Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 61


__ADS_3

"Ardhan!"


Keyla segera menepikan motor kesayangannya dan menghampiri Ardhan yang sedang tergeletak di tanah tak jauh dari motor barunya.


"Ardhan, kamu kenapa?!" tanya Keyla panik sembari mengoyang-goyangkan tubuh Ardhan.


Perlahan lelaki itu membuka matanya. "Oh, Tuhan! Kepalaku serasa berkunang-kunang!" keluhnya.


"Mari, ku bantu!"


Keyla membantu Ardhan bangkit dan dengan tertatih-tatih lelaki itu melangkahkan kakinya ke pinggir jalan kemudian duduk di sana.


Keyla memperhatikan kondisi Ardhan saat itu dan ternyata Ardhan memang benar-benar terluka. Celana jeans yang sedang dikenakannya pun terlihat sobek akibat bergesekan dengan aspal.


"Maafkan aku, Ardhan," lirih Keyla dengan wajah sendu menatap luka menganga di kaki lelaki itu.


Ardhan terkekeh pelan. "Aku malu."


"Kenapa malu?" tanya Keyla.


"Aku malu karena aku tidak sekeren laki-laki lain, Key. Lihatlah aku, bahkan menguasai motor saja aku tidak mampu. Yang ku bisa hanya berkutat di daput dengan bawang dan terasi, benar-benar memalukan," lirih Ardhan dengan wajah tertunduk dan di wajahnya tersungging sebuah senyuman getir.


"Kenapa kamu bicara seperti itu, Dhan? Seharusnya kamu bangga, tidak semua orang bisa menjadi Chef handal seperti dirimu. Apalagi sekarang kamu sudah terkenal di mana-mana," ucap Keyla sembari ikut duduk di samping Ardhan.


Ardhan kembali melemparkan senyuman kecut kepada gadis itu. "Tapi sekarang tidak lagi, Key. Apa kamu tidak lihat berita hari ini?"


"Berita apa?" tanya Keyla penasaran.

__ADS_1


Perlahan Ardhan meraih ponselnya dari saku celana. Ternyata layar ponsel tersebut retak akibat kecelakaan kecil yang terjadi padanya barusan. Ia mencoba mengaktifkan ponselnya dan beruntung masih berfungsi, walaupun ada beberapa bagian dari layarnya yang tidak merespon ketika disentuh.


Ardhan membuka video kiriman dari sahabat sekaligus asistennya. "Cobalah kamu lihat,"


Ardhan menyerahkan ponsel itu kepada Keyla dan membiarkan gadis itu melihat video yang sedang diputar di layar ponselnya.


Dengan seksama, Keyla memperhatikan video tersebut. Video Naura yang menjelek-jelekkan nama Ardhan di depan seluruh awak media yang memang sengaja ia undang. Keyla mendengarkan kata-kata yang keluar dari bibir wanita cantik itu dengan sangat serius.


"Kenapa Naura bisa berkata seperti itu tentangmu, Dhan? Apa yang dikatakan olehnya itu benar?" tanya Keyla penasan.


Ardhan menghembuskan napas berat, sebelum ia menjawab pertanyaan Keyla.


"Ya, Key. Apa yang dikatakan oleh Naura adalah benar. Aku hanya lelaki jahat yang memanfaatkan dirinya untuk mendongkrak karierku. Ya, sekarang dia membuktikan ucapannya padaku, bahwa dia bisa mengangkat karierku dengan sekejap dan ia bisa menghancurkan karierku dalam sekejap pula."


Keyla membulatkan matanya. "Ja-jadi selama ini kamu dan Naura?"


Ardhan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kepada Keyla. "Aku hanya memanfaatkan dirinya, Key. Demi menunjang karierku. Aku yang dibutakan oleh obsesiku, bahkan bisa berbuat hal segila itu."


Ardhan terkekeh pelan kemudian meraih tangan Keyla dan menggenggamnya dengan erat.


"Kata siapa kamu tidak menarik? Aku bahkan tidak tertarik pada wanita sejenis Naura, Key. Wanita yang mengumbar kemolekan tubuhnya kepada semua orang. Kemarin aku sempat shok ketika kamu mengubah penampilanmu seperti Naura dan aku tidak ingin kamu menjadi seperti dirinya, Key. Tetapi sekarang aku lega, akhirnya dirimu kembali seperti dirimu yang sebenarnya," tutur Ardhan.


"Kamu serius?" tanya Keyla penuh selidik.


"Ya," jawab Ardhan.


Ardhan membelai lembut tangan Keyla yang kini berada di dalam genggamannya.

__ADS_1


"Jadi-- bagaimana? Maukah kamu menjadi Keyla-ku lagi?"


Keyla terdiam sejenak sambil berpikir. Walaupun ucapan Ardhan terlihat sangat meyakinkan, tetapi jauh di lubuk hati Keyla yang paling dalam masih ada rasa takut dan trauma. Ia tidak ingin jatuh ke dalam rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya.


"Bolehkah aku meminta waktu untuk memikirkannya, Ardhan?"


Terdengar deru napas berat Ardhan. Namun, lelaki itu tetap menyunggingkan senyuman hangatnya.


"Baiklah."


Keyla menarik tangannya dari genggaman lelaki itu kemudian membantunya berdiri.


"Sebaiknya kita pulang ke rumahku. Aku ingin mengobati lukamu," ucap Keyla.


"Bagaimana caranya aku pulang, Kakiku bahkan tidak bisa berdiri dengan benar," ucap Ardhan sambil memperhatikan kakinya.


"Boncengan denganku."


Ardhan tergelak sambil menahan sakit. "Ya, Tuhan! Aku benar-benar memalukan!"


"Memang kamu memalukan," jawab Keyla tak acuh.


Setelah Keyla menaiki motornya, Ardhan pun segera naik ke atas motor Keyla dengan susah payah. Ia duduk di belakang gadis itu dan berpegangan di pinggangnya.


"Pegangan yang erat, aku tidak ingin kamu jatuh."


"Siap, Nona!"

__ADS_1


Keyla pun segera melesat bersama Ardhan menuju kediamannya. Sedangkan motor Ardhan yang masih tergeletak di jalan sudah diserahkan ke bengkel yang tak jauh dari tempat itu.


...***...


__ADS_2