
Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, akhirnya Adnan tiba didepan Restoran tempatnya bekerja. Dengan tergesa-gesa Adnan melangkahkan kakinya memasuki tempat itu. Ternyata benar Tante Mira sudah menunggu di ruangan pribadinya.
Ceklek ...
Adnan membuka pintu dan baru beberapa langkah ia memasuki ruangan itu, Tante Mira sudah menyambut kedatangannya dengan berbagai pertanyaan.
"Dari mana saja kamu, Adnan? Tumben datang terlambat dan tadi kamu bilang lagi dalam masalah, masalah apa? Coba ceritakan sama Tante, siapa tahu Tante bisa bantu."
Andan mengernyitkan dahinya ketika ia diberondong pertanyaan oleh Tante Mira. Ia memijit keningnya sambil menjatuhkan tubuhnya disamping Tantenya. Wanita itu memperhatikan wajah kusut Adnan dan sekarang ia sadar bahwa keponakannya itu memang sedang dalam masalah.
Tante Mira mengelus puncak kepala Adnan dengan lembut. "Nak, kamu kenapa? Ceritakan sama Tante, yuk!"
Adnan menghembuskan napas berat sambil menatap Tante Mira. "Ini masalah rumah tanggaku bersama Arumi, Tante."
Wajah Adnan semakin kusut saat ia menyebutkan nama gadis itu. Kini matanya berkaca-kaca, apalagi saat ia mengingat bagaimana kondisi Arumi saat ini.
"Arumi? Kenapa dengan Arumi, Nak? Apa dia bikin kamu sebal lagi?" Tante Mira menghembuskan napas panjang. "Kan Tante juga sudah memperingati kamu, jauh hari sebelum pernikahan kalian. Jika kamu tidak memiliki perasaan apapun kepada Arumi, sebaliknya tidak usah memaksakan diri untuk menikahi gadis itu. Lagipula kamu 'kan memang tidak suka dengan sikapnya yang manja dan juga terlalu posesif," tutur Tante Mira sembari menghibur Adnan.
Adnan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya bergetar, bahunya turun naik dan terdengar isak tangis yang ia tahan dibalik wajahnya yang ia tutupi dengan kedua tangan. Tante Mira semakin kebingungan. Ini pertama kalinya ia melihat Adnan menangis dalam seumur hidupnya.
Padahal setahu Tante Mira, Adnan adalah lelaki yang kuat dan pantang mengeluarkan airmata. Bahkan disaat ia kehilangan kedua orang tuanya pun, keponakannya itu tidak menangis walaupun saat itu ia begitu sedih dan sangat terpukul.
Sekarang Tante Mira sadar, masalah yang menimpa Adnan benar-benar berat, hingga keponakannya itu sampai menangis seperti anak kecil.
__ADS_1
"Kenapa, Nan? Kamu menangis?!"
Tante Mira memeluk tubuh Adnan sambil mencoba menenangkan lelaki itu. Adnan menarik kedua tangannya sambil menyeka air matanya yang masih mengalir.
"Ya, Tuhan! Aku sudah melakukan dosa besar," gumamnya.
Tante Mira mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Adnan saat itu. Ia mengerutkan keningnya sambil menatap wajah Adnan yang semakin kusut.
"Adnan, sebenarnya kamu kenapa? Jangan bikin Tante takut Adnan!" Tante Mira ketakutan melihat ekspresi Adnan yang seperti itu.
"Tante, aku menyesal! Aku benar-benar menyesal. Apakah Tuhan akan memaafkan semua kesalahan yang sudah aku perbuat? Dan apakah Arumi akan memaafkan semua kesalahan ku?" ucap Adnan dengan wajah tertunduk menatap lantai ruangannya.
"Tuhan akan mengampuni semua kesalahan umatnya yang benar-benar ingin bertobat, Adnan. Memangnya kesalahan apa yang sudah kamu lakukan, Nak? Hingga kamu putus asa seperti itu," tanya Tante Mira penasaran.
"Arumi, Tante. Arumi masuk Rumah Sakit dan sekarang ia dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Dan itu semua gara-gara aku, Tante! Aku benar-benar lelaki jahat dan tidak berperasaan," lirih Adnan. Lelaki itu kembali menyeka air mata yang masih mengalir dari sudut kedua matanya.
"Adnan tidak tahu bahwa Arumi selama ini memiliki penyakit, Tante. Adnan tanpa berdosa terus memperlakukan Arumi sesuka hati Adnan. Adnan tanpa ragu membanding-bandingkan dirinya dengan Naila. Entah mengapa ketika dia mencoba bersikap baik kepada Adnan, Adnan selalu teringat akan Naila dan hal itu membuat Adnan semakin ilfil kepadanya." Adnan kembali mengusap wajahnya dengan kasar.
"Dan tadi malam, Adnan menyentuhnya dengan sangat kasar hingga akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk pulang ke rumah Ibunya," lirih Adnan.
Tante Mira membulatkan matanya setelah mendengar penuturan Adnan. Ia tidak percaya ternyata keponakannya itu mampu melakukan perbuatan sejahat itu kepada seorang wanita, terlebih lagi wanita itu adalah istrinya sendiri.
"Ya ampun, Adnan! Tante tidak menyangka kamu bisa melakukan hal itu kepada Arumi?! Arumi itu istrimu, Adnan! Walaupun kamu tidak mencintainya, paling tidak kamu bisa menghargai perasaannya sebagai seorang istri! Ya Tuhan!!!" kesal Tante Mira. Ia menatap lekat wajah Adnan sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tante sebagai seorang wanita, bisa merasakan apa yang Arumi rasakan. Dia pasti sangat hancur, Adnan! Kamu sungguh keterlaluan!" Tante Mira benar-benar geram kepada ponakannya itu.
Saking kesalnya, Wanita itu mengangkat tangannya. Ia ingin mendaratkan sebuah tamparan kepada Adnan. Namun, hanya tertahan di udara. Tante Mira menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan sembari menarik kembali tangannya.
"Tampar Adnan, Tante! Tampar Adnan, Adnan pantas menerimanya." Adnan meraih tangan Tante Mira dan memukul-mukulkan tangan wanita itu kewajahnya berkali-kali.
"Cukup, Nak! Cukup ..."
Tante Mira menarik tangannya kemudian memeluk tubuh Adnan. "Sudahlah, sekarang lakukan yang terbaik. Perbaiki kesalahanmu dan buktikan pada Arumi dan juga Ibu mertuamu bahwa kamu ingin berubah. Dan berjanjilah bahwa kamu tidak akan menyakiti Arumi lagi. Biar bagaimanapun sekarang dia adalah istri mu, Adnan," tutur Tante Mira sembari mengelus lembut punggung Adnan yang masih bergetar.
Adnan masih terdiam, ia hanya bisa terisak didalam pelukan Tante Mira.
"Inilah yang Tante takutkan selama ini, Adnan. Tante sudah berkali-kali memperingatkan dirimu tentang pernikahan kalian. Kalau kamu tidak bisa mencintai Arumi, tidak seharusnya kamu menikahinya. Kasihan dia, Adnan. Semoga saja Arumi baik-baik saja dan tidak akan terjadi apa-apa padanya,"
"Jika Arumi kenapa-napa, maka Adnan tidak bisa memaafkan diri Adnan sendiri, Tante. Semua yang terjadi padanya semua gara-gara Adnan!" sahut Adnan dengan wajah kusut menatap Tante Mira.
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang saja dan tenangkan pikiranmu sejenak," ucap Tante Mira sembari menepuk pundak Adnan.
Adnan pun menganggukkan kepalanya dan segera bangkit dari posisi duduknya. Setelah pamit kepada Tante Mira, Adnan pun bergegas kembali ke kediamannya.
Sepeninggal Adnan, Tante Mira masih terdiam di ruangan itu sendirian. Masalah yang ditimbulkan oleh keponakannya itu membuat ia turut merasa bersalah. Apalagi Nyonya Rahma adalah sahabat baiknya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku yakin Rahma juga akan membenciku karena perbuatan Adnan yang semena-mena terhadap anak semata wayangnya. Adnan, Adnan! Kamu mempersulit dirimu sendiri, Adnan," gumam Tante Mira.
__ADS_1
...***...
Buat Reader baru, tungguin aja cerita selanjutnya. Pasti di Up lagi, Kok. 😍 Terima kasih 😍😍😍