
Beberapa hari kemudian, Aditya diperbolehkan pulang karena luka tusuknya sudah mulai membaik. Ardhan dan Adriela pun turut membantu kepulangan Aditya.
Sekarang Bu Radia sudah tidak marah lagi pada Adriela. Bahkan Bu Radia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada gadis itu. Karena selama ini Adriela lah yang menggantikan posisinya jika ia tidak bisa menunggu Aditya ketika di Rumah Sakit.
"Terima kasih banyak, Driel. Kapan-kapan mainlah ke rumahku. Ya, siapa tahu aku kangen sama masakanmu, 'kan? Lagipula Ibu juga memiliki hobi yang sama denganmu, mengobrak-abrik isi lemari pendingin kemudian mengeksekusinya ke atas wajan," ucap Aditya sambil terkekeh pelan.
"Sama-sama, Kak Adit. Tapi sepertinya aku harus izin dulu sama Keyla jika ingin bertamu ke rumahmu," sahut Adriela sambil tersenyum hangat.
Aditya tersenyum kecut, ia bahkan belum menceritakan hubungannya bersama Keyla hanyalah pura-pura semata. Aditya pun segera memasuki mobilnya dan meninggalkan Adriela dan Ardhan di tempat itu.
"Driel, kamu pulanglah lebih dulu. Kakak ada janji dengan Naura setelah ini," ucap Ardhan dengan wajah malas.
"Loh, Kakak masih berhubungan sama Naura, ya?" tanya Adriela kaget.
"Sebenarnya, tidak. Aku tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh gadis itu sehingga ia membuat janji untuk bertemu denganku,"
"Huh, palingan juga curhat tentang perasaannya," sambung Adriela.
"Entahlah,"
Adriela pun bergegas memesan taksi online sedangkan Ardhan melajukan mobilnya menuju sebuah Cafe, dimana ia dan Naura bertemu dulu.
Ketika Ardhan sudah tiba di Cafe tersebut, ternyata Naura sudah menunggu disalah satu meja yang sudah ia pesan sebelumnya.
__ADS_1
Gadis cantik itu tersenyum hangat menyambut kedatangan Ardhan.
"Duduklah, Dhan."
Naura mempersilakan Ardhan untuk duduk di kursi yang ada di depannya. Mereka duduk dengan posisi saling berhadapan.
"Ardhan ...." Naura meraih tangan Ardhan kemudian menggenggamnya dengan erat. Sedangkan lelaki itu hanya diam sambil memperhatikan wajah cantik Naura.
"Ardhan, aku bisa meminta Ayah untuk menarikmu kembali ke acara itu. Tapi--" Natura menghentikan ucapannya kemudian kembali melemparkan senyuman manisnya kepada lelaki itu. Kedua bola netra indah Naura bertaut dengan tatapan elang milik Ardhan.
"Tapi, apa?"
"Kembalilah padaku. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu karena sudah mengecewakan aku malam itu dan-- kita bisa memulai hubungan yang baru lagi," ucap Naura sembari mengelus lembut tangan Ardhan yang sedang berada di dalam genggamannya.
Raut wajah Naura berubah. Ia begitu kecewa mendengar penuturan lelaki itu. "Ta-tapi kenapa?"
Ardhan menarik napas panjang kemudian mengeluarkannya dengan perlahan.
"Aku tidak bisa bersandiwara dengan perasaanku lebih jauh lagi, Naura."
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Jangan bilang bahwa selama ini kamu hanya--"
"Maafkan aku, Naura. Bukan maksudku mempermainkan perasaanmu, tetapi aku terpaksa melakukannya," tutur Ardhan dengan wajah sendu menatap Naura yang kini sudah tidak sanggup menahan air matanya.
__ADS_1
Gadis cantik itu menagis lirih. Ia tidak percaya bahwa Ardhan hanya mempermainkan perasaannya selama ini.
"Aku terlalu terobsesi pada karierku. Aku bahkan menyetujui ide gila Asistenku untuk mendekatimu. Padahal aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu. Namun, ternyata aku salah langkah, Naura. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku, aku seakan menjadi orang lain."
"Kamu sungguh keterlaluan, Ardhan! Padahal Ayahku bersedia membantu mendongkrak kariermu. Ayah bahkan membuatkan sebuah acara khusus untukmu, tapi lihatlah balasanmu padaku!" hardik Naura dengan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya.
"Maafkan aku, Naura. Aku benar-benar khilaf. Obsesiku terhadap karierku, membuat aku buta. Tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk," lirih Ardhan.
Naura bangkit dari tempat duduknya. Ia menunjuki wajah Ardhan dengan jari telunjuknya. Naura sudah tidak mempedulikan orang-orang yang sedang memperhatikan dirinya.
"Ingat! Aku bisa mendongkrak kariermu hingga seperti sekarang, tapi kamu lupa, Ardhan. Aku juga bisa menjatuhkan kariermu hingga jatuh, sejatuh-jatuhnya! Hingga tidak seorangpun ingin mempekerjakan dirimu," ancam Naura dengan wajah memerah karena marah.
Wanita itu pergi meninggalkan Cafe tersebut dengan langkah tergesa-gesa. Seorang sopir pribadi sudah menunggunya di halaman parkir Cafe tersebut.
Kini tinggal Ardhan yang masih nampak frustrasi. Ia benar-benar menyesal karena sudah mengambil jalan instant untuk menjadi terkenal. Rela mengencani seorang Naura padahal ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun terhadap gadis itu.
"Ya, Tuhan! Bagaimana jika Papa tahu bahwa aku sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupku. Aku yakin, Papa pasti malu mendengarnya," batin Ardhan.
Setelah beberapa saat, Ardhan sudah mulai tenang. Ia membayar minuman yang dipesan oleh Naura sebelumnya kemudian segera pergi meninggalkan Cafe tersebut.
"Masalahku semakin rumit saja! Kebohonganku bersama Naura sudah terbongkar dan sekarang aku harus siap mendapatkan kejutan lain yang akan diberikan oleh gadis itu. Belum lagi masalah perasaanku terhadap Keyla! Oh, ya ampun! Gadis itu membuat masalah baru padaku," gumamnya sembari melajukan mobilnya kembali ke kediamannya.
...***...
__ADS_1