
Adnan terdiam sambil menatap wajah Tante Mira. Lelaki itu nampak sedih setelah mendengar cerita Tante Mira tentang perjalanan hidup Naila. Ia tidak menyangka nasib Naila benar-benar tragis. Di usianya yang masih sangat muda, Naila harus menghadapi ujian hidup yang sangat berat. Belum lagi akibat yang harus ia tanggung karena perbuatan laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu.
"Maafkan Tante, Adnan. Tante tidak bermaksud membuat mu kecewa. Namun, tante harus mengatakannya agar kamu tidak kecewa lebih dalam lagi." Tante Mira meraih tangan Adnan kemudian menggenggam nya.
Adnan tersenyum tipis sambil menatap kedua bola mata Tante Mira. "Terimakasih Tante, karena sudah menceritakan semuanya. Dan tenang saja, Adnan baik-baik saja, kok." Adnan tersenyum kemudian menarik tangannya dengan perlahan.
"Tante, sebaiknya Adnan kembali ke kamar. Adnan ingin segera mandi kemudian beristirahat sebentar," sambungnya.
"Baiklah, selamat beristirahat!" sahut Tante Mira.
Adnan melangkah menuju kamarnya dan segera melakukan ritual kamar mandinya.
.
.
.
Malam pun menjelang, akhirnya pekerjaan Naila selesai. Sedangkan Bi Arti sudah kembali ke rumahnya setelah berpamitan kepada Tante Mira. Rumah Bi Arti memang tidak jauh dari kediaman Tante Mira. Hanya dengan berjalan kaki sekitar 15 menit, ia sudah tiba di rumahnya. Itulah sebabnya Tya sering berkunjung ke kediaman majikan Ibunya yang sudah menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
Setelah mandi dan berpakaian, Naila merebahkan tubuhnya. Naila menatap langit-langit kamarnya sambil mengelus lembut perutnya. Rasa lelahnya setelah bekerja seharian hilang seketika saat ia ingat akan bayinya.
"Sabar ya, Nak. Perjuangan kita masih panjang. Terus temani Ibu dan beri Ibu semangat, biar kita bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi dari sekarang!" Naila tersenyum simpul sambil menyemangati dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja terlintas dipikirkannya, sosok sang Ibu yang sudah tiada. Naila bangkit dari posisinya kemudian meraih foto sang Ibu yang selalu ia simpan. Naila memperhatikan foto tersebut sambil menitikkan air matanya.
"Bu, Naila kangen Ibu ... Naila kangen dipeluk dan disayang seperti dulu. Kenapa Ibu meninggalkan Naila disaat Naila masih butuh perhatian dan kasih sayang dari Ibu? Dan sekarang lihatlah nasib Naila, Bu. Naila hancur tanpa Ibu ..." ucap Naila sambil menyeka air matanya.
Kini tatapannya beralih kepada lelaki yang berdiri disamping Ibunya. Tuan Rendra Hermawan yang terlihat gagah dengan setelan jas berwarna hitam. Ekspresi Naila mendadak berubah, ia terlihat kesal dan kecewa.
Apalagi saat ia ingat kejadian saat itu, ketika perayaan kehamilan Melisa, Tuan Rendra bahkan tidak mempedulikan dirinya. Padahal ia sudah memohon-mohon, meminta sedikit perhatian dari sosok yang selama ini ia cari-cari.
__ADS_1
Naila melipat foto itu hingga kini yang terlihat hanya foto sang Ibu. Sedangkan foto Tuan Rendra Hermawan berada dibelakang foto Ibunya. Sebenarnya Naila ingin sekali merobek foto itu menjadi dua bagian dan membuang bagian Tuan Rendra. Namun, entah mengapa hatinya begitu menolak. Dengan terpaksa, Naila pun hanya melipatnya saja.
"Naila benci dia, Ibu! Sampai kapanpun Naila tidak akan pernah memaafkannya!" hardik Naila sambil terisak, "Maafkan Naila, Ibu. Naila tahu, seandainya Ibu masih hidup, Ibu pasti akan memarahi Naila karena sudah berkata seperti itu tapi Naila tidak bisa memaafkan lelaki itu! Dia sudah menolak Naila mentah-mentah! Dan dia bahkan terlihat jijik ketika bersentuhan dengan Naila ... semenjijikkan itukah Naila, Bu? Padahal Naila adalah darah dagingnya!" gumam Naila disela isak tangisnya.
Tok tok tok!
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang dari luar. Naila terkejut kemudian dengan cepat ia membersihkan air matanya dan menyimpan kembali foto kenangan pernikahan Ibunya.
"Siapa?" tanya Naila
"Ini aku, Nai. Adnan ..." sahut Adnan dari luar.
Setelah mengetahui bahwa majikannya lah yang tengah mengunjunginya, Naila bergegas menuju pintu kamarnya kemudian membukanya dengan perlahan.
"Tuan Adnan?" Naila memperhatikan lelaki tampan yang tengah berdiri didepan pintu kamarnya sambil tersenyum hangat kepadanya.
"Hai, Naila. Bisakah kamu menemaniku di dapur? Aku ingin memasak sesuatu disana." sahut Adnan.
Setelah menutup pintu kamarnya, Naila segera mengikuti langkah jenjang Adnan menuju dapur. Naila memperhatikan Adnan dari belakang. Lelaki itu terlihat sangat tampan dan gagah.
Adnan mengenakan baju kaos berwarna putih selaras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambut hitam dan tebal miliknya begitu indah dipandang mata.
"Tuan Adnan begitu sempurna, pasti banyak wanita cantik yang berebut menjadi kekasihnya," gumam Naila sambil memperhatikan Adnan yang berjalan di depannya.
"Ehm?!" Adnan berpaling sebentar kearah Naila tanpa menghentikan langkah kakinya.
"Ah, bukan apa-apa, Tuan! Naila cuma bilang kalau malam ini terasa dingin sekali," ucap Naila berbohong.
"Owh?!"
Akhirnya mereka tiba di dapur. Naila dan Adnan menghampiri meja dan kursi yang ada diruangan itu. Ternyata Adnan sudah mempersiapkan semuanya disana. Alat-alat masak, bahan-bahan makanan yang akan ia masak untuk malam ini dan juga pakaian Chef kebanggaan miliknya.
__ADS_1
"Tuan ingin memasak apa? Naila bantu yang mudah-mudah saja, ya. Soalnya Naila tidak terlalu mengerti masakan yang sering Tuan masak di Restoran," ucap Naila seraya memperhatikan bahan-bahan yang akan Adnan eksekusi untuk malam ini.
Adnan tersenyum mendengar penuturan Naila. Ia meraih Double Breasted Jacket serta Chef Hat miliknya kemudian mengenakannya sambil sesekali melirik Naila yang masih berdiri disampingnya.
Dan setelah selesai mengenakan seragam kebanggaannya, Adnan mendudukkan Naila di kursi yang ada disamping mereka.
"Duduklah yang manis dan cukup perhatikan aku melakukan tugasku!" ucap Adnan sambil tersenyum hangat kepada Naila.
Naila sempat bingung namun ia menurut saja. Ia duduk disana sambil memperhatikan Adnan melakukan tugasnya. Naila membulatkan matanya ketika melihat Adnan bermain dengan berbagai macam pisau untuk memotong bahan-bahan makanan yang akan ia masak.
Lelaki itu sangat gesit memotong, membersihkan kemudian memasak bahan makanan yang sudah ia pilih untuk menu malam ini.
Setelah beberapa saat, Adnan pun selesai dengan acara memasaknya. Naila yang masih takjub menyaksikan kelincahan Adnan dalam memasak membuat ia lupa bahwa lelaki itu sudah menata hasil masakannya diatas meja.
"Hei, Naila! Sadarlah ..." ucap Adnan sambil terkekeh karena gadis itu masih menatapnya dengan mata membulat.
"Ya ampun, Tuan! Anda hebat sekali!" seru Naila.
"Benarkah? Sekarang kita coba saja rasanya soalnya aku takut tidak enak," sahut Adnan.
"Tidak mungkin, Tuan Adnan. Masakan anda pasti enak. Secara, anda adalah bos diantara tukang masak di Restoran itu kan?" ucap Naila polos,
"Kamu bisa saja," sahut Adnan.
Adnan melepaskan pakaian kebanggaannya kemudian memakaikannya ke tubuh Naila. Naila sempat bingung sekaligus terkejut ketika Adnan meletakkan seragam miliknya ke tubuhnya.
"Pakailah, aku takut kamu kedinginan ..." bisik Adnan disamping telinga Naila sambil tersenyum hangat.
Naila terdiam seraya merapatkan Double Breasted Jacket milik Adnan ke tubuhnya.
...***...
__ADS_1