Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Kebencian Adnan


__ADS_3

Arumi baru saja keluar dari Rumah Sakit, ia berjalan gontai menuju tempat, dimana mobilnya terparkir. Arumi meremas kedua tangannya secara bergantian. Ia ketakutan ketika mendengar penjelasan dari Dokter yang menangani penyakitnya.


Sebenarnya Arumi menyadari bahwa penyakitnya memang semakin parah. Namun, ia tidak menyangka bahwa akan menjadi seperti ini. Dokter mengatakan kepadanya jika obat-obatan yang ia konsumsi sudah tidak mampu lagi menahan panyakitnya, maka operasilah jalan satu-satunya.


Pak Budi, Sopir pribadinya bergegas membukakan pintu mobil sambil tersenyum hangat. "Bagaimana pemeriksaannya, Nona?" tanya Pak Budi.


Arumi mencoba tersenyum semanis mungkin agar kekhawatiran yang ia rasakan saat ini tidak dilihat oleh siapapun. "Semuanya baik-baik saja, Pak." sahut Arumi sembari masuk kedalam mobilnya.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Saya pun jadi senang mendengarnya," sahut Pak Budi.


Pak Budi pun segera melajukan mobilnya kembali ke kediaman Arumi.


"Ya Tuhan, kemana aku harus bercerita tentang masalah ini? Aku tidak mungkin menceritakan masalah ini kepada Mama karena selama ini aku sudah terlalu menyusahkannya. Lalu Suamiku, aku yakin dia akan mengatakan bahwa aku berbohong dan hanya mencari perhatiannya saja," batin Arumi sambil menatap kosong kearah jalan yang sedang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor.


Setibanya di kediamannya, Arumi bergegas masuk. Ia terperanjat ketika melihat sang Suami sudah berada diruang tengah. Lelaki itu menatapnya dengan tatapan kesal. Walaupun Arumi tahu bahwa mood Adnan sepertinya sedang tidak baik, tetapi ia tetap mencoba mencairkan suasana dengan tersenyum manis dan bersikap seperti biasanya kepada Suaminya itu.


Arumi menghampiri Adnan sembari menyapanya. "Mas Adnan, kamu sudah pulang, ya?"


Arumi mencoba meraih tangan Adnan sama seperti biasanya. Namun, ternyata lelaki itu enggan disentuh olehnya. Ia menarik tangannya ketika Arumi ingin menggapai tangan lelaki itu.


"Jangan sentuh aku, aku tidak sudi disentuh olehmu!" hardik Adnan sembari menjauhi Arumi yang mencoba mendekatinya.


"Ta-tapi kenapa?" tanya Arumi terbata-bata.


"Tidak usah sok polos, Arumi! Aku sudah tahu bagaimana sifatmu, kamu itu sangat licik!" Adnan menghela napas kasar. "Pasti kamu 'kan yang merengek kepada Keanu dan menceritakan semuanya kepada lelaki itu? Sekarang kamu puas, ha?! Kamu sudah mempermalukan aku di hadapannya," geram Adnan sambil menunjuki wajah Arumi.


Arumi menghembuskan napas berat. Ia menatap suaminya dengan tatapan sendu.


"Aku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku, Mas. Apakah itu salah? Dan aku berharap Tuan Keanu bisa membantuku meyakinkan dirimu bahwa apa yang kamu lakukan selama ini salah. Tidak sepatutnya kamu menyimpan perasaan kepada wanita yang sudah berstatus istri orang," tutur Arumi.

__ADS_1


Arumi berlari menuju kamarnya dan menangis disana. Sedangkan Adnan masih terdiam sambil menahan rasa kesalnya terhadap wanita itu.


"Baiklah Arumi, kamu tunggu saja pembalasan ku!" Adnan mendengus kesal.


. . .


Menjelang malam,


Arumi masih berbaring ditempat tidurnya sambil menahan rasa sakit di dadanya. Dengan tergopoh-gopoh, Arumi turun dari tempat tidurnya dan mencari sesuatu dari laci meja yang ada disamping tempat tidurnya.


Akhirnya Arumi menemukan obat yang ia cari-cari dan segera meminumnya. Setelah merasa lebih baik, Arumi kembali berbaring sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


"Ya Tuhan, sepertinya aku harus menyerah. Mas Adnan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Dan apapun yang aku lakukan akan sia-sia saja selama Mas Adnan tidak mau berusaha melupakan Naila," gumam Arumi.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan keras dan membuat Arumi terperanjat.


Brakkkk ...


"Ma-mas Adnan ... kamu kenapa, Mas?" tanya Arumi sembari menghindari Adnan yang terus menghampirinya sambil menyeringai.


"Bukankah ini yang kamu inginkan, Arumi!"


Adnan melepaskan kemejanya dengan kasar hingga kancing-kancingnya terlepas kemudian melemparkan kemeja itu ke sembarang arah.


Arumi semakin ketakutan dan tubuhnya bergetar hebat. Adnan yang sedang berdiri di hadapannya bukanlah Adnan yang selama ini ia puja-puja, lelaki tampan yang selalu menjaga sikapnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan, Mas?!" tanya Arumi.


"Menjadi suamimu, bukankah itu yang kamu mau?!"

__ADS_1


Adnan terus mendekat hingga akhirnya tubuh Arumi terjebak antara dinding kamarnya dan lelaki itu. Adnan menyeringai sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Arumi.


"Puaskan aku! Bukankah aku suamimu?" tegas Adnan sambil menciumi wajah Arumi dengan kasar.


Arumi mencium aroma menyengat dari mulut lelaki itu. Ia sekarang sadar bahwa Adnan tengah mabuk.


"Mas, kamu sedang mabuk. Sebaiknya istirahatlah ..." bujuk Arumi sambil mendorong tubuh Adnan yang kini mengungkung tubuhnya.


Namun, kekuatan lelaki itu masih diatasnya. Tubuh Adnan bahkan sama sekali tidak bergerak ketika Arumi mencoba mendorongnya. Adnan melepaskan celananya tanpa melepaskan Arumi dari kungkungannya.


"Aku akan memuaskan dirimu sampai kamu kewalahan gadis menyebalkan! Heh, semoga saja kamu benar-benar masih gadis. Kalau tidak, maka kamu akan aku talak malam ini juga!" geram Adnan sambil melemparkan celananya kesalah satu sudut ruangan.


Kini tubuh lelaki itu polos tanpa sehelai benang pun. Ia masih menatap Arumi dengan tatapan membunuh. Seolah ia akan menghabisi Arumi malam ini.


"Tolong perlakukan aku selayaknya istrimu, Mas. Aku akan melayanimu dengan baik, tetapi tidak seperti ini caranya. Kamu sedang mabuk," lirih Arumi dengan wajah memelas. Berharap lelaki itu tidak akan memperlakukannya dengan kasar.


"Banyak omong!"


Adnan menarik tubuh Arumi kedalam pelukannya dan mulai mencumbui tubuh istrinya itu dengan kasar. Beberapa kali Arumi meringis karena Adnan mengigit bagian tubuhnya hingga meninggalkan bekas gigitan yang memerah.


Arumi kembali menitikkan air matanya. Ya, dia memang selalu berharap bahwa Adnan sudi menyentuhnya suatu saat nanti. Namun, kini ia sangat kecewa. Malam pertama yang ia bayangkan akan berlalu dengan keromantisan, kini malah sebaliknya. Ia harus merasakan sakit yang bertubi-tubi, baik itu fisik maupun batinnya.


Setelah puas menciumi Arumi, Adnan menariknya dengan kasar dan menjatuhkannya keatas tempat tidur kemudian menindihnya. Adnan mulai melepaskan piyama tidur yang sedang dikenakan oleh Arumi sambil menyeringai.


"Mas, lakukanlah dengan lembut. Ini pertama kalinya untukku, ku mohon ..." lirih Arumi.


Lelaki yang sudah buta mata hatinya itu makin melebarkan senyumnya ketika menyaksikan tubuh polos Arumi. Bagai singa lapar, Adnan menyerang tubuh Arumi dan mulai memainkan kedua aset pribadinya dengan kasar.


"Mas Adnan, ku mohon jangan perlakukan aku dengan kasar ..." lirih Arumi sambil menangkupkan kedua tangannya.

__ADS_1


Hati Adnan sudah ditutupi oleh amarah dan minuman keras itu sudah membuat ia buta. Tak ada lagi rasa iba walaupun Arumi menangis dengan airmata darah memohon belas kasihan darinya. Ia tetap tidak peduli dan terus memperlakukan Arumi dengan sesuka hatinya.


...***...


__ADS_2