pun kembali ke mobildan segera melajukannya ke Restoran.


Tidak berselang lama setelah Adnan pergi dari tempat itu, Dokter Fahri tiba disana. Hari ini adalah jadwal ia berkunjung ke tempat Nyonya Rahma guna memeriksa keadaan Arumi.


Setelah memarkirkan mobilnya, Dokter Fahri bergegas menuju rumah mewah itu dan langkahnya terhenti ketika melihat bunga cantik dan masih segar terletak didepan pintu rumah Nyonya Rahma.


Dokter Fahri segera meraihnya, ia memperhatikan bunga tersebut sambil tersenyum setelah membaca catatan kecil yang tertulis di bunga itu.


'Untuk yang tersayang, Arumi.'


Ceklek ... pintu terbuka,


Nyonya Rahma tersenyum lebar ketika melihat Dokter Fahri datang dengan membawa bunga untuk Arumi. Nyonya Rahma segera menyambut Dokter itu kemudian mengajaknya menemui Arumi yang masih beristirahat didalam kamarnya.


"Wah, terima kasih banyak, Dokter! Arumi pasti sangat menyukainya!" sahut Nyonya Rahma sembari menyambut bunga tersebut kemudian membawanya menuju kamar Arumi.


Dokter Fahri hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari mengikuti langkah kaki wanita paruh baya itu dari belakang. Setibanya dikamar Arumi, Nyonya Rahma mempersilakan Dokter Fahri masuk untuk segera memeriksa keadaan Anaknya.


"Silakan masuk, Dok."


"Permisi ya, Bu. Maaf," ucap Dokter Fahri sembari tersenyum kepada Arumi yang masih bersandar di sandaran tempat tidurnya.


Dokter Fahri segera menghampiri Arumi dan mulai melakukan tugasnya. Sedangkan Nyonya Rahma meletakkan bunga yang ia ambil dari Dokter Fahri keatas nakas. Nyonya Rahma tersenyum sambil mengedipkan matanya kepada Arumi seolah mengisyaratkan bahwa bunga itu dari Sang Dokter.


Arumi menautkan kedua alisnya kemudian memperhatikan bunga itu. Bunga itu sama persis seperti bunga yang berikan oleh Adnan.

__ADS_1


"Obatnya sudah diminum, Arumi?" tanya Dokter Fahri sembari memperhatikan wajah Arumi yang masih menatap ke atas nakas dengan heran.


"Ah, iya sudah, Dok." Arumi mengalihkan perhatiannya kepada Dokter Fahri yang sedang duduk disamping tempat tidur sambil memeriksa keadaannya.


Dokter itu tersenyum mendengar jawaban spontan Arumi. "Kondisimu sudah benar-benar membaik, Arumi. Tetapi tetap ingat pesanku, jangan terlalu lelah dan jangan lupakan obatmu," tutur Dokter Fahri.


Setelah selesai memeriksa keadaan Arumi, Dokter itupun berpamitan kepada Arumi dan Nyonya Rahma.


"Ehm, iya! Hampir saja saya lupa mengatakannya. Bunga itu saya temukan didepan pintu rumah, tetapi saya tidak tahu siapa yang meletakkan bunga tersebut," ucap Dokter sambil tersenyum kepada Arumi dan Nyonya Rahma.


"Lho? Saya kira bunga itu dari Anda, Dok?!" ucap Nyonya Rahma dengan wajah kecewa menatap Dokter Fahri.


"Bukan, Bu. Saya hanya menemukannya. Baiklah, saya permisi dulu, Bu, Arumi."


Dokter Fahri pun pamit dan melaju bersama mobilnya meninggalkan kediaman Nyonya Rahma.


Nyonya Rahma menatap Arumi dengan wajah heran. Ia berjalan menghampiri nakas kemudian meraih bunga itu kembali. Ia menemukan sebuah catatan kecil kemudian membacanya.


"Untuk yang tersayang, Arumi. Apakah bunga ini dari Adnan?" gumam Nyonya Rahma sambil menatap lekat kepada Arumi.


Arumi hanya bisa mengangkat bahunya, ia sendiri tidak tahu bunga itu dari siapa.


"Jika benar bunga ini dari suamimu yang tidak bertanggung jawab itu, lebih baik dibuang saja! Buat apa coba dia kasih bunga-bunga seperti ini ke kamu? Memangnya dengan bunga seperti ini bisa menghilangkan rasa sakit dan kecewa yang kamu rasakan, begitu?!"


Nyonya Rahma mendengus kesal sambil menggerutu. Sedangkan Arumi hanya terdiam sambil memperhatikan bunga yang kini berada ditangan Ibunya.


"Jangan dibuang dulu, Mah. Siapa tahu itu dari orang lain. Nanti kalau orang yang mengasihkan bunga itu lihat bunganya dibuang, dia pasti akan sangat kecewa," tutur Arumi sembari mengulurkan tangannya kepada Nyonya Rahma untuk meminta bunga itu kembali.


"Nah, simpanlah! Tapi kalau benar itu dari Adnan, Mama minta buang secepatnya bunga itu! Menyebalkan," ucap Nyonya Rahma seraya menyerahkan bunga itu kepada Arumi. Nyonya Rahma melenggang pergi sambil terus menggerutu.

__ADS_1


Arumi menyambutnya sambil tersenyum tipis. Ia sangat yakin bunga itu dari Adnan, tetapi ia tidak ingin membuangnya walaupun ia masih kecewa terhadap lelaki itu.


...***...


__ADS_2