
"Keyla! Keyla! Bangunlah!"
"Hah!!!"
Keyla tersentak kaget karena mimpi buruknya. Ia bermimpi Aditya memanggil-manggil namanya dengan tubuh penuh darah. Napas Keyla tidak lagi beraturan dan jantungnya pun berpacu dengan sangat cepat.
"Ya, Tuhan! Pertanda apa ini?" gumamnya.
Keyla bangkit dan duduk di tepian tempat tidurnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Ia melirik jam digital yang ada diatas nakas dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Keyla meraih benda pipih kesayangannya di atas nakas, yang ia setting dengan mode 'Diam'. Keyla memperhatikan layarnya dengan seksama kemudian menautkan kedua alisnya sambil bergumam.
"Es Batu? Tumben dia menghubungiku?"
Panggilan yang dilakukan oleh lelaki itu sudah lebih dari puluhan kali. Keyla mulai merasa tidak nyaman. Entah mengapa ia merasakan bahwa ini ada hubungannya dengan Aditya.
Namun, Keyla masih sangat kesal dan tidak ingin mencari tahu apa alasan Ardhan menghubunginya. Setelah meletakkan kembali ponsel tersebut ke atas nakas, Keyla bangkit dari tempat tidur dan berniat menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Baru beberapa langkah, ponselnya bergetar lama tanda seseorang sedang menghubunginya.
Keyla menghembuskan napas kasar dan berbalik kemudian meraih benda pipih tersebut. Ia menautkan kedua alisnya ketika mengetahui nama siapa yang tertera di layar ponselnya.
"Ardhan? Sebenarnya mau apa dia?"
Akhirnya Keyla memutuskan menerima panggilan tersebut. Padahal sebelumnya ia sempat ragu. Benda pipih itu ia letakkan di samping telinga kemudian mencoba mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh lelaki dingin itu.
"Ya?!"
"Keyla--" ucapan Ardhan sempat terjeda beberapa detik sebelum ia kembali melanjutkannya.
"Key, Aditya sedang dirawat di Rumah Sakit. Tadi malam ia mengalami kejadian naas saat mengantarkan Adriela pulang," lirih Ardhan.
"Apa?!" pekik Keyla. "lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Keyla panik.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu lihat sendiri keadaannya, Key."
Jawaban Ardhan saat itu benar-benar membuat Keyla gusar. Ia panik sekaligus cemas.
"Baiklah, baiklah. Aku akan segera kesana," jawab Keyla.
Ardhan menghembuskan napas berat. Sekarang ia sadar bahwa Keyla benar-benar sudah Move On darinya. Aditya sudah menggantikan posisinya di hati gadis itu, begitulah pikir Ardhan.
"Kakak kenapa?" tanya Adriela ketika menyaksikan raut wajah Ardhan setelah selesai bicara dengan Keyla via telepon.
"Tidak apa-apa," jawab Ardhan.
Setelah menjawab pertanyaan Adriela, Ardhan menjatuhkan dirinya di kursi tunggu yang ada di luar ruangan Aditya dirawat. Ia menyandarkan tubuhnya dengan mata terpejam.
Adriela masuk kedalam ruangan Aditya dan di dalam sana ternyata Bu Radia masih setia menemani putra semata wayangnya. Bu Radia duduk di samping tempat tidur Aditya sambil mengelus tangan Aditya yang kini berada di dalam genggamannya.
Wajah Bu Radia masam ketika bersitatap mata dengan Adriela. Ia tidak menyukai gadis itu sebab menurut Bu Radia, semua yang terjadi pada Aditya adalah gara-gara Adriela.
"Bu ...," lirih Aditya sembari menahan rasa sakitnya.
Aditya tidak ingin Ibunya bersikap kasar kepada Adriela. Aditya sadar semua yang terjadi padanya bukan karena kesalahan Adriela, tetapi memang sudah menjadi garis takdirnya.
"Adriela tidak salah, Bu. Ini memang sudah nasibku," sambung Aditya dengan terbata-bata karena ketika ia bicara, rasa sakit di lukanya begitu terasa.
"Tapi Ibu masih kesal, Dit. Seandainya kamu tidak mengantarkan dia, mungkin ini tidak akan terjadi padamu," kesal Bu Radia sambil melirik Adriela yang kini berdiri di sisi lain tempat tidur Aditya.
"Bu, sudahlah."
Aditya membalas genggaman tangan Ibunya agar wanita itu berhenti berkata yang tidak-tidak kepada Adriela. Adriela hanya diam, tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Namun, gurat penyesalan begitu jelas di wajahnya.
Sementara itu
__ADS_1
Keyla yang panik segera turun dari kamarnya dan bertemu dengan Kakaknya di dasar tangga. Sepertinya Danish sedang terburu-buru saat itu.
"Kak Danish, apa Kakak sudah tahu berita tentang Kak Aditya?" tanya Keyla panik.
"Ya, ini Kakak mau jengukin Aditya ke Rumah Sakit," jawab Danish.
"Benarkah? Kalau begitu Keyla ikut,"
Danish memperhatikan penampilan Keyla saat itu. Gadis itu bahkan masih mengenakan piyama tidur. Rambutnya terlihat berantakan dan wajahnya saja belum tersentuh air sedikitpun.
"Kakak mau cepat ini, Key. Nungguin kamu, kapan Kakak berangkatnya?"
"Sepuluh menit!"
Keyla kembali berlari menuju kamarnya dan mulai bersiap-siap.
"Kenapa belum berangkat juga, Mas?" tanya Nazia sambil menatap heran kepada suaminya yang ternyata masih duduk santai di ruang utama.
Padahal sebelumnya Danish berkata ingin secepatnya pergi ke Rumah Sakit, tetapi sekarang malah duduk manis di ruangan itu sambil melirik jam tangan mewahnya.
"Itu, Key. Dia bilang mau ikut aku ke Rumah Sakit. Mana orangnya baru bangun tidur lagi," keluh Danish.
Nazia tersenyum dan menjatuhkan dirinya disamping Danish. Danish meletakkan tangannya ke perut Nazia kemudian berucap.
"Sayang, kamu jangan niru Tante Key, ya. Cuma dia yang agak kurang beres di rumah ini."
Nazia terkekeh, "Tapi gitu-gitu Mas paling perhatian sama Key,"
"Ya, dia memang Adik yang agak kurang beres tapi dia yang paling ngangenin. Coba saja sehari tanpa dia di rumah ini, pasti rumah ini akan terasa sunyi"
"Mas benar."
__ADS_1
...***...