Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 52


__ADS_3

Keyla benar-benar muncul di hadapan Danish sepuluh menit setelah ia kembali ke kamar. Gadis itu tersenyum simpul sambil menguncir rambutnya dengan sembarang.


"Ayo, Kak!"


Danish memperhatikan penampilan adiknya itu dari atas kepala hingga ujung kaki. Gadis itu kembali seperti Keyla sebelumnya. Mengenakan baju kaos dan celana jeans favoritnya.


"Udah selesai?"


"Ya," jawab Keyla mantap.


Danish menoleh pada sang istri kemudian pasangan itupun saling melempar senyum satu sama lain.


"Benarkan apa yang aku katakan barusan,"


Nazia tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil memeluk lengan sang Suami.


"Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang," ajak Danish.


Danish pun segera beranjak dari ruangan itu bersama Nazia yang masih setia berada disampingnya. Keyla mengikuti langkah mereka dari belakang dan ia sangat senang melihat kemesraan pasangan itu.


"Hati-hati di jalan ya, Mas. Dan jangan lupa sampaikan salam Nazia buat Bu Radia."


"Ya, nanti akan ku sampaikan."


Sebelum Danish memasuki mobilnya, ia sempat mencium puncak kepala Nazia dan mengelus perut Istrinya itu dengan lembut.


"Cieee ... kalian itu memang pasangan ter'so sweet' setelah Mami dan Daddy. Aku 'kan jadi ngiri," ucap Keyla sambil menyembulkan kepalanya di kaca jendela mobil.


"Ish, dasar!" seru Danish.


Danish pun segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman mereka, menuju Rumah Sakit.


"Sebenarnya Kak Aditya kenapa sih, Kak? Tadi Ardhan yang kasih tau Keyla tentang Kak Adit, tapi ia tidak menjelaskan secara rinci Kak Adit itu kenapa," tanya Keyla panik.

__ADS_1


"Menurut cerita Pak Dodi sih, ia di tusuk oleh dua orang yang tidak dikenal saat mencoba mengantarkan Adriela pulang tadi malam,"


"Hah?! Kok, bisa?!" pekik Keyla dengan mata membulat menatap Danish.


Danish mengangkat kedua pundaknya sambil terus fokus pada jalan.


"Kasihan Kak Adit, semoga dia baik-baik saja," gumam Keyla.


Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Danish pun tiba di Rumah Sakit XX. Setelah memarkirkan mobilnya, Danish dan Keyla bergegas menuju ruangan Aditya.


Dari kejauhan, Keyla melihat Ardhan yang sedang duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Danish segera menghampiri Ardhan dan menyapa lelaki itu.


"Dhan,"


Ardhan mendongak, ia sontak berdiri dari tempat duduknya kemudian mengulurkan tangan kepada Danish. Ardhan sempat melirik kearah Keyla yang berdiri tepat di samping Danish. Ia melemparkan senyum kepada gadis itu, tetapi Keyla masih enggan membalas senyumannya.


"Sebaiknya aku menemui Kak Aditya dulu ya, Kak."


Keyla segera berlalu dan menuju ruangan Aditya. Sedangkan Danish memilih bicara bersama Ardhan di ruangan itu.


Ehem!


Keyla berdehem sambil mengintip kedua orang itu dari balik pintu sambil melemparkan sebuah senyuman hangat.


"Key? Sini Key, masuklah," ucap Aditya sembari membalas senyuman gadis itu.


Keyla pun segera masuk dan menghampiri mereka. Ketika Keyla berjalan ke arahnya, Adriela yang tadi duduk di samping Aditya segera bangkit dan mempersilakan Keyla duduk di kursi yang tadi ia duduki.


"Gak usah, Driel. Kamu bisa duduk lagi," tolak Keyla.


"Tidak apa-apa, duduklah Key. Lagipula aku ingin membeli sesuatu di luar, perutku sudah lapar. Kalian bicaralah," ucap Adriela.


Adriela segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Aditya dan Keyla disana. Keyla sempat memperhatikan wajah Adriela dan wajah sahabatnya itu terlihat murung.

__ADS_1


"Adriela kenapa, Kak?" tanya Keyla heran.


"Dia sedang sedih, dia menganggap apa yang terjadi padaku adalah kesalahannya. Begitupula Ardhan-mu, dia masih setia menungguku dan memenuhi semua kebutuhanku di sini. Biaya Rumah Sakit inipun ditanggung olehnya. Aku sudah menolak, tetapi mereka tetap kekeh ingin bertanggung jawab kepadaku," tutur Aditya.


"Bagaimana ceritanya sih, Kak? Kok bisa Kak Adit ketemu sama penjahat-penjahat itu?" tanya Keyla.


Aditya pun mulai menceritakan semua kejadian tadi malam kepada Keyla dan membuat Keyla terpelongo setelah mendengarnya.


"Ya, Tuhan! Pantas saja Adriela sedih. Aku pun turut merasa bersalah, Kak. Jika seandainya tadi malam Keyla tidak mengajak Kakak ikut ke pesta, mungkin hal ini tidak akan terjadi," ucap Keyla dengan wajah sedih.


"Ish, kamu bicara apaan, sih!"


"Bagaimana luka tusuknya? Masih sakit?"


"Ya, iya lah, Key. Beruntung lelaki itu hanya menusukku sekali dan tidak berkali-kali. Jika seandainya ia menusukku berkali-kali, mungkin aku sudah K.O sekarang," sahut Aditya sambil terkekeh.


Karena keasikan bercerita bersama Keyla, Aditya bahkan tidak menyadari penampilan Keyla saat itu. Namun, akhirnya ia menyadarinya dan membuat ia tersenyum.


"Mana dress mu?" goda Aditya.


"Hah, dress?!"


Keyla ikut terkekeh kemudian memperlihatkan penampilannya saat itu kepada Aditya.


"Aku mau cepat-cepat, Kak dan gak sempat dandan," sahutnya.


"Tidak apa, Key. Bagiku kamu itu tetap cantik, bagaimana penampilanmu."


"Ehm, seandainya Es Batu yang bilang seperti itu padaku," gumam Keyla.


"Yang sabar ya, Key."


Aditya mengelus lengan Keyla yang berada disampingnya dengan lembut.

__ADS_1


...***...


__ADS_2