Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 83


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


"Ini sudah hampir satu bulan aku tidak mendapatkan tamu bulanan. Apa aku sedang hamil, ya?" gumam Adriela sambil memandangi kalender yang menggantung di dinding kamarnya.


"Tapi, masa iya sih aku hamil? Sedangkan usia pernikahanku dengan Mas Adit 'kan baru tiga bulan."


"Kenapa sih, Sayang? Sejak tadi kuperhatikan kamu sibuk memandangi kalender. Memangnya ada acara apa?" tanya Aditya. Sejak keluar dari kamar mandi hingga Aditya selesai berpakaian, Adriela masih saja betah menatap kalender yang menempel di dinding ruangan kamar mereka.


Adriela menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum kecut. "Ehm, sebenarnya tidak ada acara apapun, Mas. Tapi--"


Aditya berjalan menghampiri Adriela kemudian memeluknya. "Tapi kenapa? Gajian masih jauh, ya?" goda Aditya sambil terkekeh.


"Ish, kamu ini. Bukan soal itu, Mas, tapi ini soal tamu bulananku. Sudah hampir satu bulan ini aku telat, apa aku sedang isi, ya?"


"Apa?! Kamu serius?" pekik Aditya dengan mata membulat dan wajahnya pun nampak semringah.


Adriela menganggukkan kepalanya pelan. "Tapi, ini hanya pendapatku saja sih, Mas, dan belum tentu benar. Bisa saja 'kan aku memang sedang telat doang," sahut Adriela yang tidak berani menaruh harapan terlalu tinggi.


"Bagaimana kalau kita tanya sama Ibu?"


"Jangan-jangan! Jangan kasih tau Ibu. Sebaiknya aku beli test pack aja, Mas, untuk memastikannya. Aku takut hasilnya mengecewakan," tutur Adriela.


"Baiklah kalau begitu, kapan kamu mau beli test packnya? Biar nanti aku temani."


"Mungkin nanti, pas udah siangan dikit."

__ADS_1


***


Dengan hati berdebar, Aditya menunggu Adriela di luar kamar mandi. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.


"Bagaimana, Adriela sayang?"


"Tunggu sebentar lagi," terdengar jawaban dari dalam kamar mandi.


Setelah beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka. Nampak Adriela dengan wajah sendu menatap Aditya. Melihat dari tatapan Adriela saat itu, Aditya tahu bahwa hasilnya pasti negatif.


Aditya meraih tubuh Adriela kemudian memeluknya dengan erat. "Tidak apa, Sayang. Lagi pula usia pernikahan kita 'kan baru tiga bulan. Kita masih punya banyak waktu untuk mencetak bayi-bayi mungil kita."


"Bukan seperti itu, Mas. Coba lihat ini," ucap Adriela sembari memperlihatkan benda pipih kecil yang sedang ia pegang kepada Aditya.


Aditya meraih benda kecil itu dari tangan Adriela kemudian memperhatikannya dengan seksama. Ada dua garis merah yang terpampang dengan jelas di tengah-tengah benda tersebut.


"Ya, Tuhan! Ini beneran?" pekik Aditya yang masih tidak percaya dengan hasilnya.


Adriela menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. "Ya, Mas. Itu benar."


"Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan."


Aditya yang begitu bahagia segera meraih ponselnya kemudian menghubungi kedua orang tuanya untuk mengabarkan berita baik ini. Begitupula Adriela, ia pun sudah tidak sabar ingin memberitahukan kehamilannya kepada kedua orang tuanya.


Bu Radia dan Pak Dodi begitu bahagia mendengarnya, terutama Bu Radia. Beliau sudah sangat lama menginginkan sosok mungil yang akan memanggilnya dengan sebutan nenek itu hadir di dalam keluarganya.

__ADS_1


Begitupula keluarga Adnan dan Arumi. Arumi bahkan sampai berteriak histeris kemudian memeluk suaminya setelah tahu bahwa Adriela sedang mengandung.


"Kita akan jadi Kakek dan Nenek, Mas."


"Iya, iya."


Tepat di saat itu, Ardhan keluar dari kamarnya bersama Keyla. Mereka sempat bingung melihat ekspresi bahagia Arumi dan Adnan.


"Ehm, sepertinya ada yang lagi bahagia, nih," goda Ardhan sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa yang berada tak jauh dari Arumi dan Adnan. Keyla pun ikut menyusul, dia duduk di samping Ardhan sambil memperhatikan kebahagiaan kedua mertuanya.


"Ya, Ardhan. Adriela baru saja memberitahukan kabar bahagia kepada kami," sahut Arumi dengan sangat antusias.


"Benarkah? Kabar apa itu?" tanya Ardhan penasaran.


"Adriela positif hamil, Dhan."


"Wah, selamat untuk Adriela dan Aditya. Selamat juga untuk kalian, Mah, Pah. Tidak lama lagi akan ada sosok mungil yang akan memanggil kalian dengan sebutan Oma dan Opa," sahut Ardhan dengan wajah semringah.


Tidak sengaja Ardhan melirik Keyla yang sejak tadi hanya diam tanpa bicara sepatah katapun. Dari ekspresi wajahnya saat itu, Ardhan tahu bahwa Keyla sedang sedih. Ardhan merengkuh pundak Keyla kemudian membawanya ke dalam pelukannya.


"Jangan bersedih, Keyla sayang. Mungkin tidak lama lagi giliran kita."


"Adriela beruntung sekali ya, Mas, baru beberapa bulan menikah ia sudah hamil."


"Lah, mending kita. Kak Danisha aja belum di kasih, Key. Padahal Kak Danisha menikah lebih dulu dari kita. Tapi, sepertinya Kak Danisha dan suaminya santai-santai aja," ucap Ardhan sembari memberikan semangat kepada Keyla yang sudah tidak sabar ingin mendapatkan momongan sama seperti Adriela.

__ADS_1


"Iya juga sih, Mas."


...***...


__ADS_2