
Sementara itu di kediaman Tante Mira.
Naina tengah bersiap-siap di kamarnya. Ia mengenakan pakaian serba tertutup dengan pashmina yang membalut kepalanya.
Naila memperhatikan penampilannya saat itu di cermin. Ia tersenyum sembari mengelus lembut perutnya yang sudah mulai bergerak-gerak.
"Baik-baik disana ya, Dede-dedenya Mama. Tunggu beberapa bulan lagi, kita akan berjumpa," gumam Naila.
Setelah puas mengajak perut buncitnya bermain, Naila pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju ruang tengah, dimana Tante Mira sudah menunggunya.
Setibanya di ruang tengah, Naila melihat Tante Mira tengah asik bicara dengan ponselnya. Wajahnya menekuk dan mulutnya terus saja mengoceh.
"Ya, sudah! Aku akan segera kesana!" kesalnya sembari memutuskan sambungan ponselnya.
Naila menghampiri Tante Mira kemudian duduk disampingnya. "Tante kenapa?" tanya Naila ketika memperhatikan wajah Tante Mira yang sedang kesal.
"Itu loh, Nai. Salah satu karyawan di Restoran Tante, kabur. Ia bahkan kabur dengan membawa uang milik Restoran. Ish, kesal, Tante!" gerutu Tante Mira, masih memperhatikan layar ponselnya.
"Maafkan Tante, Naila. Sepertinya Tante gak bisa ikut berkunjung ke makam Ibumu untuk hari ini. Tapi jika kamu masih ingin pergi juga, kamu bisa minta antar sama Pak Sopir. Nanti Tante suruh dia untuk menjagamu," sambung Tante Mira sembari menatap Naila yang hanya terdiam sejak tadi.
Naila sempat berpikir untuk membatalkan kunjungan ke makam Ibunya. Namun, ia sudah tidak bisa menahan rindunya lagi. Dan akhirnya Naila pun mengangguk kan kepalanya pelan.
"Baiklah, Tante. Kalau begitu Naila akan pergi bersama Pak Sopir saja," sahut Naila.
Tante Mira pun tersenyum sembari mengusap pipi Naila dengan lembut. "Ya, sudah. Hati-hati ya, Sayang! Tante harus segera mengurus masalah yang sedang terjadi di Restoran Tante. Dan setelah semuanya selesai, Tante akan secepatnya pulang, kok!" Tante Mira bangkit kemudian melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Naila.
"Dah, Tante!" Naila melambaikan tangannya kepada Tante Mira yang melangkah menjauhinya.
"Dah!" balas Tante Mira.
Tente Mira berjalan menuju halaman depan kemudian menghampiri mobilnya. "Pak, antar aku ke Restoran, ya!" ucap Tante Mira sembari masuk kedalam mobilnya.
"Baik, Nyonya!" sahut Pak Sopir.
__ADS_1
Setelah mobil yang ditumpangi oleh Tante Mira melesat meninggalkan kediamannya, tak berselang lama, Naila pun keluar dan menghampiri Sopir kepercayaan Tante Mira.
"Pak, ayo berangkat!" ucap Naila.
Pak Sopir itupun bergegas menuju kursi kemudi kemudian segera melajukan mobilnya menuju tempat pemakaman umum, yang terletak lumayan jauh dari kediaman Tante Mira.
"Kenapa Nyonya Mira tidak jadi ikut, Non?" tanya Pak Sopir.
"Tante ada urusan mendadak yang harus segera ia urus, Pak!" sahut Naila.
Tanpa Naila sadari, mobilnya diikuti oleh sebuah mobil mewah berwarna hitam. Yang tidak lain adalah Sid dan Keanu. Mobil yang sengaja Keanu beli agar Naila dan seluruh keluarganya tidak curiga.
Lelaki itu mengintai keberadaan Naila dari kejauhan. Para penjaga keamanan yang berjaga di samping pagar pun, sama sekali tidak merasa curiga dengan keberadaan mobil tersebut. Mereka mengira mobil itu adalah milik tetangga sebelah rumah.
Dan ketika mereka melihat Naila masuk kedalam mobil tersebut, merekapun segera membuntutinya.
Naila terus memperhatikan mobil itu dan iapun mulai merasa curiga. "Pak, sepertinya mobil dibelakang kita sedang mengikuti kita, atau hanya perasaanku saja, ya?" tanya Naila.
Pak Sopir melirik mobil tersebut dari kaca spionnya. "Masa sih, Non. Perasaan Non aja kali," sahut Pak Sopir.
Sementara itu di mobil Keanu.
"Sid, sebaiknya kita jaga jarak! Aku takut mereka curiga," ucap Keanu, ia terus menatap mobil yang ditumpangi oleh Naila tanpa berkedip sedikitpun. Ia takut kehilangan kesempatan emasnya untuk menemui istri pertamanya itu.
"Baik, Tuan! Dan sepertinya mereka memang sudah mulai curiga," sahut Sid.
Sid menurunkan kecepatan mobilnya dan membiarkan mobil yang ditumpangi oleh Naila melaju jauh didepan mereka.
"Awas, jangan sampai kehilangan jejak mereka! Jika tidak, maka akan ku pangkas habis gajimu!" ancam Keanu dengan wajah serius.
Sid terkekeh pelan setelah mendengar ucapan Keanu. Ini pertama kalinya ia mendengar Big Bossnya itu mengancamnya. Dan hal itu hanya karena ia menggebu-gebu ingin bertemu dengan sang pujaan hati.
"Heh, Sid! Sebenarnya Naila ini ingin kemana sih? Dan dia terlihat sangat cantik, Sid. Apa kamu lihat tadi, ketika ia memasuki mobilnya?!" ucap Keanu sembari menepuk pundak Sid yang masih fokus pada kemudinya.
__ADS_1
"Ya, Tuan! Nona Naila terlihat sangat cantik," sahut Sid.
Keanu menghembuskan napas berat dan ekspresi wajahnya pun mulai berubah menjadi lebih sendu dari sebelumnya.
"Apa Naila bersedia memaafkan aku? Atau ia malah lari terbirit-birit setelah melihatku, seolah aku hantu yang ingin memangsanya hidup-hidup?! Ah, aku sangat gugup, Sid!" tutur Keanu sembari merebahkan kepalanya ke sandaran sofa dan menatap atap mobilnya dengan tatapan kosong.
"Semoga saja Nona Naila memaafkan anda dan bersedia kembali ke sisi anda, Tuan," sahut Sid lagi.
"Ya, semoga saja."
Setelah beberapa saat, akhirnya mobil Naila berhenti ditempat yang dituju. Dengan ditemani oleh sopirnya, Naila berjalan menuju makam Ibunya dengan membawa keranjang yang berisi bunga-bungaan, yang akan ia taburkan diatas makam Ibunya.
Begitupula mobil milik Keanu, Sid memarkirkan mobilnya jauh dari tempat terparkirnya mobil Naila. Perlahan, Keanu mengikuti Naila hingga ke makam sang Ibu. Begitupula Sid, ia mengikuti langkah Keanu dari belakang.
Setibanya di makam sang Ibu, Naila segera berdoa kemudian menaburkan bunga-bungaan yang ia bawa keatas makam Ibunya sembari menitikkan airmata.
"Naila kangen, Ibu ..." lirih Naila sambil menyeka air matanya.
Sang Sopir berdiri dibelakang sembari menunggu Naila. Dan tanpa ia sadari, Sid menyekap Pak Sopir itu kemudian membawanya menjauh dari tempat itu agar Keanu lebih leluasa mendekati Naila.
Kini Keanu menggantikan posisi sang Sopir sambil memperhatikan istrinya dengan jarak yang lumayan dekat.
Naila bahkan tidak menyadari bahwa sopirnya sudah dibawa kabur oleh Sid. Dan sekarang, hanya ada Keanu yang sedang berdiri dibelakangnya.
"Bu, tinggal beberapa bulan lagi, Naila akan segera melahirkan. Doakan persalinan Naila lancar ya, Bu," celoteh Naila sembari mengelus perut buncitnya.
Keanu tersenyum mendengar ocehan Naila. "Aamiin!" sahut Keanu dengan sangat pelan sekali, bahkan Naila pun tidak mendengarnya.
"Oh ya, Naila lupa kasih tahu Ibu, Dede bayi yang sedang ada diperut Naila ini ada dua loh, Bu! Mereka pasti lucu-lucu! Dan seandainya Ibu masih hidup, pasti Ibu sangat senang mendengarnya," tutur Naila
Keanu terkejut mendengarnya, ia sangat terharu dan benar-benar bahagia. Ternyata ada dua mahluk kecil yang sedang tumbuh dirahim Naila. Dan kedua bayi itu adalah miliknya, generasi penerusnya.
Keanu ingin sekali menghampiri Naila kemudian memeluk dan membawanya berputar-putar bersamanya. Namun, sayang itu hanya harapannya saja. Ia sangat yakin Naila pasti akan menolaknya.
__ADS_1
...***...