Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 87


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


Dokter bergegas menuju ruangan Helen ketika mendapat laporan dari seorang Perawat yang berjaga di ruangan itu. Perawat itu mengatakan bahwa kondisi Helen semakin lemah.


Aditya dan Adriela saling bertatap mata saat Dokter berlari ke ruangan Helen dengan wajah cemas. Pasangan itu sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada wanita itu.


Dengan harap-harap cemas, Adriela dan Aditya menunggu di luar ruangan Helen. Dan setelah beberapa menit kemudian, Dokter yang tadi memeriksa kondisi Helen, keluar dari ruangan itu dan menghampiri pasangan Adriela dan Aditya.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


Raut wajah Dokter terlihat sendu, ia menggelengkan kepalanya sambil berucap.


"Maafkan kami, Tuan dan Nyonya Aditya, Nyonya Helen sudah tiada. Dan ia meninggalkan sepucuk surat untuk Anda."


Dokter menyerah selembar kertas putih yang dilipat rapih kepada Aditya. Aditya menyambutnya dan sebelum membuka lipatan kertas tersebut, Aditya sempat menatap Adriela. Adriela menganggukkan kepalanya pelan sambil mengelus punggung Aditya.


Perlahan, Aditya membuka lipatan kertas tersebut dan mulai membaca isi pesan yang di tulis oleh Helen.


"Aditya, maafkan aku. Aku terpaksa meminta pertolongan kepadamu karena aku sudah tidak memiliki siapapun lagi yang dapat dimintai pertolongan. Semua orang sudah menjauhiku, termasuk Paman dan Bibiku sendiri. Mereka bahkan tidak peduli dengan nasibku saat ini. Jika kamu menerima pesan ini, itu artinya aku sudah kembali kepada-Nya. Aku berharap kamu sudi memaafkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu, baik itu sengaja maupun tidak kusengaja. Dan ... soal bayi mungilku, aku serahkan dia sepenuhnya kepadamu."


"Ya, Tuhan!"


Tangan Aditya bergetar dan matanya berkaca-kaca setelah membaca pesan singkat yang ditulis oleh Helen untuknya.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Driel? Helen menyerahkan bayi mungilnya kepadaku," ucap Aditya dengan wajah sendu menatap Adriela.


Adriela tersenyum. "Kita akan rawat dia, sama seperti kita merawat anak kita sendiri."


Aditya segera memeluk tubuh Adriela dengan erat dan menciumi puncak kepalanya berkali-kali. Tepat di saat itu, seorang Perawat menghampiri mereka dengan menggendong seorang bayi mungil yang terlihat lucu dan menggemaskan. Perawat itu menyerahkan bayi mungil tersebut kepada Aditya, tetapi segera disambut oleh Adriela.


"Ya Tuhan, Nak ... kamu cantik sekali." Adriela tersenyum lebar sembari menciumi pipi bayi mungil tersebut.


"Kamu lihat dia, hanya orang bodoh yang tega menyia-nyiakan mahluk mungil yang tidak berdosa ini. Aku bersedia merawatnya, Mas. Dan aku berjanji akan bersikap adil terhadapnya dan anak-anak kita nantinya," ucap Adriela.


"Ehm, maafkan saya karena menyela pembicaraan kalian, Tuan dan Nyonya Aditya. Nyonya Helen sempat bilang sama saya, katanya kalau kalian tidak bisa menerima bayi ini, kalian bisa menitipkannya ke Panti Asuhan atau berikan kepada seseorang yang bersedia merawatnya dengan tulus dan ikhlas," tutur Perawat.


Aditya dan Adriela kembali saling bertatap mata. "Biar aku saja, Mas," ucap Adriela.


Aditya pun menganggukkan kepalanya kemudian segera membawa bayi mungil itu bersama mereka.


Keluarga besar Aditya dan Adriela pun turut hadir di acara pemakaman Helen. Begitupula Ardhan dan Keyla, pasangan itupun turut hadir sembari ingin melihat bayi mungil Helen yang kini dirawat oleh pasangan Aditya dan Adriela.


"Dia cantik ya, Driel," ucap Keyla sembari mengelus pipi mungil yang masih kemerahan tersebut sambil tersenyum.


"Ya, kamu benar, Key."


Namun, sayangnya kabar baik itu tidak membuat  pasangan Pak Dodi dan Bu Radia ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Aditya dan Adriela.

__ADS_1


Mereka tidak setuju jika Adriela merawat bayi mungil tersebut. Selain karena akan menyita waktu Adriela lebih banyak lagi, mereka juga tidak suka karena bayi tersebut tidak jelas asal-usulnya.


"Lebih baik titipkan saja ke Panti Asuhan, Dit. Toh, wanita itu tidak mengamanatkan dirimu untuk merawatnya, 'kan?" ucap Bu Radia.


"Ya, Ibumu benar, Dit. Sebaiknya titipkan saja ke Panti Asuhan atau cari seseorang yang bisa merawatnya," sela Pak Dodi.


Adriela menatap Aditya dengan tatapan sendu. Ia takut Aditya menyetujui permintaan kedua orang tuanya, yang kekeh tidak ingin mereka merawat bayi mungil tersebut.


"Maafkan kami, Pak, Bu. Sepertinya kami akan tetap merawatnya," jawab Aditya pelan.


Pak Dodi dan Bu Radia menghembuskan napas berat. "Ya, sudahlah. Terserah kalian saja," sahut Bu Radia.


Berbeda dengan reaksi Pak Dodi dan Bu Radia, Arumi dan Adnan tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Selama Adriela dan Aditya benar-benar serius ingin merawat bayi mungil tersebut dengan baik.


Sementara itu di kediaman Tuan Keanu.


"Nisha, udah denger belum? Katanya Adriela dan suaminya mengadopsi seorang bayi mungil," ucap Naila kepada Danisha yang baru saja tiba di kediaman kedua orang tuanya itu.


"Masa sih, Mih? Bukannya Adriela sendiri sedang hamil?"


"Ya, memang benar. Saat ini Adriela memang sedang mengandung, tapi karena ini adalah amanah dari sang Ibu bayi sebelum ia meninggal, maka mereka pun bersedia merawatnya. Katanya sih, begitu."


Danisha nampak penasaran. "Benarkah? Ah, Nisha jadi pengen lihat bayinya, Mih."

__ADS_1


"Coba aja berkunjung ke kediaman mereka," sahut Naila.


...***...


__ADS_2