
"Silakan duduk, Pak, Bu. Maafkan keadaan rumah saya yang seperti ini," ucap Bi Narti.
"Jangan bicara seperti itu, Bu Narti. Kami tidak pernah mempermasalahkan hal itu, kok," sahut Bu Radia, Ibundanya Aditya.
Sementara kedua orang tuanya bercakap-cakap dengan Bu Narti, Aditya terus memperhatikan gadis berkebaya putih yang sedang duduk dengan kepala tertunduk. Gadis itu duduk tepat berseberangan dengannya.
"Ya, Tuhan! Lihat saja pakaian yang sedang dikenakannya, pakaian jaman kapan itu?! Sebegitu noraknya selera gadis ini, membuat aku semakin ilfil saja!" batinnya.
"Nazia, kamu terlihat cantik sekali malam ini," seru Bu Radia ketika melihat penampilan Nazia saat itu.
"Ehm, terima kasih, Bu."
"Yang benar saja! Penampilan seperti gadis kampungan begitu dibilang cantik. Jangan-jangan Ibu dan Ayah sudah kena pelet dari gadis ini hingga mata mereka tidak dapat membedakan mana yang benar-benar cantik dan mana yang kampungan!" hardiknya dalam hati.
Setelah melakukan berbagai ritual sederhana ala mereka, akhirnya tiba saatnya dimana Aditya dan Nazia saling memasangkan cincin.
"Nah, Dit. Ini dia cincinnya. Cepat, kenakan ke jari manis Nazia," titah Bu Radia.
Aditya meraih cincin itu dari tangan Ibunya dengan wajah menekuk.
"Sini, mana jarimu!"
"Dit!" Bu Radia menepuk pundak anaknya itu untuk mengingatkan Aditya agar bersikap lebih sopan.
Dengan gemetar Nazia mengulurkan tangannya kepada lelaki itu. Aditya meraih tangan Nazia kemudian dengan kasar memasangkan cincin itu ke jari manisnya.
__ADS_1
"Pelan-pelan, Dit. Jangan kasar-kasar seperti itu!" kesal Bu Radia sambil mencubit pinggang anaknya itu.
"Ih, Ibu apaan, sih! Sakit, tau!" kesal Aditya.
Setelah selesai memasangkan cincin itu ke jari manis Nazia, sekarang giliran gadis itu yang memasangkan cincin ke jari manis Aditya.
"Ini cincinnya, Nak."
Bu Radia menyerahkan cincin milik Aditya ketangan Nazia. Nazia sempat memperhatikan cincin milik Aditya yang ada di tangannya. Entah mengapa hatinya merasa sedih.
"Nah! Cepat pasangkan, aku sudah tidak sabar ingin secepatnya pergi dari tempat yang membosankan ini!" keluhnya.
Suara Aditya memang sangat pelan dan hanya Nazia yang mendengar ucapan lelaki itu dengan sangat jelas. Ia menatap wajah tampan Aditya yang sedang menekuk. Walaupun wajah lelaki itu tampan, tetapi bagi Nazia wajah itu terlihat sangat tidak bersahabat.
"Nah, Nazia. Untuk acara pernikahan kalian, kita adakan sebulan lagi, bagaimana?" tanya Bu Radia. Sedangkan Pak Dodi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, pertanda setuju dengan keputusan sang Istri.
Bi Narti dan Nazia sempat saling bertatap mata kemudian menganggukkan kepala mereka pelan.
"Kami sih terserah Bu Radia saja. Karena jujur saja, kami tidak memiliki biaya sama sekali," tutur Bi Narti sambil menggenggam tangan Nazia yang kini terasa sangat dingin.
"Oh, jangan pikirkan masalah biaya, Bu Narti. Kami yang akan mengurus semuanya dan kita akan melangsungkan pernikahannya di gedung ...."
Belum lagi Bu Radia selesai berucap, Aditya sudah menyela pembicaraannya.
"Oh tidak, tidak! Aku tidak ingin pernikahan ini diadakan secara besar-besaran! Aku ingin pernikahan ini dilakukan secara sederhana dan tertutup. Kalau perlu kita mengadakannya disini saja, jadi tidak perlu mengeluarkan banyak uang! Apa kalian tahu, kehidupan itu masih panjang. Setelah pernikahan, kehidupan masih berlanjut dan butuh uang yang banyak. Apalagi bebanku semakin bertambah dengan hadirnya dia di kehidupanku!" hardiknya.
__ADS_1
Hati Nazia begitu sakit ketika mendengar ucapan lelaki itu, begitupula Bi Narti. Wanita paruh baya itu mengelus punggung Nazia yang kini tertunduk menghadap lantai dengan mata berkaca-kaca. Nazia kecewa karena lelaki itu hanya menganggap dirinya sebagai beban. Padahal rencananya, Nazia ingin tetap bekerja walaupun mereka sudah menikah.
"Aditya!!! Tidak bisakah kamu bicara lebih sopan! Siapa yang mengajari berkata-kata seperti itu, Aditya! Apalagi dihadapan calon Istrimu sendiri," geram Pak Dodi
Nada suara Pak Dodi naik, wajahnya memerah karena marah sekaligus malu kepada Bi Narti dan juga Nazia.
Bu Radia tidak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu memijit pelipisnya dengan mata terpejam. Ia benar-benar merasa malu melihat sikap anak semata wayangnya itu.
"Tidak, Ayah! Aku sudah menuruti semua keinginan Ayah dan Ibu. Jadi sekarang giliran kalian yang menuruti semua keinginanku. Jika kalian menolak, maka aku akan membatalkan pertunangan ini, malam ini juga!" tegasnya.
Semua orang diruangan itu terkejut bukan main setelah mendengar penuturan kasar Aditya. Begitupula Nazia, ia begitu shok setelah mendengar ucapan lelaki itu.
"Tidak apa-apa, Pak Dodi. Kami bersedia walaupun pernikahan mereka nanti dilaksanakan secara sederhana ditempat ini," tutur Bi Narti.
"Nah 'kan! Begitu lebih bagus!" sahut Aditya sambil tersenyum puas. Lelaki itu menyilangkan tangannya kedada sambil bersandar di sandaran kursi kayu.
Pak Dodi dan Bu Radia hanya bisa saling bertatap mata satu sama lain. Hari ini Aditya benar-benar sudah mempermalukan mereka didepan Nazia dan Bi Narti.
...***...
Dear, Readers terLβ€VE.
Kalian jangan emosi dulu, ya! πππ Author bocorin nih ceritanya biar kalian nggak ngedumelin Author. Aditya hanya sebatas tunangannya saja, nanti Nazia nikahnya ama Danish loh, suer tekewer-kewer deh!!! Jadi ikutin terus aja ya ceritanya ... lagipula kalo Author itung-itung nih cerita gak panjang-panjang amat kok, paling sekitar 20-25 lah, itupun kalo otak Author gak ngelag πππ Jadi anggap aja ini Ekstra Part sebelum cerita Naila dan Keanu benar-benar The End π’π’π’
Oce, Readers?! Bye, terima kasih ... Love You All πππ
__ADS_1