Majikanku, Suamiku

Majikanku, Suamiku
Bab 86


__ADS_3

"Oh, syukurlah, Mami sangat senang mendengarnya," ucap Naila sambil menitikkan air matanya saat mendengar berita baik bahwa anak bontotnya yang tomboy itu akhirnya hamil juga.


"Kenapa sih, Sayang?" tanya Keanu yang kebingungan setelah melihat ekspresi Naila.


"Keyla, Hubby. Keyla hamil," sahut Naila.


"Benarkah? Wah, syukurlah. Itu artinya Cucu kita bertambah lagi. Tinggal nunggu Cucu dari Danisha," ucap Keanu sembari melirik Danisha yang memang pada saat itu sedang berkumpul bersama mereka.


Danisha hanya bisa tersenyum kecut. Akhirnya ia keduluan lagi sama adik bontotnya.


"Semoga aku juga bisa mengikuti jejak Keyla dan Adriela," ucap Danisha.


"Amin," sahut Naila seraya menghampiri Danisha kemudian memeluknya.


Sementara itu.


Adriela dan Aditya sedang di perjalanan menuju kediaman Bu Radia dan Pak Dodi. Sudah lebih dari seminggu, Aditya tidak mengunjungi Bu Radia dan lelaki itu benar-benar sudah kangen pada wanita yang sudah melahirkannya tersebut.


"Ibu sudah tahu kalau kita ingin berkunjung 'kan, Mas?" tanya Adriela kepada Aditya yang sedang fokus pada kemudi mobilnya.


"Ya, Ibu sudah tahu. Sebelum kita berangkat, Mas sudah menghubungi Ibu dan bilang kalau kita akan segera mengunjungi mereka."


"Takutnya seperti Papa dan Mama, Mas. Kita berkunjung ke kediaman mereka, mereka malah berkunjung ke kediaman Kak Ardhan dan Keyla," sahut Adriela sambil tersenyum kecut saat ia mengingat kejadian itu.


"Iya, kamu benar."


Drreett ... drreett ....


Ponsel Aditya bergetar dan lelaki itu sempat kaget dibuatnya.


"Siapa, Mas?"

__ADS_1


"Entahlah," sahut Aditya yang masih tetap fokus pada kemudinya.


"Coba angkat, Mas. Siapa tahu itu Ibu," ucap Adriela.


Aditya merogoh saku celananya kemudian meraih ponsel tersebut dan menyerahkannya kepada sang Istri.


"Coba kamu cek," ucap Aditya.


Adriela segera menyambut ponsel milik Aditya kemudian mengeceknya.


"Nomor baru, Mas. Terima atau tidak?"


Aditya menautkan kedua alisnya sambil berpikir. "Siapa ya? Sebaiknya terima saja, siapa tahu penting," ucap Aditya.


Adriela pun segera menerima panggilan tersebut kemudian meletakkan ponsel milik Aditya ke samping telinganya.


"Ya, Hallo?"


"Maaf, kami dari Rumah Sakit XX. Pasien atas nama Nyonya Helena saat ini sedang dalam kondisi kritis karena pendarahan yang terjadi setelah persalinannya. Sebelum Nyonya Helena kritis, dia meminta kami untuk menghubungi nomor ini jika terjadi apa-apa padanya."


Adriela benar-benar shok setelah mendengar penuturan seseorang yang sedang bicara dengannya dari seberang telepon. Melihat ekspresi Adriela yang begitu cemas, Aditya pun penasaran dan mulai bertanya padanya.


"Kenapa, Driel? Kok, mukanya cemas begitu?" tanya Aditya, sesekali melirik Adriela yang sedang duduk di sampingnya.


"Ini panggilan dari Rumah Sakit XX, Mas."


"Rumah Sakit? Siapa yang sakit?!" pekik Aditya.


"Seseorang baru saja mengabarkan bahwa Helen sedang dalam kondisi kritis pasca melahirkan. Helen sengaja memberikan nomor ponselmu kepada Dokter jika sesuatu yang buruk terjadi padanya," lirih Adriela.


Aditya terdiam sejenak sambil berpikir.

__ADS_1


"Bagaimana, Mas?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Aditya bingung.


"Sebaiknya kita tengok dia, Mas. Kasihan dia, siapa tahu Helen memang sedang butuh bantuan kita," lanjut Adriela.


"Yakin, kamu tidak apa-apa, Driel?"


Adriela menganggukkan kepalanya pelan. "Aku tidak apa-apa, Mas. Ini demi kemanusiaan. Mungkin saat ini Helen memang butuh bantuan kita. Dan siapa tahu besok-besok kita yang membutuhkan pertolongan dari orang lain, ya 'kan?"


Aditya tersenyum lebar sembari menyentuh wajah sang istri. "Aku bangga padamu, Driel. Hatimu begitu luas, seluas samudra."


Aditya pun memutar arah, sekarang tujuannya bukan lagi kediaman Pak Dodi dan Bu Radia, melainkan Rumah Sakit XX untuk menjenguk Helen yang katanya sedang dalam kondisi kritis.


Setibanya di Rumah Sakit, Aditya pun segera menuntun Adriela ke resepsionis dan bertanya di ruangan mana Helen dirawat. Setelah Petugas Resepsionis tersebut memberitahu mereka, mereka pun bergegas menuju ruangan tersebut.


Setibanya di ruangan itu, ternyata benar. Helen memang sedang tidak sadarkan diri dengan berbagai macam alat medis yang masih menempel di tubuh wanita itu.


"Kasihan dia, Mas," lirih Adriela sembari memeluk tubuh Aditya dari samping.


"Ya, kamu benar."


Tepat di saat itu, Dokter yang menangani Helen, keluar dari ruangan itu kemudian menghampiri Aditya dan Adriela.


"Tuan Aditya?" tanya Dokter sembari mengulurkan tangannya kepada Aditya.


"Ya," jawab Aditya seraya menyambut uluran tangan Dokter.


"Begini, Tuan Aditya. Kami terpaksa menghubungi nomor ponsel Anda karena hanya nomor Anda yang diingat oleh Nyonya Helena. Dia bilang, kami bisa hubungi nomor Anda jika sesuatu yang serius terjadi padanya. Dan ternyata itu benar-benar terjadi. Nyonya Helena mengalami pendarahan hebat setelah melahirkan bayi perempuannya dan sampai saat ini, ia masih belum sadarkan diri," tutur Dokter.


Aditya menghembuskan napas berat. "Bagaimana, Adriela?"

__ADS_1


"Kita bantu dia semampu kita, Mas."


...***...


__ADS_2