Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 8


__ADS_3

Malam menjelang.


Setelah selesai mandi, Nazia bergegas menuju kamar. Dengan handuk yang masih melilit ditubuh mungilnya, Nazia terdiam didepan lemari kayu yang berisi pakaian.


"Apa yang harus aku kenakan, ya?! Aku bahkan tidak memiliki pakaian yang bagus." gumamnya sambil menatap isi lemarinya.


Selama ini gaji yang diperoleh Nazia hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Jangankan untuk membeli pakaian yang bagus dan mahal, dapat membuat dapurnya terus mengepul pun ia sudah sangat bersyukur. Belum lagi Bi Narti yang sudah sering sakit-sakitan dan membutuhkan obat untuk mengurangi rasa sakitnya. Maklum saja karena usia Bi Narti yang sudah tidak muda lagi.


Nazia menggaruk tengkuknya, dia benar-benar bingung harus mengenakan pakaian apa untuk menyambut calon suami dan mertuanya malam ini. Hingga akhirnya, mata Nazia tertuju pada sebuah kebaya simple berwarna putih yang merupakan milik mendiang Ibunya.


Ia meraihnya kemudian menenteng kebaya tersebut. Keningnya mengkerut ketika memperhatikan kebaya itu dengan seksama. Kebaya itu memang masih sangat bagus tetapi style kebaya itu agak ketinggalan jaman.


"Ah, sudahlah! Paling-paling mereka akan menertawakan aku," gumamnya.


Tanpa pikir panjang lagi, Nazia segera mengenakan kebaya tersebut setelah mengenakan pakaian dalaman. Gadis itu memperhatikan bayangannya di cermin, ia tersenyum. Saat itu ia seakan melihat sosok Ibunya sedang berdiri di hadapannya. Ya, dirinya persis seperti Ibunya saat mengenakan kebaya tersebut.


Sebenarnya Nazia tidak pernah melihat wajah Ibunya secara langsung. Ia hanya melihatnya dari foto kenangan. Ibunda Nazia meninggal tepat di hari kelahirannya. Sedangkan Ayahnya, meninggal tiga tahun yang lalu ketika ia masih bersekolah dibangku SMA.


Kini hanya Bi Narti lah keluarga satu-satunya yang ia miliki. Bi Narti adalah Kakak dari mendiang Ayahnya yang menggantikan peran sang Ibu, merawat dan membesarkan Nazia dari lahir hingga sekarang. Bi Narti bahkan rela tidak menikah demi mengurus dirinya.


Kadang Nazia merasa sangat bersalah, karena dirinya lah, Bi Narti rela mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri demi membesarkannya.


Setelah merapikan rambut dan berdandan dengan peralatan make up seadanya, Nazia bergegas menemui Bi Narti. Saat ini, Bi Narti sedang mempersiapkan cemilan serta minuman untuk menyambut kedatangan keluarga Pak Dodi.


"Bi, bagaimana penampilan Zia? Cantik 'kan?!" ucap Nazia sambil berputar-putar memperlihatkan penampilannya malam ini.

__ADS_1


Bi Narti melepaskan cemilan yang sedang ada di tangannya kemudian meletakkannya keatas meja. Ia berbalik kemudian memperhatikan gadis cantik yang sedang tersenyum manis menatapnya.


"Nazia ..."


Tangis Bi Narti pecah, ia bergegas memeluk gadis itu serta menciumi puncak kepalanya berkali-kali. Sontak saja, reaksi Bi Narti saat itu membuat Nazia kebingungan.


"Bibi kenapa?" tanyanya.


"Bibi serasa melihat mendiang Ibumu, Nak. Ya, Tuhan! Kamu begitu mirip dengannya."


Bi Narti kembali memperhatikan penampilan Nazia sambil menyeka air mata yang masih mengalir dikedua sudut matanya.


"Bibi pasti sangat merindukan Ibu ya, Bi?" tanya Nazia.


"Ya, Nak. Bibi sangat merindukan Ibu dan Ayahmu," sahut Bi Narti lirih.


"Bu, tolonglah! Buat Ayah membatalkan pertunangan ini. Adit tidak ingin menikahi gadis itu! Tidak level!" ucap Adit kesal.


"Ibu tidak bisa, Dit! Lagipula Ibu pun setuju jika kamu menikahi Nazia. Dia gadis yang baik dia juga masih polos. Tidak seperti wanita-wanita yang sering kamu ajak main kesini," sahut Ibundanya.


"Polos atau kampungan?!"


"Terserah apa katamu saja, Dit. Ibu doakn semoga nanti kamu jatuh cinta pada Nazia hingga kamu bertekuk lutut padanya!" ucap sang Ibu sambil terkekeh meninggalkan Aditya yang masih sangat kesal diruangan itu.


"Tidak mungkin!!!" kesalnya.

__ADS_1


Aditya berjalan mengikuti langkah kaki Ibunya menuju halaman depan, dimana Pak Dodi sudah menunggu mereka.


"Mari, Dit!" ajak Pak Dodi.


Dengan wajah malas, Aditya mengemudikan mobilnya menuju kediaman Nazia. Walaupun kesal dan sangat tidak menginginkan perjodohan ini, tetapi ia tidak berani membantah keinginan sang Ayah.


"Kamu tenang saja, Dit. Ayah yakin, setelah menikah, kamu pasti bisa menerima Nazia, ya 'kan, Bu?" ucap Pak Dodi sembari menoleh kepada sang Istri.


"Ayahmu benar, Dit."


Aditya memutarkan kedua bola matanya tanpa berkeinginan menjawab ucapan Ayahnya.


"Heh, tidak mungkin aku bisa jatuh cinta pada seorang gadis kampung seperti dirinya! Ya, Tuhan! Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang kantor jika mereka tahu bahwa aku menikahi gadis miskin, tidak berpendidikan serta kampungan seperti dirinya? Aku yakin sekali mereka pasti akan menertawakan diriku! Seorang Asisten Pribadi Danish Armani Putra harus menikahi gadis kampungan! Apalagi jika Tuan Danish tahu, mau diletakkan dimana wajahku yang keren ini?!" batinnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Aditya pun tiba didepan rumah sederhana milik Bi Narti. Dengan gemetar, Bi Narti menghampiri pintu setelah mendengar suara mobil yang berhenti tepat didepan rumahnya.


Bi Narti menyunggingkan sebuah senyuman hangat untuk menyambut kedatangan keluarga Pak Dodi. Begitupula Pak Dodi dan sang Istri, mereka pun terlihat sangat bahagia ketika Bi Narti menyambut kedatangan mereka.


"Silakan masuk, Pak, Bu," ucap Bi Narti.


"Terima kasih," sahut Pak Dodi dan sang Istri secara bersamaan.


"Silakan masuk, Nak Aditya," sambut Bi Narti.


Jangankan memjawab ucapannya, lelaki itu melengos masuk dengan wajah menekuk.

__ADS_1


Bi Narti terdiam sambil menatap punggung Aditya yang berjalan menghampiri kursi yang ada di ruangan itu.


...***...


__ADS_2