Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Rumah Sakit


__ADS_3

Akhirnya Adnan tiba didepan ruangan dimana Arumi masih dirawat. Adnan sangat terkejut ketika mengetahui kondisi Arumi saat itu. Gadis itu masih tidak sadarkan diri dengan beberapa alat medis yang tertancap di tubuhnya.


Tubuh kurusnya semakin jelas terlihat ketika wanita itu terbaring lemah diatas tempat tidur pasien dengan wajah yang begitu pucat.


Nyonya Rahma masih setia duduk disamping tempat tidurnya dengan mata sembab. Air matanya tiada henti keluar walaupun tak ada lagi isak tangis yang terdengar dari bibirnya.


Adnan masih terdiam. Ia ragu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu. Rasa bersalahnya semakin besar kepada Arumi. Ia jadi teringat akan perlakuan kasarnya selama ini kepada gadis itu. Bagaimana dia menghardik, menghina bahkan dia tidak segan memperlakukan Arumi bagai seorang wanita yang tidak memiliki perasaan sama sekali.


"Apa Tuan tidak ingin masuk?"


Adnan sontak terkejut saat mendengar suara seorang wanita yang sedang menyapanya. Adnan berbalik dan ternyata seorang Dokter wanita sudah berada dibelakangnya sambil tersenyum hangat.


"Ehm iya, Dok. Mungkin setelah ini saya akan masuk," sahut Adnan sembari menggaruk kepalanya.


Dokter itu kembali tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya memasuki ruangan dimana Arumi masih tergolek lemah. Selang beberapa saat, Dokter itupun kembali keluar.


"Ehm, Dokter. Boleh saya minta waktunya sebentar?" tanya Adnan sembari menghampiri Dokter tersebut.


Dokter itu berbalik sambil tersenyum kepada lelaki yang baru saja menyapanya. "Ya. Tentu saja, Tuan."


"Ehm, sebenarnya Arumi menderita penyakit apa, Dok? Apakah penyakitnya parah?" tanya Adnan


Dokter itu terdiam sambil menatap Adnan lekat. Dokter itu tahu bawa Adnan adalah suami dari Arumi karena Dokter itu hadir disaat pernikahan mereka dilangsungkan. Ia bingung seorang Adnan malah tidak tahu apa yang diderita oleh Istrinya selama ini.


"Nona Arumi memiliki riwayat Penyakit Paru Obstruktif Kronis sejak ia masih remaja. Namun, sekarang kondisinya sudah semakin memburuk dan harus segera di operasi." ucap Dokter.


Adnan semakin terpukul ketika mendengarnya. "Kapan operasinya dilaksanakan, Dok?"


"Secepatnya,"

__ADS_1


Adnan berbalik kemudian berjalan menghampiri ruangan Arumi dirawat. Ia begitu shok setelah mendengar penuturan sang Dokter. Ia bahkan melupakan Dokter yang tadi ia ajak bicara. Dokter itu hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis kemudian pergi meninggalkan Adnan sendiri disana.


Adnan menatap Arumi dari balik kaca. Wajah pucat Arumi seolah menggambarkan bagaimana penderitaan gadis itu selama ini. Tak terasa air mata penyesalan itupun mengalir dari kedua sudut matanya. "Maafkan aku, Arumi," lirih Adnan.


Tiba-tiba Nyonya Rahma menyadari kehadiran Adnan ditempat itu. Ia bergegas keluar dari ruangan Arumi kemudian berjalan menghampiri lelaki itu.


"Untuk apa lagi kamu kemari? Masih belum puas menyakiti anakku?" hardik Nyonya Rahma dengan wajah memerah menatap Adnan.


"Bu, maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu bahwa Arumi selama ini ..."


"Apa?! Arumi penyakitan?! Memangnya jika Arumi tidak penyakitan kamu bisa memperlakukan dirinya sesuka hatimu, begitu?!"


"Tidak, Bu. Bukan begitu maksud saya,"


Adnan tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Ia memang salah dan apa yang dikatakan oleh Nyonya Rahma itu benar. Tidak sepatutnya ia memperlakukan Arumi sesuka hatinya.


"Maafkan saya," lirih Adnan dengan wajah tertunduk menatap lantai. Ia sudah tidak sanggup membalas tatapan Nyonya Rahma.


Adnan masih tertunduk lesu. Ia pasrah dan siap menerima apapun yang akan Nyonya Rahma lakukan kepadanya.


"Ya, Adnan. Apa yang kamu ucapkan kepada Arumi itu memang benar. Arumi memang gadis manja dan sering merengek kepadaku. Tapi, apa kamu tau yang sering ia keluhkan kepadaku? Rasa sakitnya, Adnan! Penyakitnya!" Nyonya Rahma tidak sanggup menahan kesedihannya lagi. Tangisnya kembali pecah diruangan itu.


"Maafkan saya, Bu. Berilah saya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya. Saya akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan saya terhadap Arumi," lirih Adnan dengan wajah sendu menatap Nyonya Rahma.


Nyonya Rahma menyeka air matanya sambil menggelengkan kepalanya. "Baiklah, aku akan memaafkan dirimu. Kemarilah ..."


Nyonya Rahma menarik tangan Adnan dan menuntunnya memasuki ruangan Arumi. Kini mereka berdiri tepat didepan tempat tidur pasien, dimana Arumi masih berbaring tak sadarkan diri.


"Aku akan memaafkan dirimu jika kamu bisa membangunkan Arumi dan mengembalikan dirinya sama seperti dulu. Ayo, lakukan! Bangunkan dia dan ajaklah dia pulang bersamamu!" ucap Nyonya Rahma sembari menunjuk kearah Arumi.

__ADS_1


Adnan tidak bisa melakukan apa-apa, hal itu mustahil dapat ia lakukan. Tak terasa airmata penyesalan itu kembali tumpah untuk kedua kalinya.


"Kenapa, Adnan? Kamu tidak bisa melakukannya, 'kan?"


Nyonya Rahma tersenyum sinis. Ia berjalan menghampiri nakas kemudian meraih beberapa lembar tissue yang ada diatas nakas tersebut. Setelah itu Nyonya Rahma kembali menghampiri Adnan dan menyerahkan tissue itu kepadanya.


"Seka air matamu. Tidak ada gunanya kamu tangisi Arumi saat ini. Sebaiknya kamu pulang dan urus surat perceraian kalian," ucap Nyonya Rahma sambil menunjuk kearah pintu.


"Tapi, Bu ..." lirih Adnan.


"Pulanglah, sebelum kesabaran ku benar-benar habis." Nada bicara Nyonya Rahma terdengar pelan namun tegas. Ia kembali menunjuk kearah pintu dan berharap Adnan segera keluar dari ruangan itu.


Dengan berat hati, Adnan pun melangkah gontai meninggalkan ruangan itu. Sesekali ia berbalik dan menatap tubuh Arumi yang masih tergolek lemah. Ia benar-benar menyesal dan ini merupakan penyesalan terdalam yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.


Dreett ... dreett ...


Ponsel Adnan bergetar. Ia segera merogoh saku celana yang sedang ia kenakan dan meraih ponselnya. Adnan memperhatikan layar ponsel tersebut sambil membersihkan sisa air mata yang masih menggenang di pelupuk matanya.


"Ya, Tante?"


Adnan menerima panggilan dari Tante Mira sambil melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.


"Adnan, kamu kemana aja? Tante sudah menunggumu sejak tadi pagi!" ucap Tante Mira dari seberang telepon.


"Ehm, iya maafkan Adnan. Adnan lagi ada masalah, Tante. Nanti akan Adnan ceritakan semuanya sama Tante," lirih Adnan.


"Ada masalah apa, Adnan? Katakan sama Tante dan jangan buat Tante penasaran!" Tante Mira panik, apalagi setelah mendengar nada bicara Adnan yang terdengar tidak bersemangat.


...***...

__ADS_1


Buat Reader baru yang ingin membaca kelanjutan cerita Adnan dan Arumi. Tungguin aja ya, pasti di Up terus kok tiap harinya, sampai benar-benar tamat. 😍😍😍


Dan kalau ketemu typo yang tidak bisa dimaklumi, kasih tau Author di komentar ya, nanti Author revisi lagi, thank you 😘😘😘


__ADS_2