Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 21


__ADS_3

"Aditya benar-benar sudsh berubah, Pak! Selama ia berhubungan dengan wanita itu, sifatnya semakin tidak terkendali. Ia sudah membuat malu Nazia dan Bu Narti, tetapi seolah tidak berdosa, ia malah asik menghabiskan waktunya bersama wanita tidak benar itu!" kesal Bu Radia yang masih terisak hingga di dalam mobilnya.


"Sekarang kamu tahu 'kan kenapa aku sangat menentang hubungan Aditya dengan wanita itu. Dilihat dari penampilannya saja, sudah terlihat jelas, wanita itu bukan wanita baik-baik," sahut Pak Dodi sambil mendengus kesal.


Tiba-tiba saja ponsel Pak Dodi berdering. Ia meraih ponselnya kemudian menerima panggilan itu.


"Ya?"


Pak Dodi mendengarkan seseorang yang sedang bicara di seberang telepon dengan seksama.


"Benarkah? Tapi, siapa lelaki itu?!"


Pak Dodi kembali terdiam dan mendengarkan.


"Danish Armani Putra? Kamu serius?!"


Bu Radia terheran-heran menyaksikan Suaminya yang terlihat sangat serius menerima panggilan itu. "Siapa sih, Pak?" tanya Bu Radia setelah Pak Dodi memutus panggilan itu.


"Bu, ternyata pernikahan Nazia kemarin masih berlanjut. Ada seseorang yang bersedia menggantikan posisi Aditya. Ibu mau tau, siapa lelaki hebat yang sudah menggantikan posisi Aditya?"


"Siapa, Pak?"


"Danish Armani Putra, anak laki-laki Keanu yang kini menjadi atasan Anakmu, Aditya!" sahutnya.


"Ya, Tuhan!" seru Bu Radia dengan mata membulat.


Sementara itu di kediaman Keanu.


"Kak Danish, Kakak ipar cantik, ya," ucap Keyla sambil berbisik kepada Danish yang duduk di sampingnya.


Danish tersenyum kepada Keyla kemudian mengacak pelan puncak kepala gadis itu. "Pilihan Kakak pasti cantik," sahutnya.


"Sebaiknya ajak Nazia beristirahat, Danish. Kasihan dia, dia pasti sangat lelah," titah Naila.

__ADS_1


"Mami benar, sebaiknya kita istirahat."


Danish meraih tangan Nazia kemudian menuntunnya menuju kamar Danish. Tangan Nazia gemetar ketika Danish menuntunnya. Danish bahkan dapat merasakannya.


"Tanganmu gemetar, Nazia."


"Maaf, Mas. Nazia gugup," sahut Nazia.


Jawaban Nazia membuat Danish terkekeh. Setibanya di dalam kamar, Danish meraih tas lusuh milik Nazia dan meletakkannya ke dalam lemari pakaian. Ia juga meraih sebuah benda berbentuk kotak berwarna merah yang akan ia berikan untuk istrinya itu.


Nazia masih terdiam sambil memperhatikan sekeliling ruangan bernuansa maskulin itu dengan mata membulat. Danish menghampiri gadis itu kemudian menuntunnya duduk di tepian tempat tidur.


"Aku punya sesuatu untukmu dan semoga saja kamu menyukainya, Nazia."


Danish mengeluarkan benda berbentuk kotak persegi berwarna merah. Ia membuka kotak tersebut dan nampaklah sebuah cincin emas bertahtakan berlian yang sangat cantik.


"Wah, cincinnya cantik sekali, Mas! Ini beneran untuk Nazia?" tanya Nazia sambil membulatkan matanya karena tidak percaya.


"Ya, ini untukmu."


"Bolehkah aku melepaskan cincin ini dari jari manismu?" tanya Danish sambil menatap lekat kedua bola mata indah Nazia.


Nazia menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Tentu saja, Mas. Lagipula Zia pun sudah tidak ingin mengenakan cincin ini lagi."


Setelah mendapatkan izin dari Nazia, Danish pun segera melepaskan cincin emas milik Aditya dari jari manis gadis itu. Danish menggantikan cincin itu dengan cincinnya dan kebetulan sekali ukurannya sangat pas.


"Wah, ukurannya pas, Nazia."


Danish tersenyum lebar sambil memperhatikan cincin berlian yang kini melingkar di jari manis Nazia. Tanpa Danish sadari, gadis itu sedang terisak.


"Nazia, kamu kenapa? Apa aku menyinggung perasaanmu? Atau aku menyakiti jari manismu ketika memasangkan cincin itu? Katakan Nazia?!" tanya Danish panik ketika mengetahui bahwa istrinya sedang terisak.


"Bukan, Mas. Bukan itu, tapi ...," lirihnya sambil menyeka air mata.

__ADS_1


"Lalu apa?" Danish masih panik, ia terus memperhatikan wajah cantik Nazia yang semakin menggemaskan ketika gadis itu menangis.


"Ini pertama kalinya Zia memiliki cincin seindah ini, Mas."


Danish terkekeh, ia meraih tubuh Nazia kemudian memeluknya dengan erat. "Ya, ampun Zia sayang. Aku sudah panik setengah mati melihat kamu menangis seperti itu. Aku janji, setelah ini kamu akan punya banyak perhiasan cantik yang bisa kamu kenakan sesuka hatimu," tutur Danish.


"Ya, sudah. Sekarang kamu beristirahatlah, aku ingin mandi dulu sebentar," sambung Danish sembari melerai pelukannya.


Danish bangkit kemudian melepaskan kancing kemeja yang ia kenakan, satu persatu hingga kancing itu terlepas semua. Kemeja itu akhirnya terlepas dari tubuh Danish dan nampaklah tubuh berotot dengan kulit putih bersih persis seperti Maminya.


Nazia membulatkan matanya sambil memperhatikan tubuh kekar laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya itu.


"Ya, Tuhan! Aku tidak berdosa 'kan karena sudah berani menyaksikan tubuh indah itu?" gumamnya setelah Danish memasuki kamar mandi.


Tidak berselang lama, Danish pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat lebih segar. Lelaki itu kembali tersenyum kepada Nazia yang ternyata masih duduk di tepian tempat tidur.


Danish kembali menghampiri Nazia kemudian membelai wajah gadis itu. Wajah Nazia memucat, ia benar-benar gugup ketika Danish menghampirinya tanpa pakaian, hanya sebuah handuk kecil yang melilit di pinggangnya untuk menutupi area pribadi lelaki itu.


"Apa kamu siap menjadi istriku sepenuhnya, Nazia?" tanya Danish yang semakin dekat dengannya.


"Tapi Zia takut, Mas. Kata teman-teman yang sudah menikah, malam pertama itu menyakitkan," lirih Nazia.


Tubuh Zia gemetar karena gugup sekaligus ketakutan. Apalagi ketika melihat gundukan besar yang tersembunyi dibalik handuk kecil itu.


"Aku berjanji akan melakukannya dengan perlahan dan jika kamu menyerah, maka aku akan menghentikannya," tutur Danish dengan sangat lembut.


Nazia tahu, jika ia menolak permintaan Danish yang kini sah menjadi suaminya maka dia akan berdosa.


Perlahan Nazia menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Mas. Zia bersedia, tapi jika Zia sudah tidak tahan, jangan paksa Zia untuk terus melanjutkannya, ya?" ucap Nazia.


"Ya, aku berjanji."


...***...

__ADS_1


Un boxing nya lanjut besok aja ya, hi hi


__ADS_2