
Dua bulan kemudian,
Adnan masih semangat melakukan Fisioterapi bersama Dokter yang selama ini membantunya. Walaupun ia masih belum bisa melangkahkan kakinya, paling tidak ia sudah bisa merasakan kakinya dan menggerakannya dengan gerakan yang masih terbatas.
"Lihat, Arumi! Jari-jari kakiku sudah bisa bergerak," ucap Adnan dengan sangat antusias memberitahukan kemajuannya kepada sang Istri.
Arumi pun sangat bahagia melihat perkembangan Adnan. Ia tersenyum seraya menghampiri suaminya itu. "Arumi ikut bahagia, Mas. Dan Arumi doakan semoga Mas Adnan cepat sembuh dan kembali seperti dulu,"
"Amin." Adnan mengelus lembut pipi Arumi.
"Ehm, sebentar ya, Mas. Arumi lupa, tadi Arumi membuatkan teh hangat untuk Mas. Biar Arumi ambil dulu, ya!"
Adnan pun menganggukkan kepalanya sedangkan Arumi bergegas menuju dapur dan mengambilkan teh hangat itu untuk Adnan.
Sepeninggal Arumi, Adnan masih penasaran dengan kemajuan kakinya. Ia menyeret kursi rodanya ke samping sebuah meja yang ada di ruang utama. Perlahan Adnan mencoba berdiri dengan bertumpu pada meja tersebut.
Dengan sekuat tenaga, Adnan mencoba mengangkat tubuhnya dan ternyata berhasil. "Yes! Berhasil ..."
Adnan semringah, wajahnya nampak sangat bahagia. Ia masih penasaran dan perlahan mencoba mengangkat sebelah kakinya dan berhasil. Adnan pun kembali tersenyum puas. Namun ketika ia mencoba melangkahkan kakinya yang kedua, ia terjatuh.
Bruukghhh ...
Tepat disaat itu Arumi baru saja tiba di ruangan itu dengan membawa segelas teh hangat untuk Andan. Arumi begitu terkejut dan gelas teh hangat itupun terlepas dari tangannya.
Prankkk ... gelas teh tersebut jatuh ke lantai dan pecah.
"Mas Adnan!" pekik Arumi dengan wajah cemas menghampiri Suaminya. "Mas Adnan tidak apa-apa?!" tanya Arumi panik.
Adnan terkekeh, walaupun ia terjatuh tetapi ia puas karena ia sudah berhasil melangkahkan kakinya walaupun cuma selangkah. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku baik-baik saja," jawab Adnan.
"Sini, Mas, biar Arumi bantuin." Arumi membantu Adnan bangkit dan kembali duduk diatas kursi rodanya.
__ADS_1
"Apa kamu tahu, tadi aku berhasil melangkahkan kakiku walaupun cuma selangkah. Tetapi aku cukup puas karena perjuanganku tidak sia-sia, Arumi," ucap Adnan sembari tersenyum kepada Arumi yang kini duduk disampingnya.
"Aku sudah tidak sabar lagi. Aku ingin cepat sembuh dan kembali seperti semula. Bisa berjalan dan berlarian. Aku merindukan hal itu, Arumi. Aku ingin suatu hari nanti kita dapat berjalan bersama sambil bergandengan tangan bersama anak-anak kita," tutur Adnan seraya mengelus lembut perut Arumi yang sudah terlihat menonjol.
Usia kehamilan Arumi sudah memasuki bulan keempat. Wanita itu sudah bisa beraktivitas seperti biasa, walaupun ia harus tetap menjaga tubuhnya agar tidak kelelahan. Begitupula rasa mual dan pusing akibat morning sickness yang sering ia rasakan, perlahan sudah mulai berkurang.
"Tentu saja, Mas! Mas pasti sembuh, Arumi yakin itu!" sahut Arumi.
"Tuan, Nona, diluar ada tamu," ucap Pelayan sembari menghampiri mereka dengan langkah cepat.
Adnan dan Arumi sempat saling bertatap mata, tetapi sedetik kemudian mereka kembali fokus pada Pelayan yang sekarang berdiri tepat dihadapan mereka.
"Tamu? Siapa, Bi?" tanya Arumi.
"Tuan Keanu bersama Istri dan anak-anaknya," jawab Pelayan itu.
"Tuan Keanu? Ehm, baiklah. Biar aku saja yang menemui mereka. Bibi tolong bersihkan lantai itu, ya! Tadi, aku tidak sengaja menjatuhkan gelas minuman untuk Mas Adnan ke lantai," titah Arumi.
Pelayan itupun menganggukkan kepalanya kemudian bergegas mengambil alat kebersihan untuk membersihkan lantai tersebut.
Arumi pun segera beranjak dari ruangan itu setelah Adnan mengizinkannya. Ternyata benar, Keanu dan Naila sudah berada didepan rumah mereka bersama Danish dan Danisha.
"Hai, Naila ... apa kabar?!" Arumi bergegas menghampiri Naila kemudian memeluk bumil itu.
"Baik." Naila membalas pelukan Arumi. Setelah beberapa detik kemudian, kedua bumil itupun melerai pelukan mereka.
"Maafkan kami yang berkunjung tanpa memberitahu kalian terlebih dahulu," ucap Keanu.
"Tidak apa-apa, kami malah sangat senang karena kalian bersedia mengunjungi kediaman kami yang sederhana ini," sahut Arumi sembari menuntun keluarga kecil itu menuju ruang utama.
"Ish, kamu bisa aja!" Naila terkekeh mendengar penuturan Arumi.
__ADS_1
Setibanya di ruang utama, Adnan menyambut kedatangan keluarga itu sambil tersenyum hangat.
"Selamat datang, Ponakan Om!" ucap Adnan ketika Danish dan Danisha berlarian kearahnya.
"Om, om! Om Adnan sudah lama tidak berkunjung ke rumah Danisha, Danisha kangen loh, Om!" seru Danisha sambil memeluk lengan Adnan.
Adnan terkekeh mendengar penuturan gadis mungil itu. "Doakan Om biar cepat sembuh, ya! Biar Om bisa bermain ke rumah Danish dan Danisha lagi," sahut Adnan.
"Ini mereka yang ngajakin loh, Kak. Mereka merengek terus pengen ketemu sama Kakak," ucap Naila sembari duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Serius loh, mereka benar-benar membuat kami pusing dengan rengekan mereka. Hampir tiap hari mereka mengajak kami untuk berkunjung kesini, tetapi karena aku sibuk, aku tidak bisa mengabulkan permintaan mereka," sambung Keanu.
Adnan dan Arumi tersenyum mendengar penuturan pasangan itu. Ya, tidak bisa dipungkiri, karena Adnan sering mengunjungi Danish dan Danisha, sepasang anak kembar itupun begitu lengket kepadanya.
"Tunggu sebentar ya, Naila, Keanu, aku ke dapur dulu. Mau membuatkan minum untuk kalian," ucap Arumi sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak usah repot-repot, Arumi!" tolak Keanu.
"Tidak repot, kok!" Arumi terkekeh pelan sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.
Sepeninggal Arumi, merekapun mulai berbincang-bincang di ruangan itu. Sedangkan Danish dan Danisha masih anteng duduk disamping Adnan.
Selang beberapa saat Arumi dan Pelayan tiba dengan membawa minuman serta beberapa cemilan di tangan mereka. Pelayan membawa nampan yang berisi minuman sedangkan Arumi tengah memeluk sebuah wadah yang berisi berbagai cemilan.
Keanu segera bangkit dan berniat membantu Arumi yang terlihat kesusahan. Namun, ketika Keanu baru saja menghampiri Arumi, tiba-tiba wanita itu terpeleset karena lantai yang masih licin.
Keanu refleks menyambut tubuh Arumi dan menahannya agar tidak jatuh ke lantai. Hal itu sontak membuat Adnan dan Naila melihat kearah mereka.
Jika Naila terlihat biasa-biasa saja menanggapi kejadian itu, lain halnya dengan Adnan. Lelaki itu sempat menekuk wajahnya dan entah mengapa, terbesit rasa cemburu di hatinya ketika melihat Arumi dan Keanu dengan posisi yang begitu dekat.
"Kamu tidak apa-apa, Arumi?" tanya Keanu cemas. Ia mengkhawatirkan keadaan Arumi mengingat wanita itu juga dalam keadaan hamil, sama seperti Istrinya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolongku. Jika saja kamu tidak segera menolongku, entah bagaimana jadinya," jawab Arumi.
...***...