Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Adnan Vs Ivan


__ADS_3

"Ayolah, Nai. Senyum lah sedikit!" seru Tya karena melihat Naila terus menekuk wajahnya. Tya terus menuntun Naila hingga memasuki kediaman Ivan. Sedangkan Ivan terus melangkahkan kakinya mengikuti kedua gadis itu.


Dan ternyata benar, diruang tengah, banyak anak-anak lain seusia mereka berkumpul disana sambil bercengkrama. Dengan ditemani alunan musik bernada cepat, mereka menikmati beberapa hidangan yang sudah tersedia diatas meja.


Ketika Naila berada diruangan itu, semua mata tertuju padanya. Mereka menatap Naila dengan berbagai macam ekspresi. Ada yang terlihat senang ketika melihatnya, ada yang biasa-biasa saja,dan ada yang pula yang terlihat tidak suka dan ada banyak diantara mereka yang berbisik-bisik membicarakan dirinya.


Hal itu membuat Naila jadi minder dan ingin segera pergi dari ruangan itu. Namun, Tya terus memegang tangannya dengan erat. "Sudahlah, Nai. Jangan malu-malu, kami tidak akan mengganggu kamu, kok!" ucap Tya sambil tersenyum kepada Naila.


Akhirnya Naila pun ikut pesta kecil-kecilan ala mereka, walaupun sebenarnya ia benar-benar tidak menikmati pesta itu. Naila hanya diam disepanjang acara dan terlihat sangat tidak nyaman.


Ivan menyadari ketidaknyamanan Naila kemudian memerintahkan Tya untuk mengajak gadis itu ke ruangan lain. Dan Tya pun menurut saja, ia mengajak Naila ke ruang lain, dimana hanya ada dia dan Naila.


"Aku kecewa sama kamu, Tya. Seandainya kamu bilang kita akan ketempat ini, aku pasti akan menolaknya," ungkap Naila kesal.


"Dan aku juga tahu, Nyonya Mira tidak akan memberikan ijin kepadaku jika aku berkata jujur. Ini semua karena permintaan Ivan, aku bahkan tidak punya keinginan untuk mengajak mu!" sahut Tya tidak mau kalah.


Kedua gadis itu duduk dengan posisi saling membelakangi. Wajah mereka sama-sama menekuk karena kesal. Hingga akhirnya Ivan masuk ke ruangan itu dan memerintahkan Tya untuk mengambil cemilan dan minuman untuk mereka bertiga.


"Tya, ambil beberapa cemilan dan minuman dingin, untuk kita menikmati disini," ucap Ivan.


"Baiklah," Tya pun segera keluar dari ruangan itu. Kini tinggal Naila dan Ivan yang terus menatapnya sambil tersenyum hangat.


Perlahan Ivan menghampiri Naila dan duduk disampingnya. Naila kembali merasa risih. Ia takut Ivan berbuat tidak senonoh kepadanya. Dan ternyata benar, Ivan mulai menyentuh tubuhnya dan menatapnya dengan tatapan nakal.


"Apa yang kamu lakukan, Ivan! Jangan sentuh aku!" hardik Naila seraya menjauh darinya.


"Oh, ayolah Naila. Jangan sok jual mahal begitu!" ucap Ivan,


"Jangan mendekatiku, Ivan! Atau aku akan berteriak!" ancamnya

__ADS_1


"Ruangan ini kedap suara, Naila. Berteriaklah sekeras mungkin, tidak akan ada yang mendengar teriakan mu. Lebih baik turuti saja keinginan ku dan aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhan mu. Kamu tidak perlu lagi bekerja sebagai Pelayan dirumah itu. Jadilah kekasih ku dan turuti keinginan ku, maka kebutuhan mu akan terjamin. Memangnya berapa sih mereka menggaji mu? 1 juta? 2 juta? Heh, aku bahkan bisa memberi mu 5 juta perbulan!" ucap Ivan dengan angkuhnya sambil melepaskan pakaiannya hingga terlihat perut six pack miliknya.


"Aku jijik sama kamu," balas Naila sambil menghindar dari Ivan yang terus menghampirinya.


"Apa kamu bilang, Kamu jijik padaku?! Berani sekali kamu, memangnya kamu siapa! Dasar Pelayan sombong, belagu sekali kamu!" hardik Ivan seraya menangkap tubuh mungil Naila kemudian memeluknya dengan kasar hingga Naila tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi.


"Ku mohon, Ivan. Jangan lakukan itu! Saat ini aku tengah mengandung, jadi ku mohon jangan sakiti aku. Aku tidak ingin bayiku kenapa-napa," lirih Naila sambil memohon,


Ivan sangat terkejut mendengar pengakuan Naila bahwa ia sedang hamil. Dan kesempatan itu digunakan Naila untuk melarikan diri dari Ivan.


Baru saja Naila berlari menuju pintu, pintu sudah terbuka dengan keras. Nampak Adnan berdiri didepan pintu dengan wajah memerah. Adnan bergegas menghampiri Naila yang ketakutan kemudian mengamankannya. Setelah Naila aman, Adnan segera menghampiri Ivan yang masih terdiam.


Bugkh!!!


"Dasar bajingan, apa yang kamu lakukan padanya!" Adnan meluncurkan sebuah tinju tepat di pipi Ivan.


"Ambil saja wanita itu! Menjijikan, dia bahkan sudah hamil!" hardik Ivan,


Adnan semakin meradang mendengar ucapan Ivan, "Kalau dia hamil, memang kenapa?!"


Adnan ingin mendaratkan sebuah tamparan sekali lagi ke wajah Ivan. Namun, Naila menahannya. "Sudahlah, Tuan. Sebaiknya kita pulang," ajak Naila.


"Akan ku laporkan kamu!" ucap Ivan dengan wajah kesal seraya menjauhi Adnan dan Naila.


Adnan menghembuskan napas kasar. "Laporkan saja! Aku sama sekali tidak takut!" sahut Adnan,


Setelah itu, Adnan segera melangkah keluar dari sana sambil menuntun Naila. Naila begitu shok, kejadian ini kembali mengingatkannya pada kejadian buruk yang pernah menimpanya.


Sedangkan Tya, ia mengikuti langkah kaki Adnan dari belakang. Ia nampak ketakutan sekaligus menyesal karena sudah menuruti keinginan Ivan mengajak Naila ke pesta itu bersamanya.

__ADS_1


Adnan menuntun Naila hingga masuk kedalam mobilnya dan disusul oleh Tya. Setelah itu, Adnan segera melajukan mobilnya kembali ke kediaman Tante Mira.


Disepanjang perjalanan keheningan terjadi diantara mereka bertiga. Naila hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya sedangkan Tya, ia begitu cemas. Ia tahu bahwa ia sedang dalam masalah besar dan pekerjaan Ibunya kini sedang berada diujung tanduk akibat perbuatannya.


Setibanya di kediaman Tante Mira, Adnan bergegas menuntun Naila menuju kamarnya. Tante Mira sangat terkejut ketika menyaksikan Naila kembali bersama Adnan. Apalagi saat itu Naila masih shok dengan kejadian yang baru saja dia alami.


"Adnan, Naila kenapa?" tanya Tante  Mira panik.


"Nanti Adnan ceritakan," sahut Adnan tanpa menghentikan langkahnya. Setibanya dikamar, Naila segera beristirahat. Sedangkan Adnan kembali ke ruang tengah kemudian menceritakan semua kejadian itu kepada Tante Mira.


"Tya!!!" seru Tante Mira dengan setengah berteriak. Ia begitu kesal dengan gadis itu karena sudah berani berbohong padanya.


Mendengar teriakan Nyonya Mira, Tya dan Bi Arti segera menghampiri majikannya tersebut dengan wajah cemas. Tya sudah memgakui semua kesalahannya kepada Bi Arti. Dan Bi Arti benar-benar marah, ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi saking kesalnya dengan prilaku Tya.


"Astaga, Tya?! Aku benar-benar tidak menyangka ternyata kamu berani membohongi ku! Beruntung Adnan tiba tepat waktu, terlambat satu jam saja, lelaki itu pasti sudah berhasil berbuat tidak senonoh kepada Naila!" kesal Tante Mira


Tya menangis terisak sambil berlutut dihadapan Tante Mira dan juga Adnan. "Maafkan saya, Nyonya. Saya pun tidak menyangka ternyata Ivan akan berbuat senekat itu kepada Naila," ucap Tya sambil memasang wajah memelas.


Tante Mira menghembuskan napas kasar sambil menatap Tya yang masih bersimpuh di hadapannya. Seandainya saja ia tidak mengingat jasa-jasa Bi Arti, mungkin ia tidak akan pernah memaafkannya.


"Baiklah, aku maafkan kesalahan mu. Namun setelah ini kamu tidak boleh mendekati Naila lagi!" ucap Tante Mira


"Baik, Nyonya. Saya berjanji," sahut Tya.


Tante Mira memutarkan bola matanya kemudian pergi dari ruangan itu. Ia melangkah dengan cepat menuju kamar Naila.


Perlahan Tante Mira membuka pintu kamar Naila dan terlihat gadis itu tengah menangis lirih sambil memeluk perutnya.


Tante Mira menghampiri Naila kemudian memeluk tubuh mungilnya. "Maafkan aku, Naila. Seandainya aku tahu ada maksud tersembunyi dibalik ajakan Tya, mungkin aku tidak akan pernah membiarkan ia membawa mu bersamanya," ucap Tante Mira.

__ADS_1


__ADS_2