Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 33


__ADS_3

"Selamat pagi, Tuan Danish," sapa Aditya kepada Danish yang baru saja tiba di ruangannya. Padahal saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 09.30.


"Ya, selamat pagi."


Danish tersenyum kecut menatap Aditya. Danish agak malu karena ini pertama kalinya ia datang terlambat. Namun, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Wajahnya terlihat berseri-seri dan membuat Aditya penasaran ingin tahu apa yang membuat Bossnya itu nampak bahagia.


"Sepertinya Anda sedang bahagia, Tuan Danish," ucap Aditya sambil tersenyum hangat menatap lelaki itu.


"Ya, Aditya. Aku sangat bahagia hari ini karena Tuhan memberikan kebahagiaan yang komplit kepadaku," jawabnya.


"Benarkah, Tuan. Wah, syukurlah. Saya ikut senang mendengarnya."


"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah, Aditya. Aku senang sekali dan rencananya aku ingin mengadakan syukuran disini dan berbagi sedikit rejeki untuk para karyawan," tutur Danish dengan wajah semringah.


Sontak, Aditya terdiam. Ia tidak menyangka bahwa Nazia sekarang sedang hamil. Penyesalan terdalamnya kembali menyeruak. Ia menyesal karena tidak menuruti kata-kata kedua orang tuanya. Seandainya ia mengikuti kata-kata Ayah dan Ibunya, mungkin ia juga akan merasakan kebahagian yang sama, seperti yang sedang dirasakan oleh Danish.


"Selamat ya, Tuan. Semoga Nona Nazia dan bayi kalian sehat selalu hingga lahiran nanti," ucapnya.


"Amin."


Baru saja Danish ingin memulai pekerjaannya, ia kembali teringat akan permintaan Asistennya itu.


"Oh ya, Dit. Tadi malam aku sudah bicara sama Istriku soal permintaan maafmu," ucap Danish sembari memperhatikan ekspresi Aditya saat itu.


"Lalu?"


Wajah Aditya mendadak tegang. Ia yakin bahwa Nazia tidak akan pernah mau menemuinya, apalagi memaafkan kesalahan yang sudah dilakukannya selama ini.

__ADS_1


"Istriku bersedia menemuimu asalkan kamu benar-benar tulus ingin meminta maaf kepadanya."


"Ya, Tuan. Saya tulus ingin meminta maaf kepada Nona Nazia," jawab Aditya dengan sangat antusias.


"Baiklah, kamu bisa menemui kami malam ini. Aku dan Nazia akan menunggu kedatanganmu,"


. . .


Sore menjelang, Danish bersiap pulang ke rumahnya. Ia sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan sang Istri yang kini sedang mengandung anaknya.


"Pak Ahmad, nanti mampir ke toko bunga di perempatan jalan, ya. Aku ingin membelikan bunga untuk Isteriku," ucap Danish dengan wajah semringah.


"Baik, Tuan."


Setelah Danish duduk santai di jok belakang, Pak Ahmad pun segera melajukan mobilnya memecah jalan raya. Begitupula Aditya, ia baru saja tiba di tempat parkir dan segera memasuki mobilnya.


"Mungkinkah dia korban baru Helen?" gumam Aditya sambil tersenyum tipis.


Walaupun ia dan Helen tidak memiliki hubungan apapun lagi. Namun, rasa cemburu itu masih ada. Karena bagi Aditya, melupakan seseorang yang begitu ia cintai tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.


Tidak berselang lama, lelaki itupun keluar dari dalam mobilnya. Nampaklah seorang lelaki dengan kepala pelontos, berperut buncit dan mungkin lebih cocok menjadi seorang Ayah dibanding menjadi seorang kekasih untuk Helen.


Lelaki itu membukakan pintu mobil mewahnya untuk Helen dan Helen pun segera memasuki mobil mewah tersebut dengan wajah semringah.


"Ya Tuhan, Helen! Apapun kamu lakukan demi uang! Apakah kamu tidak jijik bermesraan dengan lelaki seperti itu? Lelaki yang lebih pantas menjadi seorang Ayah dari pada seorang kekasih," gumam Aditya


Setelah Helen dan lelaki itu pergi, Aditya pun bergegas menuju kediamannya.

__ADS_1


. . .


Tidak berselang lama, Danish pun tiba di kediamannya. Ia bergegas berjalan menuju kamarnya dan ketika melewati ruang utama, ternyata seluruh keluarganya sedang berkumpul disana, termasuk Nazia.


"Wah! Kalian curang! Apa aku masih di sisakan sedikit? Aku 'kan juga pengen," seru Danish ketika menyaksikan seluruh keluarganya sedang menikmati es kelapa muda di ruangan itu.


"Tenang saja, Mas. Nih," jawab Nazia sembari menenteng secangkir es kelapa muda untuk suaminya.


Danish segera menghampiri Nazia dan duduk disampingnya. Ia meraih gelas yang diserahkan oleh Nazia kemudian menghisapnya dengan menggunakan sedotan.


"Wah, nikmat sekali. Pantas saja Nazia sampai menangis gara-gara tidak bisa menikmati es kelapa muda ini," goda Danish sambil terkekeh pelan.


Wajah Nazia memerah menahan malu kemudian memukul pelan lengan Danish. "Ih, Mas. Nazia 'kan jadi malu," gumam Nazia pelan.


"Ya, sudah. Maafkan Mas," ucap Danish sembari menyerahkan satu buket bunga mawar yang baru ia beli dari toko bunga di perempatan jalan kepada Nazia.


"Cieee ... yang bakal jadi Ayah, so sweet banget!" goda Danisha.


"Kak Danish jahat! Buat Keyla mana? Apa Kak Danish tahu, yang berkeliling mencari buah kelapa segar yang langsung di petik dari pohon ini siapa?" ketus Keyla


"Siapa?!" tanya Danish


"Keyla, tau ih!" jawab Keyla sambil menekuk wajahnya.


"Ya sudah, sini! Kakak kasih ciuman aja, ya!" ucap Danish sembari mencium puncak kepala Keyla.


...***...

__ADS_1


__ADS_2