
Sementara Danish masih berjalan menuju halaman depan perusahaannya, Aditya lebih dulu tiba disana dan menunggu kedatangan Nazia.
"Ah, itu dia! Beruntung aku lebih dulu menemuinya," gumam Aditya sembari berlari menghampiri mobil milik Ayahnya.
"Stop, Pak! Stop!" ucap Aditya sambil memukul-mukul body mobilnya.
"Kamu! Cepat keluar," titahnya sembari menunjuk Nazia dengan wajah panik.
"Dan sebaiknya Bapak pulang saja, biar dia pulang dengan naik ojek!" titahnya kepada Pak Sopir.
"Baik, Tuan."
Setelah Nazia keluar dari mobil, Pak sopir itupun segera melaju, meninggalkan perusahaan besar tersebut. Kini tinggal Nazia dan Aditya yang masih berdiri disana.
Aditya memicingkan matanya sembari memperhatikan penampilan Nazia. Gadis itu merasa serba salah ketika Aditya menatapnya dengan tatapan aneh. Ia bahkan turut memperhatikan penampilannya sendiri dan Nazia rasa tidak ada yang salah pada penampilannya hari ini.
Seperti biasa, ia hanya mengenakan rok panjang dan baju kaos yang ia beli dipasar pinggir jalan. Bagi Nazia memang itu bukan masalah besar, tetapi tidak untuk Aditya. Baginya penampilan gadis itu sangat kuno dan kampungan. Sangat jauh jika dibandingkan dengan Helen dan gadis-gadis yang bekerja di perusahaan besar milik Tuan Keanu.
Aditya benar-benar tidak habis pikir kenapa Ayah dan Ibunya bersikeras menjodohkannya dengan gadis itu. Dan yang lebih menyedihkan lagi, ia tidak bisa menolaknya.
"Kemarilah!"
Aditya mencengkeram lengan Nazia kemudian membawanya menjauh dari tempat itu. Nazia begitu terkejut karena Aditya memperlakukannya dengan sangat kasar. Lengannya bahkan terasa sakit ketika Aditya mencengkeramnya.
"Heh, kenapa kamu datang kesini! Apa kamu ingin membuat aku malu?! Mau ditaruh dimana wajahku jika orang-orang kantor tahu bahwa kamu adalah calon istriku yang sudah miskin, kampungan lagi," kesalnya.
Wajah Aditya memerah menatap Nazia dan membuat gadis itu ketakutan. Tubuhnya bahkan sampai bergetar karena ketakutan.
"A-aku disuruh Ibu, Mas."
"Ingat, ya!" Aditya menunjuk wajah Nazia dengan jari telunjuknya. "Jangan pernah menampakkan wajahmu ketempat ini lagi! Aku tidak main-main, Nazia! Dan satu lagi, jika kamu bertemu dengan siapapun yang bekerja ditempat ini, jangan pernah ceritakan tentang hubungan kita, kamu mengerti?!"
Tanpa berpikir panjang, Nazia menganggukkan kepalanya dengan cepat. "I-iya! Aku mengerti, Mas." sahutnya terbata-bata.
"Bagus! Sekarang kamu pergi dari tempat ini dan bawa serta makanan itu."
__ADS_1
Aditya melenggang pergi dan kembali masuk kedalam perusahaan besar itu.
"Dasar, memangnya aku anak SD dikasih bekal segala. Lagipula aku yakin, masakan gadis itu cocoknya di lidah orang yang selevel sama dia!" gumamnya sambil melangkahkan kakinya menuju kantor.
Sementara itu.
"Kak Danish, sini!" teriak Keyla didepan perusahaannya.
"Apaan sih, Key?"
Danish menghampiri Keyla yang sedang duduk diatas motor kesayangannya sambil tersenyum konyol kepada Kakaknya itu.
"Kak, minta uang, donk! Dompetku ketinggalan dirumah dan motorku butuh minum ini! Beruntung dekat sini, kalau tidak alamat pulang dengan jalan kaki," ucapnya.
Danish menggelengkan kepala sambil mengeluarkan dompetnya. Ia menyerahkan beberapa lembar uang kepada Keyla kemudian segera disambut oleh gadis itu.
"Keyla, Keyla! Ada-ada saja," ucap Danish sembari mengacak puncak kepala adiknya itu.
"Terima kasih, Kak. Keyla pulang dulu!"
"Itu Nazia, 'kan?" gumamnya.
Danish terus memperhatikan Nazia yang sedang melangkah gontai dengan kepala tertunduk menatap tanah. Karena penasaran, Danish berlari kecil dan menghampiri gadis itu.
"Nazia!?"
Sontak Nazia pun menoleh. Danish menatap heran kepada gadis itu karena mata indahnya terlihat berkaca-kaca. Dan sepertinya gadis itu ingin menangis, tetapi ditahan olehnya.
"Tuan bekerja bekerja di perusahaan ini juga, ya?" tanya Nazia.
Gadis itu mencoba menyembunyikan kesedihannya dengan tersenyum semanis mungkin kepada lelaki tampan di hadapannya.
"Ehm, ya. Aku juga bekerja ditempat ini," sahut Danish sambil tersenyum hangat.
"Wah! Tuan hebat, ya."
__ADS_1
Danish memperhatikan penampilan Nazia dan ia benar-benar menyukai kesederhanaan gadis itu. Dan kini matanya tertuju pada kotak bekal yang masih dipegang oleh gadis itu.
"Apa itu yang kamu bawa?" tanya Danish sambil menunjuk kotak bekal tersebut.
"Ini?!" Nazia mengangkat tangannya yang sedang menenteng kotak bekal tersebut.
"Ya,"
"Ini kotak bekal, isinya nasi putih sama kari ayam," Nazia terkekeh pelan setelah mengucapkan hal itu. Bukan karena lucu, tetapi hatinya sakit ketika mengingat perlakuan Aditya barusan kepadanya.
"Wah, siapa yang masak? Kamu, ya? Ehm, pasti enak. Karena aromanya tercium sampai kesini," goda Danish.
Nazia kembali memperhatikan kotak bekal tersebut. "Tuan, mau?" tanya Nazia.
Danish terkejut mendengar pertanyaan Nazia. Padahal sebenernya ia hanya bercanda, tetapi gadis itu malah menganggapnya serius. Nazia menyerahkan kotak bekal itu kepada Danish kemudian disambut olehnya dengan sangat antusias.
"Beneran, ini untukku?" tanya Danish memastikan.
Nazia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, Tuan. Ambilah," sahutnya.
"Kemarilah,"
Danish mengajak Nazia duduk disebuah kursi panjang yang disekitar tempat itu. Setelah Nazia duduk disampingnya, iapun mulai membuka kotak bekal yang diberikan oleh Nazia.
"Tunggu sampai aku selesai makan, ya?!" pinta Danish.
Nazia kembali mengangguk. Rasa kekecewaannya kepada Aditya sedikit terobati. Ternyata masih ada yang bersedia memakan masakannya. Perlahan, Danish memulai suapan pertamanya. Nazia sedikit tegang, karena ia takut lelaki itu tidak menyukai masakannya.
"Bagaimana rasanya, Tuan?" tanya Nazia dengan wajah serius menatap Danish yang sedang mengunyah makanannya.
Danish tersenyum sambil mengacungkan jempolnya kepada gadis itu. "Ternyata masakanmu sungguh enak, Nazia."
Nazia menghembuskan napas lega kemudian membalas senyuman lelaki itu. "Syukurlah,"
...***...
__ADS_1