
"Kak," sapa Adriela.
Adriela nampak semringah ketika Aditya sudah berada di depan pintu rumahnya. Adriela mengajak Aditya masuk ke dalam rumah untuk menemui Ayah dan Ibunya yang sedang bersantai di ruang utama.
Setibanya di ruangan itu, Aditya meminta izin kepada Arumi dan Adnan untuk mengajak anak perempuan mereka keluar. Setelah mendapatkan izin dari pasangan itu, Aditya dan Adriela pun segera berangkat.
"Jangan ngebut-ngebut ya, Nak Adit." Arumi memperingati Aditya sebelum lelaki itu meninggalkan halaman rumahnya.
"Ya, Mah. Tentu saja," sahut Aditya.
. . .
Di dalam mobil.
"Kak, kita mau kemana?" tanya Adriela.
"Kita ke Taman XX, kamu mau 'kan? Ada yang ingin aku bicarakan dan ini sangat penting," sahut Aditya sambil sesekali melirik Adriela yang sedang duduk di sebelahnya.
Adriela menganggukkan kepalanya. "Ya, aku mau, Kak."
Setelah 15 menit kemudian, mobil yang kemudikan oleh Aditya pun tiba di Taman XX. Setelah memarkirkan mobilnya, Aditya mengajak Adriela duduk disebuah kursi taman yang memang sudah tersedia di tempat itu.
Adriela menatap Aditya yang wajahnya nampak kacau.
"Sebenarnya ada apa, Kak?" tanya Adriela sembari mengusap tangan Aditya yang menjulur di atas meja.
"Driela, aku--"
Aditya menghela napas berat kemudian meraih tangan Adriela yang sedang mengusap tangannya.
__ADS_1
"Driel, apa kamu masih ingat dengan cerita masa laluku bersama Helen?" tanya Aditya sambil menatap lekat kedua bola mata Adriela.
Adriela nampak kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Aditya. Namun, ia masih ingat bahwa Aditya pernah bercerita tentang hubungan liarnya bersama Helen. Wanita cantik yang baru saja mereka temui satu hari yang lalu.
"Ya, aku masih ingat. Memangnya kenapa, Kak?"
"Driel, Helen kembali mengacau. Kemarin ia menemuiku dan mengaku-ngaku bahwa janin yang sedang ia kandung adalah milikku," lirih Aditya.
Deg!
Bak di sambar petir, Adriela merasa sekujur tubuhnya menjadi kaku setelah mendengar penuturan lelaki itu.
"Mi-milikmu? La-lalu bagaimana denganku, Kak? Apa Kakak akan meninggalkan aku kemudian menikahinya?"
Tak terasa air mata Adriela pun meluncur begitu saja dari kedua sudut matanya. Bibirnya bergetar, tetapi ia tahan dengan mengigit bibir bawahnya.
"Wanita itu licik, Driel. Dia bisa melakukan apa saja agar keinginannya tercapai. Lagipula, aku sangat yakin seratus persen bahwa bayi itu bukan milikku," sahut Aditya sembari mengangkat kepalanya dan menatap wajah sedih Adriela.
"Ta-tapi bagaimana jika yang dikatakan oleh Helen itu benar?"
Aditya menyeka air mata Adriela yang masih meluncur di kedua pipi gadis itu kemudian berucap.
"Jika itu benar, maka aku akan bertanggung jawab pada bayi itu, tetapi aku tidak ingin menikahinya, Driel. Dan ... jika seandainya kamu tidak bisa menerima keadaanku yang seperti ini, kamu boleh meninggalkan aku."
Aditya menarik napas dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan.
Sementara itu, Ardhan dan Keyla masih di perjalanan menuju pulang dan tiba-tiba saja mata mereka tertuju pada pasangan Aditya dan Adriela yang sedang membicarakan masalah mereka di taman tersebut.
"Bukankah itu Kak Aditya dan Adriela?"
__ADS_1
Keyla menunjuk kearah pasangan itu kemudian disusul oleh Ardhan.
"Kebetulan sekali!" gumam Ardhan yang kemudian segera menepikan motornya ke tempat parkir.
"Ingat, jangan gegabah! Bicarakan lah dengan kepala dingin," ucap Keyla mencoba menenangkan Ardhan yang sudah mulai terlihat emosi.
"Ya, semoga saja aku bisa," jawab Aditya.
Setelah selesai memarkirkan motornya, pasangan Ardhan dan Keyla pun segera menghampiri meja yang sedang ditempati oleh Aditya dan Adriela.
"Bagus Aditya, sekarang apa lagi yag ingin kamu bicarakan bersama Adriela?! Apa kamu ingin Adriela menjadi korbanmu juga, sama seperti wanita itu?" Serang Ardhan tanpa basa basi.
Ardhan meraih kerah kemeja yang dikenakan oleh Aditya dan mencoba menarik lelaki itu. Namun, belum sempat terjadi apa-apa, Keyla sudah menarik kembali tubuh Ardhan agar menjauh dari Aditya.
"Ayolah, Ardhan! Bicarakanlah secara baik-baik! Masalah ini tidak akan pernah selesai, kalau kamu menyelesaikannya dengan cara kekerasan," tutur Keyla kesal.
Aditya dan Adriela yang masih dikejutkan dengan kehadiran pasangan itu hanya bisa diam dan memperhatikan ekspresi keduanya.
Ardhan mencoba menahan emosinya kemudian menghampiri Adriela.
"Kamu sudah dibohongi oleh lelaki ini, Driel! Dia tidak lebih dari seorang lelaki bejat yang suka mempermainkan wanita. Setelah wanita itu hamil, maka ia pun akan segera meninggalkannya! Apa kamu juga ingin itu terjadi pada dirimu, Driel?"
Adriela bangkit dari tempat duduknya kemudian berdiri tepat di hadapan Ardhan. "Maafkan aku, Kak. Tetapi untuk saat ini aku masih percaya sama Kak Adit," ucapnya.
"Apa?! Apa kamu sudah gila? Kamu masih saja percaya dengan lelaki ini padahal buktinya sudah ada. Disana! Seorang wanita hamil baru saja memberitahu Kakak bahwa Aditya sudah menghamilinya kemudian pergi begitu saja tanpa ingin bertanggung jawab sedikitpun."
Adriela tersenyum getir sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Duduklah dulu, Kak. Kita bisa bicarakan masalah ini secara baik-baik," tutur Adriela sembari menuntun Ardhan duduk di tempat itu bersama mereka, begitu pula Keyla.
...***...
__ADS_1